Festival Gunung Slamet sebagai Agenda Festival Budaya Tahunan Kementrian Pariwisata


Festival Gunung Slamet merupakan festival kebudayaan tahunan yang diselenggarakan di Desa Serang Kabupaten Purbalingga. Festival Gunung Slamet dilaksanakan sebagai wadah untuk melestarikan dan memperkenalkan kearifan lokal serta potensi wisata yang ada di Desa Serang Kabupaten Purbalingga.

Festival Gunung Slamet diselenggarakan setiap tahunya pada awal bulan Muharam pada penanggalan jawa. Festival Gunung Slamet pertama kali diselenggarakan pada tahun 2015 dan telah memasuki penyelenggaraan edisi ke lima pada tahun 2019.

Festival Gunung Slamet dilaksanakan selama tiga hari dengan menyuguhkan berbagai kegiatan menarik yang syarat akan makna. Dilihat dari penyelenggaraan Festival Gunung Slamet pada tahun 2018 untuk hari pertama yaitu kamis 27 september 2018 diselenggarakan kegiatan yang bernuansa religi meliputi pawai taaruf, festival rebana, lomba MTQ, dan serang berselawat.

Diadakanya acara bernuansa religi tersebut bertujuan supaya masyarakat sekitar senantiasa mengingat Tuhan dan meningkatkan ketakwaan serta rasa syukur terhadap nikmat yang Tuhan berikan.

Pada penyelenggaraan Festival Gunung Slamet hari kedua yaitu jumat 28 september 2018, menyajikan berbagai kegiatan utama yang menjadi pembeda pada Festival Gunung Slamet dengan festival lainya. Kegiatan utama pada festival tersebut ialah pengambilan air dari tuk sikopyah.

Pengambilan air dari tuk sikopyah dilakukan oleh 700 warga desa sekitar dengan menggunakan lodong atau bambu yang pada bagian atasnya dilubangi sebagai wadah air. Prosesi pengambilan air sikopyah diarak sejauh 2 km dari sumber air sikopyah menuju Lembah Asri tanpa mengenakan alas kaki dan selama prosesi pengarakan tersebut diiringi oleh alunan musik rebana dan selawat.

Pada prosesi pengambilan tuk sikopyah memiliki makna berupa pesan-pesan untuk melestarikan lingkungan dan meningkatkan rasa syukur tehadap rezeki yang Tuhan berikan serta meningkatkan rasa gotong royong pada masyarakat.

Setelah dilakukan prosesi pengambilan air dari tuk sikopyah, acara berikutnya yaitu ruwat bumi. Ruwat bumi ialah kirab hasil bumi yang memiliki makna sedekah atau syukuran atas hasil bumi yang melimpah di Desa Serang.

Hasil bumi yang disajikan dalam kirab tersebut berupa berbagai hasil panen warga setempat seperti sayur mayur dan buah-buahan. Pada acara ruwat bumi ini memiliki keunikan tersendiri dimana hasil bumi yang disediakan ditujukan hanya untuk wisatawan dengan tujuan untuk memberikan kebahagiaan tersendiri untuk wisatawan yang hadir.

Kirab budaya dalam Festival Gunung Slamet tersebut diharapkan mampu menarik perhatian wisatawan dan menghibur para wisatawan yang hadir pada acara tersebut.

Acara penutup pada hari kedua penyelenggaraan Festival Gunung Slamet ditandai dengan diselenggarakannya pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit pada Festival Gunung Slamet ini menjadi salah satu pagelaran wayang kulit paling unik, hal tersebut dikarenakan pagelaran wayang kulit diselenggarakan di tengah dinginya kabut malam di Desa wisata Serang yang terletak di lereng Gunung Slamet.

Pagelaran wayang kulit pada Festival Gunung Slamet diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan wayang kulit dikalangan masyarakat umum khususnya remaja. Dengan diadakannya pagelaran wayang kulit tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan pecinta kesenian wayang kulit untuk mengunjungi Festival Gunung Slamet.

Pada penyelenggaraan Festival Gunung Slamet hari ketiga yaitu sabtu 29 september 2019 yang juga menjadi hari terakhir pelaksanaan Festival Gunung Slamet pada tahun 2018 berisikan acara-acara ringan yang unik.

Dimana rangkaian acara pada hari ketiga ini menggabungkan antara kebudayaan daerah yang bersifat tradisional dengan kegiatan yang lebih modern. Acara pertama pada hari ketiga penyelenggaraan Festival Gunung Slamet tahun 2018 ialah kirab budaya.

Pada acara kirab budaya ini menyuguhkan rangkaian arak-arakan masyarakat dengan mengenakan pakaian adat yang juga menampilkan berbagai tarian dan musik tradisional. Diadakanya kirab budaya ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya khas yang ada di Indonesia khususnya kebudayaan Jawa melalui peragaan pakaian adat dan pertunjukan tari dan musik tradisional.

Acara kedua pada hari ketiga ialah takiran bareng bupati, maksud takiran bareng bupati ialah makan bersama dengan bupati. Pada acara tersebut masyarakat setempat membawa nasi bungkus dari rumah masing-masing untuk dimakan bersama-sama dengan Bupati Purbalingga.

Acara takiran tersebut tak hanya dilakukan oleh penduduk sekitar saja, namun wisatawan yang hadir pun akan mengikuti makan bersama tersebut. Acara takiran bareng bupati tersebut memiliki makna yang menggambarkan betapa hangatnya kehidupan masyarakat Desa Serang yang selalu mengutamakan kebersamaan dalam kehidupan sehari-harinya tanpa membedakan kelas sosialnya.

Acara berikutnya ialah perang tomat. Perang tomat dilakukan oleh masyarakat sekitar dan wisatawan. Peserta perang tomat dibagi menjadi 2 kelompok yang dipisahkan dengan garis sehingga kelompok tersebut akan saling berhadapan.

Pelaksanaan perang tomat dilakukan dengan cara melemparkan tomat ke kelompok lain. Buah tomat yang digunakan dalam perang tomat ini ialah buah tomat yang kualitasnya rendah dan tidak bagus lagi untuk dijual maupun untuk diolah menjadi bahan makanan.

Perang tomat diselenggarakan sebagai sarana masyarakat dan wisatawan untuk bebas bersenang-senang membuang kepenatan setelah menjalankan aktivitas sehari-hari.  Diselenggarakannya perang tomat ini diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk mengunjugi Festival Gunung Slamet.

Setelah diselenggarakan perang tomat, dilaksanakan acara lainya yaitu pertunjukan ebeg. Ebeg merupakan kesenian kuda lumping khas Banyumasan yang berkembang pesat keberadaannya di Kabupaten Purbalingga.

Diadakannya pertunjukan ebeg ini menegaskan bahwa Kabupaten Purbalingga masih melestarikan kesenian yang berkembang disana. Dengan diselenggarakan kesenian ebeg bertujuan untuk mengajak masyarakat luas supaya selalu melestarikan kebudayaan khas daerahnya.

Kesenian ebeg yang memadukan anatara musik, tarian, dan juga hal mistis memiliki keunikan tersendiri ketika para penari dalam pertunjukan ebeg tersebut mulai tak sadarkan diri karena dipengaruhi hal mistis yang disajikan dalam pertunjukan tersebut. Pertunjukan ebeg dengan segala keunikanya diharapkan mampu menjadi daya Tarik bagi masyarakat sekitar dan wisatawan yang berkunjung.

Penyelenggaraan Festival Gunung Slamet tahun 2018 ditutup dengan acara akustik kabut lembut. Konser musik tersebut dinamakan akustik kabut lembut karena konser musik pada Festival Gunung Slamet dilaksanakan pada malam hari di tengah dinginya kabut malam Desa Wisata Lembah Asri Serang yang berada di Lereng Gunung Slamet.

Akustik kabut lembut merupakan salah satu acara favorit dalam penyelenggaraan Festival Gunung Slamet setiap tahunya, hal tersebut dikarenakan pada acara akustik kabut lembut di isi oleh seniman-seniman ternama Indonesia. Pada tahun 2018 akustik kabut lembut diisi oleh grup band Andra And The Backbone dan beberapa grup band lokal lainya sedangkan pada penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya di isi oleh Isyana Saraswati pada tahun 2016 dan Pongki Barata pada tahun 2017.

Diselenggarakannya akustik kabut lembut bertujuan untuk menarik minat wisatawan dari berbagai daerah untuk mengunjungi acara Festival Gunung Slamet. Festival Gunung Slamet sangat tepat jika dijadikan sebagai agenda tahunan festival kebudayaan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Hal tersebut didukung dengan beberapa faktor meliputi aksesibilitas dan keterjangkauan.

Festival Gunung Slamet diselenggarakan di Desa Serang yang mana pada daerah tersebut terdapat banyak tempat wisata alam yang meliputi taman bunga yaitu Kutabawa Garden, bukit indah dengan latar belakang Gunung Slamet yang sangat tepat sebagai tempat berburu sunrise dan sunset yaitu Bukit Mertelu dan Gardu Pandang Gunung Lompong, wisata hutan pinus yang instagramable, kebun strawberry, dan wisata Goa Lawa yang berada tak jauh dari Desa Serang.

Pada wilayah Desa Wisata Serang dan sekitarnya juga terdapat beberapa tempat wisata buatan yang terletak di tengah indahnya alam Desa Serang seperti Kampung Kurcaci dan beberapa tempat wisata lainya.

Akses menuju Desa Wisata Serang sangat bagus dan memadai, hal tersebut dapat dilihat dari kualitas jalan yang bagus, penerangan jalan yang memadai, penunjuk arah yang terpampang disepanjang jalan, dan letak antara satu tempat wisata dengan wisata lain di Desa Serang yang berdekatan sehingga memudahkan wisatawan mengakses Desa Wisata Serang.

Pada Desa Wisata Serang juga terdapat beberapa penginapan yang bisa dimanfaatkan wisatawan untuk beristirahat ketika ingin berkunjung ke Desa Wisata Serang dalam jangka waktu panjang. Pada Desa Wisata Serang juga terdapat beberapa resto, rumah makan, dan pusat oleh-oleh yang sangat tepat dikunjungi oleh para pecinta kuliner dan pemburu pernak-pernik khas Lereng Gunung Slamet yang unik.

Festival Gunung Slamet pada dasarnya diselenggarakan sebagai salah satu wadah masyarakat dan pemerintah kabupaten Purbalingga untuk melestarikan kebudayaan khas daerah Purbalingga. Dengan semakin menarik dan kompleksnya penyelenggaraan Festival Gunung Slamet dan berbagai faktor penujang lain pada Desa Wisata Serang diharapkan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet nantinya masuk menjadi salah satu agenda nasional tahunan Kementrian Pariwista Republik Indonesia sepertihalnya Dieng Culture Festival.

Terjalinya kerjasama yang baik antara masayarakat dan pemerintah dalam mepromosikan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet juga diharapkan mampu meningkatkan popularitas Festival Gunung Slamet untuk meningkatkan kunjungan wisata menuju Kabupaten Purbalingga yang nantinya akan berdampak positif pada sektor pariwisata dan ekonomi di Kabupaten Purbalingga.

Itulah ulasan mengenai Festival Gunung Slamet yang ditulis oleh Zacky Setiawan Saputra. Semoga bermanfaat. Salam budaya

1 Response to "Festival Gunung Slamet sebagai Agenda Festival Budaya Tahunan Kementrian Pariwisata"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel