Samin di Kota Mustika



Ditengah perkembangan era modern saat ini, Indonesia tetap mampu mempertahankan konsistensi atas kontestasi nilai eksotis dan keunikan ragam budaya dalam keragaman masyarakatnya. Indonesia telah dikenal dengan baik atas kekayaan budaya dan kearifan lokalnya oleh masyarakat kancah dunia.

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jawa terutama di kawasan Blora yang  juga disebut dengan Kota Mustika yaitu masih adanya suatu kepercayaan orang Jawa kuno di daerah tersebut atau yang biasa disebut dengan Saminisme.

Saminisme sendiri memiliki Jumlah konsentrasi terbesarnya di kawasan Blora, Jawa Tengah khususnya di dusun Karangpace, desa Klopoduwur kecamatan Banjarejo dan juga di kawasan Bojonegoro, Jawa Timur.

Menurut mbah Lasiyo yang merupakan salah satu tokoh Saminisme di kawasan Blora ini, pengikut Saminisme lebih sering menyebut golongan mereka dengan sebutan sedulur sikep. Dikarenakan dasar dari ajaran ini yaitu untuk selalu menjalankan kesabaran menerima.

Orang Jawa bisa  menyebutnya dengan nerima ing pandum atau yang memiliki arti menerima apapun dengan ikhlas atas takdir yang ada, dan juga mengajarkan sikap tidak bertengkar dalam ucapan atau orang Jawa menyebutnya dengan padu.

Uniknya, ada beberapa tradisi yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat sedulur sikep, yang pertama yaitu tradisi Deder yaitu dimana seluruh masyarakat sedulur sikep dari berbagai daerah dari kecamatan atau bahkan kabupaten lain berkumpul ketika malam Selasa atau malam Jumat pada tanggal 10 pada bulan Dzulhijjah.

Atau orang Jawa sering menyebutnya dengan Sasi  Besar di pendopo di daerah Klopoduwur, mereka datang untuk menjalankan tradisi yang mana teknis pelaksanaannya yaitu dengan cara tidak diperbolehkan duduk ataupun dalam posisi tidur dari pukul 20.00 sampai dengan pukul 04.00 WIB.

Mereka diwajibkan berdiri boleh dengan cara berdiri di satu tempat atau dengan jalan-jalan. Mbah Lasiyo menambahkan jika tradisi tersebut dipercaya menebus dosa orang tua laki-laki.

Sedangkan untuk menebus dosa dari orang tua perempuan dilaksankannya tradisi Poso Ngrowot yaitu puasa tidak makan apapun yang berbahan dasar dari beras ataupun jagung yang dilakukan saat ada acara kelahiran.

Dan pada bulan Muharam atau pada kalender Jawa disebut Sasi Suro, ada acara besar yaitu pertunjukan wayang yang dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon atau ketika tidak ada Selasa Kliwon pada bulan tersebut maka diganti dengan malam Jumat Kliwon yang disertai dengan adanya acara tumpengan.

Tumpeng yang digunakanpun tidak boleh sembarangan harus ada nasi uduk, jambe, suruh, pisang 2 sisir,dll. Juga harus ada 6 macam bubur seperti bubur merah, bubur putih, bubur merah putih, dll. Harus serba degan(kelapa muda), diberi gelaran tikar atau klasa dari pandan,dll.

Dari sekilas penjelasan diatas, hanya disebutkan penebusan dosa untuk orang tua perempuan dan laki-laki. Mbah Lasiyo mengatakan bahwasannya orang belum mampu dikatakan sedulur sikep jika belum mempunyai pasangan suami atau isteri.

Karena, imbuh mbah Lasiyo sedulur sikep itu diibaratkan malam dan siang, susah dan senang, bagus dan jelek, dll.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Jejer Suku Samin. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Meihana Fatin. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,


3 Responses to "Samin di Kota Mustika"

  1. Tulisan informatif! Semoga selalu bermanfaat memberi tulisan ilmu budaya & kebudayaan Indonesia.

    BalasHapus
  2. Sangat informatif, terimakasih👍👍

    BalasHapus
  3. Oooh.. saya baru tau ada dulur sikep haha menambah wawasan sekali ya kak. Terima kasih informasinya

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel