Gusjigang sebagai Wisata Budaya di Kota Kudus



Gusjigang sebagai sebuah hal yang muncul dan berkembang di tengah-tengah bertumbuhnya masyarakat merupakan kearifan lokal masyarakat di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah Indonesia.

Gusjigang telah hidup dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Memang belum ada bukti otentik kapan tepatnya istilah ini muncul. Menurut Said bagi sebagian besar masyarakat Kudus istilah ini begitu populer bahkan hidup dalam sebagian realitas masyarakat muslim dan kaum sufi di Kudus.

Karena GusJiGang telah hidup, tumbuh dan berkembang sejak dulu hingga kini secara tidak langsung hal ini akan melekat dan menjadi perilaku setiap warga Kudus.

Gusjigang yang merupakan akronim dari bagus, ngaji dan dagang ketika kita coba menelisiknya lebih dalam tidak hanya sebatas tindakan yang bagus yaitu bagus dalam penampilan, ngaji atau membaca al-Qur’an, dan dagang atau melakukan proses perdagangan saja.

Istilah bagus, ngaji dan dagang atau sering disebut GusJiGang merupakan konsepsi diri ataupun kemampuan yang ada dalam diri seorang yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila hal ini kita kaitkan dengan pengertian soft skill yang diungkapkan oleh Coates seperti dikutip dalam Sumar dan Razak pengertian soft skill merupakan keterampilan intra-personal yang dimiliki seseorang dalam mengatur dirinya sendiri seperti: manajemen waktu, manajemen stress, manajemen perubahan, karakter transformasi, berfikir kreatif, memiliki tujuan acuan yang positif, dan teknik belajar yang cepat.

Sedangkan untuk kemampuan intra-personal diantaranya adalah: keterampilan berhubungan atau berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sehingga mampu menunjukkan kemampuan yang maksimal, kepemimpinan, kemampuan presentasi dan berkomunikasi.

Ada tujuh elemen utama soft skill yang diintisarikan oleh Sharma dikutip dari Sumar dan Razak diantaranya adalah kemampuan berkomunikasi, keterampilan berfikir dan menyelesaikan masalah, kerja dalam tim, belajar sepanjang hayat dan pengelolaan informasi, keterampilan kewirausahaan, etika moral dan profesionalisme, dan keterampilan kepemimpinan.

Tujuh elemen soft skill diharapkan dapat diterapkan dan menjadi karakter kehidupan sehari-hari. Elemen soft skill tersebut harus dimiliki dan baik dimiliki dalam diri seseorang

A. Gus (Bagus)

Gus (Bagus) berarti bagus dalam hal apa saja seperti dalam bersikap, berakhlak maupun sopan santun. Dalam perspektif Islam, akhlak atau moral  memiliki kedudukan yang tinggi. Demikian tingginya kedudukan akhlak dalam Islam hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai barometer keimanan.

Beliau bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”  (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). 

Akhlak Islami memiliki beberapa keistimewaan dan ciri-ciri khusus (karakteristik) yang membedakannya dari sistem akhlak lainnya.

Di antara karakteristik akhlak Islami tersebut adalah: (a) Rabbaniyah atau dinisbatkan kepada Rabb (Tuhan), (b) Insaniyah (bersifat manusiawi), (c) Syumuliyah (universal dan mencakup semua kehidupan), dan (d) Wasathiyah (sikap pertengahan).

Menurut Said hal ini tercermin dari sikap masyarakat kudus mempunyai nilai toleransi dan empati yang sangat tinggi. Adanya kepercayaan masyarakat Kudus untuk tidak menyembelih sapi merupakan salah satu bentuk sikap soft skill kemampuan berkomunikasi dan sikap interpersonal yang baik.

Lebih lanjut Said menyatakan bahwa pada dasarnya Sunan Kudus lebih cinta damai dan memiliki toleransi yang tinggi dalam berinteraksi dengan umat yang memiliki perbedaan latar belakang keyakinan maupun budaya. Sunan Kudus memiliki kepekaan usaha serta etos kerja yang tinggi] sehingga kekayaan dirinya sebagai individu melimpah dan kemakmuran rakyat yang dipimpinnya menjadi maju.

B. Ji (Ngaji)

Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap ilmu. Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Di dalam Al-Qur’an kata ilmu dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat Al-Qur’an yang diwahyukan pertama kepada Nabi Muhammad saw., menyebutkan pentingnya membaca bagi manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Alaq ayat 1-5.

Dalam hadis-hadis Nabi juga terdapat pernyataan-pernyataan yang memuji orang yang berilmu dan mewajibkan menuntut ilmu antara lain: Mencari ilmu wajib bagi setiap muslimin. Carilah ilmu walaupun sampai di negeri Cina. Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahad.

Apabila menilik data yang dirilis oleh Bappeda Kabupaten Kudus. Pada tahun 2016 terdapat sekitar 393 lembaga pendidikan Islam yang tercatat dengan rincian 152 Pesantren, 141 Madrasah Ibtidaiyah, 64 Madrasah Tsanawiyah, 35 Madrasah Aliyah, dan satu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) (Bappeda Kabupaten Kudus 2016).

Apabila kita menilik pada penelitian yang dilakukan oleh Lestari yang menyebutkan bahwa masyarakat kudus selalu belajar pada lembaga formal di pagi hari dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di Taman Pendidikan al-Qur’an ataupun sejenisnya.

Masyarakat Kudus juga rutin mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK).

Sardjono, Nugroho, dan Prianto,Cerminan masyarakat santri ditunjukkan dengan banyaknya masjid lingkungan serta fasilitas pendidikan Islam di kawasan tersebut, baik yang formal seperti Madrasah maupun yang non formal seperti Pondok Pesantren dan Madin.

Hal ini melegitimasi bahwa masyarakat Kudus untuk melakukan nilai “Ji” atau ngaji. Karena ngaji disini tidak hanya dimaknai pembacaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an semata, tetapi ngaji disini adalah semangat untuk terus belajar.

Nilai “Ji” mengandung nilai soft skill dari Sharma yang dikutip dari Sumar dan Razak kemampuan untuk mengelola informasi yang relevan dari berbagai sumber, kemampuan untuk menerima ide-ide baru, dan kemampuan untuk mengembangkan keinginan untuk menginvestigasikan dan mencari pengetahuan.

Tingginya nilai soft skill masyarakat Kudus dalam hal belajar sepanjang hayat dapat dilihat dari sikap dan semangat masyarakat Kudus yang tidak puas hanya bersekolah formal saja di pagi hari, tetapi mereka juga mengikuti kelas-kelas non formal di sore harinya.

Bahkan Said menyebutkan bahwa tradisi ngaji apabila tidak dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Kudus merupakan sebuah aib, walaupun saat ini hal tersebut telah mengalami sebuah pergeseran. Lebih jauh lagi Said menyebutkan bahwa figur Sunan Kudus sebagai waliyyul ‘ilmy atau diartikan seseorang yang mempunyai kedalaman ilmu dan sangat memperhatikan urusan-urusan keilmuan.

Hal tersebut merupakan bukti bahwa Sunan Kudus telah memberikan semangat untuk terus belajar dan mencari ilmu dari buaian ibu sampai keliang lahat kepada masyarakatnya.

C. Gang (Dagang)

Dagang adalah kata ketiga dari gusjigang. Seringkali, kesuksesan sebuah dagang atau bisnis hanya dilihat dari seberapa besar profit yang diperoleh dari bisnis tersebut. Namun pada hakikatnya kesuksesan sebuah bisnis tidak hanya dilihat dari hal itu.

Terkadang segala sesuatu yang terkesan sangat tidak penting dan tidak mendapatkan sorotan justru menjadi pelopor utama kesuksesan bisnis tersebut. Hal itu ialah motivasi bisnis. Motivasi adalah keadaan yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapain keinginannya.

Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan yang akan mewujudkan suatu perilaku dalam mencapai tujuan kepuasan dirinya pada tipe kegiatan yang spesifik, dan arah tersebut positif dengan mengarah mendekati objek yang menjadi tujuan.

Said menyebutkan bahwa Sunan Kudus sebagai tokoh pendiri dan panutan masyarakat Kudus adalah seorang pedagang yang sukses dan kaya. Tidak heran jika sebagian besar dari masyarakat Kudus adalah seorang wirausaha yang ulet, kaya dan sukses.

Masyarakat Kudus mempunyai kemampuan untuk membangun, mengeksplorasi dan mencari peluang bisnis kerja serta mempunyai kemampuan berwirausaha sendiri. Hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Sardjono, dkk kehidupan keseharian masyarakat juga diwarnai dengan kegairahan kehidupan perekonomian yang mandiri.

Soft skill kewirausahaan yang sesuai dengan gusjigang juga didukung oleh fakta bahwa aktifitas yang paling utama bagi masyarakat Kudus yaitu hal-hal yang terkait dengan keagamaan, serta perdagangan dan bisnis.

Mustaqim dan Bahruddin menyebutkan bahwa spirit gusjigang telah terinternalisasi dan menjadi perilaku berbisnis pada sebagian besar masyarakat Kudus. Beberapa fakta di atas apabila dikaitkan dengan nilai-nilai soft skill tidak dapat dibantah lagi kebenarannya.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Gusjigang Kudus. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Alif Maulana Mu'azam ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Gusjigang sebagai Wisata Budaya di Kota Kudus"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel