Bahasa Dan Budaya Identitas Utama Suku Batak Toba



Sumatera Utara terletak antara 10˚-40˚ LU, 980˚-1000˚ BT dengan daerah yang terdiri atas pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Berdasarkan pembagian suku, Sumatera Utara terdiri dari Melayu, Batak Karo, Batak Simalungun, fak-fak, Batak Toba, Mandailing, Pesisir, dan Nias dengan jumlah penduduk mencapai 14,64 juta jiwa.

Suku Batak Toba merupakan salah satu yang terbesar di Sumatera Utara dengan jumlah penduduk 41,93% dari total seruh penduduk di Sumatera Utara.  Suku batak Toba berpusat dipinggiran Danau Toba, meliputi Kabupaten Samosir, Tobasa, Humbang Hasundutan, dan Tapanuli Utara.

Hagabeaon (sukses berketurunan) sebagai salah satu prinsip hidup orang batak tampaknya melekat dalam kehidupan masyarakat Toba melihat jumlah populasi penduduknya terbanyak di Provinsi Sumatera Utara.

Suku Batak Toba memiliki falsafah yang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu hamoraon (memiliki harta yang banyak), hasangapon (dihormati), hagabeon (memiliki banyak keturunan).
Pada hakikatnya bahasa dan budaya merupakan hal mendasar yang melekat dalam kehidupan manusia.

Begitu juga dengan Suku Batak Toba yang memiliki bahasa sendiri dan budaya yang beragam. Tentunya bahasa dan budaya ini melekat dalam kehidupan masyarakat, karena kehadirannya menjadi pondasi pemersatu suku Batak Toba.

Bahasa Batak Toba Itu Unik

Bahasa sebagai identitas manusia tentunya harus diketahui setiap orang yang menggunakan. Sekedar mengerti dan paham arti dari tutur bahasa tersebut sudah baik, namun ada hal yang harus di ungkap dari bahasa itu sebagai identitas yang unik dalam masyarakat sehingga banyak orang yang tertarik untuk mempelajari bahkan menggunkan bahasa tersebut.

Analisis tentang bahasa sangat sulit dilakukan, diperlukan pemahaman yang mapan dan penelitian yang lama untuk mencari apa yang ada dibalik bahasa itu sendiri. Hal ini menjadi dua sisi yang menarik untuk dilihat, bagaimana penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari dan apa sebenarnya sesuatu yang terdapat dalam bahasa itu sendiri.

Pandangan manusia terkait bahasa berbeda-beda, hal ini terjadi karena pemahaman yang kurang memadai dan mengulas bahasa dari segi tuturan saja. Seperti yang terjadi dalam kasus bahasa Batak Toba.

Dengan kerangka pemikiran yang rendah dan ilmu yang tidak memadai banyak orang-orang menyebutkan bahwa bahasa Batak Toba kasar dan tidak enak didengarkan. Implementasi ini memberikan dampak negative terhadap suku Batak Toba akan keberadaan dan keberterimaan masyarakat luar.

Atas dasar permasalahan ini maka saya berusaha mengungkap bagaimana bahasa Batak Toba itu sendiri dan keunikan yang dimiliki bahasa tersebut. Bahasa pada umumnya memiliki wujud lokasional dan tergantung konteksnya, dengan kata lain bahasa Batak Toba dapat dikatakan santun jika penggunaan bahasa itu memperhatikan lawan tutur dan lokasi dimana dia bertutur.

Hal ini sejalan dengan teori kesantunan bahasa yang diungkapkan Leech (1983:123-126) dimana kesantunan bahasa terdiri dari enam skala, yang pertama skala keuntungan kerugian, skala pilihan, skala keotoritasan, skala jarak sosial, dan skala ketidaklangsungan tuturan.

Skala yang diungkapkan Leech terdapat dalam tuturan Batak Toba, hal itu dapat kita lihat dari beberapa contoh tuturan yang terdapat di Kecamatan Tarutung sebagai salah satu asal muasal suku Batak Toba.

(1)  Dia mason, au ma mamboan i dang pola mahua (Mintalah sini, aku saja yang bawa, tidak apa-apa) (2) Na dia do haroa boanonmu, ondo manang na nion (Yang mananya mau kau ambil, ini atau yang itu), (3) Santabi jo bapa, nadia do tahe naking dilean bapa (Maaf dulu pak, manannya tadi yang bapak kasih), (4) ba gabe ho, molo nasai do na adong hepenghu nga rittikho haroa (Jadi kau, kalau segitunya uangku ada sudah gila kau. (5) sasintongna nabuti do dabah, na adong do sidongkonon nami (Sebenarnya begini, ada yang mau kami bilang).

Dari contoh di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa seseorang yang berbicara dalam bahasa Batak Toba juga memilki kesantunan bahasa, dan setiap tuturan yang digunakan didasari oleh lawan tutur tersebut.

Dengan kata lain, ketika penutur bahasa tersebut berbicara mereka melihat siapa lawan tutur sehingga mereka dapat menyesuaikan bahasa mereka. Selain bahasa Batak Toba juga memiliki tiga strata bahasa, yakni halus, sedang, dan kasar.

Strata ini juga mempengaruhi kesantunan dalam bertutur kepada orang lain. Misalnya dalam bentuk dialek, marujung ngolu (halus), monding (sedang), mate (kasar). Ketiga dialek itu memiliki arti yang sama yaitu meninggal.

Secara konteks pengucapan kata marujung ngolu dan monding diungkapkan kepada manusia yang meninggal, hal ini memiliki nilai manusiawi dan bentuk keprihatinan terhadap seseorang. Lain halnya dengan kata mate yang dapat diungkapkan kepada manusia, tumbuhan dan binatang.

Namun ketika kata mate diungkapkan untuk menyatakan orang yang meninggal, itu adalah kata yang kasar dan berdampak negatif terhadap orang lain. Dampak yang terjadi adalah seseorang yang mengungkapkan kata itu dapat dipandang benci atau tidak turut berduka atas meninggalnya orang tersebut.

Lain halnya dengan binatang atau tumbuhan yang tidak memiliki akal dan wajar diungkapkan dengan kata mate.  Perlu dicatat bahwa bahasa Batak Toba adalah bahasa yang sopan, namun penggunaan bahasa itu memiliki keberagaman logat, strata, dialek, aksen, aksara, atau yang lainnya.

Yang paling sering ditemukan adalah logat yaitu berkaitan dengan nada saat pengucapan bahasa tersebut. Banyak orang berpendapat bahasa Batak Toba kasar, namun tidak paham dimana letak kekasaran tersebut.

Namun apabila dicermati secara mendalam letak kekasaran bahasa itu terletak pada penggunaan tingkat atau strata bahasa, bukan nada yang digunkaan untuk berbicara. Selain itu letak kekasaran bahasa juga dapat di lihat dari banyaknya kata yang menyinggung hati lawan tutur seperti makian, atau penutur tidak dapat menuyesuaikan tuturannya terhadap situasi ataupun lawan tuturnya, misalnya antara anak-anak dengan orang tua.

Berkaitan dengan kesantunan, bahasa Batak Toba adalah bahasa yang santun dan halus. Bahasa batak toba juga unik karena didasari masyrakat yang menggunakan memiliki logat kasar dan halus. Jadi ketika melihat suku Batak Toba, jangan sesekali menyebutkan suku tersebut kasar, karena dapat merusak citra dari suku itu sendiri.

Namun cermatilah lebih dalam dan jangan berpijak pada pemikiran kita sendiri atau pengelihatan yang kasat mata, tetapi lihatlah praktik yang terjadi, baik dari tuturan yang digunakan, tingkat bahasa, dan konteks pembicaraan yang dilakukan antara penutur dan lawan tutur.

Budaya Suku batak Toba Beragam

Setiap suku tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda, karena kebudayaan terlahir dari masyarakat serta lingkungannya. Perbedaan latar belakang matsyarakat dan lingkungan melahirkan berbagai macam budaya dalam suku Batak Toba. Budaya inilah yang menjadi eksistensi dan kekayaan yang patut diperkenalkan kepada masyarakat luar sehingga nantinya dapat diakses dan dinikmati.

1. Tortor

Tortor dalam suku Batak Toba selalu beriringan dengan seperangkat alat musik.  Hal ini dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti pesta, pagelaran, hiburan, dan pertunjukan dengan mengenakan ulos. Salah satu keunikan dari tortor adalah tangan penari tidak dapat melewati batas setinggi bahu ke atas.

Beberapa jenis tortor yang terdapat dalam suku Batak Toba diantaranya :

  1. Tortor somba, memiliki tujuan untuk menghormati Tuhan yang Maha Esa, Raja, undangan, agar mendapat berkat dan restu dari Tuhan. 
  2. Tortor tunggal panaluan, memiliki tujuan sebagai mediasi manusia dengan Tuhan.
  3. Tortor sipitu sawan yaitu tortor yang menceritakan ketika mulajadi nabolon menurunkan orang batak dipusuk buhit dengan tujuh bidadari yang menari dengan sawan berisi air. 


2. Legenda

Suku batak toba memiliki legenda dan cerita yang diturunkan dari nenek moyang, dengan cara disampaikan dari mulut kemulut atau lisan. Hal ini mengakibatkan tidak adanaya pencipta legenda atau cerita tersebut.

Beberapa cerita bertemakan tentang kehidupan, perjuangan, perkawinan, dan kebudayaan. Legenda dan cerita ini memiliki damapak positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat Batak Toba, dengan nilai atau pesan yang terkandung didalamnnya.

Ada beberapa legenda atau cerita yang sangat terkenal seperti, Asal Usul Danau Toba, Batu Gantung, Tunggal Panaluan, Siboru Tumbaga, dan beberapa legenda lainnya yang belum dipublikasikan.

3. Musik

Pada dasarnya penggunaan musik dalam suku Batak Toba tergantung acara yang akan dilakukan, misalnya pesta perkawinan, meninggal, pagelaran, dan pertunjukan. Beberapa alat-alat musik yang sering digunakan seperti oloan, ihutan, panggora, doal, hesek, garantung, gondang, odap, sarune, dan sulim.

Perpaduan dari alat musik ini akan mengahasilkan berbagai jenis gondang, seperti gondang somba-somba yaitu gondang yang menunjukkan rasa hormat kepada tamu atau undangan yang diiringi dengan tarian tangan menyembah.

Gondang hasahatan yaitu gondang untuk mengakhiri atau menutup acara yang dilakukan dari sebuah pesta.

4. Tarian

Tarian dalam suku Batak Toba dilaksanakan pada cara-acara tertentu yang berhubungan dengan kebudayaan. Dalam suku Batak Toba terdapat dua tarian yang sangat terkenal, dan sering dilaksanakan pada acara-acara adat atau kebudaaan diantaranya :

a. Tarian Sigale-gale 

Tarian ini memiliki arti lemah gemulai, yang menggambarkan seorang anak raja Batak bernama Manggale yang tewas dalam perang sehingga penasehat kerajaan tersebut memberi nasehat untuk membuat patung dari kayu dengan wajah yang menyerupai sang anak.

Kemudian tabib kerajaan melakukan ritual untuk memanggil roh manggale yang masuk kedalam patung tersebut. Sampai saat ini sigale-gale masih diberdayakan di Pulau Samosir serta menjadi ikon kebudayaan yang menarik utnuk dikunjungi.

b. Tari Tunggal Panaluan 
Tarian ini dilakukan pada sebuah desa yang terkena musibah, tongkat tunggal panaluan dipercayai sebagai tongkat yang sakti yang terbuat dari kayuu sekaligus berukir tujuh kepala.

5. Kerajinan

Suku Batak Toba memiliki kerajinan tenun, dan anyam. Kerajinan tenun ini menghasikan busana yang sangat khas dan terkenal di Indonesia yaitu ulos, dan  kerajianan anyam menghasilkan Tandok yang sering digunakan sebagai tempat penyimpanan beras.

6. Rumah Adat

Rumah bolon atau atau Rumah Gorga menjadi simbol kehidupan masyarakat Batak Toba yang hidup dikawasan toba. Rumah bolon biasanya ditempati lima samapai enam keluarga, dan dihiasi banyak ukiran gorga yang dipercayai dapat menyangkal bala.

Ukiran ornamen serta gorga sering dibubuhkan pada dinding rumah bagian luar, tepatnya ddi atas pintu dengan warna khas batak merah,hitam, dan putih.

7. Pesta

Suku Batak Toba terkenal dengan budayanya secara khusus pada saat acara pesta. Ada beberapa acara pesta yang sering dilakukan masyarakat Toba, seperti pesta pernikahan, pasidung ari-ari (meninggal), dan horja.

Setiap pesta ini memiliki ragam acara yag berbeda-beda dan tujuan yang berbeda-beda juga.  Pesta pernikahan merupakan acara adat yang diakukan bagi orang yang ingin menikah. Pesta pasidung ari-ari (meninggal) dilakukan pada orang yang meninggal dan memiliki syarat seperti memiliki cucu baik dari anak laki-llaki dan perempuan

Jika tidak maka seorang yang meninggal itu tidak akan dipestakan, melainkan hanya acara singkat dari pihak keluarga dan gereja. Pesta horja dilakukan dengan musyawarah antar warga untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.


8. Kepercayaan

Sebelum agama masuk ke wilayah toba, masyarakat suku Batak Toba percaya akan hal hal yang mistis, seperti menyembah pohon atau roh-roh halus yang diyakini memiliki kekuatan. Seiring berjalannya waktu dan adanya asimilasi maka kepercayaan tersebut beralih kepada parmalim yaitu keyakinan terhadap pencipta alam semesta tuhan Yang Maha Esa.

Orang Batak memahami dan memperlakukan alam sebagai tumpuan hidup dan salah satu anugra mula jadi nabolon yang harus dijaga. Kemudian setelah masuknya agama-agama dikawasan Toba banyak masyarakat beralih ke Kristen yang samapai saat ini mendominasi masayarakat Batak Toba.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa Indonesia kaya akan bahasa dan budaya. Data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan kebudayaan tahun 2018 memverifikasi 652 bahasa daerah dan 819 warisan budaya Takbenda dari 8.065 karya Budaya di Indonesia.

Melihat jumlah yang sangat fatastis ini tetunya diperlukan dukungan dari masyarakat sebagai upaya konservasi untuk tetap menjaga dan melestarikan bahasa dan budaya tersebut.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Suku Batak Toba. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Jusuf Jr Simanjuntak. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

4 Responses to "Bahasa Dan Budaya Identitas Utama Suku Batak Toba"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel