Menggali Jejak Budaya di Kampung Jaranan Desa Manggis Panggul Trenggalek Jawa Timur

“Indonesia is a state rich of tradition”. Pernyataan tersebut bukanlah slogan belaka. Tetapi, sejarah telah mencatat Indonesia sebagai negara kaya akan tradisi. Dapat dijumpai tiap daerah selalu memiliki tradisi tersendiri.

Apalagi, tradisi yang diakibatkan dari akulturasi agama Hindu Budha dan Islam telah menjamur di masyarakat. Jika ditelisik pada media sosial dan internet hanya sebagian atau bahkan hanya seperempat dari tradisi yang ada di tiap daerah.

Hal tersebut dikarenakan jarangnya masyarakat yang mencoba mengekspos sesuatu yang berkenaan dengan kearifan lokal.  Saat ini, seperti yang diketahui khalayak, Indonesia masih berupaya untuk menjadikan wilayahnya sebagai salah satu target wisata masyarakat internasional dengan keragaman potensi budaya yang layak saksi.

Hal ini berpengaruh pada masyarakat yang terus-menerus mempersiapkan dirinya agar menarik dan layak dikunjungi. Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat Manggis, sebuah desa di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.

Persoalannya, jaman sekarang adalah masanya teknologi merajai umat. Sehingga orang dapat bijak dalam menggunakan teknologi. Ada pula yang sebaliknya. Akibatnya, budaya yang dulu masih dielu-elukan. Kini hanya para orang tua saja yang mengerti budaya di daerah.

Tidak adanya literatur yang dapat diakses menambah kontestasi mengenai ada atau tidaknya jejak budaya di Desa Manggis. Sehingga baik warga lokal maupun interlokal masih asing mendengar nama Desa Manggis dan budayanya.

Selain itu, Desa Manggis cukup jauh dari pusat transportasi seperti stasiun, terminal, apalagi bandara. Memang, persoalan jauh atau dekat tersebut sangat relatif dari mana posisi dan cara melihat Desa Manggis tersebut.

Itulah sebabnya, perlu dicermati di mana posisi Desa Manggis tersebut.
Desa Manggis terletak di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Desa Manggis berjarak sekitar 8,2 km dari pusat Kecamatan Panggul dan sekitar 53 km dari pusat Kota Trenggalek, Jawa Timur.

Dari Kota Trenggalek, jarak yang ditempuh untuk menuju kota tersebut lebih kurang dua setengah jam. Mengapa dikatakan sebagai kampung jaranan? Oleh karena itu, perlu dibuatkan sebuah tulisan guna menjawab pertanyaan tersebut.

Serta sebagai ajang mengenalkan budaya ke publik. Sehingga, dapat menambah deret panjang apa saja kebudayaan yang ada di daerah-daerah terpelosok seperti Desa Manggis. Lantas, apa saja kebudayaan yang ada di Desa Manggis?

1. Nyirep Bumi


Nyirep bumi merupakan tradisi berkumpulnya warga satu RT di rumah seseorang yang baru selesai dibangun selama satu malam terjaga. Nyirep bumi ini diikuti khusus laki-laki yang rata-rata sudah menikah. Nyirep berasal dari kata sirep yang berarti nyenyak/tenang.

Tujuan dari tradisi ini ialah agar sang penghuni rumah bisa tentram, memperoleh selamat, dan dimudahkan dalam mencari rezeki. Menurut Bapak Senin selaku sosok yang dikenal dengan ilmu kejawen, beliau menuturkan “Njaluk ijin nyang samubarang sing nunggu lemah mbiyen”, artinya meminta izin terhadap sesuatu yang awalnya menghuni tanah tersebut.

Hal-hal yang dibutuhkan di antaranya ialah kembang jaya mulya yang sudah dibungkus kain mori, ketupat atau kopat, jenis ubi-ubian berjumlah 7 atau keleman, jenang reno lima. Nyirep ini tidak hanya dilakukan satu kali setelah rumah selesai dibangun.

Tetapi, setiap kelipatan ganjil bisa tiga tahun sekali atau lima tahun sekali. Angka ganjil dipilih karena menurut masyarakat Allah SWT menyukai sesuatu yang ganjil.

2. Genduren 



Dok. Suryanto RT. 19 RW. 06 Tahun 2019
Gb. Genduren di Rumah Bapak Nggomo


Genduren di dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kenduri, yaitu tradisi perjamuan makan untuk memperingati peristiwa. Tujuan dari genduren sendiri berbeda-beda tergantung tema yang diusung oleh peminta hajat.

Di Desa Manggis tepatnya RT. 19 RW.06 Dusun Pagerwatu biasanya mengadakan acara genduren pada saat memperingati hari kelahiran Jawa semisal  kelahirannya jatuh pada hari Jum’at Pon Kranthil maka, diperingati sampai menikah.

Namun, sekarang tidak semua warga mengadakan genduren. Dikarenakan lupa akan tanggal lahir dalam bulan Jawa. Genduren juga dilaksanakan pada saat seseorang sedang terkena sakit maka, pihak keluarga menemui sesepuh untuk meminta hari yang tepat untuk melaksanakan genduren.

Intinya pada saat ingn melakukan hajat selalu ada genduren. Adapun bahan-bahan yang perlu disediakan di antaranya:

  • Mule metri  (nasi berukuran kecil berjumlah 9 apabila orang yang dihajati masih hidup. Tetapi, apabila sudah meninggal maka nasi berjumlah 5)
  • Jenang abang (merah)
  • Rosul (nasi suci atau bisa dikatakan ulam sari. Nasi ini berwarna putih seperti asi pada umumnya hanya ditambahi gula di atasnya. Menurut Bapak Senin, mule metri ini sebagai simbol masyarakat atas kelahiran Nabi Muhammad SAW)
  • Ingkung (ayam yang cara masaknya direbus)
  • Panggang (ayam yang cara masaknya dipanggang)
  • Punar (nasi kuning)
  • Paes kembang (tepung yang dimasak seperti agar-agar)
  • Jenang reno limo polo gimbal (sama dengan jenang pada saat nyirep bumi)
  • Cengkaruk (ketan yang disangrai)
  • Kopat 
  • Keleman 
  • Ngawilujengi (nasi yang ditumpangi sayur dan berkuah sebagai simbol pertanda selesainya acara)


3. Maca’

Maca’ merupakan pembacaan tembang macapat pada anak yang berumur 7 hari. Menurut Bapak Senin, tradisi maca’ satu-satunya tradisi kuno yang masih dipertahankan sebelum Mbah Jalil meninggal.

Mbah Jalil ialah satu-satunya sosok yang menyebarkan tradisi ini. Sayangnya, setelah kepergian almarhum tidak ada yang meneruskan. Faktor yang mempengaruhi ialah beratnya bacaan yang terdapat dalam kitab kuno dan banyak masyarakat yang tidak paham akan isi dalam kitab.

Sebelum dilakukan pembacaan tersebut didegungkan pula shalawat Nabi. Tujuan dari shalawat ini adalah agar kelak anaknya bisa menghadapi kehidupan dengan baik dan selalu ingat kepada Sang Maha Pencipta.

4. Buyegan 


Buyegan merupakan nasi yang dibungkus daun pisang kemudian, di dalamnya terdapat sayur-sayuran, ingkung, dan dibumbui ampas kelapa (hampir mirip dengan serundeng  tetapi bukan digoreng namun dikukus).

Aroma buyeg sendiri khas karena terdapat campuran tempe busuk. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk memperingati hari kelahiran pada tahun ketiga atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah neluni.

Namun, tergantung pula pada pergantian pemberian asupan ASI menjadi susu biasa. Pergantian ini disebut disapih. Selain itu, juga pada saat mitoni. Menurut Bapak Senin, selain sebagai pengingat kelahiran hal ini bertujuan sebagai bentuk syukur atau shodaqoh.

5. Megengan 


Megengan dalam bahasa Jawa adalah menahan dari kemenangan. Artinya, tradisi megengan adalah tradisi untuk menyambut bulan suci Ramadan dan sebagai simbol bahwa selama bulan suci ramdhan semua umat muslim wajib menahan diri dari segala hawa nafsu. Megengan di daerah Manggis sama halnya dengan daerah lainnya. Hanya saja, megengan di daerah ini masih menggunakan apem yang dibungkus menggunakan daun nangka.


6. Adus Pitung Mason


Adus pitung mason dalam Bahasa Indonesia diartikan  sebagai mandi tujuh kali. Tradisi tersebut dilakukan oleh laki-laki yang hendak melaksanakan khitanan. Adus pitung mason bertujuan untuk menyucikan diri. Selain itu, bermakna mencari keselamatan atau dalam bahasa Jawa disebut nimbuli. Seorang anak hendaknya ditemani oleh satu orang dan membawa peralatan mandi.


7. Ngeruh kali


Ngeruh kali ialah tradisi dimana anak yang berumur 7 bulan dimandikan di kali (tempat pancuran air biasanya terbuat dari bambu dan bisa digunakan untuk mandi, mencuci, dan sebagainya layaknya kamar mandi).

8. Slawatan/Tungthengan


Dok. KKN PPM UGM unit Manggis 2018
Gb. Islawatan Gelik Ngangkang


Slawatan berasal dari Bahasa Arab yaitu sholawat. Sesuai dengan asal katanya, budaya slawatan hampir sama dengan sholawat yang ada di tempat-tempat lainnya. Namun, banyak hal yang membedakan slawatan yang terdapat di Desa Manggis ini dengan slawatan yang ada di tempat lain.

Perbedaan-perbedaan ini dapat dilihat dari beberapa sisi antara lain dalam slawatan pemain yang berperan hanya berjumlah tujuh orang, pemain adalah orang yang sudah berusia lanjut, slawatan diiringi dengan adanya sesaji yang disesuaikan dengan hajat masing-masing tuan rumah.

Selain itu bacaan yang diungkapkan dalam budaya slawatan adalah mengikuti ajaran yang diturunkan secara turun menurun. Slawatan menggunakan bahasa Jawa yang dilakukan sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu keindahan.

Dalam naskah yang dibacakan teks bertuliskan dengan aksara pégon dan berbahasa Jawa. Menurut sejarah yang diungkapkan oleh pendiri slawatan yang ada di desa Manggis yaitu Mbah Jamiran, budaya slawtan didirikan pertama kali oleh Mbah Paidi yang berasal dari Ngrayun Ponorogo.

Lalu, secara rutin Mbah Paidi berkenan mengajarkan slawatan ke Desa Tangkil pada hari Senin dan Kamis. Latihan dilakukan secara rutin dan memerlukan kesabaran. Diakui oleh Mbah Jamiran selaku pendiri slawatan di Desa Manggis khususnya Dusun Petung bahwa slawatan  pada mulanya hanya sebagai peramai dusun karena pada waktu itu dusun sangat sepi.

Diakui oleh Mbah Jamiran bahwa keberadaan slawatan pada hari ini adalah Desa Manggis.
Seiring dengan berjalannya waktu slawatan dipercaya masyarakat setempat sebagai upacara adat mitoni, khitanan, membayar nadzar, ulang tahun dan hajat-hajat lainnya.

Adapun sesaji dan doa yang dibacakan dalam setiap acara adalah berbeda satu dengan lainnya. Sebagaimana sesaji yang ada setipa benda yang dijadikan sebagai pelengkap sesaji memliki makna masing-masing yang berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

Ajaran-ajaran yang terbendung dalam naskah yang dibacakan pada saat slawatan mengandung berbagai aspek kehidupan. Perihal ibadah lima waktu bagi orang Islam, ajaran untuk penyebaran agama, penguatan agama, kehidupan bermasyarakat, perjalanan Nabi dll.

Bahasa yang digunakan dalam naskah adalah bahasa yang mengandung keindahan dalam tradisi Jawa yang mana tidak semua orang mengetahui makna yang terkandung di dalamnya.

Keunikan ini memiliki dampak lain bagi perkembangan budaya slawatan yang ada di Desa Manggis yaitu para generasi yang belum memahami makna yang terkandung memiliki pikiran bahwa belajar slawatan sangatlah kuno dan sulit.

9. Disurne


Disurne merupakan tradisi dimana seorang anak letakkan di pangkuan tledek (penyanyi yang lagunya berupa lagu Jawa dengan irama gamelan dan ia bergabung pada satu grub tayub). Tujuannya ialah menghilangkan penyakit ayan atau dalam bahasa Indonesia disebut penyakit epilepsi

10. Yasinan


Yasinan merupakan pembacaan surat Yasin yang dibacakan di salah satu rumah warga. Yasinan dilakukan secara bergilir satu lingkup RT.

11. Tahlilan


Tahlilan ialah pembacaan tahlil bagi seseorang yang baru saja meninggal. Tahlilan dilaksanakan di mulai pada hari pertama sampai hari ketujuh Apabila sampai pada hari ke -40 maka disebut matang muluhi, hari ke-100 disebut nyatus, hari ke-1000 disebut nyewu. Semakin besar kelipatan harinya maka, undangannya semakin besar.

12. Bersih kali


Bersih kali ialah kegiatan membersihkan kali sekaligus berdoa agar mata air bisa bermanfaat bagi warga desa. Menurut Bapak Senin, air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Oleh karena itu, tidak ada salahnya apabila sebagai bentuk rasa syukur dilakukan tradisi tersebut.

Bersih kali juga merupakan usaha untuk melestarikan lingkungan. Seperti yang kita ketahui bahwa tempat-tempat seperti kali terbilang angker. Tradisi ini juga berusaha memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa kali merupakan tempat yang sunyi tetapi bukan berarti angker.

Tradisi bersih kali dilaksanakan setiap bulan longkang. Longkang merupakan musim kemarau. Jadi, sebagai permintaan kepada Allah SWT untuk menurunkan mata air di kali. Menurut cerita warga sekitar, salah satu Sunan pernah menancapkan tongkat hingga keluar mata air.

Jadi, sebagai bentuk bersyukur juga. Oleh karena itu, di setiap kali diberikan sesajen berupa rasul dan keleman.

13. Jaranan Argo Budhaya


Jaranan merupakan seni pertunjukan yang digemari oleh masyarakat luas dari mulai muda sampai tua. Namun, seiring berjalannya waktu dengan perkembangan zaman yang semakin modern, Jaranan pun ikut menyesuaikan dengan mengkombinasikan tarian dengan musik yang modern atas permintaan masyarakat.

Hal tersebut agar masyarakat terutama gnerasi muda tidak cepat bosan. Uniknya jaranan ini dilakukan oleh anak-anak sampai dewasa. Ada sebuah sanggar tersendiri untuk melatih mereka. Masyarakat yang melihat jaranan akan tertarik terutama karena aksi yang dilakukan selalu menunjukkan kerasukan makhluk lain.

Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwasanya terdapat beragam tradisi yang ada di Desa Manggis. Kita tidak menyadari ada peninggalan-peninggalan yang patut dijaga. Adanya teknologi hendaknya dapat dimanfaatkan untuk mengekspos bentuk tradisi seperti ini.

Tujuannya adalah mengangkat kembali eksistensi identitas desa sekaligus sebagai bentuk rekaman jejak sejarah. Generasi berikutnya tidak akan kehilangan sumber data apabila dipergunakan. Tentunya tradisi ini masih cuplikan dari banyaknya tradisi yang ada.

Oleh karena itu, belajar mencari tahu sejarah asal sendiri wajib bagi kita semua dan manfaatkan teknologi untuk menyalurkan budaya. Selain itu sebagai masyarakat, hendaknya belajar tradisi meskipun sukar agar kelak ada penerusnya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya di Kampung Jaranan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Dewi Trisna Wati ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

4 Responses to "Menggali Jejak Budaya di Kampung Jaranan Desa Manggis Panggul Trenggalek Jawa Timur"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel