Semangat “Holopis Kuntul Baris” dalam Menghadapi Globalisasi

Data dari Worldometers menunjukkan jumlah penduduk Indonesia ialah sebanyak 269 (dua ratus enam puluh Sembilan) juta jiwa atau 3,49% (tiga koma empat puluh sembilan persen) dari total populasi dunia. Angka tersebut berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia.

Penduduk sebesar hampir 300 (tiga ratus) juta jiwa tersebut tidak hanya terdiri dari satu kelompok suku bangsa, melainkan ribuan suku  yang berbeda satu dengan lainnya. Hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa terdapat 1.331 (seribu tiga ratus tiga puluh satu) kelompok suku yang hidup berdampingan di Indonesia.

Kemajemukan kelompok suku tersebut sudah barang tentu mempengaruhi kekayaan bahasa yang hidup dan berkembang di seluruh penjuru Nusantara. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memetakan dan melakukan verifikasi terhadap 652 (enam ratus lima puluh dua) bahasa daerah di negara yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia ini.

Interaksi sosial antar individu di lingkungan hidupnya dilakukan dengan cara berkomunikasi. Salah satu sarana penting dalam melakukan komunikasi ialah dengan menggunakan bahasa. Chaer (2006:1) menyebutkan bahwa bahasa merupakan salah satu alat komunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Selain berkedudukan sebagai alat komunikasi, Bahasa merupakan salah satu produk budaya.

Masyarakat menggunakan bahasa untuk menciptakan kebudayaannya. Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara, kebudayaan merupakan buah budi manusia, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) dalam perjuangan mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada akhirnya bersifat tertib dan damai.

Dengan demikian, bahasa dan kebudayaan berperan dalam pembentukan karakter bangsa, memberi pedoman nilai-nilai luhur kepada generasi yang akan datang untuk dapat bertahan menghadapi roda pergerakan zaman.

Budaya dan bahasa digunakan sebagai sarana enkulturasi dalam proses penanaman nilai-nilai adat dari waktu ke waktu. Sibarani (2004:61) menyatakan bahwa setiap pembentukan kata-kata bahkan kalimat dalam suatu bahasa dapat menentukan sifat atau ciri pikiran dalam kebudayaan suatu bangsa. Salah satu ragam bahasa ialah peribahasa.

Peorwadarminta (1976:783) mengatakan bahwa peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud tertentu. Sejalan dengan hal tersebut, Depdikbud (1993:755) mendefinisikan peribahasa sebagai ungkapan atau kalimat kalimat ringkas dan padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku yang menjadi salah satu gudang kebijaksanaan lokal (local wisdom) bagi suatu masyarakat.

Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup (Nasiwan, dkk, 2012: 159). Salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa dituangkan dalam sebuah peribahasa yang diajarkan secara turun temurun berbunyi “holopis kuntul baris “. Berdasarkan informasi dari ensiklopedia bebas, Wikipedia, kuntul merupakan sebutan untuk burung yang termasuk dalam keluarga Ardeidae. Burung ini memiliki kaki panjang dan leher jenjang.

Bukan jenis burung soliter yang suka sendirian, burung kuntul suka bergerombol. Habitatnya adalah lahan basah, seperti pantai ataupun sawah. Burung kuntul dipimpin oleh satu burung yang berperan sebagai pemimpin yang berada paling depan dan terbang membentuk formasi huruf ‘V’ (Bungsu Ratih:2015). Kata ‘holopis’ sendiri tidak mempunyai arti namun memiliki peranan untuk mendukung keseluruhan makna.

“Holopis kuntul baris” adalah sebuah metafor yang bermakna kepatuhan terhadap pemimpin untuk mencapai tujuan bersama. Pemaknaan terhadap slogan tersebut tidak hanya berfokus pada kepatuhan masyarakat terhadap pemimpinnya tetapi yang paling utama ialah semangat gotong royong yang dibangun untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

“Holopis kuntul baris” kerap digelorakan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dalam pidatonya untuk membakar semangat rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Masyarakat bahu-membahu bekerja sembari menyerukan tiga kata ajaib tersebut secara berbarengan. Segala pekerjaan, sekalipun berat, mampu dituntaskan dengan begitu mudah, begitu sekiranya penuturan para leluhur kepada generasi muda saat ini mengenai keampuhan semboyan tersebut.

“Holopis kuntul baris” yang mempunyai makna gotong royong mempunyai kekuatan magis yang sanggup menciptakan semangat sekaligus harmoni bagi masyarakat Indonesia yang begitu beraneka ragam.

Semangat gotong royong sebagaimana terkandung dalam “holopis kuntul baris” kian mendarah daging dalam diri bangsa Indonesia. Ir. Soekarno pernah berkata, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’.” Proklamator Kemerdakaan Republik Indonesia tersebut menjelaskan makna gotong royong sebagai suatu usaha bersama demi kepentingan bangsa. “Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama, amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua, holopis kuntul baris buat kepentingan semua! Itulah gotong royong!”, tegas Bung Karno (Agustinus W. Dewantara, 2017:36).

Menilik kesuksesan ‘mantra’ “holopis kuntul baris”, rasanya semoboyan hidup masyarakat Jawa tersebut tidak hanya dimaknai begitu dalam, pun juga diimplementasikan pada kehidupan berbangsa dan bernegara oleh masyarakat kala itu. Berbeda dengan keadaan saat ini, moto hidup dalam Bahasa Jawa tersebut kian asing di telinga generasi muda karena bentuk katanya yang menggunakan kata-kata kuno atau arkhais yang sulit dipahami oleh generasi saat ini.

Walhasil, tidak hanya asing di telinga, semboyan tersebut kini hanya sebatas moto turun temurun yang tidak dipahami sejarah dan maknanya. Namun demikian, ketidaktahuan generasi muda terhadap slogan magik tersebut seharusnya tidak menghilangkan semangat yang terkandung di dalamnya.

Dikaitkan dengan letak geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan terpisah oleh perairan yang membentang dengan jarak yang tidak dekat satu dengan yang lain, semangat gotong royong sejatinya harus dipandang sebagai nilai luhur yang harus selalu dipertahankan. Letak geografis yang sedemikian rupa memberi tantangan tersendiri dalam melaksanakan pembangunan nasional.

Meskipun dipandang menduduki tempat yang strategis untuk melangsungkan perdagangan internasional dan berpotensi untuk memperoleh berbagai tawaran kerjasama dari negara lain, bencana alam yang hilir mudik melanda Ibu Pertiwi menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Negara yang dikelilingi oleh cincin api Pasifik dan berada di antara tiga lempeng bumi ini harus mensyukuri dan mensiasati segala konsekuensi baik dan buruk tersebut dengan semangat gotong royong.

Tidak hanya menjadi sumber semangat dalam menangkis tantangan yang mungkin terjadi dalam ruang lingkup internal berbangsa dan bernegara, semangat “holopis kuntul baris” diharapkan mampu menjadi pegangan dalam menjalankan fungsi eksternalnya sebagai salah satu negara yang hidup berdampingan dengan ratusan negara lain di dunia. Indonesia diharapkan sanggup dinamis dalam menyongsong kencangnya kemajuan zaman di era globalisasi dewasa ini.

Globalisasi menurut Jamiah (2010:167) dipandang sebagai suatu proses sosial yang akan membawa seluruh bangsa dan negara semakin terikat satu sama lain, mewujudkan suatu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Globalisasi yang mendorong pergerakan pembangunan yang begitu pesat tidak hanya memberikan dampak positif bagi suatu negara. Globalsasi turut menyumbangkan dampak negatif bagi negara yang belum siap menghadapi pesatnya pertumbuhan zaman, seperti kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin dan sikap individualitis terhadap sesama masyarakat.

Beberapa persoalan yang mungkin ditimbulkan dari globalisasi perlu disikapi dengan bijak dengan mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang telah dituliskan di dalam Pancasila, salah satunya semangat “holopis kuntul baris” atau semangat gotong royong.

Dengan terus memupuk dan menghidupi semangat “holopis kuntul baris” tersebut, bangsa Indonesia diharapkan sanggup menghadapi perubahan zaman. Rakyat Indonesia sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar dan beradab diharapkan mampu mempertahankan rasa cintanya terhadap tanah di tengah hiruk pikuk transisi zaman.

Semboyan magis tersebut wajib pula diaplikasikan oleh negara-negara lain ketika melancarkan kerja sama internasional dalam rangka membangun peradaban dunia. Indonesia sebagai negara besar dan majemuk selayaknya sanggup memberi tauladan kepada dunia mengenai kemampuannya berkukuh menghadapi perkembangan zaman dengan tetap membentengi keberagamannya.

“Holopis kuntul baris” sebagai kebijaksanaan lokal khas masyarakat Jawa yang telah diadopsi sebagai semboyan hidup bangsa sejatinya mampu menjadi kekuatan utama yang menyatukan kemajemukan dan kepentingan berbagai kelompok. Semangat tersebut diharapkan sanggup menciptakan kekuatan besar yang efektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul dalam kehidupan bersama.

Nilai gotong royong dalam semboyan magik “holopis kuntul baris” sudah sepatutnya diejawantahkan oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh dunia melalui sikap saling peduli, cinta kasih, saling menghormati, dan toleransi guna menghidupkan tatanan masyarakat yang damai dan harmonis. Alih-alih ditinggalkan, kearifan lokal masyarakat Jawa tersebut seharusnya senantiasa dipupuk dan dihidupi, tidak hanya oleh generasi muda Indonesia, melainkan oleh dunia.

Itulah tadi artikel yang diulas oleh Maria Acynta Christy dengan judul "Semangat “Holopis Kuntul Baris” dalam Menghadapi Globalisasi". Semoga bermanfaat bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih!

1 Response to "Semangat “Holopis Kuntul Baris” dalam Menghadapi Globalisasi"

  1. Perubahan itu dinamis, tidak bisa dihindari. Cara terbaik untuk berdamai dengan globalisasi itu sendiri adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, layaknya sustainer yang selalu berjuang untuk tetap survive guna menghadapi segala external disruptors pada masa menjelang industrial revolution 5.0 ini. Selamat berjuang!

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel