Memaknai Tradisi Nyurat Lontar sebagai Implementasi Manuskrip dalam Pendidikan Aksara Masyarakat Bali



Bali merupakan salah satu provinsi Indonesia yang sangat kental dengan adat, tradisi, dan budayanya. Hal ini menjadikan Bali sebagai destinasi utama bagi para wisatawan baik lokal maupun domestik yang ingin sekali melihat dan menikmati keindahan pulau surga yang satu ini.

Beberapa budaya khas Bali sering ditampilkan ke para wisatawan yang berkunjung sehingga mereka dapat mengenal tradisi - tradisi yang sering dipentaskan seperti tari - tarian adat layaknya Tari Rejang, Tari Legong, Tari Kecak, kemudian tradisi yang dirayakan pada hari raya seperti Tradisi Ogoh - Ogoh, Tradisi Menjor, dan ada juga tradisi yang merupakan budaya khas dari suatu daerah di Bali seperti Tradisi Omed - Omedan yang merupakan tradisi khas dari Kota Madya Denpasar, kemudian ada juga Tradisi Megoak - Goakan dari Kabupaten Buleleng, dan masih banyak lagi.

Sayangnya dari beberapa budaya tersebut terdapat beberapa juga budaya asli Bali yang mulai luntur karena kurangnya penjagaan dan pelestariaan dari semua pihak. Namun untungnya budaya asli Bali yang dulunya hampir punah kini sudah bangkit kembali.

Namun, sebagian dari kita tidak akan tahu bahawa dari beberapa budaya yang hampir punah tersebut terdapat sebuah tradisi yang merupakan cikal bakal dari pendidikan aksara di Indonesia yang bernama Tradisi Nyurat Lontar.

Kata “Nyurat Lontar” sendiri diambil dari dua kata yakni “Nyurat” yang dalam Bahasa Bali artinya menulis atau menyuratkan, dan kata “Lontar” yang merupakan merupakan nama lain dari daun ental yang digunakan sebagai media tulis.

Sehingga jika disimpulkan tradisi Nyurat Lontar memiliki arti sebuah tradisi menulis diatas daun ental (lontar). Tradisi nyurat nontar sebenarnya sudah berlangsung sangat lama dengan perkiraan sekitar 1000 tahunan lebih disaat kerajaan - kerajaan di Bali bahkan Indonesia mulai berkembang, Di Bali, hasil dari nyurat lontar ini diberi nama dengan awalan kata Lontar contohnya seperti Lontar Usada dan Lontar Wariga.

Kemudian di zaman itu, lontar sendiri dianggap sangat sakral dan suci sebab merupakan gabungan antara hasil pemikiran dari para cendekiawan dan tokoh adat serta agama saat itu dengan fakta - fakta yang telah terjadi sebagai referensinya, ini membuat masyarakat pada waktu itu mempercayai lontar sebagai suatu jawaban bila terjadi suatu masalah atau kondisi yang tidak bisa diatasi.

Beberapa lontar waktu itu masih bersifat ajaran turun temurun yang maksudnya isi ajaran dari suatu lontar akan terus diturunkan ke generasi selanjutnya tanpa adanya pembaharuan dan penambahan sebab hanya orang - orang yang sucilah yang dipercaya mampu membaca, mengartikan, serta menambahkan ajaran tertentu ke dalam sebuah lontar.

Hal tersebut membuat lontar bali pada waktu itu lebih membahas mengenai silsilah raja dan keturunannya hingga saat ini, kemudian membahas juga mengenai ajaran agama baik dari segi teori dan prakteknya, ilmu ketatanegaraan hingga ilmu yang membahas tentang pengobatan dan penyakit.

Dilain sisi pada waktu yang sama telah ditemukan kertas sebagai media menulis yang lebih efisien dan efektif. Langkah tersebut membuat masyarakat berpindah dari menggunakan daun ental menjadi secarik kertas putih.

Namun seiring waktu penggunaan kertas kian berkurang, sebab daya tahannya yang ternyata kalah telak dari daun ental. Contohnya, saat terkena air dan teriknya panas matahari membuat lontar akan lebih kuat lagi dan usianya pun dapat mencapai 500 - 700 tahun.

Tetapi hal tersebut berbanding terbalik dengan daya tahan kertas yang kalah jauh, sehingga orang - orang pada waktu itu bila membuat suatu catatan penting yang sifatnya jangka panjang maka akan menulisnya di daun ental, namun bila bersifat jangka pendek kertaslah yang digunakan.

Beberapa lontar yang masih ada hingga saat ini diantaranya,

  1. Lontar Sundarigama 
  2. Lontar Babad Bali
  3. Lontar Usada
  4. Lontar Bhuwana Kosa
  5. Lontar Dasa Nama
  6. Lontar Niti Sastra
  7. Lontar Wariga


Lontar - lontar diatas hanya gambaran kecil yang mewakili ribuan lontar yang tersimpan di Bali. Rata - rata usia lontar yang masih tersimpan kurang lebih sekitar 700 - 1000 tahun lebih dengan kualitas tulisan yang masih sangat bagus hingga sekarang.

Dan sebagian lontar yang pernah dibuat kini disimpan dalam Gedong Kirtya yang terletak di Kabupaten Buleleng dan beberapa lagi menjadi arsip di daerah asalnya dibuat. Selanjutnya jika dilihat lebih dalam lagi, tradisi ini memiliki keunikan tersendiri terutama dalam segi prakteknya yang mana menggunakan Aksara Bali sebagai huruf tulisannya.

Aksara Bali khususnya Aksara Wianjana memiliki 18 aksara dengan beberapa tambahan seperti Gempelan, Gantungan, Aksara Swalalita, Aksara Suara, Aksara Angka, serta Pengangge Suara dan Tengenan. Kemudian, keunikan lainnya terletak pada alat dan bahan yang sangat mudah didapatkan dan juga ramah terhadap lingkungan.

Beberapa alat dan bahan yang diperlukan dalam nyurat lontar diantaranya,

  1. Daun ental yang telah dipotong sepanjang 30 cm
  2. Pengerupak (alat tulis)
  3. Buah kemiri yang dibakar

Secara garis besar ketiga alat dan bahan diatas sudah cukup dalam Nyurat Lontar. Lalu tidaklah elok jika hanya membahas alat dan bahan saja, maka bagaimana proses nyurat lontar tersebut juga akan dijelaskan sebagai berikut,


  1. Siapkan semua bahan - bahan terlebih dahulu seperti daun ental, pengerupak, buah kemiri yang telah dibakar, dan bahan tulisan yang akan kita salin.
  2. Selanjutnya, mulailah nyurat / menulis dengan hati - hati dengan tidak terlalu menekan dan tidak terburu - buru. Sebab lontar mudah sekali robek dan tergores
  3. Kemudian, jika satu sisi lontar sudah penuh maka jangan menulis lanjutannya dibagian belakang karena akan menimbulkan sebuah kerancuan dan menyalahi  aturan (uger - uger) dari tradisi nyurat lontar, jadi ambillah lontar baru dan tulis lanjutannya disana.
  4. Lalu, bila semua bahan tulisan telah disalin di daun ental, maka untuk melihat hasil tulisannya kita gosokkan buah kemiri yang telah dibakar yang akan memunculkan warna hitam sekaligus mewarnai tulisan kita sehingga terlihat oleh pembaca.
  5. Terakhir, untuk menyambung daun - daun ental yang telah ditulis tadi agar tersusun dengan rapi maka gunakanlah tali atau benang dengan melubangi bagian ujungnya lalu mengurutkannya secara vertikal, dan jangan lupa menyimpannya ditempat yang tidak lembap agar tidak mudah lapuk dan dimakan serangga. 


Dari segala yang telah dijelaskan diatas, fakta yang saat ini terjadi berbanding terbalik sebab tradisi nyurat lontar sudah mulai ditinggalkan masyarakat Bali. Penyebab utamanya karena kemajuan teknologi yang berujung pada kurangnya minat belajar.

Memang, kita tidaklah bisa menghentikan laju teknologi yang terus berkembang tiap tahunnya. Walaupun disatu sisi hal tersebut memiliki sisi positif dimana setiap lini pekerjaan dan kegiatan kita sehari - hari dapat menjadi lebih mudah dari sebelumnya, namun disisi lain keuntungan itu justru seperti semacam perangkap dimana segala kemudahan yang diberikan membuat kita menjadi semakin malas yang berujung pada kurangnya minat kita dalam belajar dan bekerja keras.

Begitu halnya dengan tradisi nyurat lontar ini yang semakin hari kian tergerus oleh perkembangan zaman. Apalagi saat ini semenjak teknologi seperti smartphone, komputer, dan laptop merambah ke seluruh dunia, membuat beberapa tradisi sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Itulah yang membuat generasi penerus menjadi adaptif terhadap budaya mereka sendiri.

Tetapi syukurnya para leluhur terdahulu telah menurunkan ajaran - ajarannya mengenai tradisi ini, sehingga sampai sekarang kita masih dapat mempelajari tradisi nyurat lontar sebagai implementasi manuskrip dalam pendidikan aksara masyarakat Bali.

Kini ajaran - ajaran tersebut sudah masuk dalam kurikulum wajib sekolah dalam pelajaran Bahasa Bali, bahkan siswa sekolah dasar pun sudah sejak dini diajarkan hal tersebut agar nantinya mereka terbiasa dan diharapkan bisa meneruskan ajaran tersebut.

Kemudian, strategi selanjutnya adalah dengan mengadakan berbagai perlombaan maupun festival nyurat lontar agar mereka lebih antusias lagi dalam belajar. Alhasil, kegiatan itu secara tidak langsung membuat para generasi muda memiliki rasa peduli akan pentingnya nilai dari suatu tradisi.

Sehingga mereka secara kolektif membentuk sebuah komunitas yang bertujuan menjaga dan menyebarkan tradisi ini agar terus dikenal baik di Bali, Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Hal - hal seperti inilah yang membuat tradisi nyurat lontar masih eksis hingga sekarang.

Selanjutnya selain menjaga agar penerus baru terus berkembang, dari pihak pemerintah bersama masyarakat juga sedang bekerjasama dalam melestarikan peninggalan - peninggalan lontar terdahulu, beberapa langkah mulai dilakukan seperti menyimpan dan merawatnya di dalam bangunan khusus yang bernama Gedong Kirtya, disana segala arsip mengenai lontar dari berbagai jaman kerajaan di Bali hingga Indonesia masih awet terjaga.

Pemerintah juga terus melakukan proses digitalisasi lontar sebagai antisipasi apabila terjadi kerusakan yang fatal terhadapa lontar, maka hasil digitalisasi akan dapat memberikan salinan dari lontar yang rusak tersebut.

Dalam proses digitalisasi tersebut melibatkan seluruh pihak baik dari tokoh adat, seniman, komunitas, masyarakat, pemerintah, sekolah, hingga organisasi yang lingkupnya mulai dari Bali hingga luar negeri.

Saat ini sudah ratusan bahkan ribuan lebih lontar yang telah digitalisasi, selanjutnya hasil digitalisasi ini akan dibuatkan suatu wadah yang diharapkan dapat membantu orang untuk belajar dan mengetahui isi dari lontar - lontar tersebut.

Terakhir, saya sebagai penulis berharap agar tradisi nyurat lontar dan seluruh tradisi dan budaya khas daerah di Indonesia dapat terus eksis dan berkembang di tengah zaman yang disebut revolusi industri 4.0 ini.

Bukan hal yang tidak mungkin jika kita semua terlena sedikit saja maka dampaknya bisa membuat budaya kita perlahan menuju kepunahan bahkan yang paling menyedihkan yakni jangan sampai budaya kita sendiri diakui oleh negara lain seperti kasus - kasus sebelumnya.

Jadi saran saya, mulailah dari diri kita sendiri dengan tekad dan niat yang baik dan kuat marilah kita jaga, rawat, lestarikan, hingga bila perlu kita sebarkan seluruh kekayaan nusantara yang sangat beragam coraknya ini agar ragam Indonesia dapat bersatu ditengah perbedaan layaknya semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Hanya langkah itulah yang dapat menyelamatkan sekaligus membuat budaya asli kita Indonesia dapat melesat dan dikenang lebih jauh hingga anak cucu nanti. 

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Nyurat Lontar. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh I Gede Suta Adhyaksa Permana ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Memaknai Tradisi Nyurat Lontar sebagai Implementasi Manuskrip dalam Pendidikan Aksara Masyarakat Bali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel