Eksistensi Gunung Lawu dan Magetan serta Kebudayaan Masyarakat Sekitarnya


Gunung Lawu merupakan gunung yang terletak diantara dua provinsi (Jawa Timur dan Jawa Tengan) serta tiga kabupaten (Magetan, Ngawi, dan Karanganyar). Gunung Lawu pada zaman dahulu disebut Gunung Mahendra. Gunung ini terkenal dengan kemistisan dan keeksotisan budaya serta sejarahnya. Sehingga dinilai, gunung ini mampu menjadi sektor pariwisata yang terkenal.

Tak lepas dari sejarahnya, cerita Gunung Lawu berkaitan erat dengan Prabu Brawijaya yang konon pernah bertapa di gunung itu. Di dalam cerita masyarakat sekitar, konon ada burung yang menghantar pendaki (memberi petunjuk jalan pada pendaki) sehingga mereka tidak tersesat.

Burung tersebut adalah burung Jalak. Karena kemistisannya, Gunung Lawu sering dikunjungi ahli – ahli spiritual. Untuk melestarikan budaya, Gunung Lawu ramai dikunjungi ketika malam 1 Suro dalam penanggalan Islam.

Tidak hanya cerita tentang Prabu Brawijaya saja, rupanya di sisi Magetan, tepatnya di lereng Gunung Lawu, di sebuah telaga yang bernama Telaga Pasir atau Telaga Sarangan, terdapat suatu kisah legenda yaitu kisah Nyai Pasir dan Kyai Pasir.

Konon pada zaman dahulu mereka hidup bersamaan yang kemudian Kyai Pasir mendapat wangsit supaya mengambil telur yang ada di bawah pohon di dalam hutan. Kemudian, ia memasaknya, membagi dua dengan isterinya.

Beberapa saat kemudian, tubuh mereka gatal – gatal, dan saking tak tahannya, mereka menggaruk – garuk sehingga kulit mereka berubah menjadi naga dan menggesek – gesek tanah sehingga muncul air yang sangat besar dan membentuk Telaga Pasir atau Telaga Sarangan.

Setiap tanggal atau bulan tertentu menurut penanggalan Jawa, di Telaga Sarangan diadakan upacara Larung Sesaji. Upacara adat ini dilakukan dengan cara mengelilingi Telaga Sarangan dan melarung tumpeng setinggi kurang lebih dua meter di Telaga Sarangan. Menurut masyarakat sekitar, tujuan dari upacara adat tersebut adalah sebagai rasa ucapan syukur pada Sang Kuasa.

Selain Larung Sesaji, kebudayaan yang khas di daerah Magetan, terutama Gunung Lawu, adalah Tari Jalak Lawu. Tarian ini mengisahkan burung Jalak Lawu sebagai satwa langka yang ada di Gunung Lawu.

Makanan khas di daerah Magetan adalah kerupuk Lempeng, Lempeng Gapit, Gethuk Magetan, Carang Mas, dll. Makanan khas tersebut menggambarkan pola kehidupan masyarakat Magetan yang hidup di bentang alam pegunungan dan perkebunan. Karena hasil alam di Magetan yang berlimpah seperti singkong, ubi jalar, padi, tebu, dll.

Batik yang terkenal di Magetan adalah Batik Pring Sedapur. Batik ini berasal dari daerah Sidomukti. Batik ini menunjukkan ciri khas Magetan yang terkenal dengan bambu. Banyak masyarakat di Magetan yang membuat sesuatu benda bahkan material pembuatan rumah dengan bambu. Sehingga daerah ini terkenal akan tanaman “bambu” yang khas.

Selain Telaga Sarangan, wisata yang ada di Magetan cukup beragam. Misalnya Telaga Wahyu yang terletak di lereng Gunung Lawu, Candi Petilasan Dewi Sri di Simbatans, Trowong Lowo di Giripurno/lereng Bukit Bancak, Makam Maduretno di Bukit Bancak, Warna – warni Dam Jati di Nguntoronadi, Magetan Park di Ibukota Kabupaten Magetan, Taman Wisata Desa di Panekan, dan masih banyak lagi.

Demikianlah artikel terkait eksistensi Gunung Lawu dan Budaya Magetan yang ditulis oleh Hizkia Enosa, serta masih banyak lagi fakta unik tentang Gunung Lawu dan Magetan. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan pembaca dari luar daerah dan bagi yang penasaran dapat mencoba berkunjung ke Gunung Lawu dan Kabupaten Magetan.

0 Response to "Eksistensi Gunung Lawu dan Magetan serta Kebudayaan Masyarakat Sekitarnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel