Ebeg, Seni Kebanggaan Kaum Ngapak



Pernah mendengar kesenian Ebeg? Nama kesenian Ebeg memang kurang tenar dibandingkan dengan nama kesenian sejenis seperti kuda lumping atau kuda kepang, ataupun jathilan yang terkenal diwilayah Jogja dan sekitarnya.

Namun pada dasarnya, Ebeg tidaklah jauh berbeda dengan kuda lumping ataupun jathilan. Bahkan Ebeg bisa disebut kuda lumping versi kaum ngapak. Apa itu kaum ngapak? Kaum ngapak adalah kelompok penutur bahasa jawa yang meliputi daerah Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga serta Cilacap, bahkan sampai Wonosobo dan Kebumen.

Kelompok ini dikenal karena dialek dan logat pengucapan yang khas. Disebut ngapak karena ketika ada huruf ‘k’ di akhir kata diucapkan secara jelas. Ini berbeda dengan dialek bahasa jawa di daerah Solo, Jogja, maupun Jawa Timur.

 Sebagai contoh ketika pengucapan kata enak, di daerah Solo diucapkan “ena”, sementara pada dialek ngapak diucapkan “enak” dengan pelafalan huruf “k” yang sangat jelas.

Asal Usul Penamaan Ebeg

Ebeg sendiri berasal dari kata dalam bahasa Jawa, Ebleg. Ebleg merupakan anyam-anyaman yang terbuat dari bambu. Bagi orang dulu, Ebleg biasanya digunakan sebagai pagar rumah atau oleh kaum ngapak disebut dengan “gedhek”.

Seni ini dinamakan Ebeg karena pada saat pagelaran pemain menggunakan kuda lumping yang terbuat dari anyaman bambu.

Sejarah Ebeg

Sejarah asal usul kesenian Ebeg ini ada beberapa versi. Versi pertama menjelaskan bahwa Ebeg dulunya merupakan kesenian yang menggambarkan latihan perang prajurit Mataram ketika melawan penjajahan Belanda.

Latihan perang yang dilakukan para prajurit itu kemudian dimodifikasi oleh seniman untuk mengobarkan semangat perlawan rakyat serta untuk membumbungkan optimisme rakyat agar tetap semangat melawan penjajah.

Ebeg menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Sementara versi kedua menjelaskan bahwa Ebeg dulunya merupakan kesenian yang diperkirakan sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme.

Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk kesurupan atau “wuru”. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

Ebeg berbeda dari wayang karena ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan dan didalamnya tidak ada pengaruh dari budaya lain, sedangkan wayang merupakan apresiasi budaya Hindu India dengan berbagai tokoh-tokohnya.

Ebeg sama sekali tidak menceritakan tokoh tertentu dan tidak terpengaruhi agama tertentu baik Hindu maupun Islam, bahkan dalam lagu-lagunya justru banyak menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional. Di dalam lagunya terkadang berisi pantun, wejangan hidup dan menceritakan tentang kesenian Ebeg itu sendiri.

Pemain Ebeg sudah bersiap dengan kudanya


Tarian Pembuka

Setiap regu penari terdiri dari 2 kelompok dengan 2 orang pemimpin. Masing-masing kelompok menggunakan kuda yang berbeda, yaitu kuda berwarna hitam atau merah dan kuda putih. Kuda berwarna hitam atau merah menggambarkan pemimpin yang menuju kejahatan.

Sedangkan kuda berwarna putih menggambarkan pemimpin yang menuju kebenaran sejati. Atribut yang biasanya dikenakan para penari Ebeg berupa celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata hitam (sebagian ada yang tidak berkaca mata), mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya.

Gerakan tangan dan kaki penari Ebeg selalu dibarengi dengan bunyi gemerincing karena pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan.

Pada momen-momen tertentu dalam tarian, kedua pemimpin tarian saling bertemu dan berhadap-hadapan, serta saling menggelengkan kepala. Hal ini mempunyai makna bahwa antara kebenaran dan kejahatan tidak akan dapat bertemu.

Atraksi Utama

Salah satu hal yang wajib dalam pementasan Ebeg adalah ketersediaan sesaji atau sesajen. Sesajen digunakan untuk persembahan kepada para arwah maupun penguasa makhluk halus disekitar agar mau mendukung pementasan.

Efeknya para pemain Ebeg akan mengalami kerasukan yang dalam bahasa Banyumas disebut “mendem” karena dirasuki makhluk halus. Atraksi mendem ini hanya dimainkan oleh pemain yang memiliki "indang" atau "pembantu". Masing-masing pemain memiliki varian “indang” yang berbeda, di antaranya :


  • indang kethek : mengantarkan pemain pada kondisi ‘mendem’ meniru perilaku monyet.
  • indang jaran : mengantarkan pemain pada kondisi ‘mendem’ meniru perilaku jaran.
  • indang mayid : mengantarkan pemain pada kondisi ‘mendem’ meniru perilaku mayid atau orang mati.
  • indang macan : mengantarkan pemain pada kondisi ‘mendem’ meniru perilaku macan.
  • indang baya : mengantarkan pemain pada kondisi ‘mendem’ meniru perilaku buaya.


Disaat inilah para pemain Ebeg biasa memakan berbagai benda yang tidak lazim dimakan seperti pecahan kaca (beling), bunga-bunga sesaji, mengupas kelapa dengan gigi, memakan ayam hidup, bara api, dan lain-lain.

Penonton yang memiliki “indang” juga dapat ikut kesurupan atau disebut dengan istilah “kejantur”. Inilah yang membuat Ebeg terlihat lebih unik dibanding kesenian kuda lumping di daerah lain. Pada akhir laga, pemain yang kerasukan akan disembuhkan oleh pemimpin grup Ebeg yang biasanya adalah seorang tetua adat dan disebut dengan istilah Penimbul.

Musik Pengiring


Biasanya dalam pertunjukkan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul & cépét. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut “Bendhe”. Selain “Bendhe” juga terdapat kendang, saron, kenong, dan gong.

Agar suara musik Ebeg dapat terdengar hingga kejauhan maka digunakan toa atau speaker corong. Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa ngapak. Beberapa lagu yang sering dinyanyikan dalam Ebeg antara lain :

  • Eling-Eling.
  • Ricik-Ricik Banyumasan.
  • Kulu-Kulu.
  • Waru Doyong.
  • Ana Maning Modele Wong Purbalingga.


Perkembangan Masa Kini

Ebeg kerap digelar dalam peristiwa-peristiwa budaya (semisal saat sedekah laut atau sedekah bumi), hari besar (semisal hari kemerdekaan), atau acara hajatan baik itu acara khitanan maupun pernikahan. Kesenian ini telah melekat di hati Kaum Ngapak.

Setiap hajatan dan peristiwa budaya yang diiringi ebeg, khalayak akan berdatangan untuk menyaksikan kesenian ini. Secara sosial, Ebeg juga menyisipkan pesan bahwa kesenian berkaitan erat dengan ekonomi.

Di mana pun pementasan Ebeg, di sanalah orang-orang berkumpul. Alunan musik yang membahana kerap mengundang khalayak berdatangan. Tidak mengejutkan bila pentas Ebeg akan selalu dikelilingi oleh para penjual minuman dan makanan. Para bakul inilah yang memperoleh manfaat ekonomi dari pertunjukan Ebeg.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kesenian Ebeg. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Sugeng Waisal ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

2 Responses to "Ebeg, Seni Kebanggaan Kaum Ngapak"

  1. Artikel ini sangat bagus, bisa memberikan pencerahan mengenai ragam budaya yang ada disekitar kita

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel