Gamelan Sekaten Masa Kerajaan Era 4.0


Kisah Gamelan yang saat ini sering kita kenal sebagai Gamelan Sekaten tidak pernah terlepas dari kisah kerajaan Demak. Karena gamelan sekaten dibuat pada jaman Kerajaan Demak, sekarang berada di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sedangkan Gamelan Sekaten yang ada sekarang merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga dinasti Mataram. Hal ini dikarenakan ketika jaman Panembahan Senopati dan Mas Jolang, raja pertama dan kedua masih dalam suasana peperangan, karena daerah disekitar Mataram tidak mengakui Mataram sebagai sebuah kerajaan. Mereka berpendapat bahwa Panembahan Senopati bukan keturunan raja, hanya keturunan petani biasa.

Ketika jaman Sultan Agung Hanyakrakusuma, beliau ingin mengadakan perayaan Sekaten seperti era Kerajaan Demak, naum dibuat lebih meriah dan megah. Jika dijaman Demak, sedekah berupa tumpeng, maka di jaman Sultan Agung dibuatlah gunungan yang lebih besar daripada tumpeng.

Sultan Agung juga membuat dua perangkat Gamelan Sekaten dengan ukuran besar, diberi nama Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Guntursari.

Setelah perjanjian Giyanti tentang Palihan Nagari tahun 1755, antara Pangeran Mangkubumi dan Susuhunan PB III, dua perangkat Gamelan Sekaten ini juga dibagi. Kanjeng Kyai Gunturmadu diboyong ke Ngayogyakarta, sedangkan Kanjeng Kyai Guntursari tetap berada di Surakarta.

Untuk melengkapi Gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Gunturmadu ini, Sri Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan membuat seperangkat Gemelan Sekaten Baru, dengan ukuran lebih kecil dari Kanjeng Kyai Gunturmadu. Karena Sri Sultan HB I tidak ingin menyamai hasil karya leluhurnya.

Seperangkat Gamelan Sekaten yang baru ini kemudian diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga. Sedangkan di Kasunan Surakarta juga membuat Gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Guntursari. Ukuran Gamelan Sekaten baru ini lebih besar daripada Gamelan Sekaten Kanjeng Kyai Guntursari.

Semula, Gamelan baru ini diberi nama Kanjeng Kyai Nagajenggot, namun kemudian hari diubah namanya sesuai dengan Gamelan Sekaten Sultan Agungan yang berada di Keraton Ngayogyakarta, Kanjeng Kyai Gunturmadu.

Pelaksaan Sekaten erat artinya dengan menggunakan Gamelan Sekaten. Sekaten  merupakan upacara tradisi yang telah dilaksanakan sejak zaman demak. Sekaten juga dapat dikatan sebagai Hajad Dalem yang hingga saat ini rutin dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta.

Tradisi sekaten dilaksanakan dari tanggal 5 hingga 12 Mulud (Rabi’ul Awal) yang diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang berpendapat bahwa Sekaten berasal dari kata “Sekati”  yang artinya seperangkat gangsa (gamelan) yang diyakini berasal dari kata “Syahadatain” yang merupakan kalimat untuk menyatakan memeluk agama Islam.

Aktivitas utama perayaan Sekaten merupakan pendekatan kebenaran syahadat kepada msyarakat. Sekaten berasal dari kata syahadatain yang secara simbolik direpresentasikan dalam dua perangkat Gamelan Sekaten yang ditabuh secara bergantian.

Sehingga Gamelan Sekaten dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok Gamelan Pakurmatan yaitu Gamelan yang digunakan untuk menghormati sesuatu, suatu peristiwa atau seseorang, lembaga dan sebagainya yang memiliki hubungan dengan keluarga atau atribut upacara untuk menjaga akebesaran raja/kerajaan dan atau yang terkait dengan kepercayaan, Islam, Kejawen, Dewa Raja.

Gamelan Sekaten sebagai benda peninggalan sejarah setidaknya telah menunjukkan bahwa agama dan kebudayaan dapat bersinergi hingga proses pengislaman Jawa tidak mengalami kesulitan. Kesanggupan menafsirkan secara kreatif para penyiar agaa Islam di Jawa dalam hal ini telah menghasilkan perubahan dan transformasi kebudayaan sesuai dengan aspirasi budaya Jawa tetapi mengakar pada sumber otentik ajaran Islam.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Gamelan Sekaten. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Rahma Putri M. Wies Hanif ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Gamelan Sekaten Masa Kerajaan Era 4.0"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel