Pamali Jawa sebagai Salah Satu Kekhasan Masyarakat Jawa



Kebudayaan yang ada di pulau Jawa memang unik. Baik berupa karya seni, sastra, tradisi, atau legenda hingga persoalan pamali cukup menarik untuk dikaji lebih cermat dan mendalam. Terutama mengenai pamali yang jejak-jejaknya masih dapat dilacak di lingkup masyarakat Jawa modern.

Walau sedikit demi sedikit masyarakat jawa modern  mulai menghapus keyakinan mengenai pamali ini karena dianggap tidak logis. dan takhayul. Pada jaman dulu, masyarakat Jawa sangat meyakini kebenaran pamali dan mematuhi pantangannya.

Mereka sangat meyakini secara dogmatis adanya pamali tanpa menggunakan analisa dan pemikiran kritis. Berdasarkan realita tersebut, penulis mencoba untuk membahas secara kritis terhadap pamali Jawa yang semula dianggap sebagai kebenaran tanpa proses analisa kritis.

Namun sebelum menginjak pada bahasan tersebut, penulis akan mengurai tentang pengertian pamali Jawa serta hal-hal lain yang berkaitan di dalamnya.

Pengertian Pamali Jawa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata pamali adalah pantangan atau larangan berdasarkan adat dan kebiasaan. Dengan demikian pamali Jawa dapat dimaknai sebagai pantangan di masyarakat Jawa yang harus dihindari oleh anggota masyarakatnya sendiri.

Apabila pantangan tersebut dilanggar maka akan mendapatkan risikonya. Pamali Jawa juga merupakan teguran atau nasehat bijak dari orang tua kepada anak, cucu, atau orang lain (anggota masyarakat Jawa lainnya) yang disampaikan secara tidak langsung.

Sehingga bagi seorang yang tidak kritis dalam menangkap makna tersirat di balik teguran tersebut akan selalu menilainya sebagai teguran irasional ( diluar nalar)

Pamali Jawa sebagai Salah Satu Ciri Kekhasan Karakter pada Masyarakat Jawa

Sebagaimana karya seni, sastra, dan tradisi, pamali Jawa mengidentikkan ciri khas atau karakter masyarakat Jawa, Kita dapat mengetahui bahwa masyarakat Jawa tidak suka menegur anak, cucu, atau orang lain secara langsung; melainkan melalui sanepa (kiasan).

Dari sini menun- jukkan bahwa masyarakat Jawa mengajarkan agar setiap orang yang mendapatkan teguran untuk berpikir secara kritis untuk mengerti makna di balik teguran itu. Karena sesuatu yang diungkap- kan secara lisan belum tentu mengandung makna sebenarnya.

Dari sini dapat ditunjukkan, bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang tidak suka berterus terang. Adapun hikmah positif yang terkandung di dalam Pamali Jawa, yakni agar setiap manusia selalu menggunakan ilmu “titen” yakni ilmu yang bersumber dari pengamatan atas kejadian berulang-ulang.

Sehingga dengan ilmu itu, orang Jawa akan selalu berhati-hati di dalam menjalani kehidupannya. Di samping itu,n Pamali Jawa pula memiliki ajaran positif  bagi setiap manusia agar selalu meyakini bahwa di luar kekuatannya sendiri masih terdapat kekuatan yang lain yang bersifat gaib.

Baik kekuatan tuhan maupun kekuatan-kekuatan gaib lainnya.  Contoh- contoh Pamali Jawa diantaranya adalah:

1. Anak kecil dilarang makan brutu ayam (bagian ekor ayam) nanti mudah lupa  

Pamali  ini banyak dikenal dan dipatuhi orang jawa  Tanpa mengetahui analisa kritisnya mereka melakukan tanpa membantah, Padahal jika dinalar dengan logika ‘brutu’ adalah bagian terempuk dan terenak dari daging ayam, jangan-jangan daging brutu tersebut biar dimakan orang tua dan anaknya tidak boleh memakannya.

Padahal maknanya adalah bahwa seorang anak hendaklah jangan senang berada dibelakang, dia harus berani kedepan maju dan tidak minder untuk menggapai cita-citanya .Nanti mudah lupa maksudnya jika terlalu senang dengan (keadaan dibelakang/minder) maka si anak semakin lupa untuk maju.

2. Jangan mengeluarkan suara ketika sedang makan, karena akan berakibat menjadi bahan gunjingan orang lain, atau menjadi pengundang binatang buas

Pamali ini difungsikan agar masyarakat Jawa bisa memiliki etika dan adab kesopanan ketika makan, sehingga dia tidak menjadi gunjingan orang lain.

Dengan cara makan yang tidak bersuara berarti melukiskan cara makan manusia yang beradab dan beretika.bukan cara makan hewan yang makan dengan nafsu hewaninya.

3. Duduk di atas bantal dipercaya akan sebabkan bisulan. 

Pamali ini difungsikan sebagai sebuah norma dalam hidup masyarakat Jawa. Karena, masyarakat Jawa sangat menjaga  keharmonisan dalam  pola hidup mereka. Bantal itu tempatnya kepala, bukan tempat bagi pantat.

Karenanya sangat  tidak sopan jika mendudukinya. Bisa jadi ‘sebabkan bisulan’ dimunculkan sebagai bahan untuk menakut-nakuti anak agar bantal tidak digunakan sebagai alas duduk. Jadi secara nalar, pamali ini bisa diterima akal sehat

4. Bersiul saat malam hari konon bisa mengundang setan. 

Pamali ini difngsikan masyarakat jawa sebagai norma etiika dan kesopanan. Tentulah  tidak sopan kalau bersiul di malam hari karena jelas mengganggu waktu istirahat penghuni rumah dan tetangga.

Karena terganggu mereka bisa jadi akan marah (hawa amarah ini di identikkan dengan mengundang setan)  Maklumlah karena suasana kampung orang Jawa zaman dulu terkenal sunyi dan sepi. Siulan yang dilakukan akan memecah keheningan di malam hari.

5. Tidak boleh makan di depan pintu, terutama buat perawan (wanita yang belum bersuami) dan jodohnya tidak bakal datang.

Secara logika tentu tak ada hubungannya antara sulit jodoh dan makan di depan pintu. Adanya pamali perawan tidak boleh makan di depan pintu itu memiliki hubungan dengan norma kesopanan. Terutama norma kesopanan orang Jawa zaman dulu.

Makan di depan pintu dianggap tidak sopan karena menghalangi jalan keluar-masuk orang-orang. Kalau wanita perawan sudah dipandang tidak sopan,pria mana yang mau memilihnya untuk jadi calon istri? Ini membuktikan bahwa orang Jawa ‘kan sangat mementingkan etika dan norma kesopanan.

6. Anak kecil dilarang keluar habis maghrib! nanti digondol Wewe  

Ini salah satu pamali kental yang juga berhubungan dengan waktu Maghrib. Pamali ini didasari banyaknya anak kecil yang belum pulang saat bermain kemalaman.  Dengan pamali ini mengingatkan anak kecil agar jangan bermain sampai malam.

Ada juga sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa waktu maghrib adalah saat di mana setan-setan mulai keluar gentayangan. Karenanya anak kecil dilarang untuk keluar bermain pada jam-jam ini. Kalau ada anak yang nekad melanggarnya, bisa-bisa dia akan diculik wewe (=nama jenis setan) dan tidak akan dilepas pulang kecuali sesajen sudah disuguhkan.

7. Menyapu tidak bersih jodohnya akan brewokan (bercambang). 

Bagi orang-orang Jawa yang hidup zaman dulu, orang brewok itu cenderung identik dengan sosok yang jahat. Jika hal ini kemudian dikaitkan dengan etos kerja. Menyapunya tidak bersih maka akan mendapat jodoh orang jahat, Pamali ini bisa digunakan sebagai motivasi agar kalau bersih-bersih rumah harus benar-benar memperhatikan kebersihannya.

8.Tidak boleh memotong kuku di malam hari, bisa mengakibatkan keluarga terdekat meninggal

Karena zaman dulu belum ada penerangan yang memadai, maka memotong kuku di malam hari sangat beresiko tinggi. Apalagi zaman dulu juga belum ada gunting kuku. Mereka menggunakan pisau atau gunting yang jelas-jelas bahaya untuk memotong kuku.

Bisa membaha- yakan bila secara tidak sengaja memotong jari atau memotong bagian  badan saudara sendiri yang lewat.

9. Jika pergi ke pantai Selatan jangan menggunakan pakaian berwarna hijau. 

Pamali ini banyak diyakini orang Jawa khususnya di daerah pinggir pantai. Bisa jadi alasannya adalah alasan keamanan. Karena warna hijau yang dipakai akan menyulitkan tim SAR dalam melakukan pencarian apabila terseret ombak.

Karena ombak di pantai selatan memang terkenal ganas dan tak bisa diduga.  Dari berbagai contoh pamali diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa pamali Jawa merupakan ciri khas penyampaian nasehat dan teguran pada masyarakat di Jawa.

Nasehat dan teguran itu disampaikan dengan cara yang khas yaitu dengan bahasa halus dan dengan makna tersirat. Sehingga yang ditegurpun tidak tersakiti hatinya dan mendapat pengertian makna hidup yang mendalam.

Pamali Jawa mampu membangkitkan jiwa sosial masyarakatnya agar berbudi luhur dan menjunjung nilai-nilai etika dalam bermasyarakat. Dengan begitu maka layaklah pamali Jawa menjadi salah satu ciri khas budaya yang ada di masyarakat Jawa

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Pamali Jawa. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ainur Pinandita. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

3 Responses to "Pamali Jawa sebagai Salah Satu Kekhasan Masyarakat Jawa"

  1. wouw baru tau aku.. ternyata makan brutu ayam dilarang ama bapakku,tak kirain brutu ayamnya akan dimakan bapak wong isinya daging doang, eh ternyata ada makna dibalik itu to ? kerenn

    BalasHapus
  2. tulisan cerdas , jarang yang ngangkat pamali sbagai bahasan sbb mmg hal ini mmg sulir diartikan , dsn sdh berakar di masayarakat jawa ... mmg ada makna di balik wewarah tiyang sepuh jawi

    BalasHapus
  3. ijin share ya .. kalo nyapu gak bersih nanti suaminya brewoken, kata2 itu sering sih dikatakan ibu saat nyruh aku nyapu , wkwkwk gak bisa mbayangin jika punya suami brewoken , wkwk

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel