Lahirnya Festival Mode Dunia dari Jember


Arak-arakan busana puspawarna memadati jalanan inti, menjadi hiburan tersendiri bagi segenap jajaran pemerintah dan masyarakat Kabupaten Jember. Lautan manusia berdatangan bak ombak, berkumpul di satu titik dan bersiap dengan potretnya masing-masing.

Mereka bersaing dengan jurnalis dan fotografer yang sibuk berburu pemberitaan luar biasa ini. Perhelatan akbar itu semakin semarak dengan hadirnya artis kondang Cinta Laura Kiehl yang bertandang jauh-jauh dari ibukota. Rangkaian acara berlangsung sejak 31 Juli sampai dengan 04 Agustus 2019. Tema yang ditampilkan adalah 'Tribal Grandeur' atau bermakna keagungan suku-suku bangsa di berbagai belahan dunia.

Jember adalah salah satu kabupaten yang berada dalam lingkup Karesidenan Besuki. Kota ini berada di bagian tenggara Jawa Timur, dekat dengan Banyuwangi yang menjadi ujung timur wilayah Pulau Jawa. Berdasarkan wilayahnya, Jember sendiri adalah kabupaten terbesar ketiga di Jawa Timur setelah Banyuwangi dan Malang. Luasnya sekitar 3.000 kilometer persegi.

Sebagaimana kabupaten dan kota lain di Karesidenan Besuki, pada awalnya tidak banyak hal yang bisa diketahui dari Jember. Tetapi pada akhirnya, semua itu berubah ketika kabupaten ini memunculkan ikon kebanggaannya dalam wujud "Jember Fashion Carnaval" atau JFC, sebuah hajatan tahunan serupa parade baris-berbaris di Tiananmen Square, bedanya ini adalah parade "baris-berbaris" yang menampilkan busana dalam berbagai tampilan luar biasa indahnya. Pengaruh JFC pun menghadirkan decak kagum sampai skala internasional.

Dynan Fariz atau akrab disapa Fariz, adalah sosok besar di balik penyelenggaraan JFC. Pria kelahiran Jember tanggal 23 Mei 1963 merupakan seorang desainer busana sekaligus pendiri House of Dynand. Pada awalnya, ia memiliki ide untuk mengadakan arak-arakan busana yang dilakukan oleh karyawan sendiri untuk memperkenalkan rumah busananya.

Ide kecil dan kreatif itulah yang berhasil mengantarnya untuk merumuskan konsep fesyen sekala besar, JFC, hingga menjadi kebanggaan Jember pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Setelah Jember, JFC akhirnya dipercaya untuk tampil di lain waktu dan tempat yang lebih memukau.

Sebut saja JFC telah dipercaya untuk tampil di ajang pembukaan dan penutupan Asian Games di Jakarta pada 2018 lalu. Akan tetapi di balik segala kesuksesan itu, pada akhirnya sang penggagas JFC harus tutup usia pada 17 April 2019 di tanah kelahirannya. Perayaan JFC ke-18 dengan tema 'Tribal Grandeur' akhirnya jadi yang pertama tanpa kehadiran Dynan Fariz.

Berbicara mengenai JFC, kurang lengkap rasanya bila tidak menyinggung sedikit tentang sejarah permulaannya. Adapun konsep dari sang penggagas sendiri benar-benar terwujud pada pembukaan tahun baru 2003 bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Jember ke–74 dan mengangkat tema busana Punk, Gypsy, dan Cowboy. Masih di tahun yang sama pada 30 Agustus, JFC kedua bertema Busana Asia diadakan bersamaan dengan Lomba Gerak Jalan Tajemtra (Tanggul-Jember Tradisional).

Pada 08 Agustus 2004, JFC 3 mengambil tema "Futuristic and Vintage" dengan menampilkan busana seperti Athena dan Indian. Pada 07 Agustus 2005, JFC 4 mengambil tema "Discover The World" dengan menampilkan defile seperti Java Archipelago, Tsunami, Grand Prix, dan Carribean.

Pada 06 Agustus, JFC 5 mengambil tema "Anxiety and Spirit of The World" dengan defile seperti Forest, Poverty, Mistics, Underground, dan World Cup. Bila dirunut, penyelenggaraan JFC yang selalu ada di Bulan Agustus tidak lain adalah bagian dari promosi untuk Bulan Berkunjung Jember (BBJ).

Kemeriahan ini membuat Jember yang pada awalnya hanya kota kecil, kini menjelma menjadi salah satu pusat perhatian di Jawa Timur yang tidak tidur dari semua gemerlap kebudayaannya.
Pada akhirnya, JFC sendiri tampil sebagai pameran bagi penikmat seni, hiburan bagi berbagai kalangan, dan penyemarak perekonomian bagi kabupaten "Carya Dharma Praja Mukti" itu. Di mata dunia, JFC inilah yang membesarkan hati dan harapan baru bagi Bangsa Indonesia untuk mendapatkan tempatnya sendiri dalam arus modernisasi.

JFC juga menjadi sebuah wujud bahwa budaya lokal bangsa dapat berakulturasi dengan budaya mancanegara, yang mana dengan itu penikmatnya akan mengetahui khazanah tersembunyi di balik belahan dunia.

Demikianlah tulisan mengenai Jember Fashion Carnival yang ditulis oleh Daffa Ibrahim. Semoga dapat bermanfaat dalam menambah wawasan pembaca sekalian.

0 Response to "Lahirnya Festival Mode Dunia dari Jember"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel