Suku Primitif di Pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas




Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan adat istiadat. Salah satunya di Pulau Sumatra terdapat berbagai  macam suku. Satu diantaranya yaitu Suku Anak Dalam yang terkenal berkat kunjungan Bapak Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 silam. 


Suku ini berada di Desa Bukit Suban,  Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun tepatnya di Provinsi Jambi. Suku Anak Dalam (SAD) atau yang sering disebut Orang Rimba merupakan suku minoritas yang tinggal di pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas. 

Suku Anak Dalam (SAD) oleh masyarakat sekitar juga disebut Suku Kubu. Sebutan ini ditujukan karena suku ini merupakan kelompok masyarakat yang dianggap primitif, kuno, bodoh, dan menjijikkan. 

Namun sebutan Suku Kubu ini dianggap kasar dibandingkan dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba. Suku Anak Dalam berarti orang yang terbelakang, tinggal di pedalaman dan jauh dari modernisasi. 

Menurut sejarah lisan yang beredar dimasyarakat setempat, leluhur dari Suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarganya dan lari ke dalam hutan sekitar Taman Nasional Bukit Dua Belas di Air Hitam. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. 

Suku ini hidup secara sederhana dan tinggal di dalam hutan. Dalam kehidupannya, mereka terbagi kedalam beberapa kelompok dan masing-masing memiliki pemimpin yang disebut Tumenggung. Kebiasaannya sehari-hari yaitu berburu dan meramu untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Mereka menggantungkan seluruh hidupnya kepada sumber daya alam yang tersedia di sekitar. Mulai dari makanan hingga kebutuhan sehari-hari seperti obat-obatan,  mereka memanfaatkan bahan-bahan alam yang tersedia.  

Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari peralatan yang mereka gunakanpun masih sederhana dan terbuat dari bahan-bahan alam sekitar. Misalnya peralatan berburu, alat-alat rumah tangga, hingga pakaian. 

Pakaian yang mereka kenakan yaitu cawat (bagi kaum laki-laki) dan kain bawahan (bagi kaum perempuan). Suku ini sanggup berjalan berkilo-kilo meter menyusuri hutan untuk berburu atau pun mencari makanan tanpa menggunakan alas kaki. 

Konon menurut kepercayaannya jika mereka menggunakan alas kaki maka akan menyulitkan pada saat berburu atau mengintai buruan. Selain itu salah satu kebiasaan yang dilakukan Suku Anak Dalam yaitu melangun. 

Cara hidup melangun sudah dilakukan sejak lama oleh Suku Anak Dalam. Melangun merupakan hidup tidak menetap atau berpindah-pindah. Kebiasaan melangun dilakukan jika ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal dunia, maka mereka akan berpindah untuk mencari tempat tinggal baru. 

Melangun bertujuan untuk menghilangkan rasa kesedihan akibat ditinggal oleh anggota keluarganya. Suku Anak Dalam dikenal dengan kepercayaan animismenya, yaitu percaya akan roh  dikehidupannya. 

Mereka mempercayai bahwa disetiap tempat terdapat jiwa roh-roh  bersemayam sehigga harus dihormati.  Meskipun suku ini terbelakang dan tertinggal, namun mereka masih sangat menjunjung dan menghormati nilai-nilai adat. 

Suku Anak Dalam juga tetutup dengan dunia luar. Mereka tidak perduli dengan perkembangan zaman ataupun modernisasi yang terjadi. Namun keberadaan mereka merupakan suatu warisan suku budaya yang perlu dijaga dan tetap dihormati sebagai bagian dari keberagaman suku di Indonesia. 

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Suku Anak Dalam. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Siska Widiani. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Suku Primitif di Pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas"

  1. Artikelnya bagus, menggambarkan kehidupan SAD di Desa Bukit Suban, terimakasih untuk artikelnya, wawasan menjadi lebih luas..

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel