Menyalami Adat Budaya Ranah Minang



Minangkabau merupakan salah satu suku besar yang ada Indonesia. Secara garis besar, mereka mendiami daerah Sumatera Barat (Sumbar). Meskipun juga meliputi separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, Jambi, dan lainnya.

Masyarakat Minangkabau memiliki adat dan budaya yang kental. Bahkan ajaran-ajaran tersebut masih bisa dijumpai pada masa sekarang. Seperti adat dalam berbicara, adat berperilaku, adat nikah kawin, dan lainnya.

Selain menetap di kampung halaman, masyarakat di “ranah bundo” juga terkenal dengan kebiasaan Marantau (merantau, red). Sehingga bukan sesuatu yang mengherankan kalau orang Minangkabau juga dijumpai di daerah lain pulau Sumatera, atau Pulau Jawa, Kalimantan, dan pulau besar lain.

Bagi pemuda Minangkabau, marantau berkaitan erat dengan pantun lama “karatau madang di huul, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, di rumah baguno balun (Merantaulah anak bujang terlebih dahulu karena di rumah belum berguna)”.

Ungkapan ini berisi dorongan agar anak muda ke perantauan mengubah nasib. Baik untuk menuntut ilmu, bekerja, berdagang, atau lainnya. Lalu setelah sukses di perantauan, barulah pulang untuk membangun kampung halaman.

“Mungkin hanya di bulan yang belum ada restoran Padang,” begitu tulis Mohammad Hatta dalam surat yang dikirim kepada anaknya. Untuk menggambarkan banyaknya orang Minangkabau yang marantau. Karena saat itu sang proklamator menerima cerita kalau di Sydney pun sudah ada Rumah Makan Padang.

Minangkabau juga banyak melahirkan tokoh-tokoh besar dan berpengaruh. Sebut saja Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, K H Agus Salim, Rohana Kuddus, Rasuna Said, dan banyak lainnya.

Selain itu orang Minang juga hidup berdasarkan suku-suku sebagai komunal kecil di tengah masyarakat. Berikut beberapa hal yang mungkin menarik dari ranah Minangkabau.

Bahasa


Etnis Minangkabau punya bahasa sendiri yaitu bahasa Minangkabau, yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun demikian ada perbedaan dialek di daerah masing-masing. Misal antara nagari A dengan nagari B dielakenya tidaklah sama-sama.

Biasanya hal seperti sering dijumpai kalau berkunjung ke daerah dluhak, yang sering disebut sebagai wilayah pemukiman awal penduduk Minangkabau, yaitu Luhak Tanah Data, Agam, dan Limopuluah.

Dalam berkomunikasi beberapa masyarakat juga sering menggunakan pantun, petatah-petitih, ungkapan, atau prosa sebagai seni dalam bertutur. Namun hal ini sudah jarang ditemui dalam percakapan sehari-hari. Kecuali pada acara adat atau kegiatan tertentu.

Dalam berbicara pun orang Minangkabau juga punya tata-cara tersendiri. Untuk mengatur kedudukan orang yang berbicara dengan lawan bicara. Ada istilah “Kato Nan Ampek (empat kata), sebagai aturan tak tertulis saat berkomunikasi.

Kato (kata) yang pertama adalah Kato Mandaki, yang mengatur bagaimana cara anak muda berbicara dengan lawan bicara yang lebih tua. Sehingga setiap kata keluar mesti benar-benar diperhatikan, kata-kata yang sopan, santun, dan menghargai.

Lalu Kato Manurun yang mengatur cara orang tua ketika berkomunikasi dengan yang lebih  muda. Kata yang dipakai adalah kata-kata halus, lemah-lembut, penuh perasaan.  Selanjutnya adalah Kato Mandata yang mengatur cara berbicara dengan orang sepantaran.

Dalam hal ini boleh menggunakan kata pergaulan, hanya saja tetap dengan sikap menghormati.
Terakhri adalah Kato Malereang, tentang cara bicara kepada orang yang disegani.

Hampir sama dengan “Kato Mandaki”, namun penempatan ini lebih kepada orang yang disegani contohnya kepada mertua, pimpinan kantor, pemuka adat, pemuka agama, dan lainnya.

Sistem Kekerabatan


Sistem yang paling menarik dari Adat Minangkabau adalah kekerabatannya, yang menganut Matrilineal. Sistem ini menjadi penguat untuk mengidentifikasi masyakarat Minangkabau.
Dengan Matrilineal, Minangkabau menempatkan perempuan bertindak sebagai kepala waris harta pusaka.

Serta garis keturununan (suku) diambil dari garis keturunan ibu. Misalnya sang bapak bersuku Sikumbang, si ibu bersuku Koto, maka suku anaknya nanti adalah Koto. Bukan hanya termasuk langka di Indonesia saja, sistem ini juga langka dipakai oleh suku-suku di dunia.

Agama


Agama masyarakat Minangkabau adalah Islam. Ini berdasarkan falsafah hidup yang dijunjung tinggi masyarakat yaitu “Adat Basandi Syara’, syara’ basandi kitabullah (adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah)”.


Kuliner


Minangkabau memiliki kekayaan kuliner yang menggugah selera. Siapa tak kenal dengan Randang (rendang) yang dinobatkan sebagai masakan terlezat di dunia itu?. Ya, asalnya dari ranah ini. Di samping Randang, ada banyak makanan atua minuman lain yang patut dijejal.

Seperti Nasi Kapau, Kalio Baluik, Gulai baluik, lompong sagu, kue bika, bubur kampiun, sala lauak, palai rinuak, teh talua, dan “seabrek” lainnya.

Rumah Adat


Rumah adat Minangkabau adalah Rumah Gadang, dengan ciri khas atap bergonjong yang runcing. Di dalam Rumah Gadang juga berlaku syarat-syarat serta aturan yang perlu diperhatikan oleh tamu. Baik tata cara duduk, posisi duduk, berbicara, dan lainnya.

Kesenian

Minangkabau juga memiliki beragam kesenian, mulai dari cabang kesenian musik, seni rupa, tari, sastra, dan pertunjukkan. Alat musik tradisional di Minangkabau adalah Saluang, Bansi, Talempong, Pupuik, Sarunai, Rabab, dan lainnya.

Sedangkan seni berupa tarian terdiri dari Tari Piriang, Tari Payuang, Tari Rantak, Tari Indang, Tari Pasambahan, dan lain-lain.

Selain itu juga memiliki seni ukir dengan motif seperti Kaluak Paku Kacang Balimbiang, Carano Kanso, Itiak Pulang Patang, dan lainnya yang banyak terdoktrin dari alam. Mungkin ini sesuai dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yaitu “Alam Takambang Jadi Guru”.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Ranah Minang. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Fathul Abdi. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Menyalami Adat Budaya Ranah Minang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel