Guro-Guro Aron: Eksistensi Budaya Karo di Tengah Arus Budaya Global

Gambaran Singkat Suku Karo

Suku Karo adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang ada di Sumatra Utara. Nama suku ini sama dengan nama wilayah yang menaunginya, yakni Kabupaten Karo. Pada umumnya suku Karo memang menetap di Kabupaten Karo.

Walau demikian, persebaran suku ini sampai juga ke Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Bahkan, pendiri Kota Medan adalah putra Karo, yakni Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Suku Karo pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hal ini tidak lepas dari kondisi alam Kabupaten Karo yang subur dan sejuk. Ada dua gunung aktif di kabupaten ini yang mengapit Kota Kabanjahe dan Kota Berastagi, yakni Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Kedua gunung ini diyakini sangat berkontribusi sebagai pembentuk keadaan alam Karo yang subur dan sejuk.

Suku Karo memiliki kebudayaan yang tergolong lengkap. Mulai dari sistem kekerabatan, sistem pernikahan, kesenian, kerpecayaan, sistem pertanian, dan lain-lain. Sistem kekerabatan pada masyarakat Karo dikenal dengan merga silima, rakut sitelu, tutur siwaluh, ras perkade-kaden sepuludua.

Sistem pernikahan pada masyarakat Karo memiliki aturan khusus. Salah satunya adalah mereka tidak boleh menikah dengan satu marga (klan). Kesenian Karo juga tergolong beragam, baik dalam bentuk tarian maupun musik.

Kepercayaan pada masyarakat Karo juga pada mulanya dikenal dengan agama pemena. Pertanian pada masyarakat Karo dikenal dengan sistem gotong royong atau dalam bahasa Karo disebut Aron. Namun, pada pembahasan ini dibatasi pada masalah kesenian.

Lebih spesifik pada bentuk guro-guro aron. Berikut ini dijelaskan lebih mendalam mengenai guro-guro aron pada masyarakat karo.

Sejarah dan Pelaksanaan Guro-Guro Aron

Suku Karo memiliki banyak budaya. Satu di antara budaya suku Karo adalah Guro-Guro Aron. Guro-Guro Aron berasal dari dua kata yaitu guro-guro yang artinya pesta, tetapi bisa juga diartikan main-main, dan aron yang berarti muda-mudi. Oleh sebab itu, secara asal-usul kata, Guro-Guro Aron dapat diartikan sebagai suatu pesta untuk muda-mudi atau permainan untuk muda-mudi.

Pada awalnya pelaksanaan Guro-Guro Aron bertujuan sebagai suatu upacara ucapan syukur karena Tuhan telah memberi hasil panen yang melimpah dan berharap agar panen selanjutnya juga demikian. Oleh karena itu, dibuatlah acara syukuran bersama di desa (orang Karo menyebut desa dengan kuta).

Jadi, Guro-Guro Aron ini dilaksanakan di setiap desa atas kesepakatan bersama masyarakat desa. Guro-Guro Aron dilakukan setiap tahun sehingga orang-orang pun menyebut acara ini dengan kerja tahun (pesta tahunan).

Guro-Guro Aron dilaksanakan dalam bentuk tarian berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki harus menari dengan impalnya, yakni anak perempuan pamannya. Jika tidak ada, si laki-laki boleh menari dengan perempuan yang sama marganya dengan marga ibunya. Jadi, si lelaki tetap menari dengan impalnya.



Karena Guro-Guro Aron berbentuk tarian, pasti ada musik yang menyertainya. Pada masa lalu Guro-Guro Aron diiringi oleh Gendang Lima Sedalanen. Gendang Lima Sedalanen merupakan alat musik khas Karo yang terdiri atas sarune, singindungi, singanaki, gung, dan penganak.

Namun, dalam literatur disebutkan bahwa pada tahun 1980-an terjadi modernisasi alat musik Lima Sendalanen ini. Pada saat itu, musik Lima Sendalanen diduplikat sedemikian rupa sehingga dapat digantikan oleh keyboard.

Artinya, biasanya kelima alat musik itu dimainkan oleh lima orang dan setelah dimodernisasi, bunyi kelima musik itu sudah ada pada keyboard yang pemusiknya cukup satu orang. Oleh sebab itu, keyboard yang mampu menyamai bunyi musik Lima Sendalanen disebut Keyboard Musik Karo. Berikut ini adalah instrumen lima sendalanen.




Pelaksanaan Guro-Guro Aron biasanya juga dimeriahkan oleh perkolong-kolong (sepasang biduan). Biduan ini mengenakan pakaian yang lazim dalam masyarakat Karo. Mereka juga terlatih dalam tarian Karo dan sangat paham dalam memeriahkan Guro-Guro Aron.

Selain itu, biduan ini memiliki suara yang merdu serta pintar beradu pantun atau membuat candaan. Belakangan, Guro-Guro Aron juga dimeriahkan oleh penyanyi-penyanyi Karo. Pelaksanaan Guro-Guro Aron bukan semata-mata pelaksanaan tarian.

Setiap keluarga akan mempersiapkan makanan terbaiknya di rumah masing-masing untuk menjamu sanak keluarga mereka yang datang. Menjadi sebuah tradisi bagi orang Karo bahwa dalam pelaksanaan Guro-Guro Aron selalu menjamu keluarga dan tamu di rumahnya.

Bahkan, ketika kita bertamu ke rumah orang Karo pada saat Guro-Guro Aron, terkadang pemilik rumah lupa mempersilakan duduk kepada tamu karena yang diucapkannya pertama kali adalah ajakan untuk makan.

Ada beragam masakan yang biasa disediakan oleh orang Karo saat Guro-Guro Aron dilaksanakan. Masakan ini tergantung pemilik rumahnya memang. Ada yang memasak trites, tasak telu, dan lain-lain. Selain itu, ada juga makanan khas, yakni cimpa unung-unung, tape, lemang/rires atau cimpa bohan.

Guro-Guro Aron biasanya dilaksanakan dalam dua hari. Pada umumnya acara pembuka dilaksanakan pada malam hari. Pada hari kedua, sebagian daerah melaksanakannya pada siang hari sampai malam hari, tetapi sebagian daerah melaksanakannya hanya di malam hari.

Eksistensi Guro-Guro Aron di Tengah Arus Budaya Global

Guro-Guro Aron dapat bertahan hingga hari ini menunjukkan bahwa masyarakat Karo pada umumnya sangat peduli dan bangga akan budaya mereka. Mereka tidak meninggalkan budaya ini karena Guro-Guro Aron merupakan salah satu budaya Karo yang dapat menyesuaikan dengan  perkembangan zaman.

Guro-Guro Aron tetap eksis di tengah-tengah budaya global yang saling berbenturan. Perkembangan teknologi informasi membawa pengaruh besar kepada setiap bangsa, termasuk pada suku Karo. Gempuran budaya barat ke Indonesia lewat internet dan jejaring sosial, sedikit banyaknya memengaruhi muda-mudi Karo untuk mengikuti budaya barat. Akan tetapi, muda-mudi Karo tetap bangga pada budaya mereka.

Jika ditelisik, Guro-Guro Aron dapat bertahan hingga hari ini karena punya daya pikat tersendiri. Seperti pada umumnya bahwa manusia sangat menyukai hiburan. Guro-Guro Aron menjawab hal ini. Guro-Guro Aron menjadi satu wahana hiburan bagi masyarakat Karo. Hal ini ditandai dengan adanya tarian dan musik.

Selain paparan di atas, Guro-Guro Aron juga dianggap bisa bertahan karena peserta Guro-Guro Aron adalah muda-mudi Karo. Jika bukan karena pemuda yang memeriahkan acara ini, tentu belum pasti lestari.

Muda-mudi pada umumnya bergerak dengan energik dan memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Guro-Guro Aron menjadi satu wadah untuk memupuk rasa cinta di hati muda-mudi. Untuk itu, tidak salah jika bagi sebagian muda-mudi menganggap bahwa Guro-Guro Aron adalah momen penting untuk berkenalan lebih dekat dengan perempuan yang disukainya. Hal ini memang nyata terjadi pada masyarakat Karo pada zaman dahulu hingga sekarang.

Selanjutnya, Guro-Guro Aron adalah pesta pertunjukan tari. Oleh karena itu, setiap muda-mudi pasti ingin menunjukkan dirinya sebaik mungkin. Kostum menjadi salah satu daya pikat tersendiri selain kelihaian menari.

Semua muda-mudi Karo pada saat Guro-Guro Aron menggunakan pakaian adat Karo. Setelah diperhatikan, pakaian adat Karo termasuk pakaian adat yang terbilang menarik. Perempuan akan mengenakan tudung di kepalanya, kebaya, dan dibalut dengan ulos Karo.

Laki-laki akan menggunakan bulang di kepala, baju bebas, dan dibalut ulos Karo di bahu. Tampilannya sungguh menyejukkan mata. Apalagi pakaian adat Karo bernuansa warna merah. Sangat cerah dan menawan.

Untuk itu, tak ada muda-mudi Karo yang malu mengunggah foto mereka saat berpakaian adat Karo. Bahkan, mengenakan pakaian adat Karo menjadi suatu kehormatan tersendiri. Tidak di setiap kesempatan, muda-mudi Karo boleh mengenakan pakaian adat ini. Hanya pada momen-momen tertentu saja. Guro-Guro Aron adalah salah satu momen itu.

Guro-Guro Aron tetap dipertahankan hingga hari ini oleh masyarakat Karo karena acara ini menjadi salah satu momen berkumpulnya seluruh keluarga. Para perantau akan menyempatkan pulang ke desa begitu diundang untuk menghadiri acara ini.

Untuk itu, beberapa desa di Karo telah mengganti waktu pelaksanaan Guro-Guro Aron dari kebiasaan mereka. Biasanya Guro-Guro Aron dilaksanakan setelah panen, tetapi sekarang karena banyaknya warga desa yang merantau, Guro-Guro Aron dilaksanakan pada waktu libur panjang.

Dengan begitu, para perantau akan membawa serta seluruh keluarganya pulang ke desa. Selain untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar, juga sekalian menikmati pesta budaya Guro-Guro Aron.


Guro-Guro Aron memang salah satu budaya suku Karo yang dinilai memiliki landasan filosopi yang kuat sehingga mampu bertahan hingga hari ini di tengah gempuran budaya global. Orang Karo semestinya mengerti ini dan menjadi landasan berpikir agar tidak pernah meninggalkan budaya ini.

Selain itu, Guro-Guro Aron ini tergolong unik karena jarang ada budaya seperti ini. Untuk itu, jika dimanfaatkan secara optimal, Guro-Guro Aron bisa menjadi satu cara menggaet wisatawan mengunjungi Kabupaten Karo pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.


Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Guro-Guro Aron: Eksistensi Budaya Karo di Tengah Arus Budaya Global. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Justianus Tarigan ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

6 Responses to "Guro-Guro Aron: Eksistensi Budaya Karo di Tengah Arus Budaya Global"

  1. Mantap Pak Tarigan. Sangat memperdalam kekayaan wawasan tentang budaya Karo

    BalasHapus
  2. Lumayan nax
    Jangan lupa adat dan budaya karo

    BalasHapus
  3. Keren pak, semoga makin dikebal budaya karo

    BalasHapus
  4. Tulisan dari orang sumatra nih. Keren! Ditunggu tulisan selanjutnya.. 😊

    BalasHapus
  5. Mantap pak justin, lanjutkan 😂

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel