Klotok Sebagai Media Perekat Rakyat Sampit


Getek atau klotok adalah perahu/kapal rakyat ukuran kecil yang bisa memuat kira-kira 10 orang yang digunakan sebagai alat angkut sehari-hari untuk berbagai kebutuhan baik mengangkut penumpang untuk menyeberang atau menuju suatu tujuan seperti belanja maupun untuk mengangkut barang.

Getek atau klotok digunakan baik di danau maupun sungai besar di Kalimantan, Sumatera maupun Papua, sama halnya seperti taxi air diluar negeri.(Dikutip:Wikibuku). Sampit merupakan salah satu permukiman tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur, nama kota ini sudah ada disebut di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 maupun di dalam Hikayat Banjar yang bagian terakhirnya ditulis pada tahun 1663.

Pada tahun 2001, di kota ini terjadi kerusuhan etnis antara suku Madura dengan Dayak. Dalam kerusuhan tersebut, lebih dari 400 orang tewas dan 40.000 orang harus mengungsi.(Dikutip: Wikipedia).

Letak kota Sampit yang berada didekat sungai Mentaya menjadikan kota Sampit sebagai kota bandar transito barang-barang yang akan didistribusikan ke daerah-daerah lain. Sebagai ibukota Kotawaringin Timur, Sampit berada di tengah-tengah dengan posisi yang strategis ini kota Sampit memiliki keunggulan komparatif terhadap pelabuhan laut yang menarik perekonomian dari kabupaten-kabupaten di sekitarnya. Hal inilah yang melatarbelakangi belakangi Hindia-Belanda membangun pelabuhan di kota Sampit pada 1 Mei 1989.

Kota Sampit terletak di tepi Sungai Sampit (atau Sungai Mentaya). Dalam Bahasa Dayak Ot Danum, Sungai Mentaya itu disebut batang danum kupang bulan (Masdipura; 2003). Sungai Mentaya ini merupakan sungai utama yang dapat dilayari perahu bermotor, walaupun hanya 67 persen yang dapat dilayari.

Hal ini disebabkan karena morfologi sungai yang sulit, endapan dan alur sungai yang tidak terpelihara, endapan gosong, serta bekas-bekas potongan kayu.(Dikutip: Wikipedia). Sungai Mentaya adalah sungai penghubung, media utama transportasi bagi penduduk baik untuk sekedar berpergian, berkerja, atau membawa barang dari Sampit kota ke Mentaya Sebrang.

Daerah sebrang sungai Mentaya masih asri dan cukup rindang karena pusat pemerintahan yang berada di Sampit, sehingga Mentaya Sebrang jarang penghuni. Orang-orang dari Mentaya Sebrang akan melakukan kegiatan seperti berbelanja, bekerja atau bersekolah ke kota Sampit yang ada di sebrang sungai untuk menyebrang masyarakat menggunakan sebuah perahu kecil yang sering di sebut klotok.

Karena ukurannya yang kecil klotok hanya dalat membawa sedikit penumpang walau demikian menaiki perahu klotok dari kota Sampit ke Sebrang atau sebaliknya sudah menjadi kebiasaan.

Diatas klotok masyarakat yang tidak saling mengenal akan "dipaksa" saling berinteraksi, bagaimana tidak?? Di tempat yang relatif kecil dan berselisih dengan orang lain maka pastilah kita akan bertegur sapa walau tak saling mengenal, apalagi didukung dengan kepribadian orang-orang Indonesia yang memang terkenal ramah. Disaat seperti inilah interaksi sosial akan berlangsung.

Orang-orang akan saling berkenalan dan bertegur sapa seolah menghilangkan gambar hidup individualisme karena zaman yang semakin berkembang dan menghilangkan segala jenis intraksi langsung karena kebanyakan orang hanya akan berpaku pada kehidupan pribadinya.

Namun, dengan berpergiannya penduduk menyebrang sungai Mentaya menaiki klotok maka seolah-olah ada tradisi untuk menjaga keutuhan masyarakat, penduduk saling berinteraksi tanpa mengenal suku, ras, agama dan sebagainya mereka hanya mengenal bahwa orang yang duduk disamping mereka saat mereka menaiki klotok adalah saudara mereka dari tempat yang sama.

Dari budaya sederhana seperti inilah kita dapat melihat bahwa kebiasaan-kebiasaan yang sering dianggap remeh dapat menjadi faktor utama persatuan rakyat.

Kebiasaan penduduk untuk menyebrang menggambarkan bahwa klotok adalah media perekat masyarakat, masyarakat telah terbiasa menggunakan klotok untuk menyebrang sungai, menjalin interaksi dan hubungan timbal balik dari warga kota Sampit dengan warga Mentaya Sebrang maupun sebaliknya.

Warga Mentaya Sebrang pergi ke kota dengan menaiki klotok untuk berdagang hal ini juga merupakan faktor penunjang ekonomi Dimana akan ada pergerakan ekonomi rakyat. Kotawaringin Timur adalah salah satu kabupaten dengan perputaran uang yang cukup tinggi, kompleksitas masalah ekonomi, kependudukan, dan sebagainya dalam masyarakat heterogen dapat mendorong terjadinya perpecahan karena adanya selisih paham.

Namun hal ini dapat diatasi dengan adanya budaya naik klotok. Budaya naik klotok terkesan remeh tapi dibalik itu semua kebiasaan penduduk untuk menggunakan klotok sebagai media transportasi secara tidak langsung menjadikan klotok sebagai media pemersatu.

Dalam persatuan selalu ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya persatuan itu, dan adanya perpecahan pun memiliki faktor-faktornya tersendiri. Kebanyakan perpecahan terjadi karena adanya interaksi tidak sempurna antara satu individu dengan individu lain hal ini sebab jarang adanya interaksi langsung. Budaya menggunakan klotok sebagai media transportasi oleh masyarakat Sampit merupakan perwujudan dari menjaga persatuan melalui kebudayaan.

Nah itulah tulisan karya Erika Maya Oktavia mengenai Budaya Klotok Sampit. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Salam Budaya.

1 Response to "Klotok Sebagai Media Perekat Rakyat Sampit"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel