Berbudaya di Bumi Khatulistiwa

Bumi Khatulistiwa
Di tengah persaingan kebudayaan modern di berbagai belahan dunia, Indonesia menjadi salah satu sasaran utama sebagai negara penerima akulturasi budaya yang akan terjadi nantinya. Faktanya, kondisi Indonesia saat ini tengah digempur oleh berbagai budaya luar yang akan mempengaruhi konteks jati diri budaya Indonesia itu sendiri.

Akibatnya, generasi muda Indonesia dibatasi oleh benteng budaya asing yang mampu menjadi kiblat baru dalam berbudaya. Hal ini tentu sangat mengecewakan mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.

Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 1.340 suku bangsa, dan 546 jenis bahasa. Ditambah lagi dengan banyaknya tradisi dan adat istiadat yang ada. Hal inilah yang menyebabkan budaya Indonesia memiliki ragam yang khas dan keunikan tersendiri. Sebut saja tradisi potong jari yang merupakan tradisi Suku Dani di Papua.

Tradisi ini dilaksanakan jika salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Filosofinya, jari dilambangkan sebagai persatuan dalam diri manusia. Kehilangan salah satu ruas jari berarti kehilangan salah satu anggota keluarga.

Jika jari tidak sempurna maka tangan tidak akan maksimal dalam melakukan aktivitas apapun. Begitu juga pengibaratannya dengan keluarga. Masyarakat Papua sangat menjunjung tinggi tradisi warisan leluhur dan juga memiliki persatuan kekeluargaan yang sangat tinggi.

Tanah Papua merupakan tanah yang kaya. Berbagai sumber daya alam tersembunyi dibalik pesona alamnya yang menawan. Siapa yang tidak mengenal Raja Ampat yang tersohor dengan gugusan pulaunya yang indah serta Puncak Cartensz yang diselimuti salju abadi? Semua ciptaan Tuhan tersebut tersaji sempurna di tanah Papua, surga tersembunyi di timur Indonesia. Tana Toraja. Berlokasi di Sulawesi Selatan dengan tradisi leluhur yang masih terjaga.

Ketika menyebut tradisi khas dari Sulawesi, apa yang terpikir oleh Anda? Jika Anda menjawab tradisi pemakaman di tebing batu maka jawaban Anda tepat. Inilah yang dinamakan Londa. Tradisi ini dilakukan dengan menempatkan jenazah pada gua atau lubang di tebing batu.

Sejalan dengan Londa, Ma’nene juga merupakan tradisi yang berakar di Tana Toraja. Tradisi ini dilakukan untuk mengenang leluhur dengan cara membersihkan jenazah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian baru.

Tidak hanya di Papua dan Sulawesi, Kalimantan juga memiliki tradisi langka yang mampu mencuri perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, yaitu tradisi telinga panjang. Sesuai dengan namanya, tradisi ini merupakan proses pemanjangan cuping telinga yang melambangkan status sosial seseorang. Semakin panjang cuping telinga maka status sosialnya juga semakin tinggi.

Masih belum puas? Tenang. Masih ada dua pulau di Indonesia yang belum kita jelajahi. Kali ini kita akan kupas tuntas mengenai budaya dan tradisi yang ada di Indonesia.

Bergeser sedikit ke pulau yang memanjang dibagian bawah negara Indonesia, yaitu Pulau Jawa. Pulau yang satu ini merupakan pulau yang memiliki banyak tradisi, kesenian, dan bangunan bersejarah. Sebut saja salah satunya gamelan.

Alat musik ini sering diidentikkan dengan kesan mistis karena dapat menimbulkan suasana mencekam bagi sebagian orang yang mendengarnya. Hal ini lantas tidak membuat peminat musik gamelan menurun.

Justru sebaliknya, peminat alat musik ini semakin meningkat seiring dengan berkembangnya sekolah-sekolah serta universitas yang mewadahi pelajar untuk mempelajari kebudayaan Indonesia lebih dalam.

Beralih ke pulau paling barat di Indonesia, ada tradisi Tabuik yang berasal dari Minangkabau. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati hari Asyura yaitu gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein Bin Ali pada tanggal 10 Muharram.

Rangkaian tradisi ini terdiri dari 7 tahapan ritual yang dilaksanakan selama beberapa hari. Tradisi ini dilakukan setiap tahun dan selalu disaksikan oleh wisatwan lokal maupun mancanegara. Tradisi ini merupakan acara besar yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu setiap tahun.

Masih di Minangkabau dengan tradisi Aqiqah dan Turun Mandi. Tradisi ini menjadi agenda wajib ketika menyambut kelahiran sang buah hati. Dibalik tradisi leluhur tersebut, ada sebait makna yang tersirat, yaitu sebagai wujud rasa syukur kepada sang pencipta atas kelahiran anak. Tradisi ini rutin dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dan masih terjaga kelestariannya sampai sekarang.

Dari sekian banyak contoh di atas, dapat diamati bahwa Indonesia bukan hanya sekadar memiliki tradisi. Namun, ada makna tersirat serta keunikan dibalik tradisi tersebut. Keunikan dan kekhasan budaya Indonesia kaya akan pesan dan makna yang berhubungan dengan manusia sesama manusia, manusia dengan makhluk hidup lain maupun dengan sang pencipta.

Berbicara mengenai kebudayaan Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Hamparan sawah nan hijau, bukit-bukit dan pegunungan indah membentang, serta kicauan burung berirama semakin menambah keelokkan Indonesia di mata dunia.

Untuk menjaga budaya lokal, pemerintah telah menetapkan peraturan yang akan berperan dalam pemajuan kebudayaan yaitu UU No.5 Tahun 2017. Makna tersirat dari undang-undang ini adalah kebudayaan harus dipertahankan, dikembangkan dan dilindungi dari berbagai hantaman budaya global.

Semakin kuat gempuran budaya global, pemerintah pun semakin gencar dalam menjaga warisan leluhur bangsa. Adanya undang-undang tersebut diharapkan budaya leluhur bangsa akan tetap terjaga dan lestari.

Keikutsertaan seluruh rakyat Indonesia dalam menjaga, memelihara dan melestarikan budaya tentu sangat berperan penting demi terciptanya genersi Indonesia yang bangga akan budaya lokal.

Tidak ada salahnya jika kita mengagumi budaya negara lain. Lagi pula, hal ini akan mempertajam wawasan kita mengenai kultur dinamis dari berbagai negara. Namun, perlu diingat bahwa kita juga punya budaya dan jati diri bangsa sendiri.

Bagaimana caranya agar budaya lokal tetap lestari, semua itu bergantung pada kita. Karena nasib budaya Indonesia berada di tangan kita. Kita generasi Indonesia, generasi berbudaya!. Penulis artikel ini adalah Shendy Aisyah Effendy.

0 Response to "Berbudaya di Bumi Khatulistiwa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel