Adat Tengger di Balik Keindahan Gunung Bromo



“Sira kate nandi?”

Kalimat di atas mungkin akan kita dengar ketika memasuki perkampungan yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Sekilas memang terdengar mirip dengan bahasa Jawa, tetapi bahasa orang Tengger sesungguhnya tidak sama. Misalnya, jika orang Jawa melafalkan huruf ‘a’ menjadi ‘o’, maka orang Tengger tetap menyebut ‘a’. 

Pegunungan Tengger memang sudah terkenal di nusantara, bahkan hingga luar negeri, terutama dengan Gunung Bromonya. Namun, selain gunung-gunung dan perbukitan cantik, kawasan ini juga memiliki kekayaan budaya yang tak kalah menarik. Sebut saja upacara besar yang juga sering dihadiri turis, Kasada. Selain ritual tersebut, sebenarnya masih ada upacara lain, misalnya:

Karo

Upacara adat ini digelar pada bulan Karo, bulan kedua pada kalender Tengger. Ritual ini merupakan perwujudan syukur masyarakat pada Tuhan karena berkah yang diterima setahun lalu. Ritual ini meliputi pembacaan mantra kemudian memandikan pusaka diiringi Tari Sodor oleh kaum pria, sedangkan para perempuan menunggu di luar.

Pada sore hari, merekalah yang menyediakan tumpeng lalu dimantrai dukun adat setempat sebelum kemudian dibagikan lagi. Bagian Tumpeng Gedhe ini sebagai perwujudan syukur atas panen. Esoknya, dukun akan mendatangi rumah warga satu per satu untuk didoai dan mendoakan leluhur. Setelah bagian ini selesai, keesokan harinya penduduk akan berkeliling kampung ke rumah-rumah tentangga layaknya lebaran Idul Fitri, kemudian menziarahi makam setempat.

Unan-unan

Bila upacara Karo dilaksanakan setahun sekali, maka Unan-unan diselenggarakan setiap lima tahun pada bulan kesebelas kalender Tengger. Ritual ini merupakan upaya bersih desa dan tolak bala, sekaligus mendoakan arwah leluhur.

Selain itu, ritual ini juga untuk mencocokkan/menggenapkan kalender Tengger kembali karena adanya selisih jumlah hari pada bulan tertentu di tiap tahun.

Upacara ini termasuk mengorbankan seekor kerbau sehari sebelumnya. Kepala, kulit, dan kakinya dibiarkan utuh untuk diarak, sedangkan dagingnya dijadikan 100 tusuk sate untuk sesaji. Selain sate, sesaji tersebut juga meliputi 100 jajanan dan 100 tumpeng. Seluruh persembahan itu kemudian diarak menuju tempat peribadatan (sanggar pamujan) untuk dibacakan mantra Unan-unan oleh dukun desa.

Kasada

Inilah upacara yang paling dikenal karena diselenggarakan di jantung Pegunungan Tengger, yaitu kawah Gunung Bromo. Sebelum dilaksanakan di kawah, penduduk Tengger berdoa dulu di Pura Luhur Poten yang terletak di dalam wilayah kaldera pasir.

Kasada, yang dilaksanakan pada tanggal 14 di bulan Kasada, merupakan perwujudan syukur masyarakat terhadap Sang Hyang Widhi. Upacara ini sangat berhubungan dengan legenda Rara Anteng dan Joko Seger yang sudah dihapal masyarakat Tengger di luar kepala.

Rara Anteng adalah putri raja Majapahit yang menikah dengan Joko Seger, putra seorang brahmana (pendeta). Keduanya sudah bertahun-tahun menikah tetapi tak kunjung diberi keturunan, membuat mereka meminta pada dewa.

Pasangan itu menyanggupi bahwa bila diberi 25 anak, maka salah satunya akan dikorbankan ke kawah. Doa itu dijawab oleh suara dari kawah Gunung Bromo dan tak lama kemudian sang istri benar-benar mengandung dan melahirkan putra-putri kembar hingga berjumlah 25.

Seiring tahun, pasangan tersebut lupa janjinya pada dewa hingga Joko Seger mendapat mimpi peringatan. Ia pun menyampaikan hal itu pada keluarganya. Dari semua anaknya, hanya Jaya Kusuma yang bersedia mengorbankan diri.

Diiringi orang tuanya, si bungsu pun meloncat ke dalam Gunung Bromo. Sesaat setelah sosoknya tak terlihat, terdengar suara yang meminta agar keluarga dan keturunan mereka tak melupakannya sehingga dilaksanakan upacara Kasada untuk mengingat pengorbanan pemuda itu.

Salah satu tempat pemujaan di Lautan Pasir, yang kerap dilewati jeep

Asal Muasal Tengger

Selain legenda Rara Anteng dan Joko Seger, sejatinya masih banyak cerita rakyat yang berkaitan dengan terbentuknya masyarakat maupun Pegunungan Tengger. Versi lain adalah kisah Kyai dan Nyai Umah yang mirip dengan cerita pasangan sebelumnya. Bedanya adalah anak yang dikorbankan merupakan putra pertama mereka yang bernama Tengger. Menurut Kohlbrugge, peneliti Belanda, inilah yang menjadi asal-muasal kata ‘tengger’.

Ada beragam versi tentang asal nama ‘tengger’. J. E. Jasper, seorang pemerintah Hindia Belanda, menyatakan bahwa itu merupakan singkatan dari nama Anteng dan Seger. Sementara J. Kats, peneliti lainnya, berpendapat bahwa itu merupakan nama patih kerajaan Medhangkamolan. Ada pula yang berpendapat bahwa kata itu berasal dari bahasa kuno yang bermakna ‘tempat yang jauh’ karena orang-orang Tengger adalah orang yang berdiam jauh ke dalam pegunungan.

Orang-orang Tengger diyakini merupakan penduduk Majapahit yang mengungsi setelah kerajaan digdaya tersebut runtuh akibat kalah perang dengan Kesultanan Demak. Maka tak heran bila mereka mayoritas beragama Hindu, seperti sebagian besar penduduk Majapahit kala itu. Meskipun begitu, kepercayaan yang mereka anut memiliki perbedaan dengan kepercayaan Hindu pada umumnya karena pengaruh sejarah dan adat.

Rumah yang Mengacu Gunung dan Nasi Aron

Seperti masyarakat di pedesaan pada umumnya, orang-orang Tengger lebih guyub dan ramah. Tidak ada rumah orang Tengger yang memiliki pagar karena rasa percaya tinggi antartetangga. Rumah tradisional mereka pun unik, yakni memanjang ke arah Gunung Semeru dengan pintu utama di bagian ujung dan menghadap Gunung Bromo.

Dapur merupakan bagian terpenting karena selain untuk memasak juga untuk menghangatkan badan dari hawa dingin pegunungan yang menusuk. Bila ada tamu, penduduk Tengger tidak akan mempersilakannya masuk ke ruang tamu, tetapi langsung mengajak berdiang di dapur.

Oleh karena itu, ruangan yang terletak di ujung lain rumah ini biasanya juga dilengkapi pintu keluar. Ini merupakan salah satu wujud keramahan masyarakat Tengger.

Selain bentuk rumah yang tak biasa, perkampungan Tengger di daerah Tosari juga tak kalah unik. Rumah-rumah di kampung ini dindingnya sengaja dicat dengan warna-warna mencolok, seperti biru muda, merah muda, oranye, dan sebagainya.

Wilayah yang sekarang dijuluki Kampung Kelir ini membangun rumah di teras-teras bertingkat. Dari kejauhan, mereka tampak cantik seperti rumah-rumah mainan yang memenuhi bukit dari bawah hingga ke atas.

Rumah berwarna-warni di wilayah Tosari

Bila mampir ke Pegunungan Tengger, jangan lupa untuk mencicipi makanan khas di sana, yaitu nasi aron. Makanan ini sekilas tampak seperti nasi biasa, tetapi sesungguhnya terbuat dari tumbukan jagung putih yang khas hanya ditanam di sana.

Meski bermatapencaharian utama sebagai petani, tetapi komoditas utama di sini adalah sayur. Maka tak heran bila tidak ada sawah karena memang tidak cocok ditanami padi, sehingga ditanamlah jagung sebagai ganti.

Memang hampir tak ada warung yang menjual nasi aron, tetapi orang yang pernah mencoba berkata bahwa rasanya enak karena lebih gurih, apalagi didampingi dengan sambal dan beragam sayuran lokal.

Makin nikmat rasanya bila disantap panas-panas bersama-sama di dalam dapur dengan tungku mengepul mengumbar kehangatan. Dijamin, hawa dingin pegunungan yang menusuk akan dikalahkan oleh hangatnya kebersamaan dengan warga lokal.

Itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Adat Tengger. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Shabrina N. H. ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Adat Tengger di Balik Keindahan Gunung Bromo"

  1. Artikelnya cukup menarik, kita bisa tahu asal muasal adat di Tengger di balik kemegahan Bromo, bahasanya enak dan mudah dipahami mengalir bagai air...smg kali lain bisa menulis artikel lebih banyak lagi tentang keindahan tempat2 lain yg ada di Indonesia.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel