Bubalus Bubalis Carabanesis, Mamalia Bertanduk yang Pandai Berenang



Tumbuhan penguasa rawa di Kalimantan Selatan adalah Eceng gondok. Eichornia crassipes, tumbuhan yang mempunyai kecepatan berkembang biak vegetatif sangat tinggi dan mempunyai kemampuan besar untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan lingkungan ini mendominasi hampir setiap jengkal permukaan air rawa yang damai tak begelombang.

Kejayaan bunga teratai sebagai primadona tumbuhan air seakan runtuh. Nymphaca pubercens, tak sanggup melawan sikap otoriter tumbuhan berdaun hijau dan berakar serabut tersebut. Di Kalimantan Selatan, Eceng gondok dikenal dengan nama ilung.

Beberapa daerah lain menyebutnya Ringgak, Kelipuk, dan Tumpe. Tumbuhan pemegang kekuasaan permukaan rawa lainnya adalah Purun. Eleocharis dulcis memang mirip dengan pandan, tumbuhan yang menjadi bahan baku anyaman tikar ini hidup liar di permukaan rawa. Purun mudah terbakar jika dalam keadaan kering.

Akan tetapi, penghuni unik sesungguhnya dari hamparan rawa bukanlah semua tumbuhan itu. Ketika sinar mentari mulai meredup, cahayanya kuning kemerahan, sisi terbawah dari lingkarannya hampir menggapai garis horizon cakrawala, bersiap untuk tenggelam, adalah Bubalus bubalis carabanesis si Kerbau Rawa, mamalia bertanduk dan berkaki empat bersiap untuk pulang.

Barisan hewan bertubuh kekar itu berenang serempak menuju kandang yang disebut kalang. Moncong-moncongnya mendongak di permukaan, hanya bagian ini yang sering terlihat saat mereka berenang di bagian rawa terdalam.

Kawanan mamalia itu membelah rawa, membuat buih beriak di jalur lintasan renangnya. Mereka bisa pulang sendiri, tetapi tetap diawasi tuannya. Jika disaksikan dari atas, kepulangan kerbau rawa ke kandang ini adalah salah satu siluet luar biasa khas tanah rawa.

Gerombolan mamalia itu terlihat seperti titik-titik hitam yang bergerak di atas hamparan air tak bergelombang. Ditambah dengan cahaya keemasan matahari yang hampir tenggelam, membuat bayang-bayang memantul di permukaan air rawa, menjadikan momen itu semakin aduhai.

Siapapun akan terpana sesaat. Ini adalah momen langka. Kerbau rawa khas Kalimantan di Kecamatan Paminggir Provinsi Kalimantan Selatan. Kerbau-kerbau rawa itu pulang ke kandang jika sore hari. Tempat tinggal mereka disebut kalang.

Kalang adalah rumah kerbau rawa di atas air. Kalang yang sempurna sebenarnya terbuat dari kayu ulin, tetapi karena harga ulin sangat mahal dan di luar kemampuan para peternak kerbau, mereka menggantinya dengan kayu biasa.

Tongkat penyokongnya pun hanya terbuat dari kayu gelam. Tidak ada aturan soal ukuran kandang, jika kerbau rawa yang dimiliki sangat banyak, kalang akan dibuat semakin memanjang. Lebar kalang tak lebih dari tiga meter.

Tinggi pagar pembatas biasanya tidak lebih dari tinggi tubuh kerbau, sehingga sering kali kerbau-kerbau rawa itu terlihat menopangkan lehernya ke pagar pembatas. Kalang tidak memiliki atap. Kalang hanya memiliki satu pintu dan satu tangga yang langsung bersentuhan dengan air.

Jika pintu kalang dibuka para kerbau rawa akan berebut keluar dan langsung menyelam ke dalam air sebelum mereka berenang menimbulkan moncongnya di atas permukaan. Di musim kemarau atau pada bagian rawa yang surut, punggung-punggung kerbau itu akan terlihat saat berenang. Bahkan mereka dapat menginjakkan kakinya ke dasar rawa.



Waktu terbaik menuju kandang kerbau rawa dari dermaga di Kecamatan Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan adalah pada jam 06.00–07.00 WITA, karena kandang akan dibuka oleh pemiliknya sekitar jam 08.00–09.00 WITA.

Selepas itu, kerbau akan beriringan berenang mencari makan. Atau bisa juga pada sore hari saat kerbau hendak masuk kandang, kita akan disuguhkan pemandangan sunset memukau. Lensa kamera pasti menagih untuk mengambil foto.

Perjalanan  darat dari Banjarmasin ke Danau Panggang memerlukan waktu kurang lebih 5 jam, kemudian dilanjutkan 45 menit perjalanan air ke desa Bararawa menggunakan speedboat. Tetapi perjalanan panjang itu akan terbayar dengan pemandangan satwa yang indah.

Memelihara kerbau rawa merupakan pekerjaan pokok masyararakat sekitar, karena harga jualnya bisa melebihi 14 juta rupiah per ekor. Sungguh bisnis yang sangat menggiurkan. Fisik kerbau rawa dan kerbau darat sedikit berbeda.

Kerbau rawa memiliki tanduk yang lebih panjang dan warna kulit abu-abu kecokelatan, hal ini diakibatkan seringnya kerbau rawa berendam di air rawa yang berlumpur. Selama di lepaskan dari pagi hingga sore hari, para pengembala memantau dari jarak jauh, mereka menjaga agar kerbau rawa tidak terlalu lama berendam.

Meskipun habitat asli hewan ini bukan dari Kalimantan, tapi suguhan keunikan kombinasi mamalia bertanduk berkaki empat yang menghuni ketenangan rawa dengan tumbuhan-tumbuhan liar seperti eceng gondok dan teratai tidak akan mudah ditemukan di sembarang tempat.

Ditambah dengan bentang alam yang menakjubkan serta siluet senja di ujung rawa yang indah, maka tidaklah cukup jika hanya satu kali bagi pecinta alam untuk mendatangi tempat ini.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Bubalus Bubalis Carabanesis atau Kerbau Rawa. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Muhammad Yahya ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

4 Responses to "Bubalus Bubalis Carabanesis, Mamalia Bertanduk yang Pandai Berenang"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel