Mepantingan Gulat Ala Bali Sebagai Atraksi Wisata Budaya Dalam Pengembangan Sport Torism Di Indonesia




Bali merupakan salah satu tempat destinasi tujuan wisata dunia, banyak objek wisata yang indah dan menarik menjadi daya tarik wisatawan untuk bekunjung ke Bali, terutama bagi wisatawan mancanegara. Selain memiliki objek wisata yang memukau.

Bali juga memiki beragam warisan budaya dan tradisi unik yang bisa menjadi atraksi menarik perhatian para wisatawan. Salah satu atraksi yang menjadi daya tarik wisata di Bali adalah Mepantingan.

Mepantingan diambil dari bahasa daerah dan kearifan lokal Bali, yaitu panting yang artinya banting, atau secara harfiah, Mepantingan dapat diartikan saling membanting. Mepantingan merupakan seni pertunjukan budaya Bali yang mengkolaborasikan tarian kecak, gamelan, gong, dan rindik dengan seni bela diri judo, karate, dan pencak silat yang dilakukan diatas lumpur pesawahan. Atraksi budaya Mepantingan dapat ditemui di kawasan Batubulan dan Ubud Bali.

Mepantingan ini dilakukan di lumpur, sehingga terlihat layaknya gulat lumpur. Dalam atraksi ini, peserta akan bertanding satu lawan satu dengan cara membanting lawan, kemudian bergulat dan mengunci lawan.

Atraksi Mepantingan ini diadakan dengan tujuan untuk meredakan aksi kekerasan yang terjadi di Bali, karena dalam pagelaran atraksi ini para pemain diajarkan untuk memiliki rasa belas kasihan serta memiliki rasa hormat terhadap lawan mereka. Dengan tujuan inilah maka atraksi Mepantingan dimasukkan dalam salah satu kategori kearifan lokal Bali yang harus dilestarikan keberadaannya.

Mepantingan menjadi atraksi yang berpeluang untuk mendukung pengembangan sport tourism di Indonesia. Mepantingan memiliki potensi untuk menjadi wisata olahraga berbasis budaya yang bisa diterima secara global.

Hal tersebut dapat dilihat dari adanya kejuaraan bertaraf internasional pada tahun 2008 yang bertajuk “First Open Mepantingan Bali Championship” yang diikuti oleh beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Swiss, Australia, Denmark, Norwegia, Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia.

Perwakilan dari masing – masing negara tersebut berpendapat bahwa Mepantingan merupakan suatu atraksi budaya yang dikemas bersama dengan sport tourism. Mengenai hal ini, perlu adanya peningkatan efesiensi dalam pengembangan Mepantingan, Gulat Ala Bali sebagai atraksi wisata budaya dalam pengembangan sport tourism di Indonesia.

Strategi yang dapat dilakukan dalam mengembangkan Mepantingan ini sebagai sport tourism di Indonesia salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan pemasaran dan promosi serta peran pemerintah dalam atraksi Mepantingan agar lebih dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, serta mendukung program pemerintah dalam pengembangan sport tourism.

Selain hal tersebut, pihak pemerintah juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi wisatawan yang mengikuti Mepantingan dengan memberikan asuransi bagi wisatawan yang melakukan aktivitas Mepantingan dan menyusun paket wisata serta jadwal kegiatan agar wisatawan mengetahui pelaksanaan aktivitas Mepantingan.

Dengan dilakukannya strategi tersebut, diharapkan banyak wistawan yang tertarik mencoba atraksi Mepantingan, Gulat Ala Bali, sehingga atraksi ini dapat menjadi salah satu sport tourism di Indonesia.

Dalam hal ini, pihak wisatawan maupun masyarakat lokal juga diharapkan lebih peduli terhadap atraksi wisata budaya ini, dengan menjadikan Mepantingan sebagai olahraga nasional yang dapat diadakan kompetisi nasional untuk menjaga dan melestarikan Mepantingan sebagai sport tourism yang berkelanjutan di Indonesia.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Mepantingan Bali . Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Dyah Silvian Retnosari ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Mepantingan Gulat Ala Bali Sebagai Atraksi Wisata Budaya Dalam Pengembangan Sport Torism Di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel