Barongan sebagai Kesenian Blora Terjaga Kelestariannya




Indonesia salah satu negara dengan segala keragaman di dalamnya yang mewarnai keindahan di bumi pertiwi ini. Kebudayaan merupakan salah satu warna yang menghiasi keragaman Indonesia sehingga menjadi daya tarik sendiri dibandingkan dengan negara lainnya.

Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan budaya yang membedakan dengan daerah lainnya. Tak terkecuali di kota Blora yang menyimpan sejuta pesona budaya yang menjadi aset budaya bangsa.

Blora merupakan sebuah kota kecil di ujung timur provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Timur. Meskipun berada di perbatasan Jawa Tengah tak menjadikan Blora sebagai kota tertinggal.

Blora dengan sejuta kekayaan alamnya berupa minyak bumi dan pohon jati menjadikan Blora sebagai salah satu kota penyumbang perekonomian di Indonesia. Tak hanya itu, budaya Blora juga menjadi aset berharga sebagai kekayaan bangsa yang harus tetap dilestarikan.

Salah satu budaya Blora yang masih tetap lestari hingga saat ini ialah Seni Singo Barong atau Barongan. Barongan merupakan sebuah pertunjukan tari dengan kostum menyerupai singa barong atau singa besar.

Singa Barong ini sebagai perwujudan penguasa hutan angker dan sangat buas. Dalam sejarah Singa Barong merupakan jelmaan dari Gembong Amijoyo seorang penguasa Hutan Wengkar. Cerita barongan berasal dari hikayat Panji.

Hal ini bermula ketika Prabu Klana Sawandana dari Kabupaten Bantarangin jatuh cinta pada Dewi Sekartaji putri Raja Kediri. Kemudian diperintahlah Patih Bujangganong untuk meminangkannya, akan tetapi dalam perjalanan pasukannya dihadang oleh Adipati Gembong Amijoyo yang menjelma singa barong yang mendapat tugas menjaga di daerah perbatasan.

Semua prajurit dapat dikalahkan Singa Barong, akan tetapi ada empat perwira yang lolos dan melapor ke Sang Prabu. Di saat yang sama Panji Asmara Bangun dari Jenggala memiliki keinginan yang sama untuk melamar Dewi Sekartaji dengan mengirimkan Noyontoko dan Untub.

Namun, ketika sampai di Hutan Wengkar langkah mereka dihadang Adipati Gembong Amijoyo. Merasa kewalahan, mereka mendatangkan Joko Lodro yang akhirnya dapat menaklukkan Singo Barong dengan terbunuh.

Akan tetapi, karena kesaktiannya Singa Barong dapat hidup kembali. Sang Prabu Klana setelah menerima laporan dari Bujangganong langsung melakukan serangan terhadap Singa Barong dan berhasil menaklukkannya dengan Pecut Samandiman.

Namun berkat kesaktian Prabu Klana kesaktian Singa Barong dapat dikembalikan lagi dengan syarat Singa Barong mengantarkan ke Kediri untuk melamar Dewi Sekartaji.

Setelah sampai di alun-alun Kediri terjadi pertempuran antara Prabu Klana dan Raden Panji. Dalam pertempuran ini Prabu Klana terbunuh dan Singa Barong dikutuk tidak dapat berubah wujud lagi menjadi manusia (Gembong Amijoyo) oleh Raden Panji.

Sehingga Singa Barong dan para prajurit berkuda serta Bujangganong takluk terhadap Raden Panji. Hal inilah yang melatarbelakangi kesenian Barongan di daerah Blora. Di dalam pementasan Barongan biasanya pemainnya terdiri atas Bujangganong, Pujangga Anom Joko Lodro, Gendruwo Pasukan Berkuda, Reog Notoyono Untub dan Mbok Gainah.

Selain itu, pementasan Barongan juga diiringi instrumen gamelan Jawa untuk menambah kemeriahan dalam pementasan. Beberapa instrumen musik diantaranya kendang, bonang, saron, demung, kempul, dan gong.

Salah satu cara agar suatu budaya tetap lestari ialah dengan mengenalkannya ke generasi muda. Karena generasi mudalah yang akan melanjutkan estafet perjuang untuk dilanjutkan di masa mendatang.

Lalu, bagaimana bila generasi muda tidak mencintai bahkan tidak mengenal budaya sendiri, tentu akan menjadi berita buruk bagi kelestarian kebudayaan suatu bangsa. Blora sebagai salah satu kota dengan Seni Barong yang melekat di dalamnya terus mengupayakan kelestarian dengan mengenalkan kepada generasi muda.

Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat, dengan mulai berkembangnya globalisasi yang mulai meluas dapat memberikan dampak buruk dengan munculnya kebudayaan barat yang terus mengikis budaya daerah.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat terus berupaya untuk menjaga kelestarian Seni Barongan Blora agar tetap eksis meski maraknya budaya barat.  Hingga saat ini Seni Barongan masih tetap lestari di daerah Blora, terutama di desa-desa. Dalam berbagai acara di desa sering diadakan pertunjukkan Barongan untuk memeriahkan acara, seperti halnya tasyakuran, sedekah bumi, HUT RI, dan berbagai acara penting lainnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Blora juga ikut mengupayakan pelestarian Barongan dengan menggelar festival barong sebagai sarana hiburan dan edukasi bagi masyarakat Blora. Hal ini memberikan dampak positif untuk kelestarian Barongan di Blora.

Saat ini, banyak kita temui anak-anak Blora yang mulai tumbuh rasa cinta terhadap Barongan. Hampir di setiap desa dapat ditemui anak-anak yang bermain barongan dengan berkeliling desa. Selain itu, mulai muncul kelompok Paguyuban Barong yang para pemainnya anak-anak kisaran umur 10-15 tahun.

Hal ini memberikan udara segar bahwa budaya Barongan akan tetap lestari di Blora meskipun maraknya budaya barat yang terus menggerogoti generasi di negri ini. Salah satu Paguyuban Seni Barongan yang para pemainnya anak-anak adalah Paguyuban Barongan Muncule Kembang Jaya.

Paguyuban tersebut dimainkan anak-anak di dukuh Nglaban, salah satu desa di Blora. Awal muncunya paguyuban ini ialah karena adanya rasa cinta terhadap seni terutama Barongan yang tumbuh dalam jiwa anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SD dan SMP sehingga munculah gagasan untuk mendirikan sebuah paguyuban.

Butuh perjuangan yang besar bagi mereka untuk mewujudkan impian mereka. Mereka berusaha mengumpulkan dana dengan meminta bantuan dari masyrakat desa untuk membeli semua perlengkapan pementasan termasuk Barongan.

Setelah berhasil membuat paguyuban banyak tantangan yang harus mereka hadapi, seperti halnya upah yang mereka dapatkan hanya 20.000 per orang dalam sekali pentas. Hal ini menjadi sebuah ujian bagi mereka, karena banyak diantara mereka yang harus berhenti dalam menyalurkan seni mereka karena orang tua yang tidak mengizinkan mereka melakukan pementasan dengan upah yang tidak seberapa.

Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka dalam melestarikan kesenian Barong, karena menurut mereka jiwa mereka ialah di seni. Jika seni tidak ada, maka hidup mereka akan terasa hampa.

Dengan adanya rasa cinta terhadap seni terutama di kalangan anak-anak diharapkan dapat menyumbang upaya pelestarian kebudayaan daerah yang mulai terkikis seiring dengan perkembangan zaman.

Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan dalam jiwa generasi muda akan pentingnya suatu budaya. Karena kebudayaan adalah aset berharga yang ikut menopang kemajuan suatu bangsa, oleh karena itu sangat penting untuk menjaga kelestariannya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kesenian Barongan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Dina Apriyanti ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Barongan sebagai Kesenian Blora Terjaga Kelestariannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel