Budaya Panubba dari Desa Bokori

Seiring dengan pesatnya global mengakibatkan anak­anak laut harus bisa menyelamatkan laut. Banyak perusak laut memanfaatkan teknologi modern seperti pukat harimau, bom, bius, dll., sehingga masyarakat laut selalu merasa was­was dengan kehidupan mereka.

Sejak dahulu petualangan laut bisa dilakukan oleh para perempuan ataupun laki-laki. Anak­anak Bajo meresa semua itu adalah bagian dari kebutuhan pokok mereka yang tidak bisa dipisahkan. Baik perempuan ataupun laki­laki semuanya semangat dalam mengarungi lautan hanya untuk memenuhi kebutuhannya.

Tidak kanak­kanak maupun dewasa selalu bersama­sama menjaga laut untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Namanya adalah Attong. Ia adalah perempuan baya  berusia 60 tahun. Ia menjadi nelayan sejak 30 tahun lalu.

Semangat hidupnya mengarungi samudra yang luas seakan­akan tidak  pernah surut diterpa gelombang besar dan angin kencang serta gelombang perubahan sosial. Ia tetap teguh menjalani hidupnya demi kelangsungan generasi mudanya.

Si Attong menganggap bahwa laut adalah dunia utama baginya. Semangat mengukir laut dan menghiasi langit dengan cerita petualangannya merupakan cita­cita yang tidak akan luntur meski hujan dan petir bisa saja menghapus sejarah yang diukirnya tersebut.

Melukiskan sejarah bagi anak cucunya merupakan cita­cita besar yang tidak bisa dinilai harganya dan merupakan hal yang terindah baginya.

Saat itu, mentari pagi belumlah nampak, hanya bias­bias merah yang mulai melukis ufuk. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 04.30 subuh, suara Adzan dari corong masjid tua di Bokori berkumandang.

Sebagian masyarakat di desa itu tengah bersiap untuk melaksanakan Shalat  Subuh.
Kerudung tua kumal yang di gantung di salah satu dinding rumah yang hanya terbuat dari jelajah diambil si empunya.

Warnanya tidak lagi putih seperti sedia kala. Namun, wanita tua itu menjaga agar alat shalatnya itu tetap bersih dan harum, meski warnanya telah berubah kekuningan. Kerudung itu membungkus Si Attong pergi ke masjid.

Meski dengan tubuh yang tidak sekuat dulu, nafas yang terengah­engah seakan­akan terputus, dan kaki kumal yang tidak kuat lagi menahan sakitnya tusukkan batu karang di pantai, semangatnya untuk bertemu dan bermunajat kepada Sang Khalik, tidak pernah pudar. Dalam khusyu’ ibadahnya, segala payah dan letihnya seakan­akan terbayarkan.

Pagi yang cerah ini dimulai dengan senyum merekah Si Attong. Alunan angin laut dan suara gemuruh ombak merupakan obat pelepas rindu akan leluhur yang telah membesarkannya. Tiadalah foto atau video yang mengobat kerinduan akan hikayat masa lampau, melainkan nyanyian alam saja yang mempersembahkan rekaman jejak masa kecil dan mudanya.

Si Attong dan para nelayan lainnya bergotong­royong bersama­sama menurunkan perahu layarnya. Semangat tidak pantang menyerah mereka bergegas menuju laut melakukan aktivitasnya, sebagai panubba. Masyarakat di sini mengartikan panubba adalah  nelayan yang pekerjaannya mencari kerang­kerang di laut.

Ia begitu bersemangat mendayung lepa ‘perahu’ kecilnya ditemani layar kumal dan kecil seakan­akan harapan penuh menghancurkan rintangan di depan.Tanpa merasa lelah ia selalu semangat mengarungi laut demi mencari rezeki agar dapat menghidupi diri dan beberapa cucunya.

Mengais rezeki di laut, bukanlah mudah. Mereka harus selalu siap manakala gelombang besar dan kencangnya angin laut yang suatu saat bisa menerjang mereka. Belum lagi, serangan ikan buas bisa saja menerkam mereka.

Was­was pun sering menghinggapi benaknya. Akan tetetapi, Ia yakin bahwa yang Maha Kuasa pasti punya kehendak lain. Kejadian nelayan hilang dan tidak kembali ke rumah pernah terjadi. Hal ini dikarenakan ganasnya gelombang dan angin kencang merenggut mereka.

Namun, bagi si perempuan baya ini resiko itu bukanlah hambatan untuk mencari rezeki di laut.
“Mau di darat, atau di laut, tiap usaha pasti ada resikonya” Itu keyakinan yang ditanamkan dalam dirinya. Dunia laut merupakan sumber harapan hidup yang tidak bisa dipisahkan bagi masyarakat Bajo, termasuk bagi Si Attong.

Laut adalah jiwanya dan laut adalah rumahnya itulah pedoman hidup bagi mereka. Laut segala­galanya bagi mereka. Setiap hari, perempuan baya yang tinggal bersama 3 cucunya ini melakukan aktivitasnya.

Suaminya telah lama meninggal, begitu pula anaknya yang hanya semata wayang. Anaknya yang telah meninggal dunia itu meninggalkan 3 orang cucu yang masih kecil­kecil. Berempat lah mereka tinggal dalam rumah kecil di pinggiran laut desa Bokori.

Terkadang Ia membawa pulang hasil pencaharian sebanyak ember kecil (berisi 5­10 gantang) atau ember besar (20­30 gantang).  Metti­metti ‘ kerang laut kecilkecil’ yang diperoleh itu dijual Rp20.000 ­ Rp30.000 setiap harinya.

Hasil penjualan itu, Si Attong menghidupi ketiga cucunya. Berharap besar bahwa Tuhan akan selalu menjaga mereka. Selain Si Attong ada juga perempuan yang kesehariannya mencari gurita (ordo teuthida). Masyarakat Bajo biasa menyebutnya panontoh kuitta ‘nelayan pencari gurita’. Sebut saja Budia (60 tahun).

Usianya yang senja tidak lantas membuat dirinya bermalas­malasan di rumah hingga ajal menjemputnya. Perempuan baya ini tidak punya anak tetetapi ia sangat bersemangat untuk tidak berpangku tangan meminta belas kasian kepada orang lain.

Terkadang mereka melakukan aktivitasnya sampai malam hari hanya untuk mencari tangkapan gurita mereka. Bagi dia mencari rezeki di laut merupakan hal yang menarik dan mengasyikkan serta menyenangkan serasa saja di dalam rumah.

Laut merupakan rumah bagi mereka. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat di desa ini sangat bergotong­royong menjaga laut agar tidak ada lagi pelaku pengeboman dan pembiusan biota laut.
Kedua perempuan baya yang diceritidakan di atas itu hanyalah sebagian kecil contoh ketangguhan para wanita Bajo dalam mengais rezeki di lautan.

Kenyataannya, masih banyak perempuan­perempuan lain, tidak hanya dari suku Bajo, yang selalu menghidupi keluarganya dengan mengandalkan laut sebagai penopang hidupnya.  Oleh karena itu, mereka selalu berpesan kepada anak cucunya agar menjaga laut, karena laut adalah dunia kita dan darinya Tuhan membentangkan rezeki­Nya.

Kisah nyata diambil dari kehidupan Masyarakat Laut/Bajo dari Desa Bokori di Sulawesi Tenggara-Kendari-Indonesia

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Panubba. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Irwan Alimuddin ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,


7 Responses to "Budaya Panubba dari Desa Bokori"

  1. Dari cerita ini kita belajar tentang kerja keras dan semangat melestarikan laut.

    Generasi muda patut belajar kepadanya.

    Terimakasih untuk cerita sederhana yang menginspirasi ini. Salam literasi budaya ⭐⭐⭐⭐⭐

    BalasHapus
  2. P irwan ganteng tampan ddan luar biasa
    Aku bangga punya bpk

    BalasHapus
  3. Pak irwan kalo ngambek dan tdk senyum

    Ganteng nya jadi berkurang.
    Kalo lagi senyum dan ketawa
    Ganteng bpk jadi super max. Semua orang kagum.ama bpk

    BalasHapus
  4. Kole neru di pasa ma sebuku sejarah sama

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel