Dongkrek Dongkrak Budaya

Gambar Kesenian Dongkrek

Pada zaman modern ini, banyak masyarakat yang tidak mengenal budaya maupun kesenian daerah mereka. Padahal Indonesia merupakan Negara yang memiliki begitu banyak kesenian dari Sabang sampai Merauke yang memiliki keunikannya masing-masing. Generasi milenial Bangsa Indonesia juga lebih senang mempelajari dance, game online, ataupun budaya kebarat-baratan lain yang biasa dikenal dengan istilah westernisasi.

Saya berasal dari Kota Madiun, kota kecil dengan banyak kebudayaan yang belum tentu masyarakat lokal sendiripun tahu. Namun, setiap tahunnya Pemerintah Kota Madiun mengadakan Pawai Budaya untuk menyambut hari jadi Kota Madiun sekaligus melestarikan budaya yang ada di Kota Madiun dan sekitarnya. Pawai ini biasanya diikuti oleh Masyarakat Kota Madiun sendiri dan kota lain di Jawa Timur, seperti Kediri, Ponorogo, Blitar, dan masih banyak lagi.

Salah satu kesenian yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat penikmat pawai adalah Dongkrek. Dongkrek berasal dari Kecamatan Mejayan,Kawedanan Caruban,Kabupaten Madiun,Jawa Timur. Tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Dongkrek merupakan upaya untuk mengatasi wabah penyakit.

Kisahnya bermula dari Raden Ngabei Lo Prawirodipuro yang merupakan Palang (jabatan setingkat kepala desa) yang bingung mengatasi pageblug mayangkoro yang menyerang masyarakat Mejayan. Masyarakat Mejayan terkena penyakit aneh yang menyebabkan penderitanya sakit di sore hari lalu meninggal di pagi hari ataupun sakit di pagi hari dan meninggal di malam hari. Menurut cerita, penyakit ini disebabkan oleh para punggawa kerajaan roh halus atau pasukan gondoruwo yang menyerang Desa.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Raden Prawirodipuro mencoba untuk bermeditasi dan merenung di Gunung Kidul,Caruban. Di sana,Ia mendapat wangsit untuk membuat kesenian yang dapat menggiring roh-roh tersebut keluar dari desa yang sekarang dikenal dengan nama Dongkrek.

Dongkrek berasal dari bunyinya ‘dung’  yang berasal dari suara bedug dan ‘krek’ yang berasal dari alat musik korek. Alat musik ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar,di satu ujungnya terdapat kayu bergerigi yang akan mengeluarkan bunyi ‘krek’ ketika digesek.


Gambar Alat Musik Korek

Dalam setiap pementasan Dongkrek terdapat tiga jenis topeng yang digunakan. Yang pertama adalah topeng raksasa bernama ‘buto’ bermuka seram,lalu ada topeng  seorang perempuan yang sedang mengunyah kapur sirih dan topeng orang tua yang menggambarkan kebajikan. Topeng tersebut bermakna “maksud jahat akan lebur dengan kebaikan dan kebenaran”.

Pada saat ini,kita akan jarang menjumpai Dongkrek kecuali pada saat saat tertentu seperti festival kebudayaan,pawai daerah,atau acara besar lainnya. Sedikit pula komunitas yang melestarikan Dongkrek.

Pernah juga saya melihat warga yang memainkan dongkrek untuk membangunkan orang-orang yang sahur pada saat bulan puasa ramadhan. Saya berharap akan ada lebih banyak lagi masyarakat yang mau mempelajari budaya dan kesenian Indonesia seperti Dongkrek.

Kedepannya Saya ingin Dongkrek dapat dikenal di wilayah-wilayah lain di Indonesia bahkan  sampai ke mancanegara. Saya juga ingin masyarakat Indonesia mengerti artinya mencintai Kebudayaan Indonesia yang sesungguhnya tanpa harus direbut oleh Negara lain terlebih dahulu,karena perubahan dimulai dari diri kita sendiri. Salam Budaya!

Sumber Gambar

  • budayajawa.id
  • mimimama.blogspot.com

Demikian serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Dongkrek. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Yanuarika Katrina Wijayanti ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Dongkrek Dongkrak Budaya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel