Ponorogo Ethnic Arts of Java


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yaitu merupakan bentuk jamak dari buddhi atau akal; yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Atau dari bahasa Inggris yaitu cultur dan bahasa Latin yaitu cultura. Budaya merupakan identitas bangsa yang harus selalu dihormati, dijaga, dan dilestarikan supaya kebudayaan akan tersu ada sehingga dapat menjadi warisan.

Setiap negara tentunya memiliki budaya masing-masing dan kekhasan nasional masing-masing, begitu juga dengan Indonesia yang memiliki kebudayaaan dan kekhasan yang sangat beragam. Karena keanekaragaman budaya yang dimiliki, Indonesia menjadi daya tarik bangsa lain dari berbagai belahan dunia.

Indonesia sendiri merupakan negeri yang memiliki bahasa daerah terbanyak di dunia, yaitu sebanyak 726 bahasa daerah (Berdasarkan laporan penelitian The Summer Institute of Linguistic, yang dikutip dalam buku Pesona Indonesia pada tahun 2006).

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang terdiri dari lebih dari 300 suku bangsa. Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan budaya sendiri-sendiri yang menjadikan daerha tersebut menarik dan berbeda dari daerah yang lain.

Sama halnya dengan Ponorogo, yang merupakan salah satu kota kecil di Jawa Timur yang sama seperti dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia yang memiliki kekhasan budayanya sendiri. Meskipun hanya kota kecil, namun Ponorogo telah dikenal oleh masyarakat luas bahkan sampai mancanegara.

Reog, salah satu bukti nyata serta saksi bisu terbentuknya kota Ponorogo, karena kesenian Reog Ponorogo memiliki ketertarikan dengan perjuangan Raden Katong untuk mendirikan kota Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1486. Raden Katong merupakan bupati pertama Ponorogo yang masih memiliki garis keturunan dari Raja Brawijaya V, Raden Katong biasa disebut dengan Batoro Katong.

Maka dari itu banyak yang menyebut Ponorogo sebagai Bumi Reog, seperti yang terdapat pada Gerbang kota Ponorogo yang dihiasi oleh warok dan gemblak yaitu sosok yang selalu ada dalam pertunjukan Reog.

Kesenian Reog Ponorogo sendiri telah tercatat dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan (kini Malang, Jawa Timur) bertarih 760 Masehi saat Gajayana berkuasa, dan juga dalam salah satu prasasti Kerjaan Kediri dan Jenggala pada tahun 1045 Masehi.

Reog Ponorogo juga telah mendapatkan hak cipta, paten, dan merek dari Departemen Kehakiman RI Nomor 013195 pada tanggal 12 April 1995, dan sejak tahun 1997 telah diselenggarakan Festival Reog Nasional (FRN) sampai saat ini.

Dalam pertunjukan Reog selalu ditampilkan sosok-sosk yang harus ada, yaitu 1.topeng berbentuk kepala singa yang disebut sebagai “Singa barong” yaitu raja hutan yang menjadi simbol untuk Kertabumi, yang diatasanya terdapat bulu-bulu merak sehingga menyerupai kipas raksasa sebagai simbol pengaruh kuat para rekan Cina yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya dan merupakan peralatan tari yang paling dominan.

Barongan ini memiliki ukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan berat yang hampir mencapai 50 kilogram, Jathilan, menggambarkan prajurit berkuda yang tangkas berlatih di atas kuda.

Dibawakan oleh para penari perempuan, yang semula ditarikan oleh laki-laki yang didandani seperti perempuan. Namun sejak tahun 1980-an, ketika kesenian Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pembukaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), penari jathilan diganti oleh penari putri dengan alasan agar lebih feminim, warok, berasal dari kata wewarah yang artinya orang yang memiliki tekad suci dan memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih.

Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan uwus menep ing rasa (Warok merupakan orang yang telah sempurna dalam perilakunya, dan sampai pada pengendapan batin). Warok tidak dapat dipisahkan dari kesenian Reog Ponorogo, yang merupakan seseorang yang betul-betul menguasai ilmu lahir maupun batin.

Klono sewandono atau Raja Kelono merupakan seorang raja yang memiliki kekuatan sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti atau yang biasa disebut Kyai Pecut Samandiman. Klono sewandono digambarkan sosok raja yang tampan dan masih muda yang selalu membawa pusakanya.

Ganongan (Bujang Ganong) atau Patih Pujangga Anom merupakan salah satu tokoh yang enerjik, kocak dan memiliki keahlian dalam seni bela diri yang biasanya diperagakan oleh dua orang atau lebih. Bujang ganong menggambarkan sosok seorang Patoh Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka, dan juga sakti.

Di Ponorogo sendiri Reog merupakan hal yang umum yang setiap hari terjadi baik di acara khitanan, ulang tahun, pernikahan, slametan, maupun acara-acara penting. Bahkan beberapa waktu lalu sempat terdengar berita bahwa Reog Ponorogo diklaim sebagai milik Malaysia. Maka dari itu, Reog dan kebudayaan lainnya harus dilestarikan sebagai warisan.

Ya! tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Budaya Ponorogo. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Shalma ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,


0 Response to "Ponorogo Ethnic Arts of Java"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel