Mengenal Kebudayaan Suku Karo



“Mejuah-juah” Apakah para pembaca pernah mengetahui atau bahkan pernah mendengar seseorang mengucapkan kata Mejuah-juah?

Kata Mejuah-juah diatas merupakan salam khas yang dimiliki oleh suku Karo. Suku Karo adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Sumatera Utara dan sebagian wilayah Aceh. Suku Karo ini merupakan salah satu suku terbesar di wilayah Sumatera Utara.

Bahkan nama suku ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di Sumatera Utara yaitu kabupaten Karo. Di sebagian wilayah Aceh juga terdapat kelompok suku Karo. Kelompok suku karo yang berada di aceh dinamai Kaum Lhee Rheutoi.

Suku Karo merupakan suku asli pertama Kota Medan karena Kota Medan didirikan oleh seorang putra Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Suku Karo pada mula nya tinggal di dataran tinggi Karo yakni Brastagi dan Kabanjahe.

Meskipun suku Karo merupakan subsuku dari suku batak namun jangan heran jika ada orang karo yang tidak ingin dikatakan sebagai orang batak. Hal tersebut terjadi bukan tanpa alasan, ada 3 alasan suku karo tidak ingin dikategorikan sebagai orang batak, diantaranya :

Pertama, Orang batak dan orang karo mempunyai nenek moyang yang berbeda. Suku batak berasal dari keturunan Raja Batak, sedangkan orang karo sendiri meyakini bahwa mereka berasal dari Kerajaan Aru yang rajanya disebut Pa Lagan.

Kedua, Bahasa Karo bukan Bahasa Batak. Bahkan karena perbedaan Bahasa tersebut orang karo dan orang batak tak akan paham bahasa satu sama lain.

Ketiga, Suku Karo dan Suku Batak memiliki karakter dan adat istiadat yang berbeda.

Tiga alasan tersebutlah yang menjadi dasar enggannya suku karo dikategorikan sebagai suku batak. Hal tersebut sama seperti halnya Sunda bukan Jawa walaupun hidup di pulau yang sama, Karo juga bukan Batak walau sama-sama tinggal di Sumatera Utara.

Sama seperti suku batak, suku karo juga memiliki merga. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut beru. Merga dan beru ini disandang dibelakang nama seseorang yang bersuku karo.

Merga dalam masyarakat karo terdiri dari lima kelompok, yaitu disebut dengan merga silima, yang terdiri dari karo-karo, tarigan, ginting, sembiring, dan perangin-angin. Dari kelima merga tersebut, masing-masing merga memiliki submerga.

Submerga sendiri merupakan cabang dari merga dan total semua submerga dari merga di suku Karo berjumlah sebanyak 85. Merga diperoleh secara turun-temurun dari sang ayah.

Budaya Karo dan Contohnya


Bahasa

Suku Karo memiliki Bahasa yang khas yaitu Bahasa Karo atau Cakap Karo. Bahasa Karo adalaah Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat karo. Ruang lingkup dari penggunaan Bahasa Karo ini tidak mengenal ruang dan waktu karena dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo maka berhak untuk berdialog dengan Bahasa Karo.

Bahasa Karo merupakan bentuk Bahasa Austronesia Barat. Bahasa Karo ini secara historis ditulis menggunakan aksara Karo atau sering disebut juga Surat Aru/Haru yang merupakan keturunan dari Aksara Brahmi dari India Kuno.

Pakaian Adat

Pakaian adat suku Karo didominasi oleh warna merah dan hitam, dengan bahan dasar Kain Uis yang dipenuhi dengan perhiasan emas yang mewah. Kain Uis sendiri merupakan kain tenun yang berasal dari Kabupaten Karo Sumatera Utara.

Baju adat Karo biasanya terbuat dari pintalan kapas yang disebut Uis Gara. Uis Gara memiliki arti kain merah yang ditenun dengan campuran warna hitam atau putih. Untuk pakaian sehari-hari, uis gara lah yang digunakan untuk masyarakat suku Karo.


Rumah Adat

Rumah adat Suku Karo dikenal juga sebagai rumah adat Siwaluh Jabu yang memiliki pengertian sebuah rumah yang didiami delapan keluarga. Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dan hal itulah yang menjadi ciri khas rumah adat suku Karo. Rumah adat karo memiliki bentuk yang sangat megah dan diberi tanduk.

Tarian

Tarian tradisional suku Karo. Tari dalam Bahasa Karo disebut dengan landek dan merupakan salah satu nilai kebudayaan yang harus dilestarikan sebagai salah satu kekayaan peninggalan budaya. Terdapat beberapa tarian tradisional Karo diantaranya:

1. Tari Piso Surit
Piso Surit merupakan salah satu lagu, syair, serta tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan sang kekasih.

2. Tari Gundala
Tari ini adalah tari yang dilakukan untuk mendatangkan hujan. Tari Gundala dilakukan dengan menggunakan topeng kayu sebagai kostumnya.

3. Tari Baka
Tarian ini menggambarkan seorang paranormal/orang pintar yang sedang menyembuhkan orang sakit.

4. Tari Tongkat
Tari tradisional yang satu ini menggambarkan tentang kepercayaan orang Karo akan adanya roh-roh halus dan masih memercayai tentang adanya kekuatan gaib. Tarian ini juga menggambarkan manusia yang memiliki ilmu gaib dan mengusir roh-roh jagat dengan menggunakan sebuah tongkat khusus yang disebut dengan tongkat malaikat dan tongkat panaluan.

5. Tari Ndikkar
Tari Ndikkar lebih dikenal sebagai tarian bela diri atau pecak silat ala Tanah Karo Sumatera Utara. Ndikkar adalah bentuk pertahanan diri tradisional dari Karo.

Lagu Karo

Salah satu lagu karo yang terkenal adalah Piso Surit. Piso Surit adalah nama sejenis burung yang sering terdengar bernyanyi disekitaran sawah. Lagu ini diiringi oleh salah satu tarian Suku Karo yang menggambarkann penantian seorang pria terhadap kekasihnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kebudayaan Suku Karo. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Femi Juana Putri Ginting ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

2 Responses to "Mengenal Kebudayaan Suku Karo"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel