Tak Hilang Budaya Melayu di Bumi

Identitas Etnis Melayu


Patah tumbuh, hilang berganti. Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan tersebut?  Ungkapan yang memiliki arti sangat dalam tersebut, diambil dari perkataan seorang legenda Melayu, Hang Tuah. Secara lengkap, ungkapan tersebut berbunyi, “Patah tumbuh, hilang berganti.

Esa hilang, dua terbilang. Tak hilang Melayu di bumi.” Perkataan Hang Tuah menunjukkan betapa kuatnya peran adat istiadat dalam kehidupan orang Melayu. Bagi orang Melayu, adat istiadat adalah komponen dasar kehidupan yang harus dipatuhi secara mutlak dan dijaga kelestariannya, sehingga tidak ada yang dapat melenyapkannya dari tanah tempat mereka berpijak.

Suku Melayu memang bukanlah suku terbesar di Indonesia, namun suku Melayu merupakan kelompok etnis tertua dan paling banyak tersebar di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Kelompok etnis ini menyebar di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Malaysia, Sabah, Serawak, Pattani, Kamboja, Sri Lanka, dan Madagaskar. Tidak diketahui secara pasti kapan kelompok etnis ini menamai dirinya sebagai Melayu.

Namun, sumber sejarah yang paling banyak dirujuk adalah catatan I Tsing yang mengunjungi Sriwijaya pada 672, yang menyebut perkampungan bernama Melayu di wilayah Jambi sekarang.

Perkampungan itu berkembang pesat menjadi bandar perdagangan penting di pesisir timur Sumatera. Pusat perdagangan yang kemudian menjadi Kerajaan Melayu itu, juga disebut dalam tulisan-tulisan berbahasa Arab dan Persia sebagai Kerajaan Zabaq yang berpusat di hulu sungai Batanghari.

Perkembangan selanjutnya, kerajaan itu dipindahkan ke Minangkabau, yang membuat membaurnya etnis Melayu dengan etnis Minangkabau. Kejayaan Kerajaan Melayu dan Sriwijaya kemudian mengalami kemunduran akibat serangan kerajaan dari Jawa, yakni Kerajaan Majapahit.

Meskipun demikian, persebaran etnis dan kebudayaan Melayu tetap berlangsung mulai dari pesisir timur Sumatera, hingga ke Semenanjung Malaka (daerah Malaysia), Kalimantan, hingga Thailand Selatan.

Persebaran etnis Melayu membentuk kelompok-kelompok suku yang sangat banyak dengan kebudayaan yang juga semakin kaya dan beragam. Kelompok-kelompok suku tersebut adalah orang Melayu Tamiang (berbaur dengan orang Aceh), orang Melayu Siak (berbaur dengan orang Minangkabau), orang Melayu Riau (banyak berasal dari Bugis), orang Melayu di Tapanuli Tengah (berbaur dengan orang Minangkabau, Mandailing, Batak Toba, dan Angkola), orang Melayu di Negeri Sembilan (berbaur dengan orang Minangkabau), orang Melayu di Trengganu (berbaur dengan orang Jawa), orang Melayu Johor (berbaur dengan orang Bugis), orang Melayu di Kalimantan (berbaur dengan orang Banjar dan Dayak).

Meskipun antara setiap kelompok sub-etnis tersebut terdapat variasi kebudayaan, yang diakibatkan oleh perbedaan kondisi sosial dan geografis dari setiap kawasan, masih terdapat ciri yang secara umum menunjukkan persamaan kebudayaan, yakni penggunaan adat resam dan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari.

Karena tidak adanya definisi legal yang ditetapkan pemerintah Indonesia untuk melabeli suatu etnis disebut sebagai Melayu atau bukan, maka pembahasan kebudayaan Melayu berikut akan difokuskan pada kebudayaan etnis Melayu di pesisir timur Sumatera, terkhusus Melayu Deli (Sumatera Utara).

Sebagai bagian dari Alam Melayu, Melayu Sumatera memiliki kekhasan yang membuatnya mudah dikenali sejak dulu. Di antara kekhasan itu adalah sifat-sifat orang Melayu yang lemah lembut, ramah-tamah, dan sopan santun dalam menghadapi tamu.

Hal ini diperkuat dengan keterbukaan orang-orang Melayu dengan pedagang-pedagang asing yang menjadikan daerah orang-orang Melayu menjadi pusat perdagangan di Nusantara. Tidak hanya itu, keterbukaan orang-orang Melayu ini jugalah yang memungkinkan pembauran antar etnis, hingga menjadikan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Nusantara.

Kebudayaan Melayu


Kebudayaan Melayu adalah corak kehidupan dan kebiasaan orang-orang Melayu sebagai hasil pengaruh dari interaksi antar individu dalam komunitas etnis Melayu dan hubungannya dengan alam serta kondisi geografis tempat mereka hidup. Kebudayaan Melayu selalu identik dengan agama Islam, adat istiadat (peraturan-peraturan dan norma-norma turun temurun), bahasa Melayu, dan benda-benda hasil aktivitas dan karya orang-orang Melayu (kebudayaan fisik).

Adat Istiadat Melayu


Menurut Tengku Lah Husni, terdapat empat ragam adat istiadat Melayu, yakni adat yang sebenar adat, adat yang diadatkan, adat yang teradat, dan adat istiadat.

  1. Adat yang sebenar adat, adalah adat yang tetap menurut waktu dan keadaan, tidak boleh dikurangi (merusak), dan tidak boleh dilebihkan (mubazir). Dasar-dasar adat yang sebenar adat adalah hati nurani manusia budiman (tercermin dalam ungkapan hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati), kebenaran yang sungguh ikhlas (tercermin dalam ungkapan berbuat kerana Allah bukan kerana ulah), keputusan yang berpadan (tercermin dalam ungkapan yang benar itu harus dibenarkan, yanh salah disalahkan).
  2. Adat yang diadatkan, adalah adat yang dilandaskan pada hasil mufakat penduduk suatu daerah dan kemudian pelaksanaannya diserahkan kepada rakyat yang dipercayakan. Pemangku adat ini adalah seorang raja atau penghulu. Adat ini dilaksanakan demi kebahagiaan lahir batin penduduk. Adat ini berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi tempat penduduk berdiam.
  3. Adat yang teradat, adalah adat yang berangsur-angsur atau lambat laun diakui sebagai adat. Adat ini berubah sesuai kondisi zaman, namun tidak mengubah hakikat dan tujuannya. Salah satu contohnya adalah dahulu pemangku adat Melayu berjalan membawa keris dengan pengiring, sekarang dikhususkan untuk perhelatan tertentu saja.
  4. Adat istiadat, adalah kumpulan berbagai kebiasaan orang Melayu, seperti perkawinan, penobatan raja, pemakaman raja, jamu laut, mandi Syafar, tepung tawar, mulaka nukal, mulaka ngerbah, gebik, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga kesenian-kesenian Melayu, seperti pantun, gurindam, nazam, dan lain-lain.

Keempat ragam adat tersebut di atas adalah inti dari seluruh kebudayaan Melayu. Adat-adat tersebut menjadi petunjuk dan pedoman hidup etnis Melayu, serta bagian dari interaksi sosial antar individu dalam komunitas etnis Melayu.

Gelar Bangsawan Melayu


Dalam kebudayaan Melayu, tingkat kekuasaan dalam suatu komunitas etnis Melayu dimulai dari Allah kemudian para raja dan pemangku adat. Tingkatan para penguasa Melayu ditandai dengan gelar bangsawan, yang terdiri dari Tengku (gelar yang didapat secara turun temurun dari ayah bergelar Tengku), Syaid (gelar bangsawan Melayu di Riau dan Malaysia yang diberi untuk keturunan Nabi Muhammad), Raja (gelar bangsawan yang diturunkan dari ayah bergelar Raja, atau dari seorang ibu bergelar Tengku yang menikah dengan ayah bergelar Raden, atau ayah bergelar Sutan), Wan (gelar bangsawan yang diturunkan dari ibu bergelar Tengku yang menikah dengan seorang yang bukan Tengku atau orang awam), Datuk (gelar bangsawan untuk penguasa suatu daerah otonomi yang dibatasi dua aliran sungai atau untuk orang yang berjasa bagi Raja), Daeng (gelar bangsawan Melayu Riau yang merupakan keturunan Bugis), Kaja (gelar untuk anak-anak perempuan Datuk), Tuan dan Encik (gelar untuk laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan-kemampuan tertentu yang membuatnya terhormat)

Kesenian Musik Melayu


Komunitas etnis Melayu Deli di Sumatera Utara memiliki kesenian musik yang hampir sama dengan komunitas etnis Melayu di kawasan lainnya. Namun, terdapat pengelompokan kesenian musik Melayu Deli berdasarkan aspek historis, yakni:

Pra Islam (Animisme, Hindu, Buddha)

Jenis-jenis lagu yang lahir pada zaman ini adalah lagu anak-anak (Dodo Sidodoi, Si La Lau Le, Timang), lagu tentang aktivitas sehari-hari (Dedeng Mulaka Ngerbah, Mengirik Padi, Menumbuk Emping), dan lagu animisme (Dedeng Ambil Madu Lebah, Memanggil Angin, Puaka)

Islam

Jenis keseniam musik zaman ini adalah Azan, Takbir, Qasidah, Marhaban dan Barzanji, Baroda, Hadrah Deli, Gambus/Zapin Deli, Zapin Ceracap, Dabus Melayu, serta Sya’ir.

Modern

Jenis kesenian musik zaman ini adalah Ronggeng Melayu (hasil akulturasi musik Portugis dengan musik Melayu) serta lagu Pop Melayu yang merupakan hasil pengaruh musik modern Barat dengan lagu-lagu Melayu.

Kekayaan kesenian musik Melayu, terutama Melayu Deli di Sumatera Utara didukung juga dengan alat musik Melayu, yang terdiri dari gendang, nafiri, gong, serunai, rebab, dan juga ensambel makyong.

Kesenian Tari Melayu


Secara umum, tarian etnis Melayu di Sumatera terdiri dari gerakan-gerakan seperti tandak (gerakan kaki melangkah dan melonjak), igal (gerakan badan dan tangan), liuk (gerakan menundukkan dan mengayunkan badan), dan lenggang (gerakan berjalan sambil menggerakkan tangan).

Dalam kebudayaan Melayu Deli di Sumatera Utara, pengolompokan kesenian tari terdiri dari:

  1. Tarian tentang aktivitas bertani (Tari Ahoi, Tari Mulaka Ngerbah, Tari Mulaka Nukal)
  2. Tarian tentang aktivitas melaut (Tari Lukah Menari, Tari Jala, Tari Gubang)
  3. Tarian tentang alam sekitar (Tari Ula-ula Lembing, Tari Pelanduk)
  4. Tarian islami (Tari Hadrah, Tari Zapin, Tari Rodat)
  5. Tarian tentang kekebalan (Tari Dambus)
  6. Tarian untuk hiburan (Tari Ronggeng, Tari Joget)
  7. Tarian berkaitan dengan olahraga (Pencak Silat, Tari Silat, Tari Lintau)
  8. Tarian berkaitan perkawinan dan khitanan (Tari Inai)
  9. Tarian dalam teater (Tari Makyong, Tari Mendu)
  10. Tarian kontemporer (Tari Ulah Rentak Angguk Terbina, Tari Demam Puyoh)

Arsitektur Melayu Deli dan Peninggalannya

Salah satu bentuk peradaban Melayu Deli yang cukup mapan adalah arsitektur bangunan istananya. Kesultanan Melayu Deli di Sumatera Utara yang pernah berjaya karena perdagangan tembakau mewariskan sebuah situs budaya bernilai tinggi yang kini menjadi ikon pariwisata di kota Medan.

Situs budaya tersebut adalah bangunan Istana Puteri Hijau atau yang dikenal dengan Istana Maimun. Bangunan yang juga merupakan tempat tinggal keluarga Sultan Deli itu terdiri dari ruang utama (balairung), sayap kanan, dan sayap kiri. Arsitektur istana ini merupakan hasil penggabungan arsitektur Melayu, India, Timur Tengah, dan Eropa.

Istana Maimun yang identik dengan warna kuning emas dan hijau ini, juga menujukkan kesenian pertunjukan khas Melayu Deli kepada pengunjung. Sebagian ruangan yang dibuka untuk publik diisi dengan perabotan gaya Eropa, seperti lemari, kursi, dan lampu-lampu kristal. Keindahan dan kekhasan Istana Maimun menjadikannya ikon wisata kota Medan sekaligus bukti peradaban Melayu Deli yang patut dijaga keutuhan dan keasliannya.

Peradaban Melayu Tumpuan Bangsa Indonesia


Penjelasan di atas menegaskan betapa vitalnya kebudayaan Melayu dalam membangun identitas nasional Indonesia. Bahasa Melayu, yang memiliki kosakata yang kaya dari pengaruh bahasa-bahasa di dunia, akhirnya disepakati menjadi bahasa persatuan Indonesia pada Sumpah Pemuda 1928. Meskipun mendapatkan penambahan serta proses pembakuan, bahasa Melayu secara sempurna bertransformasi menjadi bahasa persatuan negara yang besar ini, negara Indonesia.

Tidak hanya itu, kekayaan kesusasteraan Indonesia seperti puisi dan pantun, juga merupakan warisan kebudayaan Melayu yang menjadi ciri Indonesia di mata dunia, serta melahirkan sastrawan-sastrawan Indonesia yang melegenda bahkan di dunia internasional.

Semua ini tidak akan mungkin terwujud tanpa keterbukaan dan kesiapan etnis budaya Melayu dalam berbaur dengan suku bangsa lainnya, bersinergi membangun peradaban, dan akhirnya mewujudkan kebudayaan nasional Indonesia. Penulis artikel ini adalah Teguh Christianto. Trimakasih,

3 Responses to "Tak Hilang Budaya Melayu di Bumi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel