Tradisi 10 Dzulhijjah Grebeg Besar Masyarakat Kabupaten Demak


Indonesia merupakan negara yang memiliki kurang lebih 17.548 pulau tersebar di berbagai wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Antara satu pulau dengan pulau yang lain dipisahkan oleh lautan luas.  Dengan adanya daratan dan lautan yang luas, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah., keberagaman suku, bahasa, budaya, etnik, dan sebagainya.

Tidak heran dari Sabang sampai Merauke memiliki berbagai kebudayaan yang mencirikan daerahnya masing-masing. Kebudayaan tersebut sampai sekarang masih tetap lestari dikalangan masyarakatkan. Karena pada dasarnya, kebudayaan berasal dari  nenek moyang yang diturunkan kepada generasinya. Kebudayaan adalah sebagai hasil interaksi antarmasyarakat.

Upacara tradisional merupakan suatu kegiatan kemasyarakatan dengan tujuan keselamatan bersama. Dalam upacara tradisional erat kaitannya dengan kepercayaan magis yang tidak bisa dipecahkan akal pikiran manusia.

Masyarakat percaya jika upacara adat tidak dilakukan akan membawa kemalangan baik bagi dirinya sendiri maupun daerahnya. Oleh karena itu, untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, masyarakat masih melakukan upacara tersebut.

Salah satunya yang ada di daerah Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Demak. Demak adalah sebagian kecil kabupaten di Jawa Tengah. Meskipun demikian, Demak memiliki keberagaman tradisi yang masih dilestarikan masyarakatnya.

Seperti tradisi menjelang puasa disebut Megengan, tradisi setelah 7 Hari Raya Idul Fitri disebut Syawalan, dan tradisi dibulan Dzulhijjah yaitu Hari Raya Idul Adha disebut Grebeg Besar.


Sejarah Kabupaten Demak

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Raja pertama yang memimpin Kesultanan Demak adalah Raden Fattah. Dalam kepemimpinannya, Raden Fattah mengalami kemajuan yang pesat. Di samping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa.

Bersama-sama dengan Wali Sanga, Raden Fattah menyebarkan agama Islam di Demak. Bukti peninggalan sejarah yang masih dapat dilihat dengan jelas dan berdiri dengan kokoh sampai sekarang adalah Masjid Agung Demak.

Penyebaran agama Islam di Demak dilakukan oleh para Wali yang disebut dengan Wali Sanga yang terdiri dari 9 Wali. Berbagai usaha dilakukan oleh para Wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa khususnya di Demak.

Seperti membantu masyarakat dalam bercocok tanam, melakukan dakwah dengan mengajak penguasa atau raja-raja, pendekatan yang lain yaitu dengan media pernikahan antara keluarga Wali Sanga dan umat Islam lainnya dengan keluarga para penguasa yang beragama Islam.

Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1481 M. Pada saat itu Kerajaan Majapahit mengalami kehancuran dan terjadi penyerangan besar-besaran pasukan Kadipaten Bintoro dengan siasat perang pengepungan (gelar perang supit urang).

Pengepungan Kerajaan Majapahit yang dikuasai Raja Girindrawardhana dan dilaksanakan selama 10 hari. Pada tanggal 10 Besar pasukan Majapahit menyerah tanpa syarat. Untuk memperingati kemenangan pasukan Kadipaten Bintoro yang mengalahkan pasukan dari Majapahit maka setiap tanggal 10 Besar/ 10 Dzulhijjah diadakan peringatan “Grebeg Besar”. Tradisi yang sampai sekarang masih dilestarikan dan dilakukan di daerah Demak.

Tradisi Grebeg Besar Kabupaten Demak

Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang di dalamnya terdapat nilai ritual keagamaan bagi masyarakat Kabupaten Demak dalam rangka menyambut datangnya bulan Besar atau Dzulhijjah setiap tanggal 10 yang disebut dengan Hari Raya Lebaran Haji atau Hari Raya Idul Adha.

Kata Grebeg berasal dari bahasa Jawa yaitu Garebeg, Grebeg, Gerbeg berarti suara angin yang menderu. Arti tersebut memiliki makna yaitu mengiring raja, pembesar atau pengantin. Grebeg juga bisa berarti digiring, dikumpulkan, dan dikepung. Jadi, Grebeg bisa berarti dikumpulkan dalam suatu tempat untuk kepentingan khusus.


Dahulu Grebeg Besar dilaksanakan setahun sekali untuk kepentingan dakwah Islamiyah di Masjid Agung Demak. Dalam Grebeg Besar terdapat beberapa proses yaitu

  • Ziarah ke makam-makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga yang dilakukan oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak. 
  • Saat ziarah ke makam serangkaian acara yang dilakukan, yaitu membaca doa dan tahlil dilanjutkan dengan tradisi menabur bunga atau "nyekar". 
  • Tradisi "nyekar" dipercaya akan meringankan siksa kubur terhadap Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga. 
  • Kemudian diadakan pasar malam rakyat di Tembiring Jogo Indah yang disebut “Besaran”. Adanya pasar malam rakyat di Tembiring bertujuan untuk meramaikan suasana perayaan 10 Dzulhijjah. Pasar tersebut di penuhi oleh dagangan dan pernak-pernik seperti kerajinan keramik vas bunga, celengan, dan sebagainya, permainan anak-anak, dan pertunjukkan panggung hiburan. 
  • Kemudian, Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan menjelang tanggal 10 Dzulhijjah. Selamatan Tumpeng Sanga artinya tumpeng yang berjumlah sembilan melambangkan jumlah Wali Sanga. Adanya acara ini bertujuan agar masyarakat Demak diberi keselamatan  dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. 
  • Setelah itu dilaksanakan kegiatan selamatan Ancakan di Pendapa Natabratan yang terletak di sebelah Timur Kasepuhan Kadilangu sekitar 500 meter. Kata Ancakan berarti tempat nasi dan lauk pauk yang terbuat dari anyaman bambu. Dalam Ancak terdiri nasi, lauk pauk, kluban. 
  • Selanjutnya sholat Ied, dilaksanakan sekitat pukul 05.30 WIB tepatnya di 10 Dzulhijjah dan lokasi tempat sholat Ied di Masjid Agung Demak. Setelah selesai melaksanakan sholat Ied, dilakukan penyembelihan hewan qurban. 
  • Kemudian diadakan iring-iringan untuk mensucikan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga yang menggunakan yaitu uborampe minyak jamas (perlengkapan untuk melakukan penjamasan pusaka) terdiri dari minyak kelapa, cendana, melati, kenanga. 



Pusaka tersebut adalah Kotang Onto Kisumo, Keris Kiai Sirikan, dan Keris Kiai Carubuk. Air dalam acara pencucian pusaka menggambarkan hal yang sakral dalam upacara ritual tersebut yang mempunyai makna simbolis untuk mengungkapkan suatu gagasan, kegiatan yang bertujuan untuk pembersihan dosa, menyelamatkan, membersihkan dari segala rintangan.

Tradisi Grebeg Besar oleh masyarakat sekarang berfungsi sebagai sarana upacara adat, hiburan, komunikasi, integrasi kemasyarakatan, menjaga keharmonisan norma-norma, objek wisata. Nilai-nilai yang terkandung dalam Grebeg Besar yaitu nilai religi (ibadah), kegotong-royongan, kerukunan, solidaritas, cinta tanah air, kepemimpinan, tanggung jawab, etika, estetika, ekonomi.

Grebeg Besar juga sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan atas perjuangan leluhur sehubung dengan kegiatan penyebaran agama Islam yang dilaksanakan oleh Wali Sanga terutama Sunan Kalijaga.

Itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Grebeg Besar Demak. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Elok Octaviani Putri ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih

18 Responses to "Tradisi 10 Dzulhijjah Grebeg Besar Masyarakat Kabupaten Demak"

  1. Kembangkan lagi artikel mengenai budaya seperti ini. Agar para generasi muda masa sekarang dan masa depan masih bisa menikmati dan mengetahui kebudayaannya

    BalasHapus
  2. Good job, semoga bs bermanfaat dan menambah pengetahuan. Ditingkatkan lg y

    BalasHapus
  3. Tulisannya sangat bagus, semoga bermanfaat....

    BalasHapus
  4. Tulisannya informatif bisa mengangkat nama daerah Demak yang mungkin Pembaca belum tahu budaya khas Demak

    BalasHapus
  5. arikelnya bagus, bahasa yang digunakan mudah diphami, melalui artikel ini orang jadi tau salah satu budaya kota kecil Demak, tau akan sejarahnya dan banyak lagi yang dapat di ambil dari membaca artikel ini.

    BalasHapus
  6. 👍👍👍 lanjutkan

    BalasHapus
  7. Bagus banget artikelnya, kembangkan lagi pembuatan artikel mengenai budaya sendiri. Gd job🖒

    BalasHapus
  8. Bagus banget artikelnya, kembangkan lagi pembuatan artikel mengenai budaya sendiri. Gd job🖒

    BalasHapus
  9. good artikel, semoga bisa terus berkarya nguri2 kebudayaan indonesia. salam orang Demak

    BalasHapus
  10. good artikel, semoga bisa terus berkarya nguri2 kebudayaan indonesia. salam orang Demak

    BalasHapus
  11. Keren mantapss Elok, Semangat semoga bisa terus berkarya ��

    BalasHapus
  12. Sangat bermanfaat 👍👍

    BalasHapus
  13. Sangat menginspirasi,semoga generasi muda tak lupa dg budaya daerah sendiri

    BalasHapus
  14. Generasi muda yg cinta budaya daerah

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel