Festival Kebudayaan Tabagsel



Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 RepubIik Indonesia Tahun 2018, Parsadaan Toga Siregar (Patogar) se-Tabagsel (Tapanuli Bagian Selatan) menggelar berbagai kegiatan dan lomba dengan nuansa kearifan lokal, seperti lomba tortor Naposo Nauli Bulung (NNB), markobar boru, dan mangolat boru.

Kegiatan dan perlombaan tersebut diadakan pada 25-26 Agustus 2018 yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat yang notabenenya bermarga Siregar, diantaranya Wadir Binmas Poldasu, AKBP Parluatan Siregar sebagai Ketua Umum Patogar se-Tabagsel.

Selain itu ada juga Wakil Bupati Tapanuli Selatan Aswin Efendi Siregar sebagai Ketua Harian Patogar se-Tabagsel, Sekretaris Partai PKS Provinsi Sumatera Utara Abdul Rahim Siregar, Wakil Walikota Padangsidimpuan terpilih Arwin Siregar, unsur Kepolisian Kota Padangsidimpuan, Raja Luat se-Tabagsel, dan tamu undangan lainnya.

Dengan kegiatan dan perlombaan tersebut tentunya bernilai positif untuk mempererat tali silaturahim antar sesama anggota Patogar se-Tabagsel. Begitu pun dengan manfaatnya adalah bagian dari usaha untuk menjaga serta melestarikan seni budaya daerah Tabagsel, sehingga nantinya dapat memberikan pelajaran kepada generasi penerus dalam memahami nilai-nilai luhur kebudayaan daerah.

Terlebih melalui kegiatan dan perlombaan dengan aroma kearifan lokal tersebut, membawa secercah harapan agar dapat meningkatkan semangat juang, memupuk jiwa kebangsaan, jiwa nasionalisme dan jiwa patriotisme.

Pada dasarnya setiap negara dan bangsa memiliki budaya dan keragaman dengan membawa nilai-nilai yang senantiasa diwariskan, ditafsirkan, dan dilaksanakan seiring dengan proses perubahan sosial kemasyarakatan.

Budaya yang dilaksanakan dan dikembangkan merupakan bagian dari kekayaan sebagai manifestasi dan legitimasi masyarakat terhadap budayanya. Budaya dan keberagaman itu pun memiliki nilai-nilai luhur sebagai bagian dari sarana dengan ciri khas tersendiri dalam usaha membangun watak dan karakter masyarakatnya.

Seyogianya nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat seiring dengan perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut. Budaya merupakan sebuah sistem yang mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Bentuk simbolis yang berupa bahasa, benda, musik, kepercayaan serta aktivitas-aktivitas masyarakat yang mengandung makna kebersamaan merupakan cakupan budaya (Niode, 2007).

Geertz (1992) dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (Refleksi Budaya) menjelaskan bahwa kebudayaan adalah pola dari pengertian-pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan.

Lebih lanjut Geertz (1992) juga menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan hasil karya manusia yang dapat mengembangkan sikap mereka terhadap kehidupan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses komunikasi dan belajar agar generasi yang diwariskan memiliki karakter yang tangguh dalam menjalankan kehidupan.

Setiap kebudayaan pasti mengandung nilai-nilai luhur. Keberadaan nilai-nilai luhur dalam masyarakat membentuk masyarakat yang arif dan berbudaya yang baik. Theodorson dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku.

Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai menurut Theodorson relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Karena itu, nilai dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri. Kluckhohn dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan sebuah konsep yang memiliki ruang lingkup luas yang hidup dalam alam fikiran sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup.

Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai-nilai budaya. Jika mengacu pada teori-teori yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, kegiatan dan lomba yang diselenggarakan oleh Patogar seperti kegiatan dan lomba tortor Naposo Nauli Bulung (NNB), markobar boru, dan mangolat boru adalah bagian dari usaha melestarikan budaya dan kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai.

Berbicara tentang kearifan lokal banyak uraian dan penjelasan dari para ahli yang bisa didapatkan dalam berbagai literatur ilmiah. Bahkan, definisi kearifan lokal pun bervariasi menurut referensi dan cakupannya.

Namun, dari definisi-definisi tersebut terdapat beberapa kata kunci, yaitu: pengetahuan, gagasan, nilai, keterampilan, pengalaman, tingkah laku, dan kebiasaan adat yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah tertentu (Keraf, 2002; Ardana, 2005; Aprianto dkk, 2008; Wahyu dalam Mukti, 2010; Yamani, 2011).

Tortor, markobar boru, dan mangolat boru adalah beberapa dari banyak bagian adat istiadat masyarakat suku batak. Tapanuli Selatan (Tapsel) yang identik dengan suku batak, dulunya luas dan sekarang telah memekarkan tiga kabupaten (Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Mandailing Natal) dan satu kotamadya (Padangsidimpuan) juga pernah memiliki kerajaan-kerajaan.

Dalam buku yang berjudul Perkembangan Adat Istiadat Masyarakat Suku Batak Tapanuli Selatan Suatu Tinjauan terdapat empat kerajaan-kerajaan di Tapsel diantaranya, Angkola, Padang Lawas, Mandailing, dan Angkola Dolok (L.S. Diapari BBA, 1987).

Keempat kerajaan-kerajaan di Tapsel tersebut jika dilihat dari perkembangan adat istiadatnya satu sama lain memiliki kesamaan ataupun kemiripan yang identik dengan kebudayaan suku batak.

Tortor yang berasal dari batak secara fisik merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tortor merupakan sebuah media komunikasi, karena melalui media gerakan yang disajikan terjadi interaksi antar partisipan upacara (Maria Serlitaria Nainggolan, 2017).

Tari tortor sangat terkenal sampai ke penjuru dunia, ini terbukti dari banyaknya turis mancanegara maupun lokal yang ingin belajar tarian ini. Masyarakat Batak yang pergi merantau dengan bangga selalu menampilkan tari tortor dalam acara perhelatannya.

Tari tortor adalah seni tari dengan menggerakkan seluruh badan dengan dituntun irama gondang, dengan pusat gerakan pada tangan dan jari, kaki dan telapak kaki/punggung dan bahu. Gaya gerakannya meliputi gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan (Agrace, 2011).

Tortor memiliki prinsip semangat kebersamaan, rasa persaudaraan, atau solidaritas untuk kepentingan bersama (Sari, 2012). Menurut Parinduri, (2013) kata markobar lebih kurang dapat dipadankan dengan kata berbicara dalam Bahasa Indonesia.

Keterampilan berbicara adalah keterampilan untuk menyampaikan ide, gagasan, atau informasi tertentu dengan menggunakan kata-kata dan kalimat. Dalam konteks adat Angkola, markobar dapat diartikan sebagai pembicaraan resmi yang dilaksanakan dalam upacara adat, baik dalam acara siriaon (pesta dalam suasana gembira) maupun silulutun (pesta dalam suasana duka cita).

Sebagai norma yang diwariskan secara turun-temurun, markobar memiliki tata cara yang sudah merupakan konvensi bersama masyarakat Angkola. Mangolat boru adalah salah satu tradisi adat Angkola dari tahapan perkawinan adat (pabuat boru) dalam rangka melepas keberangkatan pengantin wanita yang dibawa oleh pengantin laki-laki dan keluarganya.

Mangolat boru yang berarti menghambat anak gadis yang menikah (berumah tangga), maksudnya adalah acara mangolat boru ini dilakukan oleh anak laki-laki dari namboru pengantin wanita. Dengan kata lain, pengantin wanita adalah boru tulang dari laki-laki yang menghambat keberangkatan itu.

Acara tersebut memberi makna bahwa pengantin wanita memiliki anak namboru yang selama ini ikut menjaganya sebelum dia menikah dan dibawa oleh suaminya. Setelah pihak anak boru diberi uang tebusan sebagai pengobat duka atas kepergian boru tulangnya, maka pengantin laki-laki diperbolehkan membawa pengantin wanita (Fita Delia Gultom, 2015).

Tortor adalah bagian dari kearifan lokal dalam tradisi adat Angkola yang secara fisik merupakan tarian. Makna tortor untuk kondisi saat ini lebih kepada hiburan dan tarian seremonial kebanggaan dalam sebuah acara demi menghormati upacara, tetua adat dan khalayak yang ada pada saat tarian dilakukan.

Begitu pun dengan markobar dan mangolat boru adalah tradisi lisan adat Angkola yang menjadi bagian dari kearifan lokal yang semestinya dilestarikan.

Di era globalisasi sekarang yang serba canggih, seluruh aspek kehidupan yang serba terbuka tanpa terkendali dan kurangnya filterisasi sehingga mengakibatkan masyarakat secara lokal dan nasional terbawa kepada arus kebebasan yang lebih berorientasi pada individualisme dan materialisme.

Atas kondisi ini semangat kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme semakin hari kian terkikis.
Patogar se-Tabagsel yang menggelar berbagai kegiatan dan lomba dengan nuansa kearifan lokal, seperti tortor Naposo Nauli Bulung (NNB), markobar boru, dan mangolat boru adalah cara terbaik menghargai dan melestarikan budayanya.

Begitu pun sepatutnya, kepada daerah-daerah lain mari bersama-sama saling bersinergi dalam menggerakkan dan menghidupkan kembali api semangat melestarikan dan membudayakan kearifan lokal sebagai bentuk perhargaan terhadap budaya bangsa sendiri.

Memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa sama halnya juga memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat yang ada dalam sebuah bangsa.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Festival Kebudayaan Tabagsel. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Izuddinsyah Siregar. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,


20 Responses to "Festival Kebudayaan Tabagsel"

  1. Bagus ni, salah satu cara untuk melestarikan budaya Indonesia

    BalasHapus
  2. Mantap, informasi yang bermanfaat ��

    BalasHapus
  3. Wah sangat perlu dilestarikan. Bangga jadi orang Madina

    BalasHapus
  4. Sangat memberikan informasi yang bermanfaat

    BalasHapus
  5. Semoga adat dan budaya tidak luntur oleh zaman. Bangga jadi orang sidimpuan

    BalasHapus
  6. Mantap,lestarikan budaya kita!

    BalasHapus
  7. Menambah wawasan dalam melestarikan budaya

    BalasHapus
  8. cara melestarikan budaya yg tepat

    BalasHapus
  9. Sangat bagus utk menambah pengetahuan ttg kebudayaan yg ada d Tabagsel��

    BalasHapus
  10. Mantap tabagsel melestarikan budaya

    BalasHapus
  11. Bagus, bermanfaat. Khasanah Budaya bangsa bisa kokoh dan kuat. 👍👍👍 ...

    BalasHapus
  12. Salut. Zaman sekarang masih ada yg perduli dengan kebudayaan.

    BalasHapus
  13. Bagus pak..apresiasi pelestarian budaya indobesia

    BalasHapus
  14. Mantap attong katua, tp sebaiknya ulang hum payogar sajo yg menggagas atau menggalakkan upaya pelestarian budaya tapsel, assurai dipadohot atau diajak komunitas marga naasing. Asi bisa dipabolak ckuoan wilayah nai sampe se SUMUT. tp sebagai pemula masattak sep nii.. Heheheh

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel