Mengenal Lebih Dekat Kearifan Lokal Suku Dayak



Suku dayak merupakan suku yang terdapat di pedalaman pulau kalimantan. Konon, nenek moyang suku dayak berasal dari suatu negri dengan nama “Yunan” di wilayah China. Mereka merupakan keturunan dari keluarga kerajaan China yang mengalami kekalahan dalam peperangan, yang kemudian mencoba mengamankan diri berpindah tempat hingga sampai di pulau Kalimantan.

Secara kaidah bahasa sebenarnya dayak bukanlah nama untuk sebuah suku. Sebutan “orang dayak” dalam bahasa kalimantan pada umumnya berarti “orang pedalaman” yang mana mereka jauh dari kehidupan kota.

Panggilan “orang dayak” bukan dikhususkan pada satu suku saja, melainkan berbagai macam suku seperti: dayak kenyah, dayak tunjung, dayak punan, dayak malinau, dayak bakumpai dan puluhan anak suku dayak lainnya.

Sesuai dengan bahasa kalimantan pada umumnya suku ini masih sangat kental memperaktikkan kebudayaan lokalnya hingga saat ini. Suku dayak disebut sebagai orang pedalaman karena mayoritas suku dayak tidak suka dengan keramaian, sehingga mereka lebih suka tinggal dan menetap di pedalaman yang jauh dari keramaian.

Kehidupan suku dayak dengan alam tidak dapat dipisahkan dalam artian kehidupan suku dayak dengan alam telah menyatu. Hal ini yang menjadikan suku dayak lebih merasa nyaman tinggal di pedalaman dibandingkan tinggal di kota.

Mereka mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Adapun jenis makanan adat suku dayak sebagai berikut:

  1. Juhu Singkah, merupakan makanan yang terbuat dari rotan muda.
  2. Karuang, merupakan sayuran dari bahan singkong,
  3. Wadi, merupakan makanan berbahan ikan.

Makanan-makanan ini didapatkan dan dikhaskan dari menelusuri obyek-obyek yang ada dihutan. Selain itu suku dayak juga mengolah sumber da
ya alam menjadi sebuah kesenian, kerajinan dan bahan obat-obatan.

Sebagai contoh tanduk rusa, kulit kijang, taring babi, bulu burung merak, dan lain sebagainya yang dijadikan sebagai kesenian dalam tarian dan pakaian adat suku dayak. Adapun jenis tarian, alat musik, dan pakaian suku dayak sebagai berikut:

Jenis Tarian Adat


  1. Tari Hudoq, merupakan tarian ritual yang dilaksanakan setelah menanam padi oleh suku Dayak Bahau dan Dayak Modang. Inti dari tarian ini dilakukan untuk mengenang jasa para leluhur meraka.
  2. Tari Lelang, merupakan tarian gadis dari Dayak Kenyah yang menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Utan Along dimana dia akan dikawinkan secara paksa dengan seorang pemuda yang tidak dicintainya, sehingga Utan Along melarikan diri menuju hutan.
  3. Tari Kancet Papatai, merupakan tarian perang dengan kisah salah seorang pahlawan Dayak Kenyah yang tengah berperang melawan musuh. Seni tarian ini berupa gerakan yang lincah, penuh semangat, serta gesit dan indah dilihat.

Jenis Pakaian Adat


  1. Sapei Sadaq, merupakan pakaian adat yang dipakai oleh kaum laki-laki. Adapaun ciri-cirinya yakni memakai ikat kepala yang terbuat dari pandan, dan umumnya digunakan oleh kalangan orang tua. Atasan yang dikenakan berupa baju rompi dan bawahnya berupa cawat atau yang disebut dengan Abet Kaoq, serta mandau yang mereka ikat pada bagian pinggang.
  2. Ta’a, merupakan pakaian adat yang digunakan oleh kaum perempuan. Adapun ciri-cirinya tidak jauh berbeda dengan pakaian adat laki-laki. Yang menjadi pembeda hanyalah atasan baju yang disebut dengan sapai inoq dan bawahnya yang berupa rok serta seluruh pakaian dihiasi dengan manik-manik yang indah.


Jenis Alat musik Adat


  1. Garuntung (gong), merupakan alat musik yang terbuat dari bahan-bahan logam.
  2. Gandang (gendang), merupakan alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari-tarian serta lagu-lagu yang dinyanyikan.
  3. Alat musik tiup yakni berupa kalali, tote, dan suling balawung.
  4. Alat musik petik yakni berupa sapek, dan lute.



Adapaun jenis rumah adat, bahasa adat dan beberapa upacara ritual adat dayak sebagai berikut :

Jenis Rumah Adat

Rumah Betang(rumah panjang), merupakan rumah adat khas kalimantan yang dapat ditemui diwilayah penjuru kalimantan, atau tepatnya didaerah hulu sungai yang merupakan pusat tempat tinggal dari masyarakat dayak.

Bentuk dan ukuran rumah betang bermacam-macam di berbagai tempat. Ada rumah betang yang panjangnya hingga mencapai 15 M dan lebar 30 M. pada umumnya rumah betang dibuat dalam bentuk panggung dan ketinggian hingga mencapai 5 M.

Jenis Bahasa Adat

Bahasa Austronesia, merupakan bahasa yang masuk dari bagian utara kalimantan, yang mana selanjutnya menyebar menuju arah timur hingga masuk pada area pedalaman, gunung-gunung, serta pulau-pulau di samudra pasifik.

Selanjutnya bahasa-bahasa masyarakat dayak berkembang seiring dengan datangnya orang-orang melayu dan orang-orang dari tempat lain. Sehingga masyarakat dayak saat ini memiliki banyak bahasa seiring dengan datangnya kelompok-kelompok lain dari wilayah lain.

Jenis Upacara Adat


  1. Upacara Tiwah, merupakan ritual yang dilakukan untuk mengantarkan tulang orang yang telah meninggal ke sandung(rumah kecil) yang telah dibuat. Bagi suku dayak upacara tiwah merupakan upacara yang sangat sakral.
  2. Upacara menyambut kelahiran anak
  3. Upacara penguburan mayat dan
  4. Upacara perayaan.

Suku dayak merupakan suku yang memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak sumber daya alam itu sendiri. Pemanfaatan sumber daya alam ini merupakan ciri yang mengakar dalam kehidupan, kebudayaan dan adat istiadat suku dayak sejak nenek moyang mereka.

Pada suku dayak kenyah mengenal konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam lewat (tana’ ulen). Tana’ artinya tanah dan ulen yang artinya hak atau milik.

Dalam artian luas tana’ ulen merupakan kawasan hutan yang dijadikan hak milik dan hutan lindung adat, yang pengelolaan dan pemanfaatannya telah diatur secara bersama agar tetap lestari untuk generasi mendatang.

Dalam prinsip pengelolaan tana’ ulen, masyarakat dayak kenyah memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan keperluan saja. Sumber daya alam dimanfaatkan secara terbatas, teratur berdasarkan peraturan adat yang telah ditetapkan.

Aturan menetapkan kuota hasil hutan tertentu atau masa yang boleh panen (‘buka ulen) serta cara memanennya harus memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam. Begitu juga dengan masa berburu, mengambil ikan dan hasil hutan harus ada perizinan. Bagi mereka yang melanggar aturan tana’ ulen akan dikenakan denda berupa uang atau barang.

Nah, itula tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Mengenal Lebih Dekat Kearifan Lokal Suku Dayak. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Adrian ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Trimakasih,


 

8 Responses to "Mengenal Lebih Dekat Kearifan Lokal Suku Dayak "

  1. Pengetahuan yg sangat bermanfaat untuk mengenal lebih dekat keragaman budaya nusantara. Exelent :)

    BalasHapus
  2. Mantap tingkatkan terus👍

    BalasHapus
  3. Kearifan lokal yang ada di Suku Dayak ini merupakah salah satu kekayaan Nilai dan Budaya Indonesia. Mari belajar untuk lebih mengenal Indonesi dari budaya-budaya lokal-nya.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel