Upacara Adat Mantu Kucing Kabupaten Pacitan

Kabupaten Pacitan memiliki julukan kota 1001 goa menyimpan banyak obyek wisata menarik untuk dikunjungi. Obyek wisata goa berumur ratusan atau bahkan ribuan tahun yang memilik sejarah budaya menarik untuk diketahui.

Selain wisata goa ada juga upacara adat menarik untuk dinikmati yaitu upacara mantu kucing sebagai sebuah upaya membuktikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.


Ucara Mantu Kucing Pacitan (Foto: Wem)


Upacara adat  mantu kucing merupakan bagian dari budaya di desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan. Desa ini berada kurang lebih tiga kilometer disebelah timur dari pusat Kota Pacitan.

Wilayah desa Purworejo didominasi oleh area perrsawahan dengan beberapa bukit dan aliran anak sungai Grindulu, sungai terbesar yang mengalir. Kondisi alam sangat mendukung mata pencaharian masyarakat sekitar dimana sebagian besar penduduknya sebagai petani.

Petani dan alam adalah sebuah kesatuan menjadikan alam sebagai faktor pendukung dalam menjalankan profesi dibidang agraia. Namun terkadang alam berperan sebagai faktor penghambat bagi petani kareana datangnya musim kemarau berkepanjangan sehingga debit air berkurang bahkan menyebabkan kekeringan kondisi ini menjadikan penghalang petani untuk menanam padai atau tanaman lainya.

Entah sejak kapan, desa Purworejo kecamatan Pacitan berkembang tradisi untuk masalah kemarau panjang. Upaya ini dilakukan dengan menjalankan upacara bertujuan meminta diturunkannya hujan. Tradisi ini dipercaya sudah berkembang sejak zaman animisme dan dinamisme

Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, namun tradisi ini masih dipegang teguh oleh waraga. Hanya saya, doa dipanjatkan berpindah haluan , jika dahulu doanya ditujukan kepada roh halus, roh leluhur atau makhluk yang mbahurekso wilayah ini, kini doanya ditujukan  kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Mantu kucing tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikahan dua anak manusia. Hanya khusus dalam hal dinikahkanya dua ekor kucing dan tidak diduduki di kursi pelaminan melainkan di dalam tandu.

Tetapi pengantin dihiasi pakaikan mahkota dari janur kuning juga mengucapkan ijab qobul yang diwakili oleh masing-masing kepala desa dimana kucing berasal. Kucing betina berasal dari desa Purworejo sedangkan kucing jantan berasal dari desa sebelah upacara pernikahkanya diadakan ditepi sebuah aliran sungai tempat kucing betina dipelihara.

Tata cara urutan upacara mantu kucing pertama pada hari yang telah ditetapkan, pengantin perempuan dinaikkan tandu, diarak dan dibawa ke tempat upacara pernikahan. Tempat yang dimaksud berada di batas desa asal kucing betina dan dipilih di tepi sungai.

Di tempat inilah calon pengantin perempuan (kucing betina) menanti kedatangan calon pengantin laki-laki (kucing jantan) yang berasal dari desa Arjowinangun. Setelah penganten laki-laki datang di tempat tersebut diadakan upacara temu penganten.

Penganten laki-laki diarak dengan pengiring yang membawa sesaji dan seperangkat barang sasrahan (barang yang diserahterimakanatau biasa disebut mahar) dari pihak besan laki-laki kepada besan pihak perempuan.

Mahar dalam perkawinan kucing ini biasanya berupa pedaringan (dalam bahasa Jawa disebut genthong) yaitu sebuah wadah terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk tandon air, menurut warga desa hal ini mengisyaratkan warga sudah siap menadah hujan yang turun dengan menggunakan tandon tersebut.

Dalam upacara serah terima ini pengantin laki-laki (kucing jantan) diwakili oleh seorang wanita (ibu kepala desa Arjowinangun). Pihak penerima adalah wakil pengantin perempuan yang diwakili oleh seorang bapak (kepala desa Purworejo).

Temu penganten itu disebut jemuk setelah upacara serah terima penganten laki-laki dan perempuan didudukkan bersanding di dalam tandu penganten perempuan kemudian kedua penganten diarak menuju ke tepi sungai.

Calon mempelai perempuan dipilih kucing betina yang sudah dewasa tapi belum pernah beranak, berbulu coklat halus dan sehat serta asli dipelihara oleh warga desa Purworejo. Sedangkan calon mempelai laki-laki dipilih kucing jantan yang sudah dewasa dan diperkirakan belum pernah bersama kucing betina, berbulu coklat halus dan sehat serta dipelihara di desa Arjowinangun.


Upacara Mantu Kucing Pacitan (Foto: Setiawan)


Memandikan penganten sebagaimana pengantin manusia, pengantin kucing ini juga dimandikan untuk mensucikan diri sebelum memasuki akad nikah. Di tepi sungai tempat pesta pernikahan berlangsung, kepala desa Purworejo menyerahkan kedua penganten kepada sesepuh desa.

Kakek inilah yang memimpin upacara memandikan pengantin dengan air bunga, sekaligus upacara akad nikah dimana ijab kabulnya diucapkan oleh kepala desa Purworejo dan diterima oleh sesepuh yang memimpin upacara ini.

Kakek sesepuh desa kemudian mengucapkan doa dan mantra, dengan perantaraan dua ekor kucing (sepasang penganten) yang dimandikan, sang Kakek memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan yang berkah.

Ngalap berkah berupa selamatan dengan tumpeng nasi kuning. Sesudah dipanjatkan doa, warga masyarakat mengadakan makan bersama yang disebut “kembul bujana punar” artinya secara bergantian warga desa yang ngestreni (menghadiri) mengambil nasi kuning. Tumpeng nasi kuning dipersiapkan pihak penganten perempuan (kepala desa Purworejo).

Setelah selesai upacara ngalap berkah, rangkaian upacara dilanjutkan dengan sungkeman. Pihak keluarga penganten laki-laki dan perempuan bergantian melakukan sungkeman sebagai tanda akhir upacara mantu kucing.

Kakek dukun meminta kepada segenap warga desa yang mengikuti upacara agar dengan segera meninggalkan tempat upacara, menuju kerumah masing-masing karena diyakini setelah itu akan turun hujan yang deras.

Sepasang pengantin kucing yang telah dinikahkan kemudian dibawa pulang oleh kepala desa Purworejo dan dipingit didalam kandang selama 7 hari atau sampai hujan turun dan setelah itu dipelihara biasa selayaknya kucing piaraan.

Upacara adat Mantu Kucing di Desa Purworejo Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan merupakan tradisi Jawa peninggalan dari sesepuh dan masih  dilestarikan oleh warga Desa Purworejo sampai sekarang.

Prosesi upacara adat Mantu kucing tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikahan dua anak manusia. Hanya khusus dalam keperluan ini yang dinikahkan adalah dua ekor kucing dan tidak didudukkan di kursi pelaminan melainkan di dalam tandu, namun demikian pengantin juga dihias walaupun hanya dipakaikan mahkota dari janur kuning.

Selain itu kedua mempelai juga tidak mengucapkan ijab qobul sendiri melainkan diwakili oleh masing-masing kepala desa dimana kucing ini berasal. Ada beberapa makna simbolis yang terkandung di dalam upacara adat Mantu Kucing di Desa Purworejo, secara umum yaitu upacara ini semata-mata tujuannya adalah meminta hujan pada Tuhan Yang Maha Esa ketika musim kemarau panjang.

Di dalam upacara adat Mantu Kucing sendiri terdapat prosesi atau pelaksanaan dan juga perlengkapan yang memiliki makna, namun pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Sisi lain memiliki fungsi melestarikan budaya ditengah perkembangan jaman modern  sebagai budaya warisan nenek moyang kita yang dijalankan secara turun temurun.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Upacara Adat Mantu Kucing. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Yuyus Citra Purwida ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

4 Responses to "Upacara Adat Mantu Kucing Kabupaten Pacitan"

  1. Baru tau cerita mantu kucing sebenarnya mb Yuyus,,, jossss

    BalasHapus
  2. mb yuyus suatu saat tulis jg dong tentang kehidupan remaja pacitan

    BalasHapus
  3. Saya baru tahu ada mantu kucing dari dik Yus, informasi yg bagus sekali

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel