Eksplorasi Suku Karo


Suku Karo merupakan salah satu suku yang terkenal dan terbesar di Sumatera Utara. Ada satun kabupaten yang terdapat di Sumatera Utara yang di namai dengan Kabupaten Karo sesuai dengan suku yang tinggal disana. Di Kabupaten Karo terdapat suatu wilayah yang menjadi salah satu tempat tinggal mereka  yaitu dataran tinggi karo atau Tanah Karo.

Wilayah Pengaruh Suku karo

Nah,ternyata bukan hanya Tanah Karo saja tempat Suku Karo berada,namun masih ada beberapa wilayah lagi,seperti di Kabupaten Aceh Timur,Kabupaten langkat,Kabupaten Dairi,Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang dan sebagian Aceh.

Adat karo

Suku Karo memiliki sebuah adat atau sistem kemasyarakatan. Setiap Suku Karo memiliki gelar atau nama yang merupakan turunan dari ayahnya. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama.

Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka. Untuk gelar tersebut untuk laki-laki disebut MERGA dan untuk perempuan BERU.

Gelar ini di sandang di akhir nama seseorang Suku Karo. Terdapat lima bagan besar gelar dari system kemasyarakatan Suku Karo.Namun dari setiap bagan tersebut memiliki pecahan gelar yang lebih banyak lagi,yaitu:


  1. Karo-karo: Purba, Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu, Surbakti, Sinulingga, Sitepu, Sinuraya, Sinuhaji, Ketaren, kemit, jung, sinukaban, sinubulan, samura, sekali. (berjumlah 18)
  2. Tarigan: bondong, gana-gana, gersang, gerneng, jampang, purba, pekan, sibero, tua, tegur, tambak, tambun, silangit, tendang. (berjumlah 14)
  3. Ginting:  anjartambun, babo, beras, cabap, gurupatih, garamata, jandibata, jawak, manik, munte, pase, seragih, suka, sugihen, sinusinga, tumangger, taling kuta. (berjumlah 17)
  4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang(sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi, busuk, colia, muham, maha, bunuaji, gurukinayan, pandia, keling, pandebayang, sinukapur, tekang. (berjumlah 15)
  5. Perangin-angin: :Bangun, Keliat, Kacinambun, Namohaji, Mano, Benjerang, Uwir, Pinem, Pancawan, Penggarun, Ulun Jandi, Laksa, Perbesi, Sukatendel, Singarimbun, Sinurat, Sebayang, Tanjung. (berjumlah 18)

Catatan: Jumlah semua submerga adalah 85

Ikatan yang tiga (Rakut Sitelu) Artinya kelengkapan hidup,yang terdapat jika sudah menikah. Rakut sitelu ini hanya ada tiga,yaitu: kalimbubu,anak beru, dan sembuyak/senina.

Kekhasan Budaya
Kebudayaan Tradisional

  1. Tari piso surit
  2. Tari Lima Serangkai
  3. Tari Terang Bulan
  4. Tari Roti Manis
  5. Tari Tiga Sibolangit
  6. Tari Ndikkar
  7. Tari Gundala

Alat Musik Tradisional Suku Karo

Dalam kesehariannya suku Karo banyak menggunakan unsur seni musik sebagai bagian kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Sebagai contoh,  bernyanyi untuk memanggil angin ketika “ngangin page” yaitu memisahkan padi dari sisa batang ketika panen padi atau ketika “ngeria” yaitu proses untuk mendapatkan air manis atau nira dari pohon enau.

Berikut adalah alat musik yang asli berasal dari Suku Karo :

  1. Kulcapi
  2. Keteng-Keteng
  3. Sarune
  4. Mangkok
  5. Balobat
  6. Gendang Singanaki
  7. Gendang Singindungi
  8. Gung dan Penganak

Pakaian Adat Suku Karo

Pakaian adat Suku Batak Karo dipadukan dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Dari segi bentuk serta pembuatannya, pakaian khas Karo hampir serupa dengan baju adat batak lainnya.

Jenis kainnya terbuat dari pintalan kapas bernama Uis Gara, yang dipakai sebagai penutup tubuh dalam berbagai aktivitas keseharian. Kain Uis Gara memiliki arti kain merah. Kain ini dibuat dari tenunan benang merah yang dipadukan dengan warna putih atau hitam. Kemudian ada motif benang emas atau perak agar nampak lebih terlihat menarik saat di pandang.

Namun, pada kenyatanya di daerah Karo, pakaian adat yang dipakai oleh kaum pria dan wanita sejatinya disebut dengan istilah Uis Gara. Bahkan terkadang disebut lebih spesifik seperti Uis Nipes atau Beka Buluh.

Rumah Adat Suku Karo

Penempatan keluarga-keluarga dalam Rumah Adat Karo Sumatera Utara ditentukan oleh adat Karo. Secara garis besar rumah adat ini terdiri atas jabu jahe (hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.

Tetapi, ada kalanya Rumah Adat Karo Sumatera Utara terdiri atas delapan ruang dan dihuni oleh delapan keluarga. Sementara dalam rumah ini hanya ada empat dapur. Masing-masing jabu dibagi dua sehingga terbentuk jabu-jabu sedapuren bena kayu, sedapuren ujung kayu, sedapuren lepar bena kayu, dan jabu sedapuren lepar ujung kayu.berikut penjelasan ciri-ciri rumah adat Suku Karo

1. Rumah Adat Suku Batak Karo Dibangun Tanpa Menggunakan Paku.

Yap…Kalian tidak salah lihat Rumah adat suku karo sama sekali tidak menggunakan Paku,Tapi bukan berarti rumah adat suku karo tidak kokoh,bahkan menurut masyarakat karo sendiri rumah adat karo Sangat Kokoh dan Tahan Terhadap Guncangan Seperti yang disebabkan oleh gempa bumi misalnya.

Itu karena pondasi dan susunan kayu pada saat membangun Rumah adat karo,dibuat agar tahan terhadap guncangan,Tiang-tiang utama rumah adat tersebut dibuat dengan kayu-kayu yang besar dan sangat kokoh,Sehingga tentu saja Rumah adat ini dapat berdiri kokoh karena Pondasi dan Tiang utama yang sangat Kokoh tersebut.

2. Rumah adat karo di huni oleh 8 keluarga

Rumah Siwaluh Jabu berarti Rumah 8 Keluarga dalam bahasa karo,jadi sesuai dengan namanya rumah ini dihuni oleh 8 keluarga,karena itulah rumah adat karo biasanya dibuat besar karena dihuni oleh 8 keluarga,dan uniknya setiap dapur para keluarga ini memiliki Satu Tungku api,karena didalam rumah adat karo juga akan dibuat tungku api untuk memasak dan menghangatkan badan,seperti yang kita tahu juga bahwa suku karo tinggal di dataran tinggi jadi sudah pasti dingin,disaat itulah tungku api sangat di perlukan.

3. Jenis kayu yang boleh dipakai untuk membangun, hanya boleh dari 3 jenis saja

Untuk membangun satu rumah adat karo,terdapat satu persyaratan yaitu untuk membangun rumah adat karo hanya boleh menggunakan 3 jenis kayu yang sudah ditentukan, itu dikarenakan setiap jenis kayu ini memiliki makna/arti yang berbeda dan sudah pasti akan mempengaruhi keaslian rumah adat tersebut.

Berikut adalah 3 jenis kayu yang digunakan masyarakat karo untuk membangun Rumah Siwaluh jabu:

  1. Kayu Ndrasi, diyakini menjauhkan keluarga yang tinggal di rumah tersebut tidak mendapat  sakit.
  2. kayu Ambartuah, dipakai supaya mereka diberi tuah, ataupun kesejahteraan hidup.
  3. kayu Sibernaik, dipakai untuk mendoakan kemudahan rezeki.


Makanan Khas Suku Karo


  1. Arsik Nurung Mas
  2. Babi Panggang Karo
  3. Terites
  4. Gule Kuta-Kuta
  5. Manuk Getah
  6. Kidu-Kidu
  7. Cimpa Unung-Unung
  8. Cincang Bohan
  9. Tasak Telu
  10. Pagit-Pagit


Wisata Budaya/ Kegiatan Budaya.

  1. Mengket Rumah Mbaru merupakan Pesta memasuki rumah (adat - ibadat) baru.
  2. Mahpah merupakan kerja tahun yang disertai Gendang guro-guro aron.
  3. Ndilo Udan adalah upacara memanggil hujan.
  4. Rebu-rebu bisa dibilang mirip pesta "kerja tahun".
  5. Ngumbung adalah hari jeda "aron" (kumpulan pekerja di desa).
  6. Erpangir Ku Lau atau penyucian diri (untuk membuang sial).
  7. Mbesur-mbesuri atau Ngerires adalah membuat lemang waktu padi mulai bunting.
  8. Raleng Tendi(Ngicik Tendi) memanggil jiwa setelah seseorang kurang tenang karena terkejut secara suatu kejadian yang tidak disangka-sangka.
  9. Motong Rambai (Pesta kecil keluarga) handai taulan untuk memanggkas habis rambut bayi (balita) yang terjalin dan tidak rapi.
  10. Ngaloken Cincin Upah Tendi - Upacara keluarga pemberian cincin permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere atau dari Bibi ke Permain).
  11. Ngaloken Rawit adalah Upacara keluarga pemberian pisau (tumbuk lada) atau belati atau celurit kecil yang berupa permintaan dari keponakan (dari Mama ke Bere-bere) - keponakan laki-laki.
Dari Penjelasan di atas,kita dapat mengetahui banyak tentang suku karo.dan sampai sekarang kebudayaan suku karo masih saja di lestarikan dan di jaga turun temurunnya. Karna juga merupakan kekayaan budaya di Indonesia.

Nah, itulah artikel yang menjelaskan tentang  Budaya Suku Karo. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Gerald Barus ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,



0 Response to "Eksplorasi Suku Karo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel