Ragam Kekhasan Kota Solo


Solo merupakan salah satu kota madya di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas daerah sekitar 46,01 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 537.726 jiwa pada tahun 2018. Kota Solo terkenal akan keramah - tamahan dan sopan santunnya yang membuat para wisatawan domestik maupun mancanegara tertarik untuk mengunjunginya. Selain itu, Solo juga sering dinobatkan sebagai Kota Budaya dan Seni karena  kelestarian budayanya masih terjaga hingga sekarang.

The Spirit Of Java merupakan slogan untuk Kota Solo yang mengandung arti “Solo merupakan jiwanya Jawa”. Slogan tersebut menunjukkan bahwa Solo adalah pusat kebudayaan Jawa yang sebenarnya sejak berdirinya kerajaan Mataram.

Kekhasan Solo

Kota yang dahulu pernah berada dibawah pimpinan Walikota Bapak Joko Widodo ini selain dikenal memiliki beranekaragam kebudayaan, juga memiliki beragam keunikan dan kekhasan yang hanya dapat ditemukan di Kota Solo. Kekhasan tersebut dapat menjadi salah satu ciri khas dari Kota Solo yang wajib dijaga dan lestarikan.

Ragam Kekhasan Solo

Berikut jenis serta contoh kekhasan Solo, diantaranya :

Ikon Kota

Hampir setiap kota diberbagai daerah memiliki ikon atau simbol yang identik dengan ciri khas kota tersebut. Pembangunan ikon kota bertujuan agar masyarakat luas mengetahui dan mengenal sebuah kota melalui sejarahnya. Ikon kota biasanya berupa monumen, patung, tempat bersejarah, dan sebagainya.

Salah satunya Kota Solo yang terkenal dengan ikonnya yang menggambarkan kekhasan kota tersebut, antara lain :

1. Pasar Klewer

Pasar yang diresmikan pada 15 Mei 1969 merupakan salah satu ikon Kota Solo dan pusat grosir tekstil dan batik. Pada masa pendudukan Jepang, Pasar Klewer dahulu dikenal dengan nama Pasar Slompretan karena kawasan pasar merupakan tempat pemberhentian kereta api yang digunakan oleh para pedagang pribumi untuk berjualan kain batik. Biasanya para pedagang meletakkan kain batik tersebut dipundak sehingga tampak menjuntai dan terkesan tidak beraturan atau berkleweran.

Pada saat ini, Pasar Klewer telah memperoleh predikat sebagai pasar produk tekstil terbesar di Asia Tenggara dan menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Solo.

2. Keraton Kasunanan Surakarta


Keraton Kasunanan Surakarta dibangun oleh Pakubuwana II pada tahun 1744 dan terletak tidak jauh dari Pasar Klewer. Keraton yang menjadi kediaman Sri Susuhunan Pakubuwana XIII ini memiliki gaya serta arsitektur yang unik dengan perpaduan antara gaya eropa dan etnik Jawa dalam setiap sudut ruangnya.

Keraton Kasunan juga memiliki museum didalamnya yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan koleksi barang bersejarah dan turis mancanegara maupun domestik diperbolehkan untuk memasukinya dengan syarat menjaga kesopanan selama berada didalam keraton.

3. Sungai Bengawan Solo

Bengawan Solo merupakan ikon Kota Solo yang terkenal dan menjadi salah satu judul lagu keroncong yang diciptakan oleh alm. Gesang. Sungai terbesar di Pulau Jawa dan memiliki panjang sekitar 548,53 km ini terletak di antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam sejarahnya, Sungai Bengawan Solo dulunya bernama Bengawan Beton. Namun setelah Keraton Kartasura dipindahkan ke Desa Sala, Bengawan Beton berganti nama menjadi Bengawan Sala yang diambil dari nama Kyai Gedhe Sala yang merupakan sesepuh di Dusun Sala.

Rumah Adat

Setiap daerah di Indonesia memiliki beragam rumah adat yang berbeda - beda. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal¸ rumah adat juga dapat dijadikan sebagai objek wisata. Rumah adat di berbagai daerah mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri, salah satunya rumah adat Solo.

Rumah adat Solo adalah Rumah Joglo yang memiliki ciri khas dibagian terasnya terdapat banyak pilar dan pendhopo yang biasanya digunakan sebagai tempat among tamu atau menyambut tamu. Ciri khas Rumah Joglo banyak ditemukan pemukiman yang berada disekitar Keraton, hal ini dikarenakan tradisi dilingkungan keraton masih terjaga hingga saat ini.

Pakaian Adat

Pakaian  adat  merupakan salah satu ciri khas suatu daerah yang digambarkan melalui baju atau busana. Pada umumnya, pakaian adat dikenakan pada saat pagelaran seni, acara pernikahan, upacara adat, karnaval daerah, dan sebagainya.

Macam – macam pakaian adat Solo, antara lain :

1. Beskap Jawi Jangkep

Jawi Jangkep merupakan salah satu pakaian adat Solo yang berasala dari Keraton Kasunanan Surakarta. Pada umumnya, pakaian adat ini digunakan oleh pengantin pria saat acara pernikahan yang terdiri dari blangkon (penutup kepala), beskap atau pakaian atasan, rasukan krowok (baju khusus yang terdapat lubang dibagian belakang yang digunakan sebagai tempat keris), setagen, epek, timang, dan lerep (ikat pinggang), nyamping (kain bawahan), keris, dan selop (alas kaki).

 2. Surjan
Surjan merupakan kemeja atasan yang berlengan panjang, berkerah tegak yang terbuat dari kain bermotif lurik atau polos dan dilengkapi dengan samir (kain selempang yang berwarna merah dan kuning yang melambangkan amarah dan keserakahan manusia) serta mengenakan blangkon (penutup kepala). Biasanya surjan digunakan oleh pria yang berasal dari kalangan bangsawan dan abdi dalem keraton.

3. Solo Basahan 

Umumnya masyarakat Solo memiliki tradisi busana pernikahan pada dikenakan oleh pengantin wanita dan pria yaitu Solo Basahan yang memiliki makna “berserah diri pada Sang Kuasa akan masa depannya”.

Busana Solo Basahan bagi pengantin wanita terdiri dari, kemben yang terbuat dari kain dodot dengan corak binatang dan prada emas yang digabungkan dengan selendang cinde dan jarik yang berwarna senada. Sedangkan pada pengantian pria menggunakan kemben dodot, setagen, jarik, dan kuluk mathak atau topi yang memanjang ke atas.

Senjata Tradisional

Senjata tradisional merupakan benda yang sudah ada sejak zaman dahulu dan dibuat secara tradisional yang digunakan untuk melindungi dari musuh. Senjata tradisonal khas Solo yang masih digunakan hingga sekarang adalah Keris.

Sekilas, keris Solo memiliki bentuk yang sama dengan keris Yogyakarta. Namun, warangka atau tempat penyimpanan keris dan ornamen ukirannya berbeda. Warangka pada bagian pangkal keris Solo biasanya memiliki bentuk yang cenderung lancip dan ornamen ukirannya terkesan halus dsan bermotif, sedangkan warangka pada keris Yogyakarta berbentuk tumpul dan ornamennya lebih sederhana.
 
Kesenian Tari

Kota Solo memiliki bermacam - macam tarian, tarian tersebut dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tari rakyat, tari klasik, serta tari kreasi baru.           .

Tari Rakyat adalah tari yang lahir dan berkembang dikalangan masyarakat dan gerakan tarinya mengacu pada kebiasaan masyarakat sekitar. Contoh tari rakyat khas Solo, antara lain :


  1. Tari Bondan (tari yang menggambarkan seorang ibu yang menyayangi anaknya)
  2. Tari Kethek Ogleng (tari yang menceritakan asal usul Raden Gunung sari yang menjelma menjadi kera)
  3. Tari Jaranan (tari yang menggambarkan seorang kesatria berkuda)

Tari Klasik adalah tari yang lahir dan berkembang di lingkungan keraton yang diturunkan secara turun – temurun dikalangan bangsawan dan bersifat sakral serta magis. Biasanya tari klasik hanya dilakukan untuk acara tertentu, seperti acara kerajaan keraton, upacara adat, dan sebagainya. Salah satu tari khas Solo yang bersifat magis adalah Tari Bedhaya Ketawang.

Menurut istilah, bedhaya memiliki arti “wanita”, sedangkan ketawang berarti “langit”, sehingga Tari Bedhaya Ketawang dapat diartikan sebagai “tarian wanita untuk istana langit”. Tari Bedhaya Ketawang merupakan tari yang menggambarkan kisah cinta antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul dan ditarikan oleh 9 wanita suci yang tidak sedang berhalangan. 

Tarian ini hanya dipentaskan pada saat acara Tingalan Jumenengan atau kenaikan tahta Raja Keraton Kasunanan Surakarta dan saat pertunjukan tari lakukan pada hadirin yang terpilih untuk menyaksikan tarian tersebut harus dalam keadaan khusyuk, semedi, hening, serta tidak diperbolehkan untuk berbicara maupun makan. Selain itu, tarian ini memiliki cerita magis tersendiri karena setiap pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang digelar terkadang penari yang berjumlah 9 orang berubah menjadi 10 orang.

Hal tersebut dipercaya bahwa Kanjeng Ratu Kidul hadir dan ikut menari sebagai penari kesepuluh, dan hanya penari yang memiliki kepekaan yang dapat merasakannya.
Tari kreasi merupakan perpaduan antara tari klasik dengan tari yang berkembang pada zaman sekarang. Beberapa contoh tari kreasi baru khas Solo, antara lain :


  • Tari Merak
  • Tari Kupu
  • Tari Pangpung
  • Tari Kidang
  • Tari Angsa
  • Tari Gatotkaca


Makanan khas

Makanan  khas  adalah  makanan yang  menjadi ciri khas dari suatu daerah yang sudah ada sejak lama dan diwariskan secara turun – temurun dari generasi ke generasi. Namun, perubahan era seperti saat ini menjadi salah satu faktor berkurangnya eksistensi dari makanan khas tersebut akibat bersaing dengan trend makanan zaman sekarang. Sehingga diperlukan upaya untuk menjaga serta melestarikannya.

Tetapi, masih ada beberapa makanan khas Solo yang bertahan hingga sekarang dan wajib untuk dicicipi saat mengunjungi Kota Solo, diantaranya :

1. Nasi Liwet

Nasi Liwet adalah makanan khas Solo yang berbahan dasar beras yang dimasak dengan santan, serai, daun salam, dan kemudian diliwet atau dikukus hingga menjadi nasi.
Biasanya nasi liwet disajikan dengan telur pindang, ayam suwir, sayur labu, areh (santan kental yang dimasak hingga menggumpal).

Dalam penyajiannya nasi liwet memiliki keunikan tersendiri, yaitu menggunakan daun pisang yang dibentuk pincuk sebagai pengganti piring.

2. Sate Kere

Sate kere merupakan sate yang berbahan dasar jeroan ayam seperti, usus, hati, ampela, serta gembus (ampas tahu) yang di tusuk, kemudian dibakar diatas arang dan diolesi dengan bumbu kacang. Proses pemasakan yang masih tradisional menjadikan cita rasa sate kere tidak berubah meskipun telah berganti zaman. 

Pada awalnya penjual sate kere menjajakan dagangannya dengan cara berjalan kaki dan memikul bakul (keranjang yang terbuat dari anyaman kayu) yang berisi sate kere serta bahan - bahan lainnya. Selain itu, pedagang sate kere juga membawa tempat pembakar sate yang ditaruh diatas kepalanya yang menjadi ciri khasnya.

3. Tengkleng 
Tengkleng adalah makanan ciri khas Solo yang berbahan dasar tulang sapi dan tetelan yang dimasak dengan santan, cabai, serta bumbu rempah - rempah. Proses pemasakan tengkleng biasanya kurang lebih 5 jam untuk mendapatkan tekstur daging yang lunak dan lembut.

Tengkleng merupakan makanan legendaris yang masih eksis dan digemari hingga sekarang. Salah satu warung Tengkleng khas Solo yang terkenal adalah Tengkleng Bu Edi yang terletak di sekitaran Pasar Klewer.

4. Selat Solo

Selat Solo merupakan makanan legendaris Solo yang dimodifikasi dari makanan Belanda yaitu, steak. Selat Solo pada umumnya terdiri dari galantin (terbuat dari daging sapi giling), sayuran rebus (wortel, buncis, kentang), acar ketimun, mayonaise, serta kuah selat yang berwarna coklat kental dan manis.

5. Serabi Notosuman

Kue khas Solo yang terbuat dari tepung beras dan santan ini sudah terkenal hampir keseluruh Indonesia, teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis menjadikan makanan ini banyak digemari.

Biasanya kue serabi juga ditambahkan dengan berbagai isian seperti, coklat, nangka, pisang. Salah satu gerai kue serabi yang terkenal di Solo adalah Serabi Notosuman yang terletak di Jl. Moh. Yamin No. 28, Jayengan, Surakarta.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kota Solo merupakan Kota dengan sejuta kekhasan yang masih lestari dan terjaga hingga saat ini. Daya tarik yang dimilikinya, menjadikan Kota Solo sebagai tempat destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun dosmestik setiap tahunnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pariwisata Solo pada 2018 per Oktober, jumlah wisatawan yang mengunjungi Kota Solo sebanyak 3.406.547 orang yang terdiri dari 22.512 wisatawan mancanegara dan 3.384.035 wisatawan domestik. 

Demikianlah artikel mengenai Budaya Kota Solo yang ditulis oleh Shafira Salsabila. Semoga bermanfaat.

1 Response to "Ragam Kekhasan Kota Solo"

  1. Semoga artikelnya bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi pembaca sekalian tentang Kota Solo. Terimakasih 😊

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel