Budaya dan Seni Ciamik Indraloka Mukti nan Pluralistik


Indonesia dikenal sebagai bangsa yang masyarakatnya pluralistik. Ia kaya akan budaya, bahasa, agama, dan masih banyak lagi keragaman yang dimiliki bangsa ini sebagai aset kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Lampung sebagai salah satu provinsi di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini juga menyimpan banyak kekayaan ciamik dan memantik hati setiap orang yang meliriknya. Lampung juga menjadi salah satu daerah transmigran yang banyak diminati banyak orang khususnya orang dari Suku Jawa, Bali, Sunda dan sebagainya.

Sehingga tak mengherankan jika nantinya akan banyak fenomena kebhinekaan yang ditemukan di daerah ini, salah satu di Indraloka Mukti, sebuah tiyuh – sebutan untuk desa di daerah Tulang Bawang Barat – yang terletak di ujung Tulang Bawang Barat, Lampung.

Indraloka Mukti menyuguhkan cakrawala yang luas tentang bagaimana bermasyarakat. Indraloka Mukti merupakan salah satu tiyuh yang penduduknya merupakan transmigran. Penduduk tiyuh ini mayoritas bersuku Jawa maka tidak mengherankan jika bahasa komunikasi masyarakat adalah Bahasa Jawa. Bahkan Pak Kepalo Tiyuh – sebutan untuk kepala desa – yang notabenenya bersuku Bali juga menggunakan Bahasa Jawa untuk berkomunikasi sehari-hari.

Tak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya,  masyarakat di sini sangat ramah dan grapyak. Mereka sangat menyambut dan menjamu tamu mereka dengan hangat. Selain Suku Jawa, Suku Bali menempati urutan kedua.

Mayoritas Suku Bali yang tinggal di tiyuh ini memeluk agama Hindu. Sangat mudah sekali mengenali mereka di mana kita bisa menemukan pura di halaman depan rumah mereka. Keheterogenan masyarakat yang ada di tiyuh ini memberi warna keindahan tersendiri.

Indraloka Mukti mengajarkan tentang arti sebuah “ke-bhineka-an” yang diramu menjadi sebuah “ke-ika-an”, di mana perbedaan itu tidaklah untuk memicu perpecahan, namun perbedaan itu harus disikapi dengan toleransi dan sikap saling menghormati. Bukankah perbedaan itu sebuah anugerah Illahi? Bukankah pelangi indah karena perbedaan warnanya?

Bingkai “Bhineka Tunggal Ika” yang ada di tiyuh ini tidak hanya dibuktikan dengan keheterogenan masyarakatnya yang mampu merajut kesamaan dan persamaan dalam bingkai kebhinekaan. Namun tampak pula dari kesenian yang dikembangkan yang menggambarkan kesatuan dari sebuah kebhinekaan.

Sebut saja Seni Jaranan “Turonggo Wismo Budoyo” yang merupakan wujud dari kebhinekaan itu sendiri. Kesenian ini sekilas tampak seperti kesenian khas Jawa namun siapa sangka ternyata ia merupakan perpaduan dari dua kebudayaan, Jawa dan Bali.

Nama lengkap kesenian ini adalah “Jaranan Turonggo Wismo Budoyo”, Sanggar seni ini dibuka untuk umum. Siapa saja boleh bergabung dalam kesenian ini. Pesertanya pun bermacam-macam dari berbagai golongan usia, mulai dari yang muda sampai dengan yang tua. Latihan dilakukan tiap 2 kali seminggu, yaitu hari Rabu dan Minggu.

Kesenian jaranan ini baru akan melakukan pertunjukan biasanya saat ada acara-acara besar seperti Hari Kemerdekaan, PHBI dan juga saat ada yang nanggap (semacam menyewa kesenian ini untuk dipertunjukkan dalam sebuah acara seperti pernikahan, sunatan dan sebagainya).

Untuk durasi penampilan sendiri tentatif. Yang pasti dalam satu pertunjukkan akan ada 4 sesi. Di mana pada sesi ganjil penari yang beratraksi adalah penari perempuan dan pada sesi genap adalah penampilan dari penari laki-laki.

Dan pada sesi penari laki-laki inilah akan ada momen di mana sang penari akan kesurupan (dalam kesenian kuda lumping mungkin ini adalah waktu di mana si kuda lumping kesurupan).

Pak Ridwan sebagai wakil ketua sanggar seni ini mengatakan bahwa kesenian ini merupakan secuil gambaran masyarakat yang ada di Indraloka Mukti. Di mana mayoritas masyarakat yang ada di tiyuh ini bersuku Jawa dan Bali.

Perpaduan itu tampak dari alat musik gamelan dan kuda lumping yang biasanya ditemui dalam kesenian Jawa, sedangkan untuk gambar kesenian Bali akan tampak dari topeng Bali yang digunakan oleh penari.

Pertunjukkan jaranan ini sekaligus juga ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa dua budaya yang berbeda pun bisa dibalut dalam satu wadah keseniaan. Bukankah ini gambaran kecil dari pluralistik masyarakat Indonesia ini? Sungguh mengagumkan budaya Nusantara ini.

Demikian tadi adalah serangkaian artikel karya Diah Ayu Agustina mengenai Budaya Indraloka.

0 Response to "Budaya dan Seni Ciamik Indraloka Mukti nan Pluralistik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel