Bale Tani dan Lumbung: Bangunan Dengan Ribuan Perenungan

Indonesia merupakan rumah dari berbagai jenis wisata budaya yang menarik. Salah satu jenis wisata budaya yang menarik perhatian melalui kekhasan yang sangat kental adalah wisata permukiman adat. Permukiman adat sendiri merupakan suatu permukiman dimana penduduknya memelihara nilai-nilai budaya yang berhubungan dengan nilai kepercayaan melalui penerapan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

Daya tarik terbesar dari wisata permukiman adat adalah wisatawan dapat mengenal secara langsung nilai-nilai budaya yang diterapkan oleh penduduknya di dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai budaya tersebut sangatlah penuh akan makna kehidupan sehingga wisatawan yang berkunjung tidak hanya berwisata secara fisik, melainkan juga berwisata secara filosofis.

Permukiman Adat Sade


Permukiman Adat Sade merupakan salah satu permukiman adat di Indonesia yang penuh akan makna filosofis. Permukiman tersebut adalah sebuah dusun yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dusun Sade menjadi sebuah wisata permukiman adat sejak tahun 1990 melalui peresmian yang dilakukan oleh Prof. B.J. Habibie.

Permukiman Adat Sade memiliki pola permukiman yang berkonsep organis, yaitu letak rumah mengikuti topografi daerah yang berbukit sehingga letak rumah di Dusun Sade mengelilingi bukit. Pola tersebut juga tercermin dari sebuah aturan dimana masyarakat Dusun Sade tidak boleh membangun rumah di daerah yang datar.

Apabila perbukitan telah dipenuhi oleh perumahan, maka selanjutnya masyarakat diperbolehkan membangun rumah di daerah dataran dengan syarat dataran tersebut dalam keadaan kosong (tidak ditumbuhi oleh tumbuhan).

Hal yang menjadi perhatian utama wisatawan ketika berkunjung ke Permukiman Adat Sade adalah keunikan bangunan tradisionalnya, khususnya bangunan yang bernama Bale Tani dan Lumbung. Meskipun bangunan tersebut menjadi perhatian utama wisatawan, wisatawan sangat jarang mengenalinya secara menyeluruh.

Wisatawan cenderung hanya menikmati bangunan tradisional yang ada secara fisik tanpa memahami makna filosofis dari bangunan tersebut. Padahal makna filosofis dari bangunan tradisional sangat penting untuk dikenali guna dimaknai dan selanjutnya dihikmatkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Bale Tani

Bale Tani

Bale Tani terdiri dari dua kata, yaitu bale dan tani, dimana bale berarti rumah dan tani berarti petani, sehingga Bale Tani dapat diartikan sebagai rumah atau tempat tinggal dari petani yang mana merupakan pekerjaan mayoritas dari masyarakat Dusun Sade.

Seluruh material yang digunakan untuk mendirikan Bale Tani merupakan material alami, yaitu atapnya terbuat dari alang-alang yang telah dikeringkan, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, tiang-tiangnya terbuat dari bahan kayu, dan lantainya terbuat dari campuran tanah liat. Tata ruang Bale Tani terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian atas, tengah dan bawah. 

Baagian atas Bale Tani disebut langan dalem. Langan dalem terbagi menjadi dalem bale dan bale dalem. Dalem bale berada di sebelah kiri langan dalem dengan fungsi sebagai tempat memasak dan tempat tidur untuk anak gadis. Adapun bale dalem berada di sebelah kanan langan dalem dengan fungsi sebagai tempat menyimpan benda pusaka, tempat melahirkan, hingga tempat penempatan jenazah sebelum dimakamkan. 

Bagian tengah Bale Tani disebut langan duah atau lambor atau sesangkok. Langan duah terbagi menjadi dua serambi, yaitu serambi kanan dan serambi kiri. Penentuan letak serambi tersebut berdasarkan kepada arah pemilik rumah ketika keluar dari langan dalem.

Fungsi dari serambi kanan adalah sebagai tempat perempuan dewasa tidur dan serambi kiri berfungsi sebagai tempat laki-laki untuk tidur. Selain hal tersebut, langan duah berfungsi juga sebagai tempat untuk menerima tamu dengan aturan pemisahan yang sama dimana tamu perempuan haruslah berada di serambi kanan dan tamu laki-laki haruslah berada di serambi kiri. 

Bagian bawah bale tani disebut orok-orok. Orok-orok memiliki fungsi yang lebih sederhana dibandingkan dengan dua bagian lainnya, yaitu sebagai tempat alas kaki.

Bale Tani secara kasat mata terlihat sebagai hunian adat yang sederhana, namun di balik kesederhanaan tersebut terdapat makna filosofis yang mendalam di setiap sudut Bale Tani.

Makna-makana filosofis tersebut memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat sebagai pesan yang mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan berbagai pelajaran filosofis di dalam kehidupan. Adapun pelajaran filosofis tersebut antara lain;
  • Arah rumah, pintu dan jendela
Arah rumah, pintu dan jendela dari Bale Tani selalu menghadap ke barat atau timur dengan maksud  menghindari arah yang menghadap langsung menuju gunung serta laut yang mana berada di arah utara dan selatan. Hal tersebut bermakna bahwa manusia harus selalu menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tidak menentangnya. Manusia dalam kehidupannya haruslah taat terhadap perintah Tuhan untuk melakukan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang buruk. Segala perbuatan yang baik akan diberikan balasan berupa kebaikan yang lebih baik oleh Tuhan. Adapun segala perbuatan buruk akan diberikan balasan berupa keburukan yang setimpal oleh Tuhan. 
  • Bentuk atap
Bentuk atap dari Bale Tani memiliki ciri berupa bagian belakang atap tinggi kemudian menurun ke arah depan hingga rata di arah depan.

Hal tersebut bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa menganggap manusia pada dasarnya sama di hadapannya, tindakan melakukan kebaikan dan menghindari keburukanlah yang dapat membedakan manusia di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia di dalam kehidupannya haruslah berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.
  • Ukuran pinru rumah
Pintu rumah dari Bale Tani memiliki ciri khas berupa pintu yang memiliki ukuran tinggi lebih pendek dari tinggi penduduk pada umumnya.

Pintu tersebut dimaksudkan agar siapapun yang masuk ke dalam rumah akan masuk dengan kondisi menunduk seolah-olah memberikan salam serta menunjukan kerendahan hati (seolah-olah membuang segala macam kesombongan yang dimiliki ketika menunduk).

Hal tersebut memiliki makna bahwa manusia haruslah bersikap rendah hati di dalam menjalankan kehidupannya.
  • Jumlah anak tangga
Bagian atas dan bagian tengah dari Bale Tani dihubungkan oleh anak tangga yang berjumlah tiga buah. Hal tersebut memiliki dua penafsiran makna. Makna yang pertama adalah ajaran bahwa manusia haruslah menjaga hubungan yang baik dengan tiga unsur, yaitu Tuhan, orang tua, dan manusia.

Tuhan merupakan sumber dari segala kehidupan dan kebaikan, orang tua merupakan sosok penting yang memberikan pengasuhan sehingga dapat hidup secara mandiri, dan manusia adalah sosok penting dimana manusia pada dasarnya haruslah saling tolong menolong di dalam kehidupannya (tidak dapat hidup sendiri).

Adapun makna yang ke dua adalah mengingatkan manusia akan tiga fase kehidupan yang terdiri dari lahir, berkembang, dan mati. Ketika lahir sungguh manusia tidak dapat melakukan apapun sehingga manusia tidak patut sombong atas apapun yang dimilikinya serta senantiasa bersyukur telah dilahirkan.

Ketika berkembang sungguh manusia dapat berbuat kebaikan maupun keburukan, dalam hal tersebut manusia haruslah memaksimalkan perkembangan dirinya denngan perbuatan baik. Ketika mati sungguh hanyalah perbuatan baik yang menjadi bekal, oleh karenanya manusia haruslah mempersiapkan bekal yang terbaik untuk kematiannya.
  • Kondisi ruangan
Sesangkok dikondisikan tanpa ada sekat di dua bagian serambinya. Hal tersebut bermakna keterbukaan dan kekeluargaan dalam menjalani kehidupan.

Keterbukaan dan kekeluargaan dalam menjalani kehidupan merupakan salah satu kunci dari kehidupan yang harmonis. Kemudian kamar tidur anak gadis berada di bale dalam. Hal ini bermakna bahwa anak gadis sangatlah berharga sehingga harus dijaga dengan baik.

Lumbung


Lumbung
Lumbung merupakan bangunan yang diperuntukan sebagai tempat penyimpanan padi. Satu lumbung biasanya dimiliki secara kolektif oleh beberapa kepala keluarga mengingat pembangunan Lumbung memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Bangunan ini terdiri dari empat tiang penyangga, atap yang terbuat dari alang-alang kering, dasar bangunan yang berbentuk persegi atau persegi panjang, bagian bawahnya tidak memiliki dinding, bagian bawahnya dapat diperuntukan sebagai tempat untuk duduk (beristirahat), dan bagian atasnya yang mengkerucut ke atas serta memanjang ke belakang dengan sebuah pintu kecil diperuntukan sebagai tenpat menyimpan padi.

Cara untuk masuk ke dalam Lumbung adalah dengan menggunakan tangga kayu yang tidak menyatu dengan Lumbung (setelah tangga selesai digunakan dapat dilepas kemudian disimpan di sekitar Lumbung).

Sebagaimana Bale Tani, Lumbung juga menyimpan makna filosofis tersendiri yang mana dapat memberikan beberapa pelajaran filosofis untuk diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pelajaran filosofis tersebut antara lain;
  • Bentuk bagian atas
Bagian atas Lumbung berbentuk mengkerucut ke atas dan memanjang ke belakang. Hal tersebut bermakna bahwa hasil yang diperoleh oleh masyarakat seluruhnya merupakan berkah dari Tuhan sehingga masyarakat harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan.

Manusia dalam menjalankan kehidupannyaa hanya dapat melakukan usaha dengan sebaik mungkin, namun terkait dengan hasil merupakan kehendak dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian segala sesuatu hasil yang diperoleh, entah berjumlah banyak ataupun sedikit, haruslah selalu disyukuri sebagai berkah yang diberikan oleh Tuhan.
  • Kondisi tiang penyangga
Tiang penyangga lumbung tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Hal tersebut ditujukan agar padi yang tersimpan dapat bertahan lebih lama karena terhindarkan dari gangguan hama seperti tikus, serangga, dan lain sebagainya.

Tiang penyangga ini merupakan suatu bentuk ikhtiar masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Manusia dalam menjalankan kehidupannya haruslah dihiasi oleh berbagai usaha, bukannya pasrah begitu saja terhadap segala cobaan atau musibah yang datang.
  • Ukuran pintu masuk
Pintu masuk lumbung memiliki ukuran yang kecil. Hal tersebut bermakna bahwa manusia tidak boleh serakah dalam menjalani kehidupannya. Manuisa dalam menjalankan kehidupannya haruslah berusaha untuk merasa cukup atas segala sesuatu yang dimilikinya.

Bangunan dengan Seribu Perenungan

Bale Tani dan Lumbung yang mana merupakan bangunan adat di Dusun Sade menyimpan banyak makna filosofis yang penting untuk dikenali.

Perjalanan wisata menuju Permukiman Adat Sade bukanlah sekedar perjalanan untuk melepaskan penat ataupun sekedar untuk mencari suka cita, melainkan sebuah perjalanan tuk lebih mengenal nilai-nilai kehidupan guna menjadi bekal di saat kembali dari perjalanan wisata. Bale Tani dan Lumbung bukanlah sekedar bangunan, mereka merupakan bangunan dengan ribuan perenungan. Penulis artikel ini adalah Lalu Cahya Rizqika. Semoga bermanfaat!.

0 Response to "Bale Tani dan Lumbung: Bangunan Dengan Ribuan Perenungan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel