Nias Si Anak Tiri Sumatera

 “Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya”. (Ir. Soekarno) 

Indonesia sebagai salah satu negara terluas di dunia, menyimpan berjuta kekayaan alam yang melimpah dari ujung Sabang sampai ujung Merauke. Maka tak heran jika Belanda dan Jepang sangat betah menjajah Indonesia.

Potensi besar bangsa ini tidak sebanding dengan kualitas sumberdaya manusia untuk merawat dan melestarikannya. Kemiskinan menjadi sebuah kasus dibalik berbagai fenomena kehancuran kekayaan alam Indonesia.

Salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi kemiskinan adalah bekerjasama dengan masyarakat untuk wahana wisata alam dan pertunjukan budaya. Harapannya banyak pengunjung baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing untuk hadir menikmati wisata alam dan pertunjukan budaya yang digelar.

Selain memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat sekitar, tentunya momentum ini sebagai alat untuk memperkenalkan Indonesia kepada seluruh negara penjuru dunia bahwa negara ini layak untuk dihormati dan dihargai.

Beberapa lokasi wisata di Indonesia yang sering dikunjungi oleh turis asing adalah Pantai Bali, Lombok, Borobudur, Prambanan, Danau Toba, Mesjid Baiturrahman, Monas, Gunung Bromo, Pantai Losari dan beberapa lokasi wisata lainnya. Selain tempat wisata, masyarakat asing mengenal dengan beberapa kebudayaan Indonesia seperti adat betawi dengan ondel-ondelnya, tarian reog ponorogo, upacara adat bali, tarian batak, kain batik dan berbagai lagu daerah.

Masuknya wisatawan asing tentunya membawa dampak negatif bagi kebudayaan, salah satunya adalah pencaplokan budaya Indonesia menjadi budaya mereka. Seperti halnya kain batik dan keris yang beberapa tahun lalu sempat diakui sebagai salah satu budaya negara tetangga.

Belumnya lagi budaya asing yang masuk dapat mengubah budaya kearifan daerah, apabila tidak disaring dengan baik. Pada umumnya kebudayaan bangsa Indonesia tersebar merata di setiap daerah dari pulau Sumatera sampai pulau Papua.

Pulau sumatera tentunya menjadi salah satu destinasi wisatawan asing yang sering mereka kunjungi, di Aceh ada Mesjid Baiturahman, Pulau Weh, Museum Tsunami, di Sumaetra Utara ada Danau Toba, Gunung Sinabung di Sumatera Barat ada Gua Jepang dan tempat wisata lainnya.

Namun tidak pernah ada yang melihat keindahan Pulau Nias yang terpisah dari Pulau Sumatera. Nias merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatera Utara, namun sayangnya masyarakat hanya mengenal Sumatera Utara dari keindahan Danau Toba saja.

Padahal Pulau Nias menyimpan nilai kebudayaan yang masih lestari sampai saat ini. Luas wilayah Pulau Nias sebesar 5.625 km2 dengan jumlah penduduk 1 juta lebih yang mayoritas beragama Kristen protestan. Untuk menuju pulau Nias harus menggunakan jalur udara dengan pesawat atau transportasi laut dengan kapal ferry.

Masyarakat suku nias sering disebut dengan nama Ono Niha yang artinya Ono (Anak) dan Niha (Manusia). Menurut mitologi yang berkembang di masyarakat saat ini, suku nias berasal dari sebuah pohon kehidupan dengan bernama Sigaru Tora’a yang terletak disebuah tempat yang dipercayai oleh suku nias dengan nama Tetehoi Ana’a. kedatangan suku pertama inidiawali munculnya sembilan orang putra dari pohon kehidupan itu.

Meskipun sampai saat ini belum ada yang mengetahui pasti sejak kapam suku nias mendiami Pulau Nias sampai saat ini. Namun dibalik fenomena tersebut, masyarakat nias memiliki kebudayaan turun temurun yang sampai saat ini masih dilestarikan seperti lompat batu (fahombo), tari maena, tari fataele, rumah adat dan budaya dalam social lainnya.

Mata uang seribu rupiah pada tahun 2000 an masih jelas terlihat gambar pemuda nias yang melompat batu. Masyarakat Nias Selatan menyebutnya dengan fahombo atau yang kita kenal dengan nama lompat batu.

Gambar 1. Kebudayaan Lompat Batu dan Tarian Perang 

Tradisi lompat batu ini sudah ada sejak dahulu, dimana tradisi ini muncul karena kebiasaan masyarakat nias saat perang suku yang pernah terjadi. Pada saat perang terjadi, masing-masing daerah kekuasaan membangun benteng untuk menahan musuh masuk kedalam daerah mereka. Untuk masuk menyerang musuh, mereka harus melompati benteng tersebut.

Maka saat itulah pemuda nias berlatih dengan melompati batu setinggi dua meter. Pada saat ini tradisi lompat batu masih terus dilakukan oleh pemuda setempat, sebagai media pembuktian bahwa mereka sudah dewasa.

Pelaksanaan tradisi lompat batu ini biasanya diadakan pada waktu yang sudah ditentukan oleh masyarakat dan akan diikuti oleh pemuda yang sudah beranjak dewasa. Tradisi lompat batu tidak dijadikan ajang pertunjukan, namun terdapat nilai kebudayaan, kehidupan dan kebersamaan.

Tradisi yang dilakukan oleh pemuda nias tidak hanya menggambarkan bahwa mereka sudah dewasa, tetapi membentuk karakter yang kuat dan tangguh. Lompat batu juga dilakukan diacara adat seperti upacara yang menggambarkan kebudayaan leluhur mereka. Selain lompat batu, masyarakat nias juga masih melakukan tradisi tari fataele yang merupakan tari perang dari suku nias.

Tari fataele ini tidak lepas dari tradisi lompat batu, biasanya tarian ini dilakukan untuk mengiringi pemuda nias yang melakukan pertunjukan lompat batu. Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan masyarakat nias sudah mulai terlupakan.

Banyak masyarakat lokal maupun turis asing yang belum banyak mengetahui tentang keberadaan kebudayan nias. Tentunya hal ini memiliki dampak positif dan negatif bagi kelestarian kebudayaan masyarakat nias sendiri. Dampak positifnya, kebudayaan masyarakat nias masih terjamin keasliannya tanpa adanya nilai reduktifitas dari kebudayaan asing yang masuk.

Sedangkan dampat negatifnya, kebudayaan ini belum bisa mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat nias, sehingga sangat perlu publikasi dan pengenalan kepada masyarakat lokal mapun asing.

Kebudayaan ini dapat mengangkat martabat masyarakat nias dan mendatangkan perekonomian yang pesat jika dikelola dengan baik. Serta yang paling utama adalah memperkenalkan Indonesia kepada mata dunia bahwa kebudayaan masyarakat nias merupakan leluhur budaya yang masih terjaga ditengah perkembangan globalisasi.

Pulau Nias yang selama ini dianak tirikan oleh Pulau Sumatera harus bangkit dan menunjukkan bahwa masyarakat nias masih menyimpan kebudayaan itu secara murni. Pemerintah sangat mendukung adanya terbentuknya taman wisata nias yang dimana disana akan dikelola langsung oleh masyarakat nias.

Taman wisata nias akan menjadi ajang perkumpulan pemuda nias untuk terus melestarikan kebudayaan mereka. Kebudayaan nias harus terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia, agar tidak ada pihak yang mengeksploitasi dan mengambil kebudayaan ini. Indonesia dimata dunia adalah surga kebudayaan, maka tak henti-hentinya kebudayaan itu terus berkembang, namun tidak menghilangkan nilai kemurniannya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Nias. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Ilham Syahputra ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Nias Si Anak Tiri Sumatera "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel