Kisah Sejarah dan Budaya Siri di Sooppeng


Ri tanah Soppeng, kata Soppeng diambil dari kata SOSSO + LAPPENG. SO (SSO) + (LA) PPENG = SOPPENG. Maksud dari hal ini bahwa orang Soppeng (Sosso) itu dari Sewo ke Soppeng. Lappeng, untuk sebuah tempat di dekat bekas istana Datu Soppeng. Sosso berarti turun atau pindah.
(Perpanittera II) se Sulawesi Selatan; 1976: 10)

Namun, menurut Pananrangi Hamid, nama Soppeng pada dasarnya diambil dari nama sebuah pohon yang buahnya mirip anggur, dan oleh orang Bugis Soppeng disebut “Caloppeng” atau “Coppeng”. Menurut riwayat bahwa di dekat bekas istana Kerajjaan Soppeng, tumbuh sebuah pohon Coppeng yang sangat besar, untuk menyatakan kebesarannya itu maka bunyi “C” pada Coppeng diganti menjadi “S” pasa Soppeng.

Berdasarkan naskah Lontara Soppeng, hal : 152, ditarik kesimpulan bahwa penduduk tanah Soppeng, pada mulanya datang dari dua tempat, yaitu Sewo dan Gattareng, tanpa memberikan data yang dapat diambil sebagai penamaan kota Soppeng itu sendiri.

Sebelum terbentuk kerajaan Soppeng, terjadi kekacauan-kekacauan tiada henti-hentinya. Kemiskinan, kemelaratan di kalangan masyarakat hingga mengalami kehancuran. Olehnya, 60 orang pemuka masyarakat Soppeng mengangkat junjungan untuk mengatasi masalah tersebut.

 Arung Bila mengadakan musyawarah besar, dihadiri 30 orang Matoa dari Soppeng Ri Aja dan 30 orang Matoa dari Soppeng Ri Lau. Saat musyawarah berlangsung, tiba-tiba dua ekor burung kakatua saling berkelahi memperebutkan setangkai padi dengan bulir-bulirnya.

Saat kedua burung tersebut terbang ke hutan, rombonganpun terus mengikutinya sampai burung tersebut hilang dan mereka tiba-tiba melihat dan menemuka seseorang berpakaian indah duduk di atas batu dan dipayungi oleh tiga orang pada temoat yang disebut “Sekka Nyili”.

Matoa Bila dibertahukan saat ia bertanya bahwa seseorang yang duduk di atas batu itu adalah seseorang yang turun dari Kayangan bernama “MANURUNGNGE RI SEKKA NYILI”.

Dengan adanya pemufakatan dari berbagai kalangan yang merupakan kepala suku di daerah itu, maka untuk mengangkat seorang pemimpin disepakatilah “LA TEMMAMALA” Seorang pemimpin yang bijaksana dari suatu kelompok tertentu yang hidup tentram dan makmur.

Dengan adanya permintaan 60 Matoa maka terjadilah “Si Telli” (Ikrar Bersama) antara La Temmamala dengan wakil-wakil rakyat saat itu. Ikrar yang terjadi yaitu, Rakyat : “idina kupopuang, dongiri temmatifa, salipuri temmadinging, angingki narukkaju, riwawo miri, diawa natappalireng”. Yang artinya adalah, Tuanlah yang kami angkat menjadi pemimpin kami, pelindung kami, penuntun kami, dan memerintah. Kami taat atas perintah Tuan sebagaimana angin meniup daun kayu.


Bertanya pulalah La Temmamala dalam lontara : “Temmu balicorengnga” yang artinya kira-kira apakah kamu tidak bermaksud dan bertujuan untuk mengicuh atau menipu saya. Selanjutnya dipaparkan kembali oleh rakyat : “Puppuruka sorokawu, cokkong temma colli, mareppa tello, marubu fincing, bulu kutettongi, bulu maruttung, pepping ulejja, pepping maili kupaseng lettu ri wija-wijakku”, artinya Kesusahan akan menimpa kami dan demikian pula keturunan kami seumpama telur yang jatuh, pinggang yang terhempas, hancur berderai, di mana pun kami berada bilamana kami berniat untuk mengicuh atau menipu Tuan.

Demikianlah komitmen yang lahir antara La Temmamala dengan 60 pemuka rakyat Soppeng, dan di saat itulah La Temmamala menerima pengangkatan dengan gelar DATU SOPPENG yang pertama, peristiwa mana yang merupakan awal terbentuknya kerajaan Soppeng yang berdiri pada tahun 1300.

Identitas suatu daerah hanya daoat dikenal dari sejarahnya. Hampir seluruh daerah di Sulawesi Selatan ini ditemukan sejarahnya dan setiap Kabupaten tersebut memiliki ciri tersendiri, gaya dan gerak langkah masing-masing. Demikian “Soppeng” bersumber dari dinamika, dialektika dan romantikanya revolusi, Soppeng bermula dari status Kerajaan pada tahun 1300 dengan usia 694 tahun yang lalu terbentuk menjadi suatu daerah Kabupaten yang diperintah oleh Bupati.

Pada tanggal 13 Maret 1957, soppeng yang setiap tahunnya mengandung suatu arti tersendiri, dimana pada tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai hari jadi, hari lahir ataupun hari ulang tahun Kabupaten Soppeng.

Untuk menentukan Hari Jadi Kabupaten Soppeng, maka berdasarkan surat keputusan Kabupaten Daerah Tingkat II Soppeng Nomor 128/KPKS/1980, tanggal 25 Desember 1980 telah dibentuk oleh Tim Peneliti Hari Jadi dan sejarah pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Soppeng yang beranggotakan 11 orang, yang terdiri dari : Pejabat Pemerintah, mantan Pejabat Pemerintah dan Tokoh-Tokoh Masyarakat.

Maka berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan oleh Tim tersebut, telah ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Soppeng pada tanggal 13 Maret 1957, dengan dasar pertimbangan bahwa pada tanggal tersebut merupakan hari pertama dimulainya realisasi pelaksanaan Undang – Undang Darurat Nomor 4 tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Bone, Wajo, dan Soppeng.

Budaya Siri

Budaya MALU, pada umumnya suku-suku Bugis mengandung nilai – nilai pokok yang merupakan pola tingkah laku yaitu apa yang disebut “SIRI” secara harfiah Siri adalah rasa Malu, sedangkan arti kulturalnya tidak lain adalah harga diri, martabat atau digniti.

Menurut Andi Zainal Abidin, Siri mwngandung dua oengartian yaitu :

  1. Siri, ripakasiri. Yang terjadi bilamana seseorang menghina atau memperlakukan sesamanya diluar batas kemanusiaan yang adil dan beradab di depan umum, atau pelanggaran terhadap martabat keluarga sesuai dengan “ADE”
  2. Siri, masiri. Pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai presentasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih oayah demi “Siri” martabat orang itu sendiri, demi siro keluarga dan kelompok. Siri jenis ini melahirkan tekad yang kuat dan motivasi yang hebat untuk maju. 


Menurut Rahman Rachim, Siri adalah malu, segan, takut, hina, aib, iri hati, harga diri, kehormatan dan kesusilaan.

Dalam ungkapan lain dikemukakan : “Siri ta mi rionroang ri lino utettong ri adeE najagaemami sirota, naiyya siri e sunge na ranreng, nyawa na kira-kira.”  Artinya, “Hanya dengan Siri kita hidup di dunja, aku setia pada “ADE” karena ia menjaga siri kita. Adapun siri, jiwa imbalannya dan nyawa taruhannya.

Mati karena menegakka siri adalah “Mate rigollae- mate risantangi” yaitu kematian yang terhormat. Oleh karena itu, siri ialah solidaritas yang tinggi yang didasarkan pada rasa senasib ataupun sependeritaan, sehingga mereka rela berkorban untuk kepentingan kelompok, atau kehormatan kelompok.

Selain Budaya Siri, di ganah Soppeng juga terdapat beberapa Wisata Budaya, antara lain

  • Kompleks pekuburan Jera LompoE, yaitu situs yang menggambarkan kebudayaan masa lampau dan mempunyai nilai seni yang tinggi.
  • Musium Arajangnge, tempat menyimpan atribut raja- raja Soppeng dengan konsep “To Manurung” (manusia jelmaan dari langit ketujuh) terletak di kota Watansoppeng.
  • Musium Arkeolog Calio, tempat penyimpanan fosil-fosil manusia purba serta peradabannya, terletak di Kecamatan Lilirilau. 
  • Villa Yuliana, peninggalan KONTROLEUR pada zaman Belanda, yang dibuat sebagai tanda kecintaan pemerintah Belanda kepada Ratu Yuliana, terletak di jantung kota Watansoppeng.
  • Rumah Adat SAO MARIO, penyimpanan benda-benda pusaka dari seluruh kepulauan Nusantara. 

Demikian karya Susi mengenai kisah sejarah singkat dan gambaran kota Soppeng dengan ibukotanya Watansoppeng yang secara global disebut dengan kota Kalong karena ciri khasnya penuh dengan kelelawar di setiap pohon asam dengan budaya Budaya Siri Sooppeng.

0 Response to "Kisah Sejarah dan Budaya Siri di Sooppeng"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel