Haji Suku Sasak


Provinsi Nusa Tenggara Barat terletak di sebelah timur Pulau Bali tepatnya terletak diantara 115° 46' - 119° 5' Bujur Timur dan 8° 10' - 9 ° 5' Lintang Selatan. Dengan dua pulau utama yakni Pulau Lombok yang terletak di barat dan Pulau Sumbawa yang terletak di timur dengan luas wilayah 20.153,15 km2, didirikan pada tanggal 14 Desember 1958, terdiri dari dua kota dan delapan kabupaten dengan ibukota provinsi Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok.

Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki tiga suku asli yang mendominasi yaitu Suku Sasak di Pulau Lombok, Suku Samawa dan Suku Mbojo di Pulau Sumbawa atau biasanya disingkat SASAMBO, mayoritas penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat memeluk agama Islam, banyaknya jumlah penduduk beragama islam berpengaruh terhadap peningkatan pembangunan masjid terutama di Pulau Lombok, banyaknya masjid di Pulau Lombok sehingga tidak heran Pulau Lombok mendapat julukan “Pulau Seribu Masjid”.

Agama Islam identik dengan ibadah haji, seperti yang diketahui dalam agama islam terdapat Rukun Islam yang berjumlah lima, salah satu Rukun Islam tepatnya Rukun Islam yang kelima adalah naik haji bagi yang mampu, dan umumnya menjelang keberangkatan haji terdapat serangkaian kegiatan budaya yang dilakukan, setiap suku daerah memiliki budayanya sendiri, demikian halnya dengan suku Sasak yang memang mayoritas beragama islam, memiliki budaya sendiri dalam merayakan keberangkatan haji.


Budaya Sebelum Keberangkatan Calon Jamaah Haji Suku Sasak

1. Ziarah Makam 

Sudah menjadi sesuatu yang harus dilakukan bagi calon jamaah haji suku Sasak sebelum berangkat ke tanah suci untuk melakukan ziarah makam orang terdekat dari calon jamaah haji tersebut seperti suami, istri, orang tua, anak dan kerabat lainnya.

Tujuan dilakukan ziarah makam ini sebagai bentuk pamitan sebelum berangkat ke tanah suci dan bermaksud mendoakan kerabat yang telah meninggal.

Selain mendatangi makam kerabat, calon jamaah haji suku Sasak melakukan ziarah makam para wali, makam yang sering dijadikan objek ziarah adalah makam Bintaro dan makam Batu Layar. Ziarah makam wali biasanya dilakukan sebulan sebelum keberangkatkan haji.

Tradisi ziarah makam sebelum keberangkatan calon jamaah haji merupakan peninggalan orang tua yang dilakukan secara turun temurun, ada juga yang melakukan ziarah makam sebelum berangkat haji karena nazar, misalnya “Jika tahun ini saya naik haji, maka saya akan berziarah ke makam kedua orang tua saya dan makam Batu Layar” maka orang tersebut wajib melakukan ziarah makam sesuai dengan yang dinazarkannya.

2. Rowah Buka Ziarahan (Walimatus Safar)

Rowah adalah kegiatan semacam kenduri dalam budaya suku Sasak. Tradisi rowah buka ziarahan sudah menjadi suatu keharusan bagi calon jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci baik pada masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan.

Besar tidaknya perayaan rowah buka ziarahan tergantung kemampuan dari masing-masing calon jamaah haji, kapan ada rezeki baru diadakan rowah. Kalau tidak ada, cukup dengan mengadakan acara sederhana berupa zikir dan doa dengan mengundang keluarga dan tetangga terdekat, karena pada dasarnya yang menjadi inti dari diadakan rowah adalah untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT agar perjalanan calon jamaah haji menjadi lancar.

Rowah buka ziarahan sebagai penanda bahwa kegiatan ziarahan telah dibuka, sehingga warga masyarakat diharapkan agar berziarah ke calon jamaah haji, tanpa perlu diundang.

3. Ziarahan Haji

Ziarahan haji biasanya diadakan setelah rowah buka ziarahan, sehingga undangannya pun bersifat umum. Ketika masyarakat berziarah haji, masyarakat membawa beras, gula layaknya orang pesta (begawe, Sasak), seiring berjalannya waktu masyarakat khususnya didaerah perkotaan tak lagi membawa beras dan gula namun menggantinya dengan membawa jilbab, baju muslim, sarung, kue atau barang yang sekiranya dibutuhkan calon jemaah haji.

Para peziarah biasanya meminta untuk didoakan oleh calon jamaah haji agar bisa segera menyusul untuk naik haji.

Para peziarah ada yang diundang secara langsung dan ada yang tidak langsung, mereka yang diundang secara langsung adalah keluarga, kerabat dan sahabat calon jamaah haji yang berdomisili jauh, sedangkan warga sekitar tidak diundang secara langsung, tapi diumumkan lewat pengeras suara di masjid.

Sebenarnya tanpa diumumkan secara langsungpun dengan diadakan rowah buka ziarahan, maka warga secara tidak langsung sudah dipersilakan untuk datang berziarah. Lama tidaknya pelaksanaan ziarahan tergatung keinginan calon jamaah haji ada yang seminggu, sebulan namun yang menjadi ukuran pasti ziarah haji dilaksanakan sampai satu hari menjelang keberangkatan calon jamaah haji.

Ziarahan haji merupakan media silaturrahim antara sahabat, kerabat, tetangga untuk saling memaafkan dengan calon jamaah haji. Hal ini memudahkan calon jamaah haji, karena dengan ziarahan calon jamaah haji tidak perlu mendatangi kerabatnya satu persatu.

4. Selakaran

Setelah acara buka ziarahan pada malam harinya selepas solat Isya diisi dengan acara serakalan. Selakaran dalam ritual keberangkatan haji dilakukan oleh hampir semua warga Sasak. Kegiatan selakaran ini telah berlangsung sejak dahulu.

Selakaran adalah kegiatan barzanji (Membaca al-Barzanji) yang dipimpin oleh seorang pemuka agama atau tokoh yang dituakan dan diikuti oleh warga yang hadir pada acara selakaran. Dahulu selakaran dimulai sesaat setelah selesai puasa Ramadan dan dilakukan kurang lebih selama satu bulan penuh sampai menjelang keberangkatan calon jamaah haji berangkat.

Namun sekarang selakaran bisa dilaksanakan selama tujuh malam saja, menyesuaikan dengan kemampuan calon jamaah haji itu sendiri.

5. Pengepakan Koper Calon Jamaah Haji

Calon jamaah haji Sasak yang hendak berangkat ke tanah suci, biasanya pengisian kopernya dilakukan oleh orang lain yang dianggap alim seperti ulama atau orang yang pernah melaksanakan ibadah haji.

Jadi, calon jamaah haji tidak secara langsung mengisikan koper yang hendak dibawanya. Tata cara pengepakan koper calon jamaah haji Sasak adalah Pertama, membuka koper dengan membaca Basmalah. Kedua, mempersiapkan barang yang akan dibawa ke tanah suci.

Ketiga, memasukkan barang-barang ke dalam koper satu persatu sambil membaca doa. Tujuan dari dilakukannya pengepakan koper ini adalah agar koper beserta isinya aman dari kehilangan dan kerusakan.

Seiring berjalannya waktu terutama diwilayah perkotaan tradisi pengepakan koper oleh orang lain mulai jarang dilakukan, karena banyak yang beranggapan yang lebih mengetahui kebutuhan diri saat berhaji adalah calon jamaah haji itu sendiri. Tata cara pengisiannya sama  namun dilakukan oleh calon jamaah haji itu sendiri.

6. Acara Perpisahan Keberangkatan

Saat malam keberangkatan seluruh calon jamaah haji yang terdapat dikampung tersebut berkumpul dimasjid, seusai solat isya berjamaah, diadakan zikir dan doa bersama untuk mendoakan keselamatan calon jamaah haji, begitu selesai calon jamaah haji berkeliling menjabat tangan seluruh warga yang hadir di masjid, sebagai simbol permintaan maaf dan perpisahan.

Keesokan harinya saat hari keberangkatan, calon jamaah haji melaksanakan solat sunat untuk memohon keselamatan, seusainya calon jamaah haji berpamitan pada keluarganya, suara azan dikumandangkan sebagai penanda bahwa calon jamaah haji akan berangkat, begitu azan berkumandang warga akan berbondong-bondong mendatangi rumah calon jemaah haji untuk berpamitan.

Begitu azan selesai dikumandangkan calon jamaah haji akan langsung naik kendaraan dan berangkat ke tempat kumpul calon jamaah haji sebelum diberangkatkan ke asrama haji, tempat yang biasa digunakan seperti lapangan umum, halaman kantor walikota atau kantor bupati, keluarga dan masyarakat berbondong-bondong mengantar calon jamaah haji

Tujuannya untuk mendapat berkah dari Allah, konon dengan mengantar calon jamaah haji sang pengantar akan dipermudah jalannya untuk segera melaksanakan ibadah haji. 

Budaya saat Keberangkatan Calon Jamaah Haji Suku Sasak

Rowah wukuf

Rowah yang dilakukan oleh keluarga dari jamaah haji tepat pada saat jamaah haji melaksanakan ibadah wukuf, tujuan dari diadakannya rowah ini adalah mendoakan keselamatan jamaah haji agar dapat menyelasaikan ibadah haji tanpa halangan dan mendapat haji yang mabrur.

Budaya saat Kepulangan Jamaah Haji Suku Sasak 

1. Menjemput Haji

Sama halnya dengan mengantar, saat menjemput jamaah haji keluarga dan masyarakat, suka cita menjemput jamaah haji yang telah kembali ke tanah air dengan selamat. Sesampainya dirumah keluarga akan menjamu jamaah haji dengan makanan kesukaan jamaah haji.

Keluarga dan warga akan berkumpul menyambut kepulangan jamaah haji, tujuannya tentu saja agar mendapat berkah dan dapat mencicipi kurma dan air zamzam. 

2. Rowah Pulang Haji

Rowah yang bertujuan sebagai wujud syukur telah menyelesaikan ibadah haji dan dapat kembali ke tanah dengan selamat.

3. Penampilan Haji

Dalam budaya Sasak haji memiliki ciri khas penampilan memakai peci putih dan sorban untuk laki-laki dan hijab yang cukup besar untuk perempuan, namun yang menjadi sorotan utama adalah pemakaian peci putih, orang yang sudah berhaji kemudian jika tidak memakai peci haji (peci warna putih), maka akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu tidak hanya haji yang memakai sorban ataupun peci putih, yang belum naik hajipun ada yang memakainya dan tidak menjadi masalah.

4. Tidak Keluar Rumah Selama 40 Hari Setelah Haji.

Haji yang baru pulang dari tanah suci dianggap suci dari dosa sesudah dia selesai melaksanakan ibadah haji. Hal ini terlihat saat mereka pulang, disambut dengan isak tangis, cium tangan oleh keluarga atau pengantar dan penjemput jamaah haji.

Masyarakat melihat bahwa jamaah haji tidak boleh keluar rumah selama 40 hari agar masyarakat yang datang dapat ziarah dengan haji baru. Begitu juga dengan haji baru akan dapat memulihkan kesehatan dengan melakukan istirahat yang cukup. Budaya ini sifatnya situasional tergantung kebutuhan dan keperluan dari haji baru itu sendiri.

5. Panggilan 

Panggilan khusus diberikan sebagai bentuk penghormatan terhadap seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji, jika di Indonesia umumnya orang yang telah berhaji dipanggil Pak Haji dan Bu Haji, maka dalam suku Sasak seseorang yang teah naik haji dipanggil Tuan, bagi seseorang yang memiliki umur seumuran dengan orang yang telah melaksanakan haji maka orang tersebut memanggilnya Tuan, jika lebih muda dari yang melaksanakan haji maka memanggilnya Kak Tuan, jika lebih tua dari yang melaksanakan haji maka memanggilnya Dek Tuan.

Menjadi haji merupakan kebanggaan terbesar masyarakat Islam suku Sasak, selain menunjukkan menjadi muslim yang sempurna, gelar haji  sangat didambakan masyarakat yang ada di Lombok untuk meningkatkan status sosial. Dengan menjadi haji seseorang tersebut akan menjadi terpandang dan dipercaya untuk menjadi imam di masjid serta memimpin kegiatan keagamaan.

Hal ini didasarkan pada Rukun Islam yang ke lima yaitu naik haji bagi yang mampu, mampu disini berarti mampu fisik, mental, materil dan keluarga. Dalam melaksakan semua kegiatan budaya tersebut, dibutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.Tidak heran jika Haji Sasak memiliki banyak kegiatan budaya sebagai bentuk betapa syukurnya dapat melaksakan ibadah haji.

Jalinan antara pelaksanaan ibadah dan budaya pada tiap masyarakat Sasak amat erat, sehingga sulit untuk dipisahkan. Hal itu juga terlihat pada kecenderungan masyarakat untuk merasa perlu melakukan kunjungan ke rumah calon jamaah haji atau kecenderungan untuk mengantarkan jamaah haji. Tanpa ada ikatan kerabat pun dengan calon jamaah haji yang berangkat, warga melakukannya sebagai semacam kewajiban sosial, meski harus mengeluarkan biaya sekalipun.

Nah itulah tadi karya tulis dari Regina Salsa Gandi yang membahas mengenai Haji Suku Sasak. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan pembaca sekalian. Terimakasih,

7 Responses to "Haji Suku Sasak"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel