Aksara Kaganga sebagai Warisan Budaya Suku Rejang


Muhammad Hatta mengatakan, “Kebudayaan tidak dapat dipertahankan saja, kita harus berusaha merubah dan memajukan, oleh karena kebudayaan sebagai kultur, sebagai barang yang tumbuh, dapat hilang dan bisa maju.”

 Dewasa ini banyak yang kurang memerhatikan budaya sehingga budaya yang seharusnya dilestarikan malah mengalami kemunduran. Masalah ini bila tidak segera diatasi akan mengalami kepunahan. Kebudayaan yang berada di Indonesia tidak dapat dihitung jumlahnya.

Menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal akan keberagaman budaya, baik dari suku, tradisi dan seni. Dan diantara puluhan suku yang berada di Indonesia, ada sebuah suku yang unik, Suku Rejang. Pernahkah mendengar tentang suku Rejang?

Suku Rejang adalah salah satu suku tertua yang ada di Sumatera, khusunya Sumatera bagian selatan. Rejang merupakan daerah yang ada di Bengkulu, berada di pegunungan sehingga udara di daerah Rejang masih bersih dan bebas dari aktivitas kota yang identik dengan kesibukan serta tak lepas dari polusi.

Suku Rejang memiliki tiga dialek yang masing-masing memiliki perbedaan yang sangat tampak. Tiga dialek suku Rejang yaitu: rejang lebong; rejang curup; dan rejang kepahiang. Hal ini menjadikan Rejang sebagai suku yang unik. Tidak kalah unik dari dialeknya, suku Rejang juga mempunyai warisan budaya berupa tulisan, yaitu aksara Kaganga.

Aksara Kaganga adalah tulisan kuno yang menjadi icon suku Rejang. Aksara Kaganga juga terdapat pada daerah-daerah di Sumatera bagian Selatan lainnya seperti Lampung, Lubuk Linggau, dan Palembang. Dapat dikatakan bahwa aksara kaganga berasal dari India Kuno.

Dalam buku Folk literature of South Sumatra yang diterbitkan pada tahun 1964 oleh seorang antropolog di University of Hull bernama Mervyn A. Jaspan (1926-1975)  memberikan nama pada aksara ini dengan istilah Kaganga.

Orang Rejang memberi nama lain dari aksara Kaganga dengan sebutan Surat Ulu. Dahulu Kerajaan Sriwijaya menggunakan aksara Pallawa dan aksara Kawi yang kemudian berkembang menjadi Surat Ulu. Kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa itu membuat aksara Kaganga menyebar dengan cepat di sepanjang daerah yang dilalui sungai Musi. Aksara Kaganga sudah diajukan kepada UNESCO sebagai salah satu warisan dunia.

Aksara Kaganga memiliki keunikan tersendiri. Cara menulis aksara Kaganga ternyata tidak sesulit yang orang pikirkan. Aksara Kaganga memiliki kemiringan hampir 45˚. Mulai dari arah kiri ke kanan, lalu dari sudut kiri bawah ke kanan atas,  kecuali untuk huruf yang memiliki garis tegak lurus.

Dalam aturan penulisan aksara Kaganga, seluruh hurufnya memiliki akhiran “a”. Orang dahulu menuliskan aksara Kaganga di bilah-bilah bambu, batu, kulit rotan, dan tanduk hewan. Dan alat yang digunakan dalam penulisan aksara ini juga unik, yaitu batu runcing dan paku.

Para ahli mengatakan bahwa aksara Kaganga ini berhubungan erat dengan penyebaran islam di Rejang, yang berasal dari pendatang luar pada abad 18 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan penemuan awal naskah aksara yang berisikan ajaran islam dan ditemukan pada pertengahan abad 18 Masehi.

Dengan adanya penemuan naskah Kaganga menandakan bahwa seberapa besar pengaruh aksara Kaganga pada masyarakat suku Rejang. Pada saat ini sudah banyak naskah Kaganga yang ditemukan dan dikumpulkan dari berbagai daerah Bengkulu, serta disimpan di Museum Bengkulu yang tersusun rapi di dalam etalase kaca.

Museum Bengkulu mempunyai lebih dari seratus naskah kaganga dan hanya beberapa saja yang sudah diterjemahkan. Naskah Kaganga banyak berisikian tentang hal yang penting dalam kehidupan, mulai dari pengobatan, percintaan, ramalan, hukum adat hingga ajaran agama. Tidak diragukan lagi bahwa naskah Kaganga adalah warisan yang harus dikupas dan ditelaah.

Naskah kaganga biasanya diberikan turun-temurun dari leluhur. Oleh karena itu, bukan menjadi hal yang asing lagi bila naskah Kaganga ini dikeramatkan dan dijadikan benda pusaka oleh pewaris naskah.

Banyak pewaris naskah yang tidak dapat membaca aksara Kaganga sehingga mereka tidak mengetahui isi naskah. Bahkan ada beberapa pewaris naskah yang membakar naskah Kaganga karena menganggap tidak penting. Padahal sejatinya naskah Kaganga adalah warisan budaya yang harus dijaga.

Telah diketahui bahwa aksara Kaganga sudah tidak digunakan lagi oleh suku Rejang, sehingga banyak anak muda yang awam akan aksara ini. Meskipun aksara Kaganga belum diketahui oleh masyarakat luas, namun budaya ini adalah warisan yang sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan.

 Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah adanya mata pelajaran khusus yang memelajari aksara Kaganga, baik cara menulis ataupun cara membaca. Mata pelajaran aksara Kaganga bisa ditemukan di beberapa sekolah di daerah Rejang.

Dan yang memberikan pelajaran aksara Kaganga ini biasanya para guru yang memiliki darah keturunan suku Rejang. Dengan adanya metode pembelajaran ini diharapkan aksara Kaganga dapat diteruskan hingga ke generasi selanjutnya sehingga aksara Kaganga tidak mengalami kepunahan. Sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Aksara Kaganga. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Bunga Tiara Kasih ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

1 Response to "Aksara Kaganga sebagai Warisan Budaya Suku Rejang"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel