Tradisi "Mbiyodo dan Nyinoman" Masyarakat Kecamatan Wates Kabupaten Blitar Membentuk Generasi Emas Berkarakter Mulia



Indonesia memiliki impian menjadi bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti, budaya dan intelektual untuk mewujudkan bangsa yang kuat ditengah era globalisasi. Bangsa Indonesia mencanangkan tahun 2045 sebagai tahun generasi emas.

Generasi emas yang merupakan cita-cita besar Bangsa Indonesia hanya bisa dilakukan dengan merekonstruksi pengembangan sumber daya manusia masyarakat Indonesia. Pengembangan sumber daya manusia Indonesia bisa dilakukan salah satunya melalui literasi budaya.

Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.  Kondisi ideal remaja sebagai generasi penerus, merupakan individu yang sedang berkembang.

Generasi penerus harus diberi kesempatan berkembang secara proporsional dan terarah. Mereka memiliki peran dan posisi strategis dalam kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun kondisi faktual di lapangan seperti yang muncul di media cetak dan elektronik, kenyataannya generasi emas penerus bangsa terjebak dalam perilaku amoral yang sangat mencemaskan dan mengkuatirkan bahkan meresahkan masyarakat.

Diantaranya adalah perkelahian antar pelajar, individualisme yang tinggi, rendahnya gotong royong, empati sesama yang luntur dan tenggang rasa yang memudar. Permasalahan di atas bisa teratasi dengan literasi budaya melalui tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman”.

Kecamatan Wates Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah yang berada di pantai selatan Kabupaten Blitar. Kecamatan Wates memiliki pluralisme yang sangat tinggi. Pluralisme ini ditandai dengan berkembangnya agama Islam, Kristen, Katolik dan Hindu yang dianut oleh generasi mudanya.

Sehingga tidak mengherankan jika banyak kita jumpai masjid atau musola, gereja dan vihara di daerah ini.  Apa yang anda ketahui tentang tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman”?.  “Mbiyodo dan Nyinoman” merupakan tradisi masyarakat dalam hal ini generasi muda Kecamatan Wates yang dilakukan dengan sukarela dan tanpa paksaan sedikitpun.

Tradisi ‘’Mbiyodo dan Nyinoman’’ merupakan salah satu tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang sejak zaman dahulu. “Mbiyodo dan Nyinoman” dilakukan untuk saling membantu tetangga atau kerabat yang akan mengadakan hajatan (pernikahan atau khitanan). Apa bedanya  “Mbiyodo dan Nyinoman”?.

“Mbiyodo” adalah sebutan untuk perempuan sedangkan “Nyinoman” sebutan untuk laki-laki yang membantu dalam sebuah hajatan.  Tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” merupakan budaya  tradisional yang profesional. Budaya tradisional yang profesional?.

“Mbiyodo dan Nyinoman” dikatakan budaya tradisional karena budaya ini dilakukan secara turun temurun. Sedangkan dikatakan profesional dikarenakan kegiatan “Mbiyodo dan Nyinoman” diawali dengan pembentukan struktur kepanitiaan.

Struktur kepanitian tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” berisi tentang pembagian tugas. Pembagian tugas ini bertujuan untuk memudahkan kegiatan pada acara hajatan tersebut. Biasanya terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, seksi “Tonjokan atau ater-ater”, seksi terima tamu, dan seksi dapur.

Dari beberapa tugas tersebut mereka harus memiliki tanggung jawab dan menghormati para tamu dengan istilah Jawa yaitu ‘’aroh, gupuh, dan suguh’’. ‘’Aroh’’ yaitu menyapa tamunya dengan penuh kesopanan dan keakraban.

‘’Gupuh’’ yaitu rasa semangat menghormati tamunya dengan sikap yang sesempurna mungkin, karena tamu bagaikan raja. Sedangkan ‘’suguh’’ yaitu memberikan hidangan atau suguhan kepada para tamu.

Lalu bagaimana tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” dapat menumbuhkan generasi emas yang berkarakter mulia?. Didalam tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” terdapat proses penanaman karakter mulia pada masyarakat Wates Blitar terutama generasi mudanya.

Seorang ketua yang ditunjuk harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.  Sekretaris dan bendahara harus berkarakter jujur dan dapat dipercaya. Hal ini karena seorang sekretaris dan bendahara bertanggung jawab penuh untuk mencatat uang yang diberikan generasi muda kepada yang memiliki acara hajatan.

Tidak bisa kita bayangkan apabila sekretaris dan bendahara tidak memiliki karakter jujur dan dapat dipercaya. Maka uang yang ada bisa dikorupsi dengan menulis jumlah uang tidak semestinya.

Misalnya seorang warga yang memberikan uang kepada yang punya hajatan Rp. 100.000,00 akan tetapi pada buku catatan cuma ditulis Rp. 60.000,00. Artinya yang Rp. 40.000,00 dikorupsi sama sekretaris dan bendahara tersebut.

Seksi “Tonjokan atau ater-ater” merupakan seksi yang memiliki peranan penting dalam suatu hajatan. Hal ini dikarenakan seksi ini memiliki tugas untuk mengirimkan makanan sekaligus undangan hajatan kepada masyarakat yang diundang.

Seksi “Tonjokan atau ater-ater” menumbuhkan karakter generasi muda yaitu saling mengenal, tidak mudah putus asa, dan hidup bermasyarakat. Dengan karakter saling mengenal maka undangan dapat tersampaikan sesuai dengan orangnya.

Dengan karakter tidak mudah putus asa, maka seksi “Tonjokan atau ater-ater” akan berusaha mencari alamat yang ditujuh sampai ketemu.  Seksi terima tamu bertugas menerima tamu undangan yang hadir. Seksi tamu harus memiliki karakter sopan santun dan saling menghargai.

Ketika tamu datang, maka seksi tamu berkewajiban untuk menyambutnya dengan sopan santun. Ketika tamu datang, seksi terima tamu tidak boleh membeda-bedakan kasta, jabatan, atau kaya miskinnya tamu undangan.

Artinya seksi terima tamu juga harus memiliki karakter saling menghargai. Semua tamu undangan diperlakukan sama dan tidak membedakan antara yang seiman dengan yang tidak seiman, antara yang kaya dengan yang miskin dan antara yang berpendidikan tinggi dengan yang rendah.

Seksi dapur tidak kalah pentingnya dari sebuah hajatan. Karena seksi dapurlah yang bertanggungjawab penuh atas ketersediaan hidangan yang dihidangkan kepada tamu undangan. Dalam pelaksanaannya, seksi dapur harus memiliki karakter suka bekerjasama, saling menghargai dan disiplin tinggi.

Bisa dibayangkan jika dalam suatu hajatan, seksi dapur tidak bisa bekerjasama dengan antar anggota seksi dapur atau bahkan dengan seksi yang lainnya. Maka ketersediaan hidangan tidak akan tersedia dengan maksimal yang pada akhirnya membuat malu yang punya hajat.

Apabila masing-masing tidak memiliki disiplin tinggi, maka dapat dipastikan ketersediaan hidangan tidak bisa tersedia dengan baik.  Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai cita-cita besar tahun 2045 sebagai tahun generasi emas dapat dilakukan dengan melakukan literasi budaya.

Salah satu budaya yang ada adalah tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” yang menjadi tradisi generasi muda Kecamatan Wates Kabupaten Blitar. Dengan Tradisi “Mbiyodo dan Nyinoman” generasi muda memiliki karakter mulia.

Karakter mulia tersebut diantaranya adalah memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, jujur dan dapat dipercaya, saling mengenal, tidak mudah putus asa, hidup bermasyarakat, sopan santun, saling menghargai, suka bekerjasama dan disiplin tinggi.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Mbiyodo dan Nyinoman. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ali Efendi. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Tradisi "Mbiyodo dan Nyinoman" Masyarakat Kecamatan Wates Kabupaten Blitar Membentuk Generasi Emas Berkarakter Mulia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel