Asal Mula Nama Malioboro (Jalan Berhiaskan Untaian Bunga)


Etimologi nama-nama tempat selalu menarik untuk dibahas. Asal usulnya menimbulkan banyak spekulasi. Salah satunya adalah nama kota di Yogyakarta, yaitu  Malioboro. Apakah nama Malioboro berasal dari nama Duke of Marlborough pertama? Ataukah dari kata “mâlyabharin” dari bahasa Sanskerta yang berarti “berhiaskan untaian bunga”? 

Nama jalan sering dianggap bukan sesuatu yang penting.  Agak aneh memang, bahkan dapat dikatakan ironis. Sebab hal itu justru mengebu ditengah semangat berlomba menemukan simbol atau identitas kota-kota di Indonesia.

Tidak kurang aneh apabila disinggung mengenai simbol atau identitas, orang akan segera mengacu kepada Monas, orang Betawi, serta Ondel-ondel jika terkait dengan Jakarta. Jam Gadang jika itu Bukittinggi. Bandung dengan Gedung Satenya. Sementara itu Yogyakarta tentu saja pada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, angkringan, batik, dan tentu saja Malioboro.

Sedikit sekali kota di Indonesia yang nama jalannya menduduki posisi sangat kuat dalam hierarki pembawa simbol dan identitas. Pun yang menganggap sebagai simbol dan identitas kota. Salah satunya kota dengan julukan Kota Istimewa, Yogyakarta. Yogyakarta terkenal dengan kebudayaan jawa yang kental dengan wisatanya yang begitu banyak. Jogja juga di kenal sebagai Kota Pelajar karena sekitar tujuh puluh persen penduduknya adalah pelajar dan mahasiswa.

Salah satu wisata yang sangat terkenal di jogja adalah Malioboro, bahkan ada ungkapan “kalau ke jogja belum ke malioboro itu belum bisa dikatakan ke jogja” karena malioboro merupakan pusat perbelanjaan di jogjakarta. Lalu sebenarnya dinisbatkan kepada apa nama Malioboro diambil??

Dilansir dari (jadiBerita) menurut Prof. Djoko Suryo seorang ahli sejarah, dari dulu kawasan jalan itu (malioboro) baru ada pasar Beringharjo dan Kepatihan. Tapi semenjak dibangun jalan kereta api dan Stasiun Tugu yang menjadi sentral keluar masuk jogja, kawasan itu jadi ramai dan jogja menjadi kota modern.

Banyak orang asing masuk, khususnya orang Tionghoa banyak yang mendirikan toko-toko hingga kemudian dibangunlah penginapan-penginapan serta hotel. Pada tahun 1912, kerajaan Inggris di bawah pimpinan Stamford Raffles menyerang kesultanan Yogjakarta yang saat itu diperintah oleh sultan HB II.

Demi menggugah pasukan Inggris demi menaklukkan pasukan Yogyakarta saat itu, Raffles menanamkan jiwa dan semangat kepahlawanan kerajaan Inggris kepada Duke of Malborough.  Duke of Malborough adalah seorang panglima kerajaan Inggris yang berhasil mengalahkan pasukan Spanyol dan Perancis dalam berpuluh-puluh kali pertempuran.

Semangat dan keberanian Malborough itulah yang menjadi pompa semangat ke pasukan. Sejak itu masyarakat jogja tidak asing dengan nama Malborough. Seringnya Malborough melewati jalan tanpa nama menuju pusat kota yakni Gedung Residen dan Benteng itu, membuat masyarakat menyebut nama itu dengan Malborough.

Menurut Djoko Suryo, karena masyarakat Jawa susah mengucapkan kalimat bahasa Belanda dan Inggris maka disesuaikan dengan lidah Jawa. Oleh karena itu hingga sekarang masyarakat menyebut jalan itu dengan Malioboro . 

Dalam versi lain juga dijelaskan asal mula dinamainya Malioboro berasal dari Istilah Sanskerta, yaitu “malya” (karangan bunga, untaian bunga atau tasbih) “malyakarma” (mendapatkan untaian bunga), “malyabharin” ( berhiaskan atau mengenakan untaian bunga) dapat dilacak dalam ramayana berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada pertengahan abad ke-9, kata-kata tersebut belum ditemukan dalam naskah apapun dari masa selanjutnya yang mungkin lebih dekat masanya dengan pendirian kerajaan baru Yogyakarta oleh Mangkubumi pada 1749.

Sehingga menurut tradisi India (Ramayana, edisi Mumbay, 2,17) jalan-jalan kerajaan itu, terutama pada hari perayaan, dihiasi antara lain dengan malya atau untaian (bunga). Dalam bahasa sanskerta “dihiasi dengan untaian bunga” adalah “malyabhara” atau “malyabhara”. (asal usul nama Yogyakarta & Malioboro : 2015)

Jalan raya sepanjang 2 kilometer yang membentang dari pintu perlintasan KA stasiun Tugu sampai Keraton itu, sudah terlajur disebut Jalan Malioboro. Padahal menurut kepustakaan kota Yogyakarta, yang resmi bernama Malioboro hanya dari pintu KA hingga simpang empat dekat komplek Pemda DIY, kepatihan.

Antara tugu sampai pintu KA namanya Jl. P. Mangkubumi yang dulunya dinamakan Jalan Tugu Kidul, sedangkan antara simpat empat Jl. A Yani hingga simpang empat Kantor Pos Besar disebut Jalan Margomulyo. Sementara Kantor Pos sampai Alun-alun yang panjangnya hanya 100 meteran, namanya Jalan Pangurakan yang kemudian sekitar tahun 1963-1964 diganti dengan Jalan Trikora .

Jadi sebenarnya, Malioboro itu kecil saja pada awalnya, tetapi dibalik itu semua tersimpan berbagai nostalgia, kenangan atau harapan dari jutaan orang setiap harinya. Dua puluh empat jam sehari, ribuan orang menggantungkan nasib dan periuk nasinya di Malioboro, mulai dari pemilik toko, angkringan, lesehan, pegiat musik jalanan, pelukis hingga pencopet.

Demikianlah beberapa argumentasi mengenai asal-usul sebuah jalan yang membentang dari Stasiun Tugu hingga Keraton yang hingga kini terkenal dengan nama Malioboro.

Itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Sejarah Malioboro. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh M. Irfan Sholeh ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

5 Responses to "Asal Mula Nama Malioboro (Jalan Berhiaskan Untaian Bunga)"

  1. Terimakasih bro, sudah memberikan informasi sejarah ttg malioboro, 👍

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah membuat artikel yang bisa membantu kita untuk megetahui sejarah malioboro 🙏

    BalasHapus
  3. Mantap..kota yg menarik untuk d kunjungi, terimakasih sudah membuat artikel yg cukup menarik untuk d baca dan juga memberikan pemahaman yg cukup banyak tentang sejarah malioboro

    BalasHapus
  4. Sungguh menarik tulisannya... Singkat dan kaya akan wawasan juga dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga cocok dibaca untuk semua kalangan. Good job.. dan sukses selalu

    BalasHapus
  5. Sungguh menarik tulisannya... Singkat dan kaya akan wawasan juga dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga cocok dibaca untuk semua kalangan. Good job.. dan sukses selalu

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel