Belajar Arti Kekeluargaan dari Suku Dayak Kenyah


Dayak atau Daya adalah kumpulan berbagai sub etnis Austronesia yang dianggap sebagai penduduk asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya sungai. Sebagian besar nama yang dimiliki oleh orang-orang dari suku Dayak Kenyah tak lepas dari hal-hal yang berkaitan dengan sungai, khususnya pada nama kekeluargaannya.

Kelompok dari suku Dayak terbagi dalam enam rumpun besar yaitu Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum – Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Dari sekian banyak rumpun, rumpun Dayak Punan menjadi yang paling tua mendiami pulau Kalimantan.

Sedangkan rumpun yang lain merupakan hasil asimilasi antara Dayak Punan dan kelompok proto melayu (nenek moyang Dayak yang berasal dari Yunnan). Rumpun-rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub suku, meski begitu setiap Suku Dayak memiliki karakteristik budaya yang khas.

Suku Dayak mendiami seluruh provinsi di Pulau Kalimantan, salah satunya adalah adalah Provinsi Kalimantan Timur. Salah satu suku bangsa yang ada di Kalimantan Timur adalah suku bangsa Kenyah. Suku Dayak Kenyah memiliki unsur-unsur kebudayaan yang khas, yaitu sebagai berikut :

Bahasa 

Bahasa Dayak Kenyah merupakan salah satu bahasa daerah yang berada di Indonesia. Eksistensi penggunaannya dalam berkomunikasi masih sangat tinggi dan dijunjung tinggi oleh para penuturnya. Bahasa Dayak Kenyah merupakan bahasa daerah yang jumlah penuturnya minoritas di tanah Kalimantan Timur. Meski begitu, sebagai bahasa minoritas penutur bahasa Dayak Kenyah tetap bangga dan melestarikan serta mempertahankan bahasanya.

Suku Dayak menggunakan bahasa Dayak sebagai bahasa ibu. Suku Dayak Kenyah masih sering menggunakan bahasa Kenyah terutama dalam keluarga, upacara keagamaan, pasar tradisional, dan lainnya.

Namun bahasa Kenyah sedikit demi sedikit mulai mengalami degradasi akibat arus modernisasi yang membuat bahasa Kenyah sedikit dilupakan.  Pengaruh global dan masyarakat multikultural mempengaruhi kesadaran, sikap, dan tindakan sebagian masyarakat terhadap bahasa Kenyah sebagai salah satu identitas budaya.

Organisasi Sosial dan Kekerabatan

Ditinjau dari segi struktur masyarakat, masyarakat dari Suku Dayak Kenyah menerapkan stratifikasi sosial. Terdapat kelompok Paren, yaitu golongan dari keturunan bangsawan atau raja, kelompok Panyen yaitu golongan masyarakat biasa dan Kelompok Ula' yaitu golongan masyarakat dari tawanan perang (budak).

Kelompok panyen terdiri atas dua kelompok, panyen tiga dan panyen klayan. Panyen tiga sebagai pemuka masyarakat sedangkan panyen klayan adalah golongan biasa saja. Pengelompokan golongan masyarakat berdasarkan stratifikasi tersebut saat ini sudah mulai berkurang sejak adanya introduksi agama dan pengaruh dari luar lainnya.

Sekarang ini seiring dengan masuknya agama dan perubahan sosial ekonomi di daerah-daerah pedalaman, kedudukan dan status manusia adalah sama.

Orang Dayak Kenyah, sebagaimana halnya suku Dayak lainnya, menganut prinsip ambilineal. Prinsip kekerabatan ini memperhitungkan kekeabatannya untuk sebagian lainnya menurut garis keturunan wanita.

Hal ini berarti bahwa apabila telah menikah, setiap orang dapat menentukan akan tetap bersama kerabatnya sendiri, disekitar rumah panjang kerabatnya, atau lingkungan kerabat istrinya. Anak anak yang lahir dari perkawinan tersebut akan berada dalam lingkungan kekerabatannya dimana sepasang suami istri itu berada.

Teknologi

Terdapat beberapa teknologi komunikasi di Suku Dayak Kenyah, diantaranya sebagai berikut. Tawek adalah gong besar yang terbuat dari kuningan, berukuran tinggi 20 cm, garis tengah 60 cm, ada yang berukir relief ular naga dan yang polos tanpa dekorasi.

Fungsinya sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terutama disaat kematian warga dan musibah kebakaran, serta untuk mengumpulkan warga desa saat kegiatan gotong royong ata untuk menyambut kedatangan tamu penting/pejabat pemerintahan.

Jatong adalah alat komunikasi bunyi yang dahulu berfungsi menyiarkan berita tanda serangan musuh juga alat tabuh untuk upacara mamat. Namun kini befungsi hanya ditabuh bila ada warga desa yang mengalami kecelakaan luar biasa.

Sistem Religi

Masyarakat Suku Dayak Kenyah yang bermukim di komuniti Rukun Damai dan komuniti Long Merah secara resmi memeluk agama Protestan dan agama Katolik. Agama-agama baru itu telah mereka kenal sejak masih di Apokayan.

Selama rentang waktu yang panjang orang Kenyah memeluk sistem kepercayaan berkaitan dengan macam macam roh dan makhluk halus yang menempati lingkungan sekitarnya, mendiami alam raya dan alam gaib.

Dalam sistem kepercayaan nya dikenal tokoh-tokoh Dewa tertinggi, dan banyak makhluk-makhluk halus yang disebut hantu atau bali. Tokoh dewa tertinggi masing-masing bernama Peselung Luhan, Bungan Malan, dan Bungan Ketepet.

Peselung Luhan adalah dewa yang diyakini menciptakan alam raya dan manusia sendiri. Bunga Malan berperan memelihara, memberi keselamatan, dan kemakmuran kepada manusia. Bunga Ketepet bersifat merusak dan mengakhiri hidup manusia. Bunga Malan adalah dewa yang menjadi tumpuan harapan dan yang dipuja, sebaliknya Bunga Ketepet tidak penah dipuja dan disembah.

Orang Kenyah meyakini bahwa para bali tadi seperti Peselung Luhan, Bungan Malan, dan Bungan Ketepet berada di “dunia atas”. Dunia atas dibayangkan berupa alam yang amat luas tak bertepi dan tanpa kayu-kayuan.

Disanalah bekumpul roh-roh nenek moyang, roh para kerabat yang telah terlebih dahulu meninggal, dan bahkan roh semua manusia yang telah meninggal dari seluruh dunia. Alam dibalik kematian itu mereka sebut Alau Malau.

Mereka juga meyakini bahwa orang yang sedang sakit berat atau dalam keadaan koma sudah mulai masuk ke alam Alau Malau. Yang bersangkutan telah menyaksikan keadaan gaib tersebut. Ketika ia akan masuk dari sebuah pintu dan pintunya tetutup sehingga ia tidak bisa melaluinya dan harus kembali lagi, itu berarti ia masih tetap hidup atau tidak jadi mati. Sebaliknya jika pintu tadi terbuka dan ia melewati pintu itu, maka itu berarti bahwa yang bersangkutan telah mati, meskipun ia sendiri belum menyadari bahwa dirinya telah mati.

Kesenian

Orang Dayak Kenyah yang umumnya berasal dari Apokayan ini memiliki berbagai macam tarian-tarian tradisional. Ada pula yang tari kreasi baru namun tetap mengandung kekhasan gaya Kenyah. Orang Kenyah mengenal tari tradisional bernama belian, berupa tarian tunggal yang diperankan oleh pria yang disebut pawang.

Tarian tari ini berfungsi untuk memanggil roh untuk menyembuhkan orang yang tengah sakit parah. Tarian lainnya adalah Kancet Pegise yang dimainkan oleh para wanita yang menari berpasang-pasangan, yang menggambarkan kegiatan bergotong-royong dan berfungsi sebagai hiburan.

Tarian-tarian kreasi baru antara lain tari Kancet Liling. Tari ini dilakukan oleh pria dan wanita yang membentuk lingkaran sambil berkeliling dengan gerakan tangan rendah kedepan dan jari-jari diluruskan. Tarian ini bersifat hiburan atau untuk menyambut tamu, tarian ini dibawakan sambil diiringi syair romantis.

Terdapat pula tari perang, salah satu bentuk pertahanan diri sebuah suku yang dikemas dalam bentuk seni. Tari perang menjadi sebuah keniscayaan bagi perkembangan dan bertahannya sebuah suku, tak terkecuali bagi suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur.

Mereka memiliki sebuah tarian bertema perang yang disebut tari Kancet Pepatai. Tari perang Kalimantan Timur bisa diidentikan dengan tari Kancet Petatai. Tarian ini berkisah tentang pahlawan suku Dayak Kenyah ketika menghadapi musuhnya. Tidak ada gerak lemah gemulai dalam tari Kancet Pepatai ini.

Semua gerakan dilakukan dengan lincah, gesit, dan bersemangat. Tarian ini disertai suara pekikan khas suku Dayak dalam sebuah peperangan oleh sang penarinya.  Secara garis besar tari Kancet Petatai menceritakan tentang keperkasaan kaum laki-laki Dayak Kenyah.

Dari berbagai tarian adat suku Dayak Kenyah, hanya tari Kancet Pepatai yang bertemakan perang. Tari-tarian lainnya bertemakan seperti menanam padi, merawat bayi, kelembutan seorang gadis, atau burung Enggang.

Hewan yang melambangkan keagungan bagi suku Dayak Kenyah adalah burung Enggang. Berbicara mengenai kesenian tradisional yang berupa tari perang Kalimantan Timur, maka Kancet Pepatai adalah ikon utamannya.

Tarian ini mewakili sebuah suku yang telah lama mendiami daerah-daerah di Kalimantan Timur. Jauh sebelum suku-suku lainnya berdatangan ke Kalimantan Timur. Makna simbolik Tari Perang (Kancet Pepatai) adalah kejantanan, keperkasaan seseorang lelaki yang bertempur dalam peperangan, di mana ia harus mempertahankan wilayahnya dan tidak ingin wilayahnya dikuasai oleh Negara lain.

Tari perang mempunyai banyak simbol mulai dari aksesoris sampai peralatan tradisional Dayak dalam melakukan tari perang. Macam-macam aksesoris tari perang memiliki kegunaan yaitu, perisai (Kelembit) untuk menangkis dari arah lawan musuh.

Mandau sebagai senjata utama dalam melawan musuh. Topi (Beluko) mengandung banyak ilmu kekebalan tubuh. Kalung sebagai penangkis musuh yang terbuat dari gigi macan. Rompi (Besunung) adalah bahan yang terbuat dari kulit harimau berpungsi sebagai kekebalan dari senjata musuh.

Sedangkan gerak tarian Kancet Pepatai melambangkan sifat orang-orang dari Suku Dayak Kenyah.
Orang Dayak Kenyah umumnya memiliki lagu tradisional dan masa terakhir ada pula lagu-lagu ciptaan baru.

Lagu-lagu Kenyah yang cukup dikenal dan tersebar luas adalah lagu Abe Ilu, sebuah lagu lama yang mengingatkan orang pada masa mudanya yang penuh kenangan dan kasih sayang. Ada lagi yaitu lagu Alem Ini, semacam lagu pisah yang ditujukan kepada sahabat yanga akan tetap dikenang. Lalu ada lagu Badi Tiang yang bernada sedih karena harus berpisah dengan teman-teman atau orang tua, yang dibawakan oleh pria dan wanita dan diiringi musik.

Demikian tulisan mengenai Budaya Suku Dayak Kenyah yang ditulis ooleh Istida Nur Amanah. Semoga artikel ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan teman-teman sekalian, salam budaya!

0 Response to "Belajar Arti Kekeluargaan dari Suku Dayak Kenyah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel