Pengertian Kebudayaan Non-Material, Aspek, dan Contohnya


Kebudayaan terdiri dari kebudayaan material dan non-material. Pikiran atau ide yang membentuk kebudayaan disebut budaya non-material. Berbeda dengan kebudayaan material, kebudayaan non-material tidak termasuk benda fisik atau artefak, tapi bentuknya termasuk ide, kepercayaan, nilai, norma yang dapat membantu membentuk masyarakat.

Suatu masyarakat cenderung menderita stagnasi budaya atau kelambanan budaya ketika ada kesenjangan yang cukup besar antara kebudayaan material dan non-material masyarakat. Cultural Lag pada dasarnya hasil dari perkembangan cepat dalam aspek kebudayaan material, sedangkan kebudayaan non-material cenderung bergerak lebih lambat.

Kebudayaan material pada dasarnya mencakup hal-hal nyata yang digunakan secara sosial oleh masyarakat, sedangkan kebudayaan non-material, seperti yang telah dikatakan sebelumnya yaitu mencakup ide, norma, nilai, dan praktik tradisional. Untuk memperjelas pemahaman kita tentang kebudayaan non-material, artikel ini akan mengulas tentang pengertian kebudayaan non-material, aspek, dan contohnya.

Kebudayaan Non-Material


Pengertian kebudayaan dapat didefinisikan sebagai bahasa, norma, nilai, kepercayaan, dan lebih dari itu, bersama-sama, membentuk cara hidup masyarakat. Ini adalah kombinasi dari elemen-elemen yang mempengaruhi cara orang berpikir, bagaimana mereka bertindak, dan apa yang mereka miliki.
Kebudayaan adalah bagian penting dari menjadi manusia.

Tidak ada masyarakat yang benar-benar tanpa kebudayaan; pada kenyataannya, seorang individu dapat menjadi bagian dari banyak budaya dan sub-kultur.

Ada banyak elemen dan aspek kebudayaan. Namun, masing-masing dapat dikategorikan sebagai budaya material atau nonmaterial. Budaya material mencakup semua hal fisik yang dibuat oleh manusia. Pakaian, makanan, peralatan, dan arsitektur adalah contoh budaya material.

Benda dan bahan alami (batu, tanah, pohon, dan lain-lain) tidak dianggap sebagai bagian dari budaya material. Namun, bagaimana orang melihat benda-benda alami tersebut dan bagaimana mereka menggunakannya.

Budaya non-material mengacu pada ide-ide nonfisik yang dimiliki orang tentang budaya mereka, termasuk kepercayaan, nilai-nilai, aturan, norma, moral, bahasa, organisasi, dan institusi.

Misalnya, konsep budaya non-material dari agama terdiri dari serangkaian ide dan keyakinan tentang Tuhan, ibadah, moral, dan etika. Keyakinan ini, kemudian, menentukan bagaimana budaya menanggapi topik, masalah, dan acara keagamaannya.

Pengertian Kebudayaan Non-Material


Kebudayaan non-material dapat didefinisikan sebagai cara berpikir dan sistem kepercayaan dari setiap budaya. Kebudayaan non-material juga dapat didefinisikan sebagai ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

Kebudayaan non-material berasal dari pemikiran, konvensi, ajaran, doa, dan tradisi organisasi mana pun. Di sisi lain, budaya material dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang berupa barang-barang 'material' dari masyarakat.

Setiap budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis, sumber daya alam yang tersedia, sejarah dan arti tradisi, budaya negara tetangga, dan lain-lain

Misalnya, apa yang digali dari penggalian lembah Indus? Sisa-sisa Harappa dan Mohenjo-daro bercerita tentang pengembangan arsitektur dan sistem pembuangan limbah, perkembangan lanjutan mereka dalam ilmu pengukuran, dan lain-lain.

Budaya material akan bercerita tentang seni, arsitektur, sains, pakaian, makanan, dan lain-lain dari kelompok orang tertentu. Namun, budaya non-material memberi kita apa yang dikhotbahkan oleh pikiran, tindakan, perasaan, dan sistem kepercayaan mereka. Itu adalah cara hidup.

Namun, antara kebudayaan material dan non-material keduanya saling tergantung, dan mereka saling membentuk. Tentu saja, perubahan adalah hal yang konstan dalam kehidupan, dan seiring waktu, baik budaya material maupun non-material pun berubah, sebagian besar karena pengaruh budaya lain. Dengan perkembangan teknologi, transportasi, dan komunikasi, ada banyak campuran budaya.

Pengertian Kebudayaan Non-Material Menurut Para Ahli


Adapun definisi kebudayaan non-material menurut para ahli, antara lain:

J. J Hoeningman

Kebudayaan non-material ialah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Misalnya yaitu dongeng, cerita rakyat,lagu atau tarian tradisional.

Dictionary.com

Kebudayaan non-material adalah agregat nilai, adat istiadat, norma, dan lain-lain dari masyarakat; struktur ideasional dari budaya yang memberikan nilai dan makna yang berfungsi.

Open Education Sociology Dictionary

Kebudayaan non-material adalah kreasi abstrak masyarakat (misalnya sikap, kepercayaan, gagasan, norma, dan nilai-nilai) yang memengaruhi perilaku dan sosialisasi langsung.

Aspek Kebudayaan Non-Material


Budaya nonmaterial mencakup kreasi dan gagasan abstrak yang tidak terkandung dalam objek fisik. Dengan kata lain, setiap produk tak berwujud yang dibuat dan dibagikan di antara anggota suatu budaya dari waktu ke waktu adalah aspek dari budaya non-material mereka. Peran sosial, aturan, etika, dan kepercayaan hanyalah beberapa contoh.

Semua itu adalah panduan penting bagi anggota suatu budaya yang digunakan untuk mengetahui bagaimana berperilaku dalam masyarakat mereka dan menafsirkan dunia.

Oleh karenanya, ketika mempertimbangkan budaya non-material, sosiolog merujuk pada beberapa proses yang digunakan budaya untuk membentuk pikiran, perasaan, dan perilaku anggota suatu budaya masyarakat.

Empat elemen dasar budaya non-material yaitu Norma, Konvensi dan kebiasaan, Keyakinan, Moral dan sistem nilai, Pikiran.

Contoh Kebudayaan Non-Material


Kebudayaan non-material dapat berupa bahasa, simbol, tingkah laku. Berikut penjelasnnya.

Bahasa

Bahasa dan budaya saling terkait erat dan dapat saling mempengaruhi. Sebagai contoh, pembentukan bahasa gaul Amerika bisa berfungsi sebagai cerminan budaya dan telah berubah seiring berkembangnya budaya Amerika.

Misalnya, ketika orang-orang mulai berbicara menentang homoseksualitas pada 1960-an, bahasa vulgar dan bahasa gaul menjadi lebih dapat diterima untuk digunakan dan mulai dimasukkan ke dalam kamus.

Teori yang didasarkan pada karya Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf berpendapat bahwa bahasa sebenarnya membatasi dan membentuk bagaimana orang melihat dunia di sekitar mereka. Teori relativitas linguistik ini akan menunjukkan bahwa bahasa mengubah dan membatasi pembentukan bahasa.

Simbol

Dalam bukunya yang berjudul The Interpretation of Cultures tahun 1973, antropolog Clifford Geertz menyebut budaya sebagai "sebuah sistem konsepsi warisan yang diekspresikan dalam bentuk simbolis dengan cara yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, melanggengkan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang dan sikap terhadap kehidupan".

Ia mengungkapkan pentingnya menempatkan simbol dalam budaya. Sama seperti bahasa, simbol terbentuk ketika budaya tumbuh.

Orang-orang dalam masyarakat tertentu mengaitkan makna dengan objek tertentu, dan makna yang diilhami mengubah objek itu menjadi simbol yang diakui secara luas dalam masyarakat itu. Misalnya dalam budaya Amerika, pagar kayu putih adalah simbol yang diakui secara luas untuk kehidupan pinggiran kota yang sukses dan bahagia.


Tingkah laku

Seorang individu adalah bagian dari pengaruh beberapa aspek individu tersebut, termasuk perilaku. Melalui sosialisasi, seorang individu akan belajar nilai-nilai dan norma-norma yang melekat dalam masyarakat mereka dan, dalam banyak kasus, akan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma itu.

Perilaku itu penting karena dapat menyampaikan nilai-nilai suatu masyarakat. Misalnya, dalam budaya Jepang, yang tergantung pada "keterkaitan mendasar individu". Bagi mereka penting untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitar mereka dan menjaga hubungan pribadi yang harmonis.

Individu dalam budaya Jepang berperilaku untuk menghindari pengucilan dari masyarakat, menempatkan fleksibilitas, empati, dan menahan diri di atas ekspresi pemikiran dan pendapat pribadi.

Perilaku juga dapat memengaruhi suatu budaya. Ini bisa dilihat dalam sistem kasta di India. Di tingkat kasta yang lebih tinggi, merupakan kebiasaan bagi seseorang untuk mengikuti kebiasaan bahasa Sansekerta. Mereka yang berada di level kasta yang lebih rendah melakukan perilaku ini untuk naik dalam sistem kasta.

Jenis perilaku ini memiliki pengaruh pada budaya India: banyak individu dari kasta rendah yang berpartisipasi dalam adat-istiadat Sanskerta membantu menyebarkan kebiasaan-kebiasaan itu ke seluruh India.

Adapun contoh kebudayaan non-material dalam kehidupan masyarakat, diantaranya yaitu:

  1. Dalam budaya A.S., kebebasan adalah esensi kehidupan. Mereka ingin hidup sesuai pilihan mereka sendiri, misalnya mengikuti kepercayaan, memilih profesi mereka, dan lain-lain sesuai keinginan mereka. Bahkan kebebasan sosial di AS jauh lebih terbuka dibandingkan dengan beberapa negara yang masih mengikuti tradisi.
  2. Hal-hal tertentu dianggap tabu atau nasib buruk di negara-negara tertentu. Di beberapa negara, seks sebelum nikah dan memiliki anak di luar nikah dianggap tabu. Poligami adalah ilegal di sebagian besar negara di dunia, namun, poligami masih dipraktekkan dan legal di beberapa bagian Asia Tengah, Afrika, dan lain-lain. Sebagian besar budaya di dunia belum menerima homoseksualitas, dan perjuangan masih berlangsung untuk hak-hak mereka.
  3. Ada batasan terhadap konsumsi makanan tertentu juga, seperti, di beberapa budaya, mengkonsumsi daging babi dilarang.
  4. Norma dan simbol berbeda dalam budaya yang berbeda. Gerakan tertentu dapat dianggap ofensif di beberapa negara, sementara mereka mungkin memiliki interpretasi positif di negara lain. Karena itu, saat bepergian, Anda harus ekstra hati-hati dengan gerakan yang Anda pilih.
  5. Dalam budaya tertentu, Anda tidak diperbolehkan mengenakan alas kaki di tempat ibadah. Misalnya ketika memasuki masjid Anda harus melepas alas kaki Anda sesuai batas suci yang sudah ditentukan.
  6. Di beberapa negara, diskriminasi kasta dan status sosial begitu merajalela sehingga pernikahan antar-kasta tidak diperbolehkan.
Nah, demikianlah artikel yang dapat kami tuliskan kepada segenap pembaca tentang pengertian kebudayaan non-material, aspek, dan contohnya di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga melalui tulisan ini bisa bermanfaat. Trimakasih, 

0 Response to "Pengertian Kebudayaan Non-Material, Aspek, dan Contohnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel