Budaya Keraton Yogya dan Kebudayaan Jawa



Yogya termasuk salah satu tempat wisata yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Menyimpan berbagai bukti sejarah dan kebudayaan Keraton Yogya yang masih sangat melekat di tengah-tengah masyarakatnya, menjadikan Yogyakarta sebagai tempat wisata di Indonesia dengan keistimewaannya sendiri.

Keraton Yogya merupakan manifestasi nyata dari kebudayaan jawa , mulai dari bangunan, makanan, bahasa, hingga tradisi berupa upacara-upacara peringatan yang dilakukannya. Berikut ini merupakan tradisi dan kebudayaan jawa yang dapat ditemukan melalui keraton yogya :

Struktur Bangunan

Dilihat dari struktur bangunan keraton Yogya,  terdapat begitu banyak simbol-simbol yang melambangkan budaya jawa, selain itu setiap bangunan didalamnya dibangun dengan maksud dan tujuan tertentu. Setiap penempatan barang dalam ruangan pun diatur sedemikian rupa.

Bahkan terdapat ruangan khusus untuk menyimpan barang pusaka keraton yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai benda keramat yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik.

Bahasa

Bahasa yang dipakai ditengah masyarakat Yogyakarta adalah bahasa jawa. Yogyakarta menggunakan bahasa jawa dengan pemilihan kata yang lebih halus atau disebut dengan ‘krama inggil’. Dalam tata bahasa jawa, terdapat ‘unggah-ungguh’ atau sopan santun kepada sesama, ataupun kepada seseorang yang lebih tua.

Dalam hal ini dapat dilihat betapa budaya jawa menjunjung tinggi nilai dan norma kesopanan antar sesama manusia.

Upacara Pernikahan

Prosesi pernikahan yang dilakukan di keraton Yogya menggunakan adat jawa mulai dari pakaian yang dikenakan, dandanan wajah dan rambut, hingga rangkaian upacara yang harus dilakukan didalamnya seperti siraman, midodareni, dan sungkeman. Bahkan sekarang, bukan hanya keluarga keraton yang melakukan prosesi pernikahan sesuai adat jawa, tetapi hampir seluruh masyarakat Yogyakarta juga turut melestarikannya.

Upacara Kehamilan

Dalam adat jawa, saat seorang wanita hamil pada usia kehamilan tiga bulan (neloni), yang dipercaya merupakan waktu dimana ditiupkannya roh pada jabang bayi, biasanya dilakukan upacara berupa tasyakuran, sedangkan pada usia tujuh bulan masa kehamilan (mitoni) dilakukan prosesi siraman yang dilakukan oleh tujuh kerabat terdekat dengan tujuan untuk meminta keselamatan bagi bayi yang masih dalam kandungan.

Bahkan dalam keluarga keraton yogya upacara kehamilan dilakukan  setiap bulan masa kehamilan.
Setelah bayi lahir pun masih ada serangkaian upacara yang dilakukan seperti mendhem ari-ari, brokohan, sepasaran, puputan dan selapanan.

Makanan

Sementara dari segi makanan, Yogyakarta memiliki makanan khas yaitu gudeg. Dalam ejaan bahasa jawa ‘gudheg’ terbuat dari nangka muda dan santan dengan campuran rempah-rempah tertentu yang sesuai dengan cita rasa lidah orang Jawa Tengah.

Makanan ini sukses menjadi salah satu incaran wisatawan yang wajib dinikmati ketika berkunjung ke Yogyakarta.

Festival Batik

Daya tarik yang lain dari Yogyakarta dan menjadi lambang nyata atas kebudayaan jawa dalam bentuk sebuah karya adalah batik. Konsep batik yang dibuat di yogya punya ciri khas motif tersendiri.

Konsep batik Yogya diaplikasikan dalam berbagai bentuk kerajinan tangan seperti baju, celana, gelang, sandal, gantungan kunci, tembikar, dompet dan masih banyak lagi. Berbagai karya dalam bentuk batik sangat  diminati seluruh wisatawan yang datang ke Yogyakarta.

Yogyakarta merupakan tempat wisata di Indonesia yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Melalui budaya jawa yang memang masih dilestarikan, Yogyakarta menjadi kota yang wajib dikunjungi di Indonesia.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Kebudayaan Jawa. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Fitria Pertiwi ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Budaya Keraton Yogya dan Kebudayaan Jawa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel