Pengaruh Budaya Pemmali dalam Membentuk Karakter dan Etika pada Anak di Daerah Sulawesi Selatan


Budaya pemmali syarat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Di dalamnya terkandung adat sopan santun dalam menjalani kehidupan sehari-hari, menumbuhkan etika dalam bertindak, membangun kesehatan mental, fisik dan kreatifitas anak, dan lainnya.

Masyarakat Bugis meyakini bahwa pelanggaran terhadap pemmali akan mengakibatkan ganjaran atau kutukan. Kini konsep pemmali menjadi salah satu pilihan utama orang tua Bugis dalam mencegah derasnya pengaruh negatif era globalisasi dan lingkungan pergaulan pada anaknya, pemmali memiliki fungsi sebagai pengendalian diri dalam bertindak maupun membangun kesopanan Masyarakat.

Dimana kebanyakan orang tua mengajarkan ke anak-anaknya tentang bertutur dan berperilaku dengan mengedepankan nilai-nilai kesopanan dan moralitas dalam berinteraksi terhadap sesama. Dalam proses perkembangan nya, penanaman nilai nilai pemmali dilakukan sejak dini kepada anak.

Kata bisulan, cacingan, celaka, durhaka, ditabrak atau diculik setan, kurang rezeki, orang tua meninggal, disambar petir, tidak mendapatkan jodoh, dan lainnya merupakan kata yang mudah mempengaruhi cara berpikir mereka sehingga mau menerima nasehat orang tuanya
Sejak anak sudah dapat mengerti yang mana baik dan buruk.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang tua diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pemmali sebisa mungkin sejak awal pada masa pertumbuhan anak-anak. Dalam melestarikan budaya pemmali, ada beberapa hal dan tantangan yang dihadapi keluarga Bugis yaitu cara berpikir anak yang semakin kritis dan perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi yang tidak ada batasnya.

Selain itu, kebanyakan orang tua Bugis memperkenalkan pemmali dengan cara membuatnya dalam bentuk mitos. Sebab dengan cara tersebutlah anak lebih tertarik mendengarkan dan lebih menurut jika dinasehati oleh orang tua mereka. Budaya ini telah banyak dikenal oleh masyarakat di daerah Sulawesi Selatan.

Kepercayaan pemmali ini merupakan suatu  budaya yang dipercaya dapat membentuk karakter pada anak sehingga dapat membuat anak manjaga sikap dan berperilaku sopan santun sesama manusia dan menjaga akhlak.

Eksistensi pemali dengan tiga bentuknya tersebut dalam perspektif hukum Islam, ada yang boleh dipertahankan dan diwariskan kepada generasi dengan penyesuaian dengan prinsip dan nilai-nilai syariat, tetapi ada juga yang tidak boleh dilanjutkan karena tidak berkesesuaian prinsip hukum Islam dan syariat. Beberapa kepercayaan pemmali juga berkaitan dengan kesehatan mental dan fisik1 .

Pemmali dalam masyarakat Bugis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemmali dalam bentuk perkataan dan pemmali dalam bentuk perbuatan.

a. Pemmali Bentuk Perkataan

Pemmali bentuk ini berupa tuturan atau ujaran kalimat. Berupa kata-kata yang dilarang atau tidak boleh untuk diucapkan. Kata-kata yang pantang untuk diucapkan disebut kata tabu. Contoh kata tabu yang merupakan bagian pemmali berbentuk perkataan misalnya balawo (tikus), buaja (buaya), guttu (guntur).

Kata kata tabu seperti itu jika diucapkan diyakini akan menghadirkan bencana atau kerugian. Misalnya, menyebut kata balawo (tikus) dipercaya masyarakat akan mengakibatkan gagal panen karena serangan hama tikus. Begitu pula menyebut kata buaja (buaya) dapat mengakibatkan Sang Makhluk marah sehingga akan meminta korban manusia.

b. Pemmali Bentuk Perbuatan atau Tindakan

Pemmali bentuk perbuatan atau tindakan merupakan tingkah laku yang dilarang untuk dilakukan guna menghindari datangnya bahaya, karma atau berkurangnya rezeki. Berikut ada beberapa contoh pemmali dan maknanya2 akan dibahas dibawah ini. :

1) Pemmali tudangi angkalungeng, nasaba’ kempangekki., Dalam bahasa Makassar : Teaki’ ammempo ri paklungang sallang kambangki

Terjemahan : Tidak boleh menduduki bantal, sebab akan bisulan.

 Orang tua Bugis senantiasa mengajarkan kepada anaknya agar tidak duduk di atas bantal sebab bantal adalah tempatnya kepala dan kepala memiliki derajat yang tinggi dalam perspektif budaya Bugis.

Jika dalam budaya Eropa memegang kepala bermakna positif namun dalam budaya Bugis justru sebaliknya. Memegang kepala dapat dimaknai penghinaan yang lazim dikenal “patuwa-tuwai”. Selanjutnya, pemilihan konsekuensi “bisulan” pada dasarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan perilaku duduk di atas bantal.

Namun konsekuensi yang dipilih tersebut sangat efektif bagi anak. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua Bugis memahami bahwa makna “bisul” sudah mampu dicerna oleh anak ketimbang menjelaskan makna “derajat kepala”.

Dari larangan ini dapat disimpulkan bahwa mendidik anak dengan larangan harus sesuai dengan kemampuan dan pemahaman anak. Di samping itu, makna terdalam adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Bantal adalah tempat kepala dan bukan pantat. Menempatkan sesuatu pada tempatnya akan berbekas pada diri anak hingga dewasa sehingga mampu membentuk karakter anak sejak dini.

2) Pemmali mangitta bale, nasaba’ bitokekki. Dalam bahasa Makassar: Teaki angnganre juku’ bawang, na saba’ sallang gallang-gallangnganki

Terjemahan : Tidak boleh makan ikan saja (tanpa nasi), sebab akan cacingan.

Orang tua Bugis sangat melarang anaknya untuk mengkonsumsi ikan tanpa nasi sebab akan cacingan. Secara medis, konsekuensi yang ditawarkan masih membutuhkan penelitian. Namun pemilihan konsekuensi “cacingan” sangat efektif bagi anak, sebab mereka takut mengalami cacingan.

Secara tidak langsung anak pun dapat belajar etika ketika makan. Lebih jauh, secara kesehatan larangan ini menghendaki pemenuhan gizi anak yang seimbang sehingga melahirkan generasi yang sehat dan cerdas.

3) Pemmali mabbaju cella’ narekkko bosiwi, nasaba’ nakennaki lette dalam bahasa Makassar : Akbaja eja punna bosi, gapapai na taba gunturu

Terjemahan: Tidak boleh memakai baju merah ketika hujan, sebab akan disambar petir.

Orang tua Bugis melarang anaknya memakai pakaian merah ketika kilat dan guntur sebagai bentuk kehati-hatian untuk keselamatan anak. Warna merah identik dengan warna petir sehingga pakaian tersebut harus diganti ketika cuaca mendung.

Dalam tradisi Bugis, warna merah merupakan salah satu warna favorit yang menandakan keberanian, sehingga baju warna merah sering menjadi pilihan orang tua dan anak untuk dikenakan. Lebih jauh, makna yang terkandung dalam larangan tersebut adalah orang tua Bugis menginginkan anaknya yang sementara asyik bermain untuk kembali ke rumah bilamana hujan turun. Dengan demikian, terkandung nilai kehati-hatian dalam larangan tersebut.

4) Pemmali esesa nanrewe, madorakaki. Dalam bahasa Makassar : Anynyisa Kanre, dorahakaki
Terjemahan: Tidak boleh menyisakan makanan, sebab akan durhaka 

Orang tua Bugis senantiasa mengajarkan anaknya untuk menghabiskan makanan, sebab bila tidak akan durhaka (kepada Allah SWT). Dalam konstruk nalar Bugis, mereka percaya bahwa nasi yang dimakan terdapat berkah di dalamnya.

Jangan sampai berkah tersebut terbuang pada nasi yang tersisa. Jika itu terjadi, maka makanan yang masuk tidak memberikan berkah dan dapat menyebabkan manusia sakit. Tentu saja keyakinan ini sejalan dengan konsep agama, yakni dilarang membuang makanan (mubazir).

Hanya saja dalam budaya Bugis bahasa mubazir diganti dengan bahasa durhaka. Bahkan, aib besar bagi orang yang membuang sisa makanan di tempat saluran air atau tempat kencing. Menurut keyakinan suku Bugis, makanan yang terkena kencing akan menangis dan mengaduh kepada Tuhan bahwa si A atau si B telah menelantarkannya.

Untuk itu, nasi tersebut meminta kepada Tuhan agar rezeki orang yang telah menelantarkannya ditahan. Dengan demikian larangan tersebut mengandung nilai adat makan, tidak bersifat mubazir, dan mencari keberkahan Tuhan dalam segala aktivitas kehidupan.

5) Pemmali maccule ko magaribiwi, nasaba’ naleppoki setang. 

Dalam bahasa Makassar : Teaki akkare-karena mangngaribi, sallang na lappo ki setang
Terjemahan: Tidak boleh bermain pada hari menjelang magrib, sebab akan
ditabrak setan.

Orang tua Bugis senantiasa mengawasi perilaku anaknya termasuk kapan dan dimana anak boleh bermain. Pola pengawasan tersebut dimaksudkan untuk mendisiplinkan anak dan memahami manajemen waktu. Magrib merupakan waktu beribadah kepada Tuhan, sehingga anak harus berhenti bermain dan kembali ke rumahnya untuk beribadah bersama orang tuanya.

Pemilihan konsekuensi “setan” dianggap tepat karena anak takut kepada setan sehingga tidak ada alasan baginya untuk tetap bermain di saat magrib telah tiba. Pesan yang terkandung di dalam larangan tersebut adalah pendidikan disiplin dan manjamen waktu bagi anak sejak dini.

Beberapa pemmali yang juga dipercayai oleh masyarakat Bugis dan Makassar hingga saat ini adalah :

1) Riapemmaliangi anaa darae makkelong ri dapurange narekko mannasui, Dalam bahasa Makassar : Ripamali ana bainea akkelong ri pallua punna appallui (pantangan bagi seorang anak gadis untuk menyanyi di dapur apabila sedang memasak atau menyiapkan makanan)

Masyarakat bugis menjadikan bahwa ketika pemmali ini dilanggar maka akan berakibat mendapatkan jodoh yang sudah tua, Namun secara logika, menyanyi saat di dapur dapat menyebabkan air liur dapat terpercik kedalam makanan

2) Matulla bangi tauwe nasaba` macilikai, dalam bahasa Makassar : Tena kulle appatungkulu na saba sallang sialakki ( Tidak boleh bertopang dagu, sebab akan sial)

Bertopang dagu menunjukkan sifat orang pemalas yang enggan melakukan pekerjaan, Orang pemalas akan berujung pada kehidupan yang menderita sehingga masyarakat Bugis menganggap bahwa bertopang dagu menunjukkan sifat kemalasan yang akan membawa kesialan.

Suku Bugis merupakan suku yang memiliki berbagai macam syarat dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, diantara keprcayaan yang ada sampai sekarang ini adalah budaya pemmali. Budaya tersebut diyakini mampu membentuk karakter dan akhlak pada anak usia dini.

Diantara nilai yang terkandung dalam budaya pemmali tersebut adalah, Menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai dengan konsep etika dan tatakrama, Penghargaan kepada orang lain, guru, dan orang tua. Memelihara adat kesopananmemelihara kesehatan mental dan fisik anak, membangun kreativitas, Pendidikan pola pergaulan yang baik, Disiplin, dan kehati-hatian dalam bertindak.

Demikian tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Pemmali di Sulawesi Selatan. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Fadiyah Firdaus ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

139 Responses to "Pengaruh Budaya Pemmali dalam Membentuk Karakter dan Etika pada Anak di Daerah Sulawesi Selatan"

  1. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  2. Tulisan yang sangat baik mengingatkan budaya pemmali. Budaya bugis yang mulai hilang seiring semakin terbukanya akses informasi dan semakin kritisnya masyarakat apalagi di masyarakat perkotaan

    BalasHapus
  3. Kereenn....sampai sekrang masih ada yang melestarikan dan melakukan budaya indonesia...salut

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat,semoga bisa dijadikan ilmu baru bagi orang"

    BalasHapus
  5. Mengingatkan generasi penerus agar tidak lupa dngn budayanya๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  6. Keren Improve it ๐Ÿ’–๐Ÿ”ฅ

    BalasHapus
  7. ������������������

    BalasHapus
  8. Sangat bermanfaat informasinya semoga budaya indonesia selalu di ingat, semangat selalu!

    BalasHapus
  9. literasi yang bagus buat anak jaman skrng agar tidak lupa dgn budaya sndiri

    BalasHapus
  10. ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  11. Tulisan yang menurut saya sangat bermanfaat untuk generasi kedepannya agar kita semua tidak melupakan budaya kita masing masing๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  12. Keren pembahasannya, saya mendukung penuh karya dari sulawesi

    BalasHapus
  13. Niceee ๐Ÿ™Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  14. ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  15. Informasi yang menarik, sangat berguna untuk dijadikan ilmu tambahan

    BalasHapus
  16. Nice... pembahasannya bagus. Penggunaan kata dan bahasanya mudah dimengerti.
    Dan dapat memperluas wawasan

    BalasHapus
  17. sangat bermanfaat ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  18. sangat bermanfaat ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  19. Sangat berguna๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

    BalasHapus
  20. ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  21. menarik... dan memeberikn wawasan pemahaman yg baru kami tahu setelah membaca artikel ini ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
    sukses buat penulisx ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  22. Nicee��������,,, tulisan yg bermanfaat

    BalasHapus
  23. Sangat bermanfaat utk generasi skrg.. Di tunggu artikel selanjutnya๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  24. Artikelnya sangat bermanfaat krna mengangkat budaya terdahulu yang telah luntur di tengah peradaban generasi z

    BalasHapus
  25. Sangat bermanfaat ..trimakasih artikelnya๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  26. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  27. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  28. Artikel yg baik... Semoga bermanfaat...

    ,๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  29. Sangat bermanfaat informasinya

    BalasHapus
  30. Tulisan yang sangat baik mengingatkan budaya pemmali. Budaya bugis yang mulai hilang seiring semakin terbukanya akses informasi dan semakin kritisnya masyarakat apalagi di masyarakat perkotaan

    BalasHapus
  31. Artikel ini merupakan salah satu cara mengenalkan budaya kepada generasi muda

    BalasHapus
  32. Artikel ini merupakan salah satu cara mengenalkan budaya kepada generasi muda

    BalasHapus
  33. ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  34. Diantara nilai yang terkandung dalam budaya pemmali tersebut adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai dengan konsep etika dan tatakrama ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    Topik pembahasan yg sangat bermanfaat..

    BalasHapus
  35. Sangat bermanfaat mengingatkan kita tentang arti budaya ๐Ÿ‘

    BalasHapus
  36. A good article. Salah satu cara yang baik untuk emperkenalkan budaya daerah kepada orang-orang, terutama anak-anak generasi Z dan A. Good Job Fadiyah

    BalasHapus
  37. Artikel yang bermanfaat������

    BalasHapus
  38. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘ temanku ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  39. Cukup baik, namun di tengah perhelatan ilmu pengetahuan yang sudah menjadi konsumsi global saat ini, idealnya PAMMALI itu bertransformasi ke penggunaan kalimat yang lebih kompatibel dengan motifnya, supaya sasaran PAMMALI ini lebih mengetahui nilai kulturnya ketimbang penggunaan bahasa kiasan yang masih banyak tidak bisa diterima oleh sasarannya.
    .
    Save our culture.
    Save our generation!

    BalasHapus
  40. Nice.. Sngay bermanfaat

    BalasHapus
  41. Salah satu cara mengingatkan pada budaya๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  42. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  43. Pamali yang lain contoh.a jg kalau bawa pulang bekal yang tidak dimakan, katanya tdk jd dilamar entah makna sesungguhnya apa

    BalasHapus
  44. Tidak untuk dipercaya, tp diambil maksud baiknya dari budaya pammali tersebut..

    Artikel yg sangat bermanfaat ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  45. Keren, sangat bermanfaat, mengingatkan kita agar tetap melestarikan budaya Bugis ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  46. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘ mengingatkan nilai-nilai budaya yang punya nilai moral tinggi

    BalasHapus
  47. Bangga dgn ide dan pikiran nak fadiyah yg dituangkan dalam tulisan keren ini....sepakat bgt kalau budaya yg perlu dipertahankan dan diajarkan adalah yg sesuai dengan syariat islam

    BalasHapus
  48. Teruskan berkarya nak...i am proud of you....

    BalasHapus
  49. Sangat menginsiprasi kita agar tetap melestarikan budaya, khususnya budaya bugis

    BalasHapus
  50. Sangat bermanfaat Untuk melestarikan budaya bugis

    BalasHapus
  51. Tulisannya menarik, sudah pasti bermanfaat buat yang belum paham pamali walau sering dengar. ๐Ÿ‘

    BalasHapus
  52. Karya tulisnya dah bagus,,terutama dalam pemaknaannya, sangat memberikan kemudahan bagi si pembaca sehingga orang tertarik dalam membacanya. Selain itu, si pembaca banyak mendapatkan pengetahuan melalui tulisan ini. Jujur saja, karya tulis ini mengingatkan saya sewaktu kecil dulu, selalu diingatkan oleh orang tua saya seperti di uraikan dalam karya ini. Kebetulan saya orang NTB tepatnya Bima, karya ini mirip sekali dengan budaya di Bima. Sekali lagi, mantttaaaapppp.๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  53. Artikel yg Sgt brmanfaat bg smua org .Dr dl smpi skrg pammali msh byk yg mngamalknx bg suku bugis Dan Sgt brmanfaat bg ank2 generasi skrg.trs sebarkn artikel yg brmnfaat nak fadia.. sukses trus..

    BalasHapus
  54. Pemmali, menjadi pro kontra di kalangan milenial saat ini bahkan sudah semakin tergerus. Namun, senoga dengan tulisan ini bisa menjadi pengingat kembali terhadap pemmali yang dulunya selalu kita dengar dari orang tua sebab terkandung nilai kebaikan dalam pesan tersebut

    BalasHapus
  55. Artikel ini sangat menarik
    pemaparan yg lugas dalam tiga bahasa yg syarat makna dan kaitanx dlm pandangan agama pada anak sebagai generasi bangsa di era milenia, sukses selalu dengan karyanya..

    BalasHapus
  56. Sangat baik....karna budaya kita ini hampir hilang terbawa jaman modernisasi

    BalasHapus
  57. "Kata nenek gue, itu pammali tau". Hehe....
    Kata Pammali memang sangat lazim kedengarannya karena kata itu sering dilontarkan oleh kebanyakan orang dan menganggap itu adalah kepercayaan yang unik. Memang orang tua zaman dahulu sangat unik dan ampuh dalam mendidik anaknya. Meski sangat sulit dicerna secara logika, tapi pammali hadir bukan tanpa tujuan. Ternyata ada manfaat yang dapat dipetik darinya untuk jangka panjang dan ini menurut saya pammali sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter dan etika bagi anak dan sangat tepat untuk diajarkan sejak dini agar nantinya generasi penerus memiliki karakter dan beretika yang baik.

    Artikel ini saya yakin sangat bermanfaat bagi segenap pembaca. Ditunggu tulisan artikel menarik dan bermanfaat berikutnya. Good Job.

    BalasHapus
  58. Perbanyak lgi artikel2 seperti ini,mnyangkut budaya2 suku bugis

    BalasHapus
  59. Artikel yg sangat memarik dan bermamfaan untuk generasi millenial skrg terkhusus pemali budaya bugis.

    BalasHapus
  60. dengan adax artikel ini.. bisa kembali mengingatkn kt pda zaman" dulu.. yg terlalu bnyk larangan.. alias pamali.. yg bisa mndektkn kita dri syirik ... semoga dng adax artikel ini bisa membantu kita untuk selalu mngingat Allah SWT
    good job buat penulis... sukse

    BalasHapus
  61. Memang budaya pamali berperan besar dalam pembentukan etika.. Sebenarx kalau d dengar memang kedengaran konyol, tpi ketika d lihat sisi lainx memang ada pesan positif dari budaya pamali.. Contoh dulu kita d larang duduk d atas bantal supaya bntal tdak cepat tipis..

    BalasHapus
  62. Org tua harus menyesuaikan nasihat pammali dgn usia anak

    BalasHapus
  63. Bagus kak artikelnya menarik :)

    BalasHapus
  64. Karya tulisan yang sangat bermanfaat ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  65. Sangat bermanfaat dengan adax artikel ini,kt bisa kembali mengingatkan pada zaman" dulu yg terlalu bnyk larangan,alias pamali,yg bisa mendekatkan kita dari budaya siri'.

    BalasHapus
  66. Sebuah artikel yg kembali mengingatkan kita akan pentingx sebuah larangan terhadap sesuatu yg mengandung unsur,atau hal2 yg kurang baik

    BalasHapus
  67. Orang jaman dulu percaya kalau
    sesuatu hal yang akan menjadikan kita sial jika kita melakukan hal yg pemmali tersebut tapi tidak hanya di suku bugis saja, suku2 lainpun juga ada hanya namanya beda. intinya pemmali pada dasarnya adalah prinsipnya yakni kehati2an. Sehingga perkataan maupun perbuatan bkn sekedar baik-buruk tp jg pantas-tdk. banyak yg hingga saat ini melaksanakan praktiknya, tapi hanya sebagian kecil yang tahu apa makna "pemmali sebenarnya".

    BalasHapus
  68. Artikel yang sangat menarik. Saya juga merupakan "produk" orang2 tua yang seeing sekali melarang anaknya dengan mengatakan "pemmali begini... Pemmali begitu" Dan benar saja waktu kecil dulu jika orang tua mengatakan pemmali apalagi hal2 yg berbau mistis maka anak2 kecil akan takut Dan selalu mengingat pemmali2 tsb

    BalasHapus
  69. Yg penting tania wae mata mitti'.. Terri' tengngabenni pemmali hha

    BalasHapus
  70. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  71. Artikel yg bermanfaat... Semoga berguna bagi setiap pembacax... Aminnn

    BalasHapus
  72. harusnya pammali sudah ditinggalkan karena bertentangan dgn nilai-nilai agama islam. Kalau mau membentuk karakter anak maka didiklah dengan nilai-nilai agama yang luhur. dalam islam pammali adalah contoh dari thathayyur yang terlarang karena menjerumuskan kita dalam kesyirikan. wallahu a'lam

    BalasHapus
  73. Artikel yang sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  74. ������������

    BalasHapus
  75. Tulisannya sangat bermanfaat dan mudah2an menjadi referensi buat calon penumis ttg budaya di sulawesi selatan

    BalasHapus
  76. Artikel yang sangat bermanfaat

    BalasHapus
  77. nice article....good luck buat penulisnya, semoga menjadi manfaat ilmu bagi generasi muda sekarang (terkhusus) yang sudah hampir melupakan budaya kearifan lokal (khususnya) bagi budaya bugis makassar

    BalasHapus
  78. Artikel ini merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan budaya yang ada di daerah sulawesi selatan

    BalasHapus
  79. Artikel ini sangat bermanfaat .semoga dapat berguna bagi pembaca. Dan kita perlu tinggalkan larangan atau pammali yg tergolong kesyirikan

    BalasHapus
  80. Menurut saya Artikel ini sangat bermanfaat, dapat kita pahami secara mudah, dan semoga dpat menginspirasi byk orang

    BalasHapus
  81. Pamali atau pantangan adalah suatu tradisi/kepercayaan yang berisikan perintah dan larangan yang diajarkan masa laludimana jika seseorang tidak melakukan atau melanggar pantangan tersebut maka akan terjadi hal hal negatif pada dirinya.Pamali/pantangan sebagai bagian pembelajaran bahwa zaman dahulu ada tradisi dan kebiasaan unik yang tentunya hal ini hanya terjadi di Indonesia.

    * sangat bermanfaat skali ๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  82. Saya pikir apa yang disampaikan author dalam artikel ini sangat bermanfaat dan memberikan pengetahuan yang lebih lagi bagi orang awam akan hal tersebut dan memberikan dampak yang positif untuk teman-teman.

    BalasHapus
  83. Artikel ini sangat bermanfaat sebab mengajarkan kepada anak anak untuk berperilaku sopan santun,di mana diwaktu kecil orang tua sering mengajarkan tentang hal seperti itu supaya kita dapat mengambil sisi positifnya

    BalasHapus
  84. Sangat bermanfaat dimasa era globalisasi skrg dimana generasi pelanjut banyak yg lupa akan budaya atau leluhur masing2.๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  85. Menurut saya, artikel ini sangat bermanfaat karena ada beberapa budaya jika tidak di kerjakan atau disebut Pammali akan menimbulkan musibah, baik itu di keluarga atau di satu kampung. dengan artikel ini anak millenial bisa mengetahui dan belajar mengenai pammali.

    BalasHapus
  86. Menurut saya, artikel ini sangat bermanfaat karena ada beberapa budaya jika tidak di kerjakan atau disebut Pammali akan menimbulkan musibah, baik itu di keluarga atau di satu kampung. dengan artikel ini anak millenial bisa mengetahui dan belajar mengenai pammali.

    BalasHapus
  87. Sangat bermanfaat ilmunya ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  88. Masya'Allah, mari lestarikan budaya kita ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  89. Menurut saya artikel ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman kepada kita tentang suatu kebudayaan yang harus dijalankan sebab di zaman sekarang banyak seseorang yang sudah mengabaikan suatu kebudayaan.

    BalasHapus
  90. Maa syaa Allah, kereenn ��

    BalasHapus
  91. Ilmunya sangat bermanfaat ��

    BalasHapus
  92. Sangat bermanfaat๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  93. Sebenarnya budaya pammali cukup baik dlm pembetukan karakter pada anak krn melarang anak dlm melakukan sesuatu yg kurang baik secara halus dgn alasan yg jelas meskipun tidak ilmiah.

    BalasHapus
  94. Sangat bermanfaat๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  95. Waah sangat bermanfaat๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  96. Informasi yang diberikan sangat bermanfaat bagi kami. Terima kasih :)))

    BalasHapus
  97. Sangat bermanfaat๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  98. Sangat bermanfaat. Terima kasih atas informasi yg diberikan ��

    BalasHapus
  99. Info yng diberikan sangat bermanfaat, terima kasih ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  100. Artikel yang sangat menarik, semoga bermanfaat untuk kita semua๐Ÿ‘

    BalasHapus
  101. Terima kasih telah berbagi pengetahuan.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel