Mempertahankan Budaya Nenek Moyang, Desa Sade Lombok Tengah Menjadi Tempat Destinasi Wisata Lokal Hingga Mancanegara


Desa Sade Lombok Tengah merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Rambitan, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Desa ini memiliki luas 5,5 hektar yang hanya dihuni oleh 152 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang.

Penduduk asli Desa Sade merupakan penduduk asli Pulau Lombok yaitu Suku Sasak. Sebagai suku asli sasak, mereka memegang teguh tradisi dan kebudayaan para nenek moyang hingga sekarang. Desa ini menjadi tempat destinasi wisata favorit masyarakat lokal maupun turis mancanegara karna masih menggunakan adat istiadat serta kebudayaan suku asli pulau Lombok.

Bangunan Tradisional Desa Sade

Kekhasan arsitektur bangunan di Desa Sade tidak termakan oleh waktu, baik itu bangunan masjid, bangunan lumbung padi, maupun rumah tempat tinggal penduduk. Dinding bangunan dengan pagar anyaman bambu dan tiang yang dibuat dari kayu, dengan atap yang dibuat dari alang-alang kering. Lantainya dibuat dari tanah liat yang diberi campuran sedikit sekam padi.

Kebiasaan penduduk Desa Sade dalam merawat lantai bangunan rumahnya terbilang unik yaitu dalam seminggu sekali lantai rumah dibersihkan dengan cara menggosokkan kotoran sapi yang dicampur sedikit air pada lantai rumah kemudian setelah kering, lantai disapu dan digosok dengan batu.

Kotoran kerbau ini mampu membersihkan lantai rumah dari debu dan membuat lantai lebih halus. Penduduk Desa ini juga mempercayai bahwa penggunaan kotoran sapi bisa mengusir serangga serta mencegah serangan magic yang ditujukan kepada anggota keluarga.

Bangunan tradisioal di Desa Sade Lombok umumnya terlihat sama namun ternyata berbeda nama dan fungsinya. Ada 3 tipe bangunannya yaitu Bale Bonter yang merupakan rumah yang dimiliki oleh pejabat desa, Bale Kodong merupakan tempat warga yang baru menikah atau orang tua yang ingin menikmati masa tuanya dan Bale Tani yang diperuntukkan untuk tempat tinggal mereka yang berkeluarga dan memiliki keturunan.

Adat Kawin Lari dan Kawin Culik 

Saat kedua mempelai saling suka satu sama lain dan mempelai wanita kabur dari rumah untuk menemui mempelai pria disuatu tempat, lalu diam di sana dalam beberapa hari, maka disebut kawin lari.

Sedangkan saat cinta sepihak, mempelai wanita akan dibawa paksa oleh mempelai pria lalu disembunyikan disuatu tempat disebut kawin culik. Kemudian dalam beberapa hari mempelai pria akan datang dan menemui pihak keluarga wanita untuk dinikahi. Namun pada umumnya pria desa sade diharuskan untuk menikahi wanita dari suku Sasak juga.

Kepercayaan yang Dianut

Penduduk Desa Sade memeluk agama islam, namun ada perbedaan dengan agama islam pada umumnya. Mereka menganut Wetu Telu yaitu tiga waktu dimana mereka hanya menjalankan sholat tiga kali dalam sehari. Hal tersebut dipengaruhi oleh ajaran animisme, dinamisme, Budha dan Hindu. Namun, saat ini penduduk Desa Sade telah menjaankan sholat lima waktu.

Pakaian Adat dalam Kesehariannya

Biasanya pakaian adat daerah hanya digunakan dalam acara-acara tertentu di daerah lain, berbeda dengan penduduk Desa Sade yang selalu mengenakan pakaian adat Lombok dalam keseharian mereka.

Pakaian adat wanita disebut “Lambung” sedangkan pakaian adat pria disebut “Dodot”. Walapun tidak semua dari mereka mengenakannya, tapi saat anda berkunjung ke Desa Sade maka anda pasti merasakan suasana kehidupan zaman dahulu.

Atraksi Penduduk menjadi Daya Tarik 

Atraksi-atraksi budaya biasanya dilakukan saat perayaan pada hari-hari tertentu. Beberapa diantaranya yang terkenal dikalangan para turis adalah Tari Paresean, Tari Gendang Beleq, dan Tari Amaq Temenges.

Musik pengiring yang digunkan dalam atraksi tersebut menggunakan gendang beleq yang merupakan musik tradisional khas Lombok. Selain itu, musik tersebut dimainkan saat pernikahan untuk mengiring pengantin wanita ke rumahnya untuk memperkenalkan pengantin pria kekeluarganya.

Mata Pencaharian  

Mayoritas kaum pria Desa Sade berprofesi sebagai petani sedangkan wanita mencari nafkah dengan cara menenun. Para wanita sudah mulai menenun sejak usia 9 tahun dan hal itu merupakan sebuah kewajiban bagi seorang wanita untuk bisa menenun. Selain itu, para pria membuat gelang dari benang maupun manik-manik sebagai kerja sampingan.


Pengunjung yang sedang belajar menenun  (Foto: merahputih.com)

Bagi Anda yang berkunjung ke Desa Sade Lombok, tidak lengkap jika tidak mencoba menenun sendiri dan mendokumentasikan proses pemintalan benang dari kapas hingga jadi benang dan menenunnya menjadi motif yang bagus dan menarik.

Bagi anda yang ingin keunikan saat berwisata sambil belajar budaya, Desa Sade bisa menjadi pilihan. Di tengah modernisasi dunia ini, penduduk Desa Sade masih menjaga adat istiadat dan tradisi nenek moyang dengan teguh, mulai dari bangunan rumah hingga kesehariannya.

Desa ini bukan berarti kuno namun eksotis dengan budayanya. Desa ini merupakan salah satu bagian kecil dari kekayaan budaya di Indonesia. Jadi, patut kita bangga dan ikut melestarikan budaya yang ada. (Riz)

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Desa Sade Lombok Tengah. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Rizkia Afriani ini bisa memberikan wawasan serta menambah engetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

5 Responses to "Mempertahankan Budaya Nenek Moyang, Desa Sade Lombok Tengah Menjadi Tempat Destinasi Wisata Lokal Hingga Mancanegara"

  1. Saya suka artikel anda. Saya selaku orang lombok merasa bangga๐Ÿ‘

    BalasHapus
  2. Semoga bermanfaat dan dengan artikel ini kita tidak hanya mengetahui budaya namun ikut melestarikannya ...

    BalasHapus
  3. Mantul๐Ÿ‘๐Ÿฟ

    BalasHapus
  4. Thankss,,, sebuah artikel yg menarik ...
    Membuat kita lebih mengenal warisaan kebudayaan local daerah kita

    BalasHapus
  5. Artikelnya menarik sekali ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š. Mau nanya sedikit, apakah sampai saat ini para warwa Desa Sade masih melaksanakan kebiasaannya yaitu mengepel lantai dgn kotoran sapi/kerbau???

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel