Budaya Mandar Malaqbi


Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari 17.504 pulau, mempunyai Bahasa Daerah dan kelompok Etnik kurang lebih 700 bahasa serta 300 suku bangsa. Suku Mandar merupakan salah satu dari 300 lebih Suku serta Etnik Lokal yang ada di Indonesia.

Suku ini dulunya mendiami daerah Sulawesi Selatan sebelum akhirnya mengalami pemekaran dan membentuk provinsi baru, yakni Provinsi Sulawesi Barat yang sebagian besar penduduknya banyak dihuni oleh Suku Lokal Mandar, sehingga tak heran bila daerah ini sering juga disebut sebagai “litaq Mandar” atau “tanah Mandar”.

Suku Mandar atau Budaya Mandar mempunyai keterkaitan yang kuat dengan Sulawesi Barat, upaya massif yang dilakukan rakyat Mandar untuk mendorong pembentukan daerah Sulbar merupakan gerakan nyata dari semangat Masyarakat Mandar yang menjunjung tinggi semangat kuat dan pantang menyerah, atau dalam bahasa Mandar disebut semangat “Assimandarang”.

Ikatan yang kuat juga dapat dilihat dari motto Sulawesi Barat yakni “mellete diatonganan” (meniti diatas kebenaran) yang diadaptasi dari semboyan budaya Mandar. Ada banyak semboyan Mandar yang menjadi motto hidup orang-orang Mandar, dengan seruan kalimat motivasi berupa semangat serta ajakan kebaikan yang tidak hanya menjadi bahasa kiasan namun dapat diterapkan dalam sifat orang Mandar atau “Sipa’ Mandar”.

Kekhasan budaya lokal Mandar tidak hanya berupa semboyan kalimat, tetapi juga terdapat dalam kuliner khas Mandar, “Jepa dan Bau Peapi” misalnya, panganan ini merupakan makanan khas yang diwariskan secara turun-temurun dari daerah ini.

Jepa” sendiri merupakan olahan dari ampas parutan singkong dan campuran kelapa yang dimasak dengan cara dibakar pada tungku berbentuk mangkok, kadar air yang sedikit serta cenderung kering memungkinkan makanan ini cukup awet bagi nelayan sebagai bekal saat melaut.

Sedangkan “Bau Peapi” ialah lauk yang berbahan dasar ikan dan campuran bumbu rempah seperti cabai, kunyit, pammaissang (asam khas mandar), bawang mandar, serta minyak kelapa khas Mandar. Keduanya (jepa dan bau peapi) merupakan perpaduan yang pas dari sumber karbohidrat dan protein dengan cita rasa yang khas dan gurih.

Tidak hanya “Jepa dan Bau Peapi” makanan khas lainnya seperti pupu(olahan ikan yang dibentuk segitiga), golla kambu (beras ketan+gula merah yang dibungkus daun pisang kering), dan banyak lagi makanan khas lainnya yang tidak hanya sarat akan cita rasa, tetapi juga sarat akan makna.

Pemaknaan yang mendalam pada setiap keseharian Masyarakat Mandar juga dituangkan dalam tradisi lokal serta adat-istiadat Mandar. Hari-hari penting seperti pernikahan, kegiatan keagamaan serta hari-hari besar lainnya selalu dibarengi dan dirangkaikan dengan prosesi budaya serta tradisi lokal khas Mandar.

Seperti “Parrawana” (rebana), adalah jenis pertunjukan Musik rebana yang dimainkan berkelompok dan dengan irama penuh semangat dan energi. Parrawana biasa dimainkan pada pembukaan acara pernikahan, dan juga sebagai pengiring tradisi “Sayyang Pattu’du” (kuda menari) yang merupakan tradisi kesyukuran khatamnya anak-anak membaca Al-quran yang kemudian diarak keliling kampung dengan menaiki kuda. Serta tidak ketinggalan sebagai daerah pesisir, masyarkat Mandar juga punya perahu tersendiri, yakni “lopi sandeq” yang terkenal sebagai salah satu perahu tercepat dan terkuat di dunia.

Ada banyak sekali kekayaan lokal serta nilai-nilai Budaya yang tersimpan dan terjaga di tanah Mandar, peradaban yang dulunya tumbuh dari dekatnya masyarakat dengan lingkungannya, tempat
berinteraksi sekaligus sebagai sumber penghidupan masih dapat ditemukan di daerah ini.

Fasilitas alam sebagai tempat berlangsungnya interaksi sosial seperti “Sungai Mandar” contohnya, sungai yang berada khususnya di kecamatan Tinambung, kab POLMAN merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dimana masyarakat berkumpul dan melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci  merupakan pemandangan yang masih dapat ditemui di tempat ini.

Tidak hanya sebagai sarana rutinitas, Sungai Mandar juga dapat menjadi tempat refreshing bagi sekitar dan pelancong untuk bermain air, atau setidaknya menikmati keindahan sungai dan kesejukannya.

Itulah sebagian kecil kekhasan Budaya Lokal Mandar, sesuai dengan semboyan yang diagungkan Orang Mandar, “MALAQBI” (unggul/panutan) merupakan kata yang pas disematkan pada Budaya Lokal Mandar, melihat kekhasan yang masih terpelihara dan menjadi entitas dari suku untuk mengenal identitasnya.

Sudah sepantasnya seluruh Budaya yang ada di Indonesia untuk mengenal dan menjaga identitas kebudayaannya, agar kekayaan kekhasan lokal Indonesia bisa tetap utuh dan bersatu dalam keberagaman, sesuai dengan semangat kebhinnekaan. “Bhinneka Tunggal Ika” Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Mandar Malaqbi. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh  Abrar ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Budaya Mandar Malaqbi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel