Tradisi Uang Panai’ dan Budaya Siri’



Negara yang resmi menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 ini banyak memiliki ragam kebudayaan, baik kebudayaan etnik yang berasal dari tradisi turun temurun nenek moyang maupun kebudayaan asing yang berkembang sejak jaman penjajahan kolonial.

Yah, Indonesia memiliki banyak budaya budaya lokal yang harus di lestarikan salah satunya adalah tradisi Uang Panai’ dan budaya Siri’ yang berasal dari Sulawesi Selatan khususnya masyarakat Bugis-Makassar. 

Dalam masyarakat Bugis-Makassar, salah satu nilai tradisi yang masih tetap menjadi pegangan sampai sekarang yang mencerminkan identititas (Soekanto. 2010. 38) serta watak orang Bugis-Makassar, yaitu siri’ na pacce.

Siri’ berarti: Rasa Malu (harga diri), dipergunakan untuk membela kehormatan terhadap orang-orang yang mau menginjak injak harga dirinya. Sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebut Pesse yang berarti: pedih/pedas (keras, kokoh pendirian).

Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan individu lain dalam komunitas (solidaritas dan empati). Sering kita dengar ungkapan suku Makassar berbunyi “punna tena siri’nu, paccenu seng pa’nia” (kalau tidak ada siri’mu paccelah yang engkau pegang teguh).

Apabila siri’ na pacce sebagai pandangan hidup tidak dimiliki seseorang, akan dapat berakibat orang tersebut bertingkah laku melebihi tingkah laku binatang. 

Tradisi Uang Panai dan budaya Siri’ merupakan  tradisi yang telah ada sejak dahulu.Tradisi Uang Panai’ merupakan salah satu persyaratan yang wajib dilakukan sebelum kedua belah pihak calon pengantin melanjutkan pembicaraan lebih jauh mengenai pernikahan.

Sesuatu yang telah lama dan menjadi tolak ukur masyarakat Bugis-Makassar termasuk dalam hal pernikahan. Masyarakat sangat menjunjung tinggi nilai Siri’ sebagai bentuk perilaku yang mencerminkan strata sosialnya.

Sebagai bukti, jika Uang Panai’ yang diberikan sangat rendah dari strata sosial contoh seorang bangsawan yang menikah dengan seorang kalangan biasa lantas Uang Panai’ yang ditawarkan tidak sepadan dengan strata sosial, maka akan menimbulkan buah bibir dimasyarakat sekitar sehingga, menimbulkan rasa malu (siri’).

Dengan demikian tradisi Uang Panai’ dan budaya Siri’ sangat berkaitan erat sehingga oleh masyarakat Bugis-Makassar memegang teguh adat dan budaya tersebut.

Tradsi Uang Panai’ dan budaya Siri’ tidak hanya sekedar identitas bagi masyarakat setempat, tetapi juga mempunyai nilai nilai yang memberikan manfaat tersendiri bagi yang melaksanakannya. Sebagai contoh, nilai nilai yang sangat kental dalam kebudayaan ini adalah nilai sosial.

Uang Panai’ mengandung nilai sosial yang sangat memperhatikan derajat sosial atau strata sosial seseorang, sebagai tolak ukur dari Uang Panai’. Nilai derajat sosial seseorang sangat mempengaruhi tinggi rendahnya Uang Panai’ yang merupakan budaya pernikahan masyarakat Bugis-Makassar.

Karena nilai sosial tersebut maka hubungan antara keluarga pihak laki-laki dengan pihak perempuan menciptakan keluarga yang bervariasi dan kaya akan perbedaan, namun sama akan tujuan. 

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Tradisi Uang Panai’ dan Budaya Siri’. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Nur Alia Anniza. K. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Tradisi Uang Panai’ dan Budaya Siri’"

  1. Sangat bermanfaat yg membacanya dan rugilah orang yg tdk membacanya karna banyak pelajaran dalam pembahasan diatas ini 👍👍

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel