Hari-hari Sukoharjo Berdendang dengan Langgam Campursari Sukoharjo Makmur


Budaya adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu daerah sehingga dijadikan icon atau klaim  tersendiri pada daerah tersebut. Budaya ini tidak melulu tentang seni atau kerajinan namun banyak sekali unsur budaya yang mungkin tidak disadari oleh kita ada bahasa, tari, lagu, makanan, upacara adat, tradisi adat dan lain sebagainya.

Disini penulis ingin membahas secara spesifik mengenai salah satu budaya di salah satu daerah di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Sukoharjo. Ada yang pernah mendengar daerah ini? Rata-rata kebanyakan orang tidak mengetahui dimana daerah tepatnya sampai-sampai banyak yang menyebutkan dekatnya Solo, memang benar Sukoharjo termasuk dalam kerasidenan Surakarta, jadi tak perlu heran jikalau banyak yang menyebutkan Sukoharjo itu ya bagian dari Solo.

Sukoharjo resmi berdiri dan memisahkan dari Surakarta pada tanggal 15 Juli 1946, sejak saat itu Sukoharjo berdiri sendiri menjadi kota kabupaten. Tentulah kita mengetahui bahwa kebudayaan khususnya di Jawa sendiri sangatlah banyak dan ragam jenisnya, tak heran jikalau setiap masing-masing daerah memiliki simbol dan budayanya masing-masing.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang kental kebudayaannya. Saking banyaknya mungkin tak dapat terhitung lagi. Keunikan ini sudah seharusnya kita banggakan kemudian kita lestarikan.

Kembali mengkaji tentang Sukohajo dan budayanya, Sukoharjo Makmur yang berarti  Maju, Aman, Konstitusional, Mantap, Unggul, Rapi.  Daerah ini memiliki banyak kebudayaan ada makanan khas daerah berupa jenang racikan, minuman obat tradisional jamu, batik khas sukoharjo yaitu batik jamu gendhong, tarian, perayaan hari penting misalnya hari jadi kabupaten Sukoharjo, dan tentulah masih banyak lagi sampai tidak bisa terhitung.

Namun ada satu yang menjadi sorotan penting di daerah ini yaitu kesenian langgam campursari, ialah musik yang dibawakan dengan nada lembut dan diiringi gamelan sebagai nada pelengkapnya. Campursari ini berarti gubahan bebas tanpa ikatan tertentu yang mengandung pesan berupa sindiran, amanat ataupun lelucon yang disampaikan secara lisan.

Campursari biasanya dibawakan oleh pemimpin laki-laki (pambiwara) dan dinyanyikan oleh beberapa wanita. Kesenian campursari ini dapat ditampilkan diacara-acara tertentu dalam adat jawa, bisa di acara pernikahan, ulang tahun kabupaten, pergelaran seni dan budaya dan lain sebagainya.

Salah satu genre lagu campursari yang terkenal di daerah Sukoharjo adalah “Sukoharjo Makmur” berikut ini merupakan penggalan liriknya :

Sesantine Sukoharjo Makmur
Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi
Iku dadi sarana Maju mbangun praja
Ambangun bebrayan
Subur makmur gemah ripah loh jinawi
Tulus kang tinandur Murah kang tinuku
Wimbuh kuncara negarane santosa
Ngrungkebi saloka sedumuk bathuk senyari bumi
Aman mring swasana Kalis ing rubeda
Konstitusional pranatan prayoga
Manteping tekad manunggal sedya.
Unggul martabat luhur kawibawane
Rapi kang kadulu sengsem kang anulad
Nyata mahanani Sukoharjo Makmur

Pada intinya lirik lagu campursari itu memiliki makna yang mendalam yaitu berisi tentang situasi dan keadaan serta cita-cita terhadap Sukoharjo menjadi sejahtera, maju, berkonstitusi, dan berjaya. Uniknya langgam campursari ini diputar setiap harinya saat pagi hari menjelang jam kerja dan sore ketika jam pulang, semua intansi di Sukoharjo telah menerapkan ini beberapa tahun yang lalu, tujuannya tak lain tak bukan yaitu memberikan energi positif kepada kita untuk mencintai daerah kita.

Daerah yang subur dengan tanaman pangan dan lokalnya, daerah yang makmur akan sumber daya alam dan manusianya, dan daerah yang didalamnya banyak kebudayaan yang menghiasi pesonanya. Tentulah kalu kita mengkaji tentang Sukoharjo lebih dalam tak cukup mendiskirpsikan pesonanya.

 Langgam ini tergolong unik karena memadukan kebudayaan jawa kental dengan iringan musik khas campursari menjadikan lagu tersebut enak untuk didengar dan diresapi. Faktanya menurut salah satu pegawai pemerintah Sukoharjo mengungkapkan “Lagu ini enak didengar, liriknya apik, setiap lagu itu diputar memberikan ketenangan hati dan akhirnya sayapun ikut menyanyikannya.”

Itulah yang dirasakan salah satu pegawai, saking bagusnya langgam ini membuat saya trenyuh (luluh) dan  merinding ketika mendengarnya. Langgam campursari Sukoharjo Makmur ini memiliki lirik yang singkat sehingga pemutaran lagu tersebut dilakukan 2x.

 Sayangnya pencipta langgam Sukoharjo Makmur ini tidak diketahui siapa, namun lagu ini telah eksis sampai sekarang. Bertapa bangganya pencipta lagu ini jikalau mengetahui karyanya telah dikenal dan disukai banyak kalangan.

Langgam Sukoharjo ini memanfaatan aspek bunyi yaitu asonansi dalam bahasa jawa disebut purwakanthi suara. Asonansi pengulangan suara vokal untuk membuat rima internal dalam frasa atau kalimat, dan bersama-sama dengan aliterasi dan konsonansi berfungsi sebagai salah satu blok bangunan sajak (Wiipedia, 2019) asosiasi yang ditemukan pada lagu Sukoharjo Makmur berupa :

Asonansi /a/, asonansi /ᴐ/, asonansi /i/, asonansi /u/ 1) Asonansi /a/ (74) Maju aman konstitusional (GgJP/75/SM/2) Maju aman konstitusional Pada data (74) merupakan perulangan vokal /a/, terlihat pada kata maju, aman, dan konstitusional yang terdengar urut dan runtut dalam pelafalannya. 2) Asonansi [ᴐ] (75) Wimbuh kuncara negarane santosa. Campursari ini bersifat fleksibel yang artinya ia bisa berupa dangdut, kroncong, langgam, dan gending dimana semuanya termasuk dalam musik campursari.

Campursari merupakan musik yang popular dan memberikan ruang kreasi kepada penikmatnya, umumnya campursari ini menggunakan alat music gamelan. Gamelan sendiri terdiri dari beberapa jenis, dimana ketika kesatuan gamelan itu berirama bersama akan menghasilkan nada yang khas.

 Nada-nada tersebut kemudian membentuk sebuah iringan langgam dari sebuah lagu, dalam hal ini campursari. Campursari biasaya diminati oleh para orang-orang sepuh (lanjut usia) karena tak jarang langgam ini menggunakan bahasa yang sulit dicerna dan dimengerti oleh kaum muda, namun tidak berarti kaum muda tidak menyukai langgam ini, bahkan ada beberapa aktivis-aktivis muda yang bergerak di kesenian campursari ini, jadi semua beragantung pada masing-masing individu.

Untuk itu marilah kita melestarikan dan mempromosikan kembali kesenian daerah kita, supaya masyarakat luar tahu dan tertarik pada budaya yang kita miliki. Mari nyanyikan gendhing langgam campursari Sukoharjo Makmur ini untuk Sukoharjo yang lebih makmur.

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang menjelaskan tentang Langgam Campursari. Semoga tulisan yang dikirimkan oleh Lisa Setyaningsih ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca. Terimakasih,

0 Response to "Hari-hari Sukoharjo Berdendang dengan Langgam Campursari Sukoharjo Makmur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel