Dieng Culture Fetival


Dieng Culture Festival (DCF) merupakan salah satu acara yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat di daerah Dataran Tinggi Dieng. Inti dari acara ini adalah ruwatan rambut gembel pada anak – anak yang memiliki rambut gembel yang tumbuh secara alami.

Rambut gembel ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai titipan sehingga suatu saat akan diambil kembali oleh yang punya. Si gembel (sebutan bagi anak – anak yang memiliki rambut gembel) ini memiliki perilaku yang berbeda dengan anak – anak pada umumnya. Mereka cenderung pemalu dan susah bergaul dengan dunia luar.

Ruwatan rambut gembel ini merupakan ritual yang dilakukan untuk melepaskan dan mengangkat kembali anak dari kondisi sialnya yaitu dengan membersihkan gembelnya.

DCF ini diawali dengan aksi Dieng bersih. Masyarakat setempat akan membersihkan lingkungan sekitar Candi Arjuna. Kegiatan ini menunjukkan bahwa Dieng merupakan salah satu tempat yang patut dijaga dan dirawat karena keindahan alam yang sudah dianugerahkan olehNya.

Beragam Festival dan Kesenian Daerah

Berbagai festival juga turut memeriahkan acara ini diantaranya festival caping, domba, bunga dan tumpeng. Terdapat pula pertunjukan seni dan kirab budaya dengan tujuan untuk memperkenalkan kesenian tradisional yang ada serta melestarikan kebudayaan yang sudah diwariskan oleh nenek moyang.

Jazz Diatas Awan dan Sky Lantern Festival

Penampilan musik jazz juga menambah kemeriahan DCF ini. Serta festival lampion yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan karena menciptakan keindahan langit dieng pada malam hari.

Ruwatan Rambut Gembel

Puncak dari Dieng Culture Festival ini adalah prosesi ruwatan rambut gembel. Ritual ruwatan ini melalui beberapa tahap dan memiliki persyaratan yang sesuai dengan tradisi nenek moyangnya. Sehari sebelum ruwatan, pihak keluarga dan kerabat akan mempersiapkan segala persyaratan yang harus dipenuhi seperti sesaji yang berisi tumpeng, ingkung ayam dan masakan lainnya serta jajan pasar.

Segala macam sesaji ini nantinya akan dibawa ke Candi Arjuna. Keesokan harinya, Si Gembel akan dikirap menyusuri perkampungan dengan kepala sudah diikat dengan kain putih. Selanjutnya Si Gembel dibawa ke pemandian Sumur Sendang Sedayu yang ada di komplek Candi Arjuna dengan dilindungi payung besar.

Pada saat ruwatan dipersembahkan sesajian yang berasal dari hasil bumi serta diiringi dengan kesenian tradisional. Sebelumnya, sang dukun akan membacakan doa dan membakar kemenyan. Pencukuran biasanya dilakukan oleh orang tua Si Gembel. Kemudian rambut gembel yang sudah dicukur dibungkus dengan kain putih dan dihanyutkan di Telaga Warna yang akan bermuara ke Laut Selatan

Makna Simbolik Ruwatan Rambut Gembel

Ruwatan yang ada didesa dieng ini adalah memohon doa kepada Tuhan dan menghilangkan Sukerto atau anak yang dicadangkan sebagai mangsa Batharakala serta mengembalikan titipan Nyi Roro Kidul yang mengenai anak tersebut sehingga anak itu akan terbebas dari pengaruh kesaktian roh Kyai Kolodete.

Pemaknaan ruwatan ini tidak serta merta dibuat oleh masyarakat setempat namun melalui proses yang cukup panjang. Makna yang timbul ini bisa berawal dari latar budaya yang mereka miliki dan masih mereka percayai hingga sekarang.

Demikian tadi adalah serangkaian artikel karya Amira Ilmiatu yang membahas mengenai Dieng Culture Fetival. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca semua.

0 Response to "Dieng Culture Fetival"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel