Budaya dan Makanan Khas Daerah Kabupaten Grobogan

Kabupaten Grobogan adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah dengan Purwodadi sebagai ibukotanya. Asal muasal nama Grobogan sendiri bermula pada suatu ketika pasukan kesultanan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngundung dan Sunan Kudus menyerbu ke pusat kerajaan Majapahit.

Dalam pertempuran tersebut pasukan Demak memperoleh kemenangan yang gemilang maka runtuhlah Kerajaan Majapahit. Ketika Sunan Ngundung memasuki istana, ia menemukan banyak pusaka Majapahit yang ditinggalkan.

Benda-benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke Demak. Di dalam perjalanan kembali ke Demak, grobog tersebut tertinggal di suatu tempat karena sesuatu sebab, tempat itulah yang kemudian disebut Grobogan.

Grobog dalam bahasa Jawa adalah tempat menyimpan senjata / barang pusaka, wayang, perhiasan, dan sebagainya. Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati Sunan Ngundung, sebagai kenangan, tempat tersebut di beri nama Grobogan, yaitu tempat grobog tertinggal.

Bagi masyarakat Kabupaten Grobogan, tentunya tidak asing lagi dengan kata kirab Boyong Grobog. Prosesi Boyong Grobog ini sendiri merupakan gambaran tentang momentum perpindahan pusat pemerintahan kabupaten Grobogan yang pada mulanya bertempat di Kelurahan Grobogan kemudian dipindahkan ke Kecamatan Purwodadi sampai saat ini.

Dalam wawancaranya dengan liputan6.com Bupati Sri Sumarni mengatakan, pemindahan pusat pemerintahan dari Kelurahan Grobogan ke Kecamatan Purwodadi bertujuan memudahkan sistem administrasi pemerintahan. Pertimbangannya, Kecamatan Purwodadi sangat strategis.

Dalam sejarahnya, pusat pemerintahan saat berada di Kelurahan Grobogan mencakup beberapa wilayah seperti Sela, Teras, Karas, Santenan, Grobogan dan beberapa daerah di Sukowati bagian utara Bengawan Solo dengan bupati pertamanya Adipati Pangeran Puger.

Pemindahan pusat pemerintahan tersebut terjadi pada tahun 1864 saat Kabupaten Grobogan dibawah kekuasaan Adipati Martonagoro dengan melibatkan seluruh prajurit dan para abdi dalem lengkap dengan persenjataan dan berbagai macam hasil bumi.

Pada saat terjadinya pemindahan pusat pemerintahan, seluruh pusaka dan persenjataan disimpan ke dalam kotak yang dalam bahasa Jawa dinamakan Grobog.

Prosesi budaya ini merupakan kegiatan tahunan masyarakat Grobogan. Selain sebagai penggambaran akan perpindahan pusat pemerintahan, kegiatan kirab budaya ini juga diselenggarakan bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten Grobogan. Kirab budaya ini selalu disambut dengan rasa antusiasme oleh ribuan masyarakat bahkan pada saat kirab berlangsung masyarakat tumpah ruah memadati tepian jalan disepanjang jalan raya Purwodadi -  Pati.

Prosesi kirab boyong grobog dimulai dari kantor Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan hingga ke pendapa Kabupaten yang letaknya di Purwodadi. Bupati Grobogan memimpin langsung acara ini diikuti oleh semua pimpinan FKPD, anggota DPRD, dan seluruh kepala desa.

Tidak lupa dikirab pula sebuah grobog kuno dari kayu jati berukuran sekitar 1 x 1 meter yang dinaikkan dalam dokar dan dikawal beberapa orang berpakaian layaknya prajurit zaman kerajaan.
Dalam rombongan itu juga terdapat puluhan warga memikul gunungan sayur mayur dan hasil bumi. Dengan jumlah gunungan ada 12 buah. Gunungan itu kemudian didoakan lalu diperebutkan warga sesampainya di Alun-alun Purwodadi.

Makna dari gunungan yang dibawa masyarakat yakni agar hasil pertanian masyarakat semakin berlimpah. Di samping itu, gunungan juga sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat Grobogan akan hasil pertanian yang ada selama ini.

Julukan dari Kabupaten Grobogan adalah kota Swike. Swike adalah makanan yang terbuat dari paha katak. Swike disajikan dalam berbagai macam olahan mulai dari Swike kuah, rica-rica swike, Swike pepes hingga swike krispi. Makanan ini juga populer dibeberapa kota lain seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta.

Warung Makan Swike Ibu Harni adalah salah satu warung Swike terkenal yang berdiri sejak tahun 1985 di kota Purwodadi. Rumah sekaligus warung miliknya tersebut tak pernah sepi pengunjung. Katak yang diolah adalah jenis katak sawah. Harga makanan olahan katak ini dibanderol mulai dari harga 5.000 rupiah sampai 20.000 rupiah saja.

Warung Swike Kodok Ibu Harni terletak di Desa Genuk Suran, Purwodadi yang buka mulai pukul 09.00 pagi dan tutup pada pukul 23.00 WIB.

Tidak salah tentunya jika Indonesia dikatakan sebagai negara majemuk. Hal itu dikarenakan banyaknya budaya, bahasa, ras, suku, makanan khas hingga agama yang tersebar diseluruh pelosok negerinya.

Kegiatan kirab budaya Boyong Grobog ini hanyalah salah satu contoh dari sekian juta aset kekayaan budaya daerah yang harus senantiasa dijaga kelestarian dan kelangsungannya agar dikenal, baik oleh masyarakat Indonesia sendiri maupun masyarakat manca negara.

Selain itu, makanan Swike juga merupakan makanan khas yang tentunya tidak dapat ditemukan dinegara lain. Bisa saja dinegara lain juga memiliki olahan yang berbahan dasar katak, hanya saja rempah-rempah yang dipakai dan cita rasa khas Indonesialah yang membedakannya dan membuatnya spesial.

Itulah tadi artikel yang diulas secara lengkap terkait dengan "Budaya dan Makanan Khas Daerah Kabupaten Grobogan" dengan penulis Alifiyah Hidayatus Sakdiyah. Semoga bermanfaat bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

1 Response to "Budaya dan Makanan Khas Daerah Kabupaten Grobogan"

  1. Semoga Kab Grobogan akan lebih dikenal masyarakat luas lewat tulisan ini.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel